Komik Klasik Indonesia: Melenggang dari yang Terpendam

Posted by Cinta Buku on

Tampaknya keprihatinan yang melanda para pencinta komik dengan kekosongan komik-komik karya komikus lokal mulai menunjukkan sinyalemen positif. Setelah dua tiga tahun terakhir, seiring dengan geliat penerbitan buku-buku dan media alternatif (bulletin, newsletter, community magazine, dan e-zine) di Yogyakarta dan Bandung, dua kota di mana perkembangan cultural studies-nya sedang memuncak, di Jakarta juga mulai bermunculan terbitan-terbitan komik lokal mewarnai jejak perjalanan sejarah komik Indonesia.

Perjalanan komik pun tak hanya kepada format komik. Majalah komik IndiComic Handbook yang merupakan hasil kerja bareng berbagai komunhtas komik underground seperti MKI (Masyarakat Komik Indonesia), Indietown, Titikberat, dan lain-lain juga terbit. Majalah yang formatnya tak sekadar etalase komik karya komikus underground ini juga berisikan artikel, resensi, dan ulasan komik.

Tak lama kemudian, terbit pula majalah komik Wizard Indonesia yang merupakan franchise majalah komik Amerika, Wizard. Walau majalah franchise ini notabene mengandung artikel impor, Wizard Indonesia juga menyediakan rubrik khusus berupa ulasan komik lokal sebagai upaya mendukung tumbuhnya perkembangan komik underground Indonesia. Uniknya, perusahaan PT Putria Media Kreasi pemegang lisensi Wizard turut menerbitkan beberapa judul komik Amerika untuk mengisi kekosongan penerbitan komik impor yang sejak l990-an didominasi produk manga Jepang.

Penerbit Terrant Books yang baru saja sukses mendulang keuntungan dari penerbitan novel Eiffel, I'm in Love dengan menerbitkan berbagai novel chicklit asli Indonesia dan novel populer juga tak ketinggalan menerbitkan dua komik lokal Selamat Pagi Urbaz! (Beng Rahadian) dan 1001 Jagoan (Ipot, Oyas, Ipoet). Kemudian komik strip underground Gibug dan Oncom karya Wisnoe Lee berhasil dipinang 5 tahun lalu ini kini dapat dinikmati publik lebih luas. Ada juga Sanggar Alas Pitoe yang juga menerbitkan karyanya berupa komik fabel berwarna bertajuk serial Ramba.

Penerbit Indira yang semula dikenal menerbitkan komik impor dengan serial Tintin sebagai produk andalannya pada 2004, juga ikut menerbitkan Dave Salamander komik lokal karya Tunjung Rukmo dan Denny Djoenad. Produk-produk independen semacam ini bergeliat di toko-toko buku komunitas (disebut "distro") selain ada juga yang menempuh jalur distribusi toko buku umum seperti Subversi Komik, Selamat Pagi Urbaz, Gibug, dan lain-lain.

Seiring dengan penerbitan komik lokal baru, penerbitan kembali komik-komik klasik Indonesia mulai muncul (dikatakan klasik karena masih dicari penggemarnya sampai kini). Diawali dengan penerbitan komik Sebuah Tebusan Dosa karya Teguh Santosa (Galang Press, 2002), dua serial komik Si Tomat (M&C! 2004) karya Rachmat Riyadi alias Libra, komik legenda Sawungkampret karya Dwi Koendoro, komik Si Buta dari Goa Hantu kini diterbitkan kembali tahun 2005 oleh Pustaka Satria Sejati setelah setahun sebelumnya sudah diterbitkan Si Buta kontra Si Buta, satu-satunya versi berwarna varian tokoh Si Buta karya Ganes TH oleh penerbit NineArts Publishing bekerja sama dengan Penerbit Bentang.

Tak hanya penerbitan kembali dengan desain kemasan baru, komik dengan tokoh sentral pendekar bernama asli Barda Mandrawata ini konon juga akan diteruskan dengan penerbitan komik online internet. "Setelah melihat perkembangan teknologi yang ada kita akan coba pertama kali nanti lewat Si Buta," ucap Youk Tanzil dari perusahaan teknologi internet Indline.com dalam acara peluncuran komik Si Buta di ballroom Yudhistira, Patrajasa.

Bukan Hal Mudah
Kecemasan terhadap perkembangan komik lokal yang terhimpit dengan komik impor dengan menghasilkan komik yang kurang memikat pembaca mulai disadari dengan adanya missing link sejarah komik dengan generasi sekarang. Andy Wijaya, pencetus situs KomikIndonesia.com yang tengah berupaya menerbitkan kembali komik klasik Indonesia Gundala dalam sebuah wawancara melalui ponsel mengatakan, "Ini bukan semata kesalahan mereka. Komik-komik klasik Indonesia sendiri kebanyakan sudah OOP (out of print) alias tidak diterbitkan lagi."

Bukan upaya mudah guna "mengembalikan" salah satu ikon komik Indonesia ini ke ranah pustaka. Memang, di tengah ramainya serbuan komik manga Jepang beberapa judul komik wayang R.A. Kosasih masih terbit. Sayangnya, komik-komik lama tersebut umumnya tak dibuat dalam kemasan baru sehingga hanya sampai pada sebagian kecil masyarakat yang umumnya para kolektor saja. Selain rasa pesimisme penerbit sehingga penerbitan komik lokal dianggap kurang menguntungkan dalam hitungan bisnis, hambatan teknis yang sering ditemui adalah sulitnya ditemukan master plate cetak komik-komik klasik Indonesia dikarenakan upaya pendokumentasian di Indonesia yang dikenal buruk.

