Berkutat dengan Perasaan dan Pikiran: Sebuah Refleksi Menerjemahkan

Posted by Cinta Buku on

Sejak dua tahun silam saya sudah menerjemahkan sekitar lima buku asing, sebagian besar buku-buku sastra dan satu buku psikologi, serta beberapa artikel. Beragam perasaan berkecamuk di hati ketika saya mengerjakan. Ada buku yang membuat pusing tujuh keliling, lelah dan sebal karena begitu detail menceritakan hal-hal kecil dalam keseharian. Ada juga yang membuat sedih, gembira dan tertawa karena rumit ataupun lucunya penceritaan karakter para tokohnya.

Buku pertama yang saya terjemahkan bersama Anton Kurnia (Jostein Gaarder, Misteri Soliter, Yogyakarta: Jalasutra, 2002) bukan buku yang mudah, tetapi tidak juga susah. Sebelum menerjemahkan, saya sudah diberi semacam "panduan" agar semua isi buku itu selaras untuk memudahkan proses pengeditan. Jadi, buku itu adalah buku "termudah" yang pernah saya terjemahkan. Kisahnya pun mengasyikkan meski agak aneh. Inilah buku pertama yang mengawali proses penerjemahan yang kini saya geluti.

Sebuah Rumah untuk Tuan Biswas (Yogyakarta: Jalasutra, 2003) —sebuah masterpiece V.S. Naipaul— adalah buku yang membuat saya ngos-ngosan dan tertatih-tatih mengerjakan,. Bersama Neti Meilyawati, selama hampir lima bulan kami baru bisa tuntas menerjemahkan buku tersebut. Ratusan halamannya membuat kening saya berkerut dalam, kadang-kadang merasa aneh bahkan menyebalkan. Hal-hal dalam keseharian ditulis Naipaul dengan cermat, detail dan penuh penjiwaan. Saya ingat bahwa dalam Keluarga Tulsi, keluarga mertua Tuan Biswas di Hanoman, ada ritual makan kapur (bayangkan, kapur!) dicampur sejenis cairan manis lain yang harus dimakan oleh anak-anak agar tidak kekurangan kalsium, menjijikkan. Saya pun hapal bagaimana bersin Tuan Biswas sering sekali menjadi penyebab musibah bagi orang lain yang ada di sekitarnya. Memang lucu sekali, meskipun kadang-kadang terasa berlebihan. Sungguh menyedihkan saat Tuan Biswas gagal mendapatkan rumah impian yang dibelinya dari seorang pengacara. Ketika rumah baru menjadi miliknya, rumah yang tadinya selalu tampak bagus di malam hari ternyata tidak lebih dari rumah jeiek yang tak sebanding dengan uang yang sudah dikeluarkan (pada siang hari): pintu belakang tidak ada, tangga rumah "berbahaya", dan lantai bawah amblas. Kadang-kadang saya berhenti mengerjakan karena terlalu lelah dengan detail semacam itu, atau karena merasa sesak bila mendapati Tuan Biswas yang selalu ingin melakukan hal benar itu gagal dalam usahanya. Kata tersulit dalam karyanya yang tidak ada dalam kamus bahasa Inggris besar di rumah, seperti kata prognathaus yang diiringi dengan kata smile. Saya sempat kesulitan mencari kata itu, meski bisa mengira-ngira maknanya sebelum akhirnya seorang teman membantu mencarikan artinya dari sebuah kamus di perpustakaan LIA Bandung. Kata-kata yang dipakai oleh Naipaul dalam bukunya bukan kata-kata yang biasa ditemui dalam novel-novel biasa. Naipaul menggunakan bahasa Inggris khas British yang sangat "rapat" dan rumit, sungguh melelahkan dan butuh konsentrasi tinggi untuk menyelaraskan. A House for Mr. Biswas merupakan buku pertama yang langsung saya tangani sendiri.

Buku Marguerite Duras, The Lover (Yogyakarta: Jalasutra, 2004) yang baru-baru ini saya terjemahkan punya sisi lain yang tak kalah dahsyat. Tidak ada keruwetan detail keseharian di dalamnya, tetapi saya merasa tertekan dengan cara bercerita Duras yang aneh, tidak biasa dan lebih mengedepankan sisi psikologis karakternya dengan rumit, dibandingkan peristiwanya sendiri. Tidak banyak tutur kata, hanya perasaan yang dirasakan sang tokoh terurai tak biasa. Duras seperti berbicara dengan diri sendiri, membuat saya merasa gamang, tertekan dan aneh. Ketika sampai pada bagian hasrat —sang gadis mengeksplorasi tubuh mungilnya kepada seorang pria yang tergila-gila padanya— saya sempat berhenti menerjemahkan, sungguh menyesakkan. Kisah perseteruan sang gadis dengan ibunya (tanpa percakapan, hanya kilasan perasaan) membuat saya merasa sedih seolah ikut mengalami. Buku itu disebut-sebut sebagai autobiografi Duras yang tidak diakuinya, sarat kepedihan dan kisah cinta yang janggal. Bagi saya, novel ini merupakan rangkaian kisah cinta dan hidup yang indah meski penuh luka. Tidak akan ditemui happy end ataupun sad end setelah membaca bukunya. Yang ada hanya rentetan pengalaman hidup seorang perempuan istimewa. Seorang teman yang mengedit karya Virginia Woolf mengomentari pandangan saya tentang buku itu; "Duras 'sakit' ya?" Saya membalas, "Tapi Duras tidak mati bunuh diri."

