"Superzaenal": Kartunis Internasional dari Kaliwungu

Posted by Cinta Buku on

Seorang lelaki dengan tinggi badan kurang lebih 170 sentimeter, berkulit sawo matang, rambut kepalanya tipis, semakin ke depan semakin jarang, membuka pintu sambil senyum mengembang di bibir, mempersilakan saya masuk. Saya pun duduk di atas kursi sudut berwarna merah yang sudah tidak sempurna lagi. Dialah Zainal Abidin, peraih penghargaan Yomiuri International Cartoon Contest tahun 1998, 1999, 2000, dan 2003.

Anak keempat dari delapan bersaudara ini memulai debutnya di bidang kartun sejak 1992, saat duduk di kelas 3 SMA. Meskipun kakaknya (Nur Rochim) seorang kartunis, Zaenal lebih memilih belajar ngartun dari Budi Santoso (Itos). "Secara personal saya lebih dekat dengan Mas Itos, jadi komunikasinya lebih enak," aku Zaenal.

Pria kelahiran Kendal, 10 November, 31 tahun lalu ini terbilang cukup pesat perkembangan keterampilan ngartunnya. Tahun 1992 masuk Kokkang, di tahun itu pula karyanya langsung dimuat tabloid Bola. Timbul rasa percaya diri pada diri Zaenal. Dengan berbekal rasa pede itu, setahun kemudian ia mulai berani mengikuti lomba kartun bertaraf internasional. Tidak main-main penghargaan Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky berhasil ia sabet.

Keberhasilan memenangkan cartoon contest di luar negeri semakin membuat rasa pede Zaenal kian tinggi. Sejak itu karya-karyanya tersebar di hampir semua media baik regional maupun nasional, seperti Suara Merdeka, Wawasan, Bola, Pantau, Humor, Seputar Semarang, Bola Sport, Nova, Intisari, Koran Tempo, Warta Kota, Jawa Pos, Bog-Bog, Mop, Cempaka, Merapi, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, dan beberapa media nasional lainnya. Sambil terus mengikuti cartoon contest di luar negeri.

Puncak prestasinya ketika ia memenangkan Special Prize Selection Committee dalam pameran kartun yang diselenggarakan koran Yomiuri Shimbun di Jepang tahun 2000 melalui karyanya berjudul "Pintu". Atas penghargaan ini, Zaenal berhak menerima hadiah 200.000 yen atau sekitar 13,4 juta rupiah.

Di Kokkang, Zaenal termasuk ke dalam angkatan keempat bersama Wawan Bastian dan M. Tavin. Zaenal adalah satu dari sedikit kartunis Kokkang yang menyandarkan hidupnya hanya melalui kartun. Filosofi berkaryanya adalah buang hajat. Gambar, kirim, lupakan. Dalam sehari ia bisa menghasilkan 30-50 baik gag cartoon maupun kartun strip.

"Semakin banyak karya yang dikirim, semakin besar pula kemungkinan dimuatnya," demikian timbang Zaenal. Satu redaksi koran setiap minggunya ia kirimi 5-8 kartun. Ibarat pisau, kalau tidak pernah dipakai, lama-lama kethul (tumpul)," kata Zaenal beranalogi.

Dari mana ia mendapat ide kartun itu? "Pada dasamya ide kartun tetap, hanya variasinya saja," jawab pria yang sebentar lagi akan menikah ini. "Untuk ide biasanya saya melihat katalog-katalog pameran kartun, membaca berita di koran dan nonton teve. Tapi yang paling sering ya dengan melihat katalog," tambahnya.

Bagaimana dengan jam kerjanya? Kartunis yang profilnya pernah diangkat dalam program Jelajah-Indosiar ini menjawab: "Biasanya mulai selepas salat magrib hingga subuh. Kalau tidak sekalian subuh, salatnya sering kebablasan. Tapi sekarang saya mencoba ritme baru, mulai menjelang zuhur hingga idenya mentok."

Satu hal yang sering dilupakan oleh banyak orang ketika membicarakan tentang kebiasaan hidup yang mendukung aktivitas berkesenian -ngartun- adalah berolahraga. Tepatnya menjaga kesehatan. Kesehatan dan kebugaran menjadi klausa prima untuk menjamin kontinuitas berkarya. Soal menjaga kesegaran dan stamina tubuh, Zaenal lebih memilih bersepeda atau jalan pagi dengan nyeker alias tanpa alas kaki.

Dengan reputasi internasional, tidakkah Zaenal ingin berhijrah ke Jakarta, menyusul teman-temannya yang telah berangkat duluan?
"Sebenarnya ingin juga, tapi karena peluang yang semakin sempit dan lagi alasan keluarga. membuat saya urung ke Jakarta," terang Zaenal. "Saya ingin mengibarkan nama daerah sendiri, dari kampung sendiri."

Di sela-sela ngartun —yang telah menjadi pekerjaan tetapnya— si "Superzaenal" dari Kaliwungu ini juga menerima berbagai macam job, yang penting masih berhubungan dengan gambar dan menulis. Sebuah bukti betapa Zaenal mampu menanggung "derita" dari sebuah ide.

Prestasi "Superzaenal"
Penghargaan Kontes Kartun Internasional
1993 Penghargaan Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky
1996 Penghargaan Knok Heist Belgia
1996 Nominasi Kartun Tabloid Bola Jakarta 
1997 Prize book/Katalog Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky
1997 Juara III Lomba Karikatur Majalah Gatra-Humor Jakarta
1998 Penghargaan Medali (CITATION) Jepang 
1998 Penghargaan Work Special Merit Jepang 
1998 Prize Book/Katalog Belgia
1999 Penghargaan Medali (Honorable Mention) Jepang
1999 Prize Book/Katalog Belanda
2000 Juara Kategori (Special Prize Sellection Comitte) Jepang
2001 Prize Book/Katalog Belanda
2003 Penghargaan Medali (CITATION) Jepang
2004 Nominasi Kartun Jawa Pos
2004 Juara Harapan Kartun Trans TV
2005 Juara I Lomba Poster HIV/AIDS Semarang 
2005 Juara Favorit Kartun Strip Jawa Pos

Ilustrator Buku
1. Tebak Humor Anak (Penerbit Wildan Pustaka Salam, 2004)
2. Seri Smart Word for Kids (Penerbit Wildan Pustaka Salam)
3. Ajari Aku Mencintai Kata (Fastabiq Media, 2005)
4. Humor Demokrasi (Toha Putra Centre, 2004)

Agus H. Irkham, Eksponen oaseBACA! Semarang, Komunitas PasarBuku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 3 No. 11 Juli 2005 

Previous
« Prev Post

Related Posts

09.26