Nova Riyanti Yusuf: Aksi Sang Dokter Novelis

Posted by Cinta Buku on

Menghasilkan sebuah novel yang mampu menarik perhatian banyak pembaca tentu bukan hal gampang. Terlebih lagi, bila novel tersebut harus diselesaikan dalam tempo relatif singkat. Toh, hal itu dengan "gampang" dilakukan Nova Riyanti Yusuf. Betapa tidak, dalam kurun waktu dua tahun (2003-2004), Nova telah menghastlkan novel sebanyak tiga judul: Mahadewa Mahadewi (dirilis Agustus 2003), Imipramine (dirilis Maret 2004), dan 30 Hari Mencari Cinta (dirilis Maret 2004). Ketiganya telah mengalami cetak ulang dan masing-masing berhasil diselesaikan Nova hanya dalam tempo dua minggu.

Apa yang telah dihasilkan Nova memang merupakan "akumulasi" dari kebiasaan yang dilakukan sejak masa kecil. Saat itu, Nova yang sering berada di rumah kakeknya yang penulis sekaligus wartawan Antara lebih banyak mengisi waktu dengan membaca. "Di rumah kakek senantiasa banyak buku. Otomatis hiburan saya adalah buku. Saat anak-anak kecil masih main bekel, saya baca buku saja di perpustakaan. Kadang- kadang kalo lagi dijemput tidak ada, dikirain ke mana... padahal saya ada di perpustakaan. Bukan hanya komik, tapi juga yang lainnya," ungkap Nova mengawali pembicaraan dengan MATABACA saat ditemui di Istora Gelora Bung Karno, seusai mengisi acara talk show berkaitan dengan promosi novel terbarunya 30 Hari Mencari Cinta yang baru saja masuk lima buku fiksi terlaris selama bulan Mei versi Toko Buku Kharisma dan Gramedia (Kompas, 19 Juni 2004).

Nova mengakui bahwasanya bacaan-bacaan tersebut membuat imajinasinya terhibur. Bahkan, membuat dirinya terbuai yang pada gilirannya mendorong ia untuk membuat sesuatu. "Kok, bacaan ini begitu enaknya apalagi kalau saya sendiri yang bisa menciptakan sebuah cerita. Akhirnya, kala saya ada gundah dan kadang-kadang sebagai anak-anak kecil, SD, mulai ada rahasia dengan orang tua dan akhirnya saya cenderung untuk menuliskan rasa-rasa itu," papar Nova yang menjalani pendidikan sekolah dasar di SD Ora et Labora, Jakarta. Dari catatan ala diari, Nova mengasah keterampilan menulisnya dengan menulis cerita pendek. Hal ini lakukan saat duduk di SMP Al-Azhar, Jakarta. "Saat itu, tak ngaja melihat acara sebuah TV yang menjelaskan tentang sebuah tempat bernama Acapulco Island. Saya terpicu, kok tempat indah sekali. Entah kenapa itu pertama kali saya heran, saya itu bisa menulis dan akhirnya saya menulis cerpen. Anehnya, menulis cerpen dalam bahasa inggris karena saya menemukan kemudahan dengan 'I' (ai). Kalau di sini (bahasa Indonesia— red.) ada saya, ada aku, ada gue, yang buat anak SMP terlalu complicated dan akhirnya itu pertama kali saya sadar bahwa saya punya talent yang saat itu rasanya aneh. Kalau dulu menulis semata-mata untuk kenikmatan, sekarang saya menulis cenderung untuk, oh... saya punya bakat, tapi saya harus punya willingness to write, keinginan menulis."

Saat SMP, Nova sedikitnya telah menulis dua cerita pendek berbahasa inggris, "Love Story In Acapulco Island" (1991) dan "A Week In Paradise Island" (1991). Dari cerpen, perempuan kelahiran Palu, 27 November 1977 ini mulai menggarap sebuah novel (2003). Setelah novel lang diberi tajuk Mahadewa Mahadewi selesai ditulis, Nova memiiih untuk menerbitkannya sendiri. "Waktu itu, niatnya setelah selesai (ditulis), independent. Jadi, murni tidak ada niat untuk menghubungi penerbit. Kebetulan ada orang yang mau minjamkan modal, yakni ibu saya. Juga ada percetakan yang mau membantu saya dan bilang bayarnya setengah dan nanti pas setelah tiga bulan uangnya kembali. Jadi, gambling juga. Saya pikir, daripada menghabiskan waktu, misalnya enam bulan saya mengirim (ke penerbit), tak ada hasil, momentum hilang, lebih baik saya gambling. Saya terbitkan sendiri karena menurut teman-teman cerita itu layak diterbitkan, ya sudah saya terbitkan saja."

