Tips dan Trik Menulis Skenario: "The Nine-Act Structure" (Bag. 2)

Posted by Cinta Buku on

Kali ini kita akan membahas lanjutan teori The Nine-Act Structure. Banyak pembaca yang memberikan komentar dan pertanyaan seputar teori 9 babak ke penulis, apakah teori bercerita 9 babak lebih mengedepankan unsur konflik dan kejutan sehingga membuat para penonton/pembaca cerita film kita dicekam ketakutan? Jawabannya, tidak. Teori bercerita 9 babak memberikan "pengalaman" dan "waktu berpikir" bagi penonton untuk memecahkan masalah bersama sang aktor. Jika Anda baca artikel sebelumnya, pada babak ke-6 "reversal"/titik balik diterangkan bahwa tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya, ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara "belajar mengenal dan mengatasi musuhnya".

Babak ke-6 dalam struktur 9 babak adalah babak paling penting dan digunakan untuk mengajak penonton turut larut dalam pemecahan masalah dalam cerita yang sedang berlangsung. Dalam film Enemy of the State, kita melihat peran Will Smith yang berakting menjadi seorang buronan pemerintah. Di babak ke-6 cerita dalam film tersebut, Will Smith menemukan informasi dari Gene Hackman tentang teori konspirasi intelijen yang sedang berlangsung di pemerintah Amerika Serikat. Akhirnya, ia menemukan cara untuk menjebak sang pemburunya dengan menggunakan kaset perekam video dan alat-alat penyadapan yang dipelajari semasa menjadi buronan.

Babak ke-6 adalah babak yang menerangkan segala inti masalah dalam cerita. Jika Anda pernah melihat film The NET dengan aktor Sandra Bullock yang berperan sebagai ahli komputer yang dikejar-kejar penguasa. Dalam film itu diceritakan, Sandra Bullock menemukan hubungan antara kerusakan program komputer dan bisnis jutaan dolar yang dapat membahayakan pemerintah Amerika Serikat. Sandra Bullock menyadari, ia harus membatalkan rencana peluncuran sebuah sistem operasi komputer yang dapat merusak dunia dengan cara melepaskan program komputer tandingan di sebuah pameran  teknologi informasi.

Membuat Cerita Drama 9 Babak
Kali ini kita akan membuat sebuah contoh outline cerita dengan setting Indonesia yang menggunakan teori 9-babak.

Act 0: Babak kejadian buruk menimpa orang lain
Ada suatu kejadian di suatu tempat yang tidak berhubungan dengan aktivitas tokoh protagonis. Seseorang terbunuh oleh orang lain (antagonis), sesuatu yang dicuri atau sesuatu yang diperebutkan. Sebuah pesawat diberitakan di koran meledak dan mengalami kecelakaan. Seluruh penumpang tewas, termasuk dua orang pasangan suami istri pengusaha Tuan dan Nyonya Sugandi.

Act 1: Babak awal dan pengenaian karakter protagonis
Sebuah pemandangan kota, menampilkan aktivitas sang karakter protagonis yang digambarkan innocent, tidak tahu apa-apa dan tidak menyadari bahwa ada bahaya atau masalah yang mendekatinya.

Kita melihat aktivitas karakter tokoh utama, kita sebut saja bernama Srikandi. Srikandi adalah putri tunggal Tuan dan Nyonya Sugandi. Ia mendapatkan berita dari pengacara keluarganya tentang warisan sebidang tanah seluas 1.000 hektar di Kalimantan. Srikandi tidak pernah menduga, bila ayah dan ibunya memunyai tanah yang luas di pulau tersebut. Kita mendapatkan informasi bahwa Srikandi seorang gadis introvert dan tertutup.

Act 2: Babak kejadian buruk menimpa tokoh protagonis 
Sesuatu buruk terjadi, sosok tokoh protagonis terjebak di sebuah tempat atau kejadian yang membuatnya terperangkap, menjadi kambing hitam atau menjadi korban. Masalah semakin bertumpuk, ia menjadi buronan poiisi atau pemerintah.

