Hamsad Rangkuti: Kebohongan yang Indah dalam Sastra Konvensional

Posted by Cinta Buku on

"Karya sastra itu mengandung kebohongan yang indah.... Seperti kebohongan yang dilakukan seorang dokter terhadap pasiennya. Kebohongan yang mengandung muatan terapi penyembuhan. Sama dengan kebohongan seorang pemimpin pasukan dalam usahanya menyemangati anak buahnya. Pesawat helikopter yang jatuh itu bukan ditembak lawan, katanya, tetapi jatuh karena keceiakaan. Begitu juga yang dilakukan para pengarang atau sastrawan. Mereka melakukan kebohongan hanya untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang hendak disampaikan. Di kebohongan itu pulalah terkandung nilai keindahan sebuah karya, Di kebohongan itu pulalah tercermin nilai sastranya. Maka saya bilang kebohongan jenis itu adalah kebohongan yang indah. Bila dalam sebuah karya sastra tidakada kebohongan di dalamnya, tulisan itu adalah sebuah berita...."

Karya sastra sebagai kebohongan yang indah di atas dikemukakan Hamsad Rangkuti dalam pidato penerimaan penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2003. Hamsad Rangkuti, setelah karyanya yang bertajuk Sampah Bulan Desember hanya meraih nominasi dan gagai menjadi pemenang di tahun 2001, akhirnya meraih Khatulistiwa Literary Award, Indonesia's Best Fiction Award 2002-2003, melalui buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot. Seperti tahun sebelumnya, acara penganugerahan Khatulistiwa Award kali ini juga diadakan di Plaza Senayan pada