Novel Mahadewa Mahadewi pun diterbitkan dan dicetak sebanyak 4.000 eksemplar. Dalam tempo satu bulan, novel ini habis. Namun, tidak lantas membuat alumni SMA Tarakanita 1 ini senang, malah membuatnya bingung, "Buku itu laku, tapi (hasil penjualan) buku tidak ada di tangan saya. (Hasil penjualan) masih di tangan distributor, dan saya sempat ada problem (waktu itu) dengan distributor saya. Kemudian, saat bingung, tiba-tiba Gramedia (Gramedia Pustaka Utama—red.) menawarkan. Akhirnya, cetakan kedua diambil Gramedia. Terus terang saya sudah jenuh dan tidak kuat distribusinya. Uang saya belum kembali, untuk menerbitkan lagi tidak mungkin karena tidak ada dananya."

Sejak itu, novel Mahadewa Mahadewi diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan dicetak pertama pada Agustus 2003. Pada tahun yang sama, novel ini memperoleh pengakuan saat dinobatkan sebagai novel pilihan (editors' choice) versi majalah Cosmopolitan. Tahun 2004, Nova menulis dan menyelesaikan novel keduanya yang berjudul Imipramine. Novel diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan dicetak pertama bulan Maret 2004. Dalam bulan dan tahun yang sama, novel ketiga karya Nova dirilis. Novel tersebut berjudul 30 HariMencari Cinta yang diadaptasi dari skenario film karya Upi Avianto dan diterbitkan Gagas Media. Menurut Nova, saat itu Gagas Media mencari penulis yang bisa menciptakan karya dalam waktu cepat dan Gagas Media menghubunginya. "Ya, kemungkinan mereka baca story di media karena saya 'penulis dua mingguan'. Sebenarnya, saya tidak senang dengan (sebutan) 'penulis dua mingguan' karena karya yang ditulis telah dipikirkan secara masak-masak dan itu (dua minggu—red.) hanya teknis penulisan berarti harus intensif, harus konsisten. Intensitasnya akan berubah kalau saya sambi dengan kegiatan lain."

Selain novel 30 Hari Mencari Cinta yang diselesaikan dalam tempo relatif singkat (sekitar dua minggu), novel Mahadewa Mahadewi dan Imipramine pun di selesaikan dalam tempo yang relatif sama. Namun, kendala tetap muncul dalam penulisan ketiga novel tersebut. Dalam novel pertama dan kedua, Nova merasakan keinginan menulis yang semakin berkurang. "Semakin ke sini, rasa keinginan menulis itu berkurang karena saya terus merasa dalam proses pencarian. Belum dapat suatu format yang baku bahwa karya Nova seperti ini." Sementara itu, kendala yang muncul saat menyelesaikan dalam novel ketiganya lebih bersifat teknis. "Saya harus menulis tentang orang remaja, sedangkan saya sudah merasa tidak remaja lagi. Jadi, saya harus bisa menyelami. Itu mungkin kendalanya."

Saat ini, Nova yang lulusan Fakultas Kedokteran Umum Universitas Trisakti berpraktik sebagai dokter umum di klinik Universitas Paramadina Mulya. Latar belakang pendidikan kedokteran yang dijalaninya memberi warna tersendiri dalam karya-karyanya. Khususnya, dua novel pertamanya. Dalam dua novel ini, Nova menampilkan karakter utama yang berprofesi dokter (dr. Yukako dalam Mahadewa Mahadewi dan dr. Imi/Gardina dalam Imipramine) serta menebarkan beragam istilah medis.

"Kita menulis biasanya hal yang dekat dengan kita. Apakah seseorang dekat (dengan) masalah gender, seseorang dekat (dengan) masalah seksualitas, atau apalah. Kebetuian saya berlatar belakang medis dan sedikit banyak mungkin saya terpengaruh saat menulis. Saya buat reference, paperwork, itu semua dalam nuansa medis. Jadi, dalam bakat menulis nuansa medis sulit untuk dihllangkan. Hampir tujuh tahun saya ada di bidang kedokteran dan itu jadi selling point banwa setiap penulis punya style berbeda."