Kesulitan terbesar ketika mengerjakan The Lover ketika saya harus berkutat dengan kata-kata yang "rapat" dan "padat". Untungnya buku itu hanya sebuah buku tipis. Kesalahan pertama terjadi ketika saya menerjemahkan kata Spectator menjadi Pengamat di bagian halaman persembahan. Padahal Spectator adalah nama sebuah harian, seperti halnya News Weekly atau Guardian. Wawasan adalah salah satu hal yang mutlak penting sehubungan dengan kesalahan itu. Beberapa kesalahan lain terjadi ketika saya keliru memaknai beberapa penggal kalimat, disebabkan sangat rumitnya struktur bahasa yang dipakai dalam buku itu dan pengetahuan struktur saya yang masih harus terus digali. Hal lain juga karena fakta bahwa buku itu diterbitkan pertama kali dalam bahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Barbara Gray (bayangkan pergeseran makna yang mungkin terjadi saat saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), cukup mengganggu. Untunglah, dengan hasil editan nyaris sempuma, buku The Lover bisa dibaca dengan asyik. 

Artikel tentang peraih Nobel Perdamaian 2004, Shirin Ebadi asal Iran yang saya kerjakan bersama dua teman untuk Mizan mengangkat semangat saya setinggi-tingginya. Artikel itu, ditambah riwayat hidup aktivitas dan pidato Nobel Perdamaiannya diterbitkan Mizan untuk menyambut kedatangan Ebadi, judulnya Srikandi HAM dari Negeri Muslim. Tak peduli betapa politisnya penghargaan itu (menurut banyak orang), saya merasa "dikompori" oleh kata-kata Ebadi dalam wawancaranya dengan beberapa stasiun TV terkemuka dunia yang saya terjemahkan. Ia yang bekerja dan bekerja sepanjang hidupnya untuk membantu orang-orang tertindas dengan hanya sedikit memedulikan keselamatan hidupnya itu menginspirasi saya agar melakukan sesuatu untuk menjadi lebih baik, Mengerjakannya tak terlalu sulit, ton masih ada kesalahan yang saya buat.

Buku Tasawuf dan Psikologi (Sufism and Psychology, karya Lynn Wilcox, Ph.D.) yang urung diterbitkan oleh penerbit pemberi order karena ternyata didahului oleh penerbit lain merupakan buku yang paling membuat saya berkeringat. Bayangkan, betapa istilah psikologi sekaligus tasawuf yang kurang saya pahami berkeliaran di seluruh isi buku itu! Sampai-sampai saya menghubungi Al —teman saya— untuk membantu menerjemahkan istilah tasawufnya. Beberapa kali ada teguran setelah seluruh buku itu selesai diterjemahkan karena pihak penerbit merasa saya membuat cukup banyak kelalaian. Kejadian itu membuat saya belajar untuk hanya menerjemahkan buku-buku yang saya suka atau kuasai. Sastra selalu mengasyikkan bagi saya. Meskipun dapat dipelajari, buku-buku selain sastra merupakan ranah baru dan asing yang masih harus saya pahami secara benar dan mendalam, tidak bisa asal menerjemahkan, bisa-bisa malah membodohi orang banyak!

Dead Poets Society (adaptasi film karya N.H. Kleinbaum, Yogyakarta: Jalasutra, 2004) merupakan buku sastra penuh puisi indah yang saya anggap seperti anak saya sendiri. Sejak penghujung 1990-an, saya sudah memiliki, membaca berulang kali sambil menikmati kembali berbagai perasaan yang berkecamuk di hati saya ketika melakukannya. Perasaan bahagia menghantui saya saat menerjemahkan. Bagaimana tidak, saya sungguh memahami mengapa Neil bunuh diri demi kebebasannya, atau sebab Todd menjadi begitu berbeda setelah diajar Pak Keating, guru barunya. Saya bahkan hapal beberapa penggal dialognya. Itu karena saya begitu mengenal buku itu. Proses menerjemahkannya pun tidak memakan waktu terlalu lama. Itulah buku pertama yang saya kerjakan dengan sangat enjoy, meski tetap membuat kecerobohan dalam menerjemahkan puisinya. Tidak mudah menerjemahkan bahasa puisi asing ke dalam bahasa kita, kesalahan interpretasi sangat mungkin terjadi. Dalam salah satu puisi ada kalimat gather ye rosebuds, yang awalnya saya terjemahkan "kumpulkanlah kuntum-kuntum bunga" bukannya "berkumpullah wahai kuntum bunga" yang lebih mengena dan tepat. Sempat terjadi perbedaan pendapat dengan editor dalam hal panggilan nama murid di Barat yang sama dengan menyebut nama belakang keluarga, dalam hal ini nama ayah. Jadi. ketika Todd dipanggil sebagai Mr. Anderson dalam acara tahunan Welton Academy, begitupun dengan sang ayah, Mr. Anderson, editor Dead Poets berpendapat pemakaian nama harus dibedakan agar mudah merujuk nama anak dan nama ayah, sedang menurut saya biarkan saja, toh pembaca akan tahu dengan sendirinya: mana anak dan mana ayah. Saya lebih memilih untuk tidak menerjemahkan tradisi Barat ke dalam tradisi kita, sedangkan editor tetap berpendapat bahwa pembedaan nama bisa memudahkan pembaca memahami isi buku itu, yang artinya mengubah pangglian Mr. Anderson (anak) dengan Todd saja.