Sebuah perusahaan tambang emas bernama Bre-X mendapatkan kabar bahwa tanah yang dimiliki Srikandi mengandung cadangan mineral emas sebesar 20 juta ton. Mereka berusaha mendekati Srikandi dan menawarkan uang 100 miliar rupiah untuk pembelian tanah tersebut, Srikandi menolaknya. Perusahaan Bre-X memaksa, tetapi Srikandi tetap menolak.

Act 3: Mempertemukan tokoh antihero/protagonis dengan lawan antagonis
Tokoh antihero kebingungan, ia akhirnya bertemu dengan sumber masalah secara sekelebatan. Ia heran menemui calon musuhnya (antagonis) yang justru memperburuk keadaannya.

Kesal karena tawarannya ditolak, Bre-X menyewa seorang petualang, seorang laki-laki tampan, menarik dan profesional untuk mendekati Srikandi. Sang lak|-laki tersebut (sebut saja bernama Arjuna) tertarik dengan job yang diberikan kepadanya. Ia berupaya mendekati Srikandi dan mencoba merayunya menjadi pacarnya. Srikana terlena, ia tidak mengira bahwa Arjuna adalah agen suruhan Bre-X untuk menguasai harta warisan tanahnya.

Act 4: Sebuah rencana dibuat
Tokoh antihero terpaksa membuat rencana pelarian, karena kebingungan terhadap situasi yang dihadapi. Sementara ia mendapatkan informasi jelas bahwa ia menjadi kambing hitam dari sebuah konspirasi.

Tanpa curiga sedikit pun, Srikandi memercayai Arjuna. Mereka berdua akhirnya menjadi sepasang kekasih. Srikandi terlena, hingga suatu saat Arjuna berhasil merampas sebagian dokumen harta warisan yang dimiliki.

Act 5: Menuju tujuan yang salah
Karena semakin terdesak, sang tokoh protagonis berjalan tidak tentu arah, melarikan diri dan berusaha keluar dari masalah yang justru semakin membuatnya terpuruk. Sampai suatu saat, ia membentur sesuatu yang tidak bisa dilewati. Ia jatuh. Sementara pihak lain dan tokoh antagonis tetap memburu.

Srikandi sadar telah dipermainkan Arjuna, ia akhirnya melarikan diri dari Arjuna sambil membawa sebagian dokumen penting. Arjuna berupaya mengejarnya, tetapi kehilangan jejak Srikandi bersembunyi dan pergi ke Kalimantan demi membuktikan isu kandungan emas di tanahnya tersebut.

Act 6: Titik balik
Di saat titik nadir dan kesialan hidupnya, tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya, ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara "belajar mengenal dan mengatasi musuhnya".

Di tengah kesialan dan penderitaan hidupnya, Srikandi bertemu dengan seorang ahli geologi dan pertambangan. Ia mendapatkan informasi dari ahli tersebut bahwa ada sesuatu yang salah dalam informasi kandungan emas di tanah yang dimiliki. Ternyata menurut penelitian data di lapangan, tanah Srikandi tidak sedikit pun mengandung emas. Srikandi kaget, ia berupaya mencari informasi dan mengungkapkan rahasia skandal emas yang di gembar-gemborkan perusahaan Bre-X.

Act 7: Menjalankan rencana darurat kedua (yang tidak pernah terpikirkan)
Setelah mengetahui kelemahan musuhnya, tokoh antihero berubah menjadi tokoh superhero dan mencoba melawan penindasan yang teiah dikenakan padanya. Inilah saat pembalasan. Tokoh kita berbalik menuju tempat antagonis.

Srikandi berusaha mematangkan rencana untuk membongkar skandal emas yang menimpa dirinya. Srikandi akhirnya tahu bahwa Bre-X adalah perusahaan penipu yang berusaha mengguncangkan pasar saham dunia dengan mengembuskan isu kandungan emas yang menghebohkan. Srikandi rnenggunakan berbagai cara untuk memberi pejajaran orang-orang Bre-X dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib untuk melucuti Bre-X.