Toh, tak hanya tokoh utama yang berprofesi dokter dan istilah medis yang dimunculkan. Soal free sex yang menjadi bagian dari gaya hidup para tokoh utamanya |uga dimunculkan dalam dua novel pertamanya. Untuk soal yang satu ini, dara yang sejak kecil memang bercita-cita ingin menjadi penulis dan tumbuh dengan serial karya Enyd Blyton menjelaskan, "Sebenamya dalam proses kreatif saya tidak membatasi diri. Dalam arti, saya menulis apa saja yang ada dalam pikiran saya dan saya serahkan ke editor. Saya kalau disuruh mengedit, tidak tahu bagaimana mengeditnya. Terserah mereka mengeditnya, bila mereka menganggap bahwa itu (baca: free sex) terlalu vulgar. Tapi, ternyata mereka menganggap tidak vulgar."

Dalam kedua novel ini pun terdapat banyak tempat yang dijadikan setting cerita. Dari Jakarta hingga Darwin (Mahadewa Mahadewi) atau dari Jakarta, Sulawesi, hingga Bosnia (Imipramine). Menurut Nova, tempat-tempat tersebut ada yang pernah dikunjungi dan ada yang belum. "Darwin itu pernah dikunjungi beberapa kali, tapi saya tidak terpikir bakal menulis tempat itu. Jadi, tidak dalam konteks saya akan menuliskan cerita dengan setting di Darwin. Kalau Bosnia, itu riset. Dalam arti, saya berbincang dengan seorang dokter yang pernah tugas di sana, juga membaca buku tentang kisah-kisah mereka saat berada di sana. Juga lihat di TV tentang Bosnia. Jadi, ada gambaran! Untuk tempat di Indonesia, seperti Teluk Tomini, Sulawesi, kebetulan saya lahir di Sulawasi sehingga ada kedekatan."

Dari ketiga novel yang telah dihasilkan, Nova mengungkapkan bahwa Mahadewa Mahadewi adalah karya yang paling disukai. "Bagi saya, itu paling monumental. Pertama kali saya membuat sebuah karya yang diakui dan waktu itu majaiah Cosmopolitan memberikan pilihan editor (editor's choice). Bahkan, tanpa mendapat pengakuan pun, novel itu (berhasil) terbit."

Aktivitas yang dijalanif putri pasangan Yusuf Abbas dan Marsiswati Yusuf kian hari terasa bertambah dan semua masih berkaitan dengan dunia medis dan tulis menulis yang ia geluti. Dalam dunia medis, Nova melanjutkan studi kedokterannya dengan mengambil program pendidikan spesialisasi psikiatri (ilmu kedokteran jiwa) di Universitas lndonesia. Sementara itu, dalam dunia menulis, Nova yang sejak Juni 2004 menjadi kolumnis di majaiah Djakarta (sebelumnya juga kolumnis di majalah Gatra) mulai terlibat penggarapan film. Hal ini ia lakukan bersama Aria Kusuma Dewa dan Lola Amaria. Dalam film pertama "Betina", Nova ikut ambil bagian sebagai salah seorang cast. Dalam film kedua Tuhan, Beri Aku Kentut, Nova terlibat dalam penulisan skenarionya.

Karier dan hobi yang berjalan relatif mulus lantaran didukung talenta, pengetahuan, dan semangat yang cukup kuat tak memupus penyuka "Great Expectation" (Charles Dickens), "Lord of The Rings" Trilogy & The Hobbit" (JRR Tolkiens), "Harry Potter" (JK Rowling), serta "Einstein's Dreams" Alan Lightman ini untuk berobsesi. Lalu, apa obsesinya? "Obsesi yang berikutnya itu tetap menulis. Saya ingin sekali menemukan sebuah format penulisan saya. Seperti JK Rowling, dia benar-benar menemukan sebuah format bahwa dia menulis si Harry Potter itu adalah format dia. Jadi, sampai lima seri pun tidak berubah, tetap seperti itu. Saya ingin membuat sebuah cerita yang sederhana. sangat simpel, tidak harus mendunia tapi paling tidak diterima semua kalangan tanpa harus dipertanyakan orang: kenapa seksualitas harus selalu di-exposed. Saya ingin buat cerita sederhana yang tidak menimbulkan pertanyaan," tutup Nova. Semoga tercapai ya, Nov!

Agus Setiadi, pencinta buku
Majalah MataBaca Vol. 2, No. 12, Agustus 2004

Previous
« Prev Post

Related Posts

12.13