Ketidaksepahaman antara penerjemah dan editor merupakan hal biasa yang mungkin terjadi karena pemikiran dan pertimbangan masing-masing orang takkan pernah sama. Sungguh menyenangkan jika kebetulan bekerja sama dengan editor yang rela bersusah-payah menanyakan maksud atau pendapat kita mengenai terjemahan yang kita kerjakan (pertama kali saya alami dengan editor buku Dead Poets Society). Pengalaman paling seru yang pernah saya alami sehubungan dengan proses terjemahan dan editing ketika saya bekerja sama dengan editor The Lover yang mengembalikan hasil editannya untuk saya baca baik-baik selama beberapa hari. Ia meminta saya mengoreksi pekerjaannya, apakah sesuai dengan yang saya inginkan. Menurui editor tersebut, sayalah bidan pertama yang bisa memahami isi buku itu dengan cukup baik. Padahal, setelah ia mengeditnya, tingkat keterbacaannya menjadi jauh lebih tinggi. Itulah pengalaman pertama saya bekerja sama dengan seorang editor yang sangat rendah hati, padahal berkat editor itu (dan berkat pengetahuannya yang luas) buku The Lover menjadi sebuah buku dengan tingkat keterbacaan tinggi yang enak dinikmati.

Kadang-kadang saya merasa gamang setiap kali menyadari bahwa saya sedang "membahasakan" karya orang lain kepada khalayak, apalagi jika karya itu mendapat penghargaan prestisius dan dikenal orang banyak. Sering saya merasa tidak puas saat membaca buku terjemahan yang suiit dipahami dengan kata yang melingkar-lingkar hingga sulit menangkap maknanya; entah karena saya yang bodoh atau karena kualitas terjemahan yang jelek. Kadang-kadang saya bisa langsung menanyakan sebabnya bila saya mengenal orang yang bersangkutan dengan proses penerjemahan tersebut. Biasanya jawaban yang sering diterima, "Begitulah adanya. Penulisnya memang menulis buku yang rumit, jadi bahasanya pun rumit." Padahal, bukankah penerjemahan dimaksudkan agar orang bisa lebih mudah memahami sebuah buku daiam bahasa ibunya? Saya masih sering khawatir kalau-kalau saya gagal menginterpretasikan maksud penulis, apalagi sampai melantur. Tanggung jawab saya sangat besar. Setiap kekeliruan yang dibuat, seremeh apa pun, bisa membodohi orang lain. Karena itu, saya hanya berani menerjemahkan buku-buku yang sudah saya kenal sebelumnya (seperti buku-buku sastra), baik melalui film maupun berdasarkan referensi orang yang sudah membacanya. Saya pun selalu berharap agar editor buku-buku terjemahan selalu cermat memeriksa kekeliruan yang ada hingga keterbacaan dalam bahasa sasaran menjadi lebih tinggi.

Saya cukup sering di-"panas-panasi" suami untuk memberanikan diri melamar menjadi penerjemah yang lebih profesional pada sebuah penerbit bagus di Bandung karena dia pikir saya cukup mampu melakukannya. Saya katakan bahwa saya belum terlalu berpengalaman dalam bidang itu, mungkin jika sudah menerjemahkan kurang lebih 10 buku dan semakin meminimalkan kesalahan, baru saya akan memikirkan. Menerjemahkan bukan hal mudah dilakukan, tetapi kecerdasan dan nyali dalam mengolah dan mengeksplorasi kata sepenuh rasa dan pikiran senantiasa tertantang. Menerjemahkan membuat saya "menjelajahi" dunia dan pemikiran baru yang sebagian besar belum saya alami dalam kenyataan dan rasanya sampai kapan pun pekerjaan ini tetap bisa dilakukan meski saya beranjak tua. Saya berharap tak pernah "pensiun" dari pekerjaan ini, setua dan selemah apa pun saya kelak. Semoga saja.

Septina Ferniati, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung
Majalah Mata Baca Vol. 2 No. 12,  Agustus 2004  

Previous
« Prev Post

Related Posts

11.00