Hal tersebut kemudian disiasati dengan mengandalkan koleksi yang tersisa milik para kolektor. Namun, walau sudah mengandalkan koleksi yang ada bukan berarti kesulitan sudah terlampaui. Mutu cetak kadang malah menurun sehingga hasilnya cenderung mirip dengan hasil fotokopian saja. Hal ini terjadi pada Penerbit Galang Press tatkala menerbitkan Sebuah Tebusan Dosa yang menurut sastrawan dan pengamat komik Seno Gumira Ajidarma merupakan embrio karya Teguh Santosa lainnya seperti trilogi Sandhora (1969), Mat Romeo (1971) dan Mencari Mayat Mat Pelor (1970). Sementara itu, Bambang Sumantri dari Pustaka Satria Sejati dalam menerbitkan kembali komik Si Buta mengandalkan sisa produk komik yang masih dimiliki Gienardy, putra Ganes TH selaku pemegang hak cipta karya-karya Ganes TH.

Proses pengerjaan Si Buta untuk tiap edisinya bervariasi. Ada yang sebulan, ada pula dua minggu yang semuanya dilakukan secara digital. Menurut Erwin Primaarya, animator yang mengerjakan secara teknis proses digitalisasinya mulai dari desain kaver sampai isi komiknya, mengatakan hal tersulit adalah membersihkan flek pada gambar putih dan mengembalikan warna hitamnya agar lebih terang karena dikerjakan satu demi satu. "Tapi ini juga tergantung dari komik aslinya. Kalau kondisinya masih bagus bisa diperbaiki," jelas animator di sebuah perusahaan teknologi internet yang juga menggemari komik Si Buta.

Ejaan lama yang masih dipergunakan dari komik aslinya tetap dipertahankan walau semula Gienardy sebagai ahli waris dan pemegang hak cipta bimbang jika diubah menjadi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). "Memang kalau digunakan EYD memudahkan pembaca komik di zaman sekarang yang rata-rata anak muda. Tapi kemudian diputuskan ejaan lama tetap dipertahankan sebagai kenangan. Lagipula untuk seri selanjutnya ejaan komik Si Buta sesuai zamannya toh sudah berubah ke EYD oleh Ganes TH-nya sendiri," kata Gienardy kepada MATABACA.

Untuk penerbitan kembali tahun 2005 seri pertama Si Buta, Bambang Sumantri mengaku penjualannya cukup menggembirakan. "Sampai kini sudah masuk cetak ulang ke-2 dari cetakan pertama sejumlah 3.000 eksemplar," katanya. 

Ditinggalkan Masyarakat
Kehidupan dan perkembangan komik Indonesia sebenarnya amat ditentukan oleh kondisi kehidupan masyarakatnya. Kama Mustaqim dalam tulisannya Mari Membaca Komik (situs IndieComic.com, 7 Juli 2004) mengatakan, perkembangan komik lokal gagal memikat masyarakatnya sendiri untuk kembali mencintai komik. Baiklah, perkembangan komik underground sendiri dewasa kini cukup pesat dengan bermunculan berbagai komunitas dan produknya. Namun, harus diakui hasil karya mereka nyatanya belum sanggup memikat masyarakat lebih luas untuk kembali mencintai komik lokal meskipun komunitas komik underground juga memiliki masyarakatnya sendiri. Perkembangan komik lokal yang nyatanya juga ditinggalkan masyarakatnya membuktikan perkembangan komik lokal seperti "sakit" dan "jalan di tempat" karena ia tak diimbangi dengan penerbitan ulang komik-komik lokal yang sempat merajai dunia komik Indonesia.

Kembalinya komik Si Buta dalam ranah pustaka berbekal antusiasme penggemarnya mengingatkan kita pada penerbitan kembali karya-karya Karl May yang digiatkan Pandu Ganesa bersama komunitas pencinta Karl May, Paguyuban Karl May Indonesia (PKML) sejak 2000. Mungkin penggemar Si Buta belum sampai terorganisir seperti PKMI, namun karena di masa jayanya komik nasional Si Buta juga adalah komik lokal pertama yang diadaptasi ke layar lebar pada 1969 dan paling akhir diangkat menjadi sinetron tahun 2003 menunjukkan penggemarnya masih ada sampai kini. Sernoga langkah penerbitan kembali ini tak hanya berhenti pada karya Ganes TH saja, melainkan juga karya-karya maestro komikus Indonesia lainnya yang cenderung sulit ditemui.

Pertanyaan mengusik, bukankah langkah penerbitan ulang komik lokal setidaknya dapat memberikan wawasan kuitural perihal seni komik bagi para sejarawan, pencinta komik, dokumentator sejarah maupun pembaca buku di masa kini?

Donny Ariggaro, pencinta komik di Jakarta
Majalah MataBaca Vol. 3 No.11 Juli 2005

Previous
« Prev Post

Related Posts

11.46