Kelompok Kartunis Kaliwungu

Posted by Cinta Buku on

Sabtu, 21 Mei 2005. Tepat pukul 9 pagi dengan bus Semarang-Limpung, saya tiba di Masjid Agung Kaliwungu. Kaliwungu, salah satu dari sebelas kecamatan di Kabupaten Kendal. Kecamatan Kaliwungu terdiri dari 15 desa. Dari Ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang, hanya sekitar 25 kilometer arah barat. Persis di depan Masjid Besar Agung —hanya terpisah oleh jalan selebar 6 meter— terdapat alun-alun Kawedanan Kaliwungu. Pagi itu tampak masih lenggang. Hanya 3-5 penarik becak dan kusir dokar (di lain tempat ada yang menyebut bendi atau delman) memarkir dokar dan becaknya di kanan-kiri jalan sepanjang alun-alun sebelah barat. 

Saya berniat hendak ke markas Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu). Sengaja saya datang pagi, lantaran Zaenal —salah satu anggota Kokkang— meminta saya datang lebihawal. "Nek iso teko luwih isuk Pak, sebabe ono acara syukuran, Ikhsan nembe wae menang Iomba. (Kalau bisa datang lebih pagi Pak, sebab ada acara syukuran, lkhsan baru saja memenangkan Iomba)," demikian ucap Zaenal ketika saya telepon. Sama halnya dengan Zaenal, Ikhsan juga salah satu anggota Kokkang, namun berasal dari Semarang. Ia bam saja memenangi hadiah sebesar l0 juta dari ISAI, selaku panitia lomba kartun bertema "Plus Minus 60 Tahun Indonesia Merdeka".

Saya mengenal Zaenal sekitar satu tahun berselang, secara tidak sengaja di kantor redaksi Suara Merdeka, ketika sama-sama hendak mengambil honor.

Markas Kokkang terletak di Jalan Sekopek Kaliwungu. "Baru sekitar tiga bulan rumah ini ditetapkan sebagai sekretariat Kokkang," terang Muslih yang sejak 1992 didaulat teman-temannya sebagai Ketua Teknis Kokkang dan peraih penghargaan Excellent Prize dari Yomiuri Shimbun Jepang (2000).

"Biasanya kami nebeng di salah satu rumah anggota. Di sanalah kami bertukar ide dan informasi, sekaligus tempat mengambii honor apabila kartun dimuat," katanya lagi.

Memang semua anggota mengirimkan karyanya menggunakan satu alamat. Bagi yang karyanya dimuat, honornya langsung dipotong 10% untuk kas Kokkang. "Dengan model itu, kas Kokkang lumayan cukup untuk menghidupi kegiatan-kegiatan rutin," ungkap Muslih. "Sekitar 90 persen untuk biaya kirim lomba kartun ke luar negeri," imbuh Zaenal yang sejak 2001 menjadi bendahara Kokkang.

Markas Kokkang ramai pada setiap Sabtu pagi. Ada yang mengambil honor, mencatat undangan mengikuti Iomba kartun, undangan menghadiri pameran kartun, mempersiapkan pameran, mendiskusi ide, memberikan masukan terhadap kartun yang dibawa, mengkoordinir kalau ada undangan mengikuti lomba kartun tingkat internasional, dan aktivitas lainnya.

Setiap tahun, Kokkang paling sedikit mengikuti 10 undangan lomba kartun tingkat internasional. Di antaranya Yomiuri Shimbun (Jepang), The Magna Cartoon Exhibition Hokaido (Jepang), Sport Chosun International Cartoon Contest (Korea Selatan), Internationaal Cartoonfestival Knokke Heist (Belgia), International Nasreddin Hodja Cartoon Contest (Turki), Taiwan International Cartoon Contest (Taiwan), dan Nederlands Cartoonfestival (Belanda).

Komplotan Kartunis Kaliwungu berdiri pada 10 April 1981, atas prakarsa Budi Santoso (Itos) dan Darminto M. Sudarmo (Odios). Setahun kemudian, kata "komplotan" diganti menjadi "kelompok". Penggunaan "Kaliwungu" untuk memudahkan orang mengingat nama kelurahan tempat anggota Kokkang tinggal.

Itos kini menjadi Ketua Dewan Kesenian Kendal sekaligus penilik kebudayaan di Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Kendal. Sementara Odios berkarier di Jakarta sebagai kontributor freelance beberapa media, menulis buku, dan menjadi konsultan desain grafis.

Sifat keanggotaan Kokkang sangat terbuka, tidak ada rekrutmen, tidak ada iuran, dan tidak harus berasal dari Kaliwungu. Terbukti ada anggota Kokkang yang berasal dari Semarang (Ikhsan Dwiono, Imam), Pegandon-Kendal (Koes Gandon), dan Jakarta (M. Nasir, M. Najib, Ifoed. M.Tavin, dan Wawan Bastian). Bahkan yang bukan anggota Kokkang pun boleh memakai nama Kokkang.