Act 8: Klimaks cerita
Cerita diakhiri dengan terbongkarnya kasus tersebut. Arjuna dan orang-orang Bre-X tertangkap. Srikandi kembali melanjutkan hidupnya dengan tenang. Kandungan emas 20 juta ton ternyata cerita isapan jempol belaka.

Modifikasi
Cerita-Struktur 9 Babak
Selain memberikan dua tujuan (two goals) yang berbeda, struktur 9 babak menerangkan kita bahwa begitu banyak kemungkinan cerita menjadi lebih berisi dan menarik. Modifikasi dapat kita lakukan per babak, umpamanya kita dapat memberikan keterangan bahwa tokoh protagonis kita ternyata mempunyai kelemahan fisik, seperti sakit, cepat lelah atau cacat. Cerita menjadi lebih dramatis dengan melakukan perubahan karakter, abilitas/disabilitas kemampuan dan beberapa halangan tambahan yang memperkaya jalannya cerita skenario. Jika Anda sempat menonton film Panic Room yang dilakoni oleh Jodie Foster, kita melihat sebuah cerita yang dramatis, aktor utama film tersebut mempunyai penyakit asma yang membuatnya susah bergerak.

Pada contoh outline cerita di atas, kita dapat menambahkan beberapa masalah yang dihadapi Srikandi, umpamanya kita dapat memunculkan tokoh lain (selain Arjuna) yang ternyata tertarik menguasai surat warisan Srikandi. Atau kita berikan komponen disabilitas pada karakter Srikandi, menjadi seorang yang memunyai penyakit asma sehingga menambah ketegangan dalam cerita, Atau kita bisa mengubah karakter antagonis yang dimainkan oleh Arjuna.

Mungkin di babak ke-6 kita bisa memodifikasi karakter Arjuna: sadar bahwa ternyata ia betul-betul mencintai Srikandi dan berbalik menolongnya lepas dari kejaran Bre-X. Mungkin saja bukan?

Rumus Antagonis Menjadi Protagonis
Salah satu kejutan yang bisa ditampilkan pada penonton atau pembaca skenario kita adalah mengubah karakter antagonis menjadi karakter protagonis. Kita bisa menceritakan bahwa karakter antagonis berbalik arah, sadar akan kejahatannya dan berupaya membantu karakter antagonis pertama (tokoh utama cerita) melanjutkan tujuannya untuk mengalahkan lawan sebenarnya. Supaya cerita dapat diselami secara logika, kita dapat memberikan beberapa alternatif, sebagai berikut:

1. Tokoh antagonis dapat berubah membantu tokoh protagonis untuk melawan musuh sebenarnya jika peran tokoh antagonis adalah tokoh pembantu karakter lawan utama (antagonis utama).

2. Tokoh antagonis dapat berubah menolong tokoh protagonis apabila diberikan hubungan batin yang mengakibatkan kesadaran (kasih sayang, jatuh cinta, kasihan).

3. Tokoh antagonis kita berikan keterangan bahwa ternyata dia mempunyai "hubungan darah", pertalian saudara (ayah-anak, suami-istri, dan sebagainya). Dalam film StarWars, kita menyaksikan peran batin berkecamuk antara tokoh antagonis ayah Darth Vadder melawan Luke SkywalKer—tokoh protagonis anaknya sendiri.

Penutup
Banyak sekali elemen tambahan yang dapat kita gunakan untuk membuat skenario yang baik. Bahkan teori 9 babak sangat menolong kita mengetahui bagian cerita mana yang lemah, bagian mana yang kuat dan kita bisa memperbaikinya tempat yang tepat. Sebuah cerita layaknya sebuah bangunan, kita harus mengerti bagian-bagian tertentu untuk memperkokoh jalinan cerita tersebut. Sebuah skenario adalah sebuah struktur cerita yang padat, dan kita tidak boleh mengabaikan satu bagian pun. Untuk menguatkannya, kita membutuhkan pengetahuan tentang struktur babak cerita itu sendiri.

Sonny Set., praktisi film dan  pembuai skenario di beberapa stasiun televisi
Majalah Mata Baca Vol. 2 No.  12, Agustus 2004  

Previous
« Prev Post

Related Posts

08.33