"Siapa pun boleh pakai nama Kokkang, walaupun bukan anggota, tidak ada ruginya kan? Toh nanti pada akhrinya ada seleksi alam," tambah Itos, peraih hadiah tujuh kali lomba kartun di luar negeri: Jepang (empat kali), Turki (dua kali), dan Korea Selatan.

Kini anggota Kokkang berjumlah kurang lebih 50 orang. Tapi, yang benar-benar aktif dan rutin mengirimkan kartunnya ke media, termasuk mengikuti lomba kurang lebih 25 orang. Dari 25 orang tersebut hanya sekitar 20-an yang betul-betul menggantungkan hidupnya lewat mengkartun.

Hingga sekarang, Kokkang telah melahirkan 6 angkatan. Pertumbuhan angkatan ini tidak tentu, tergantung seberapa luas kapling media. Biasanya ukuran yang digunakan untuk kelahiran sebuah generasi adalah dari kuantitas kartun yang dimuat di media serta saat seleksi karya untuk pameran. Tidak berdasarkan usia. Semakin banyak media yang menyediakan kapling kartun, semakin cepat pula kelahiran sebuah angkatan.

Dibandingkan dengan kelompok kartun lainnya, seperti Secac (Semarang), Pakyo (Yogyakarta), Pakarso (Solo), Perkara (Jakarta), Karung (Bandung), dan Ikan Asin (Banjarmasin), Kokkang boleh dibilang yang paling eksis. Kartun-kartun mereka mewarnai hampir semua media di Indonesia. Bahkan tidak sedikit pula yang menjadi ilustrator, kontributor lepas, redaktur, PH untuk film dan iklan, dan wartawan, seperti M. Nasir (Bola), Wawan Bastian (Aura), Komarudin (Lampu Merah), Wahyu Widodo (Jawa Pos), Hertanto (Warta Kota), Koesnan Hoesi (Wawasan), Prie GS dan Joko Susilo (Suara Merdeka), Pujo Waluyo (BIN), Muktafin (Rakyat Merdeka), Ipong Gufron (Merapi), dan Tiyok (Bisnis Indonesia).

Beberapa anggota lainnya juga mulai merambah dunia perbukuan dengan menjadi ilustrator, seperti Muchid sudah menghasilkan 10 Seri Fabel Indonesia (Penerbit Elex Media Komputindo), Tevi Hanafi dan Muhammad Nazrudin (Penerbit Kanisius), Syaiful (Penerbit Mandira dan Wildan Pustaka Salam), Zaenal Abidin (freelance di Penerbit Wildan Pustaka Salam).

Sebagian besar kartun Kokkang berbentuk gag cartoon, sebuah istilah penanda untuk kartun yang lebih menekankan pada gerak fisik sebagai sumber kelucuan (slapstick). Hal ini disebabkan kapling media kian ciut, tidak hanya dalam jumlah tapi juga tema kartun, Kokkang pun mulai melirik media di luar negeri, salah satunya Malaysia. "Di Malaysia ada 9 majalah humor dan semuanya laris," cerita Muslih.

Kesempatan untuk menjadi kontributor majalah luar ini cukup besar. Tapi ada beberapa kendala yang mengakibatkan kesempatan itu luput diraih, seperti bahasa,sulitnya akses internet, dan pengelolaan organisasi yang masih menggunakan "manajemen bakso".

Lainnya dengan membuat kartun animasi. Adalah Slamet Sugianto, pengusaha sekaligus pemilik rumah produksl Anugerah Animasi meminta beberapa anggota Kokkang —di antaranya Tavin, Komarudin, Muchid, Didik, Bahar, Ipong, Tiyok, Zaenal— ke Jakarta (1995-1996). Selama kurang lebih satu setengah tahun mereka belajar membuat kartun animasi. Namun, sayang, krisis moneter melanda Indonesia.

Upaya lain yang diusahakan adalah mendirikan semacam kursus kartun. Di samping berfungsi sebagai profit center, juga sebagai sarana efektif untuk menyebarkan "virus" ngartun.

Matahari semakin meninggi, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Satu per satu anak-anak Kokkang mulai berdatangan. Mereka langsung menebar senyum dan tawa, saling berbagai informasi soal pemuatan karya dan hasil lomba, ada pula yang tengah asyik sambil membuka-buka majalah, tabloid dan koran, tentu saja pada rubrik kartun. Kebetulan hari itu datang sebuah paket berisi majalah Intisari edisi Mei 2005. Kartun Kaeroni ada di halaman pojok kartun.

Seperti kebanyakan kartunis lainnya, mereka pun sedikit bicara banyak tertawa. Sadar atau tidak, mereka telah menjadi duta Indonesia bagi dunia. Indonesia teiah menempati ruang tersendiri di hati mereka. Buat mereka Indonesia adalah bagian dari Kaliwungu.

Agus M. Irkham, Eksponen oaseBACA! Semarang, Komunitas Pasar Buku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 3 No. 11, Juli 2005

Previous
« Prev Post

Related Posts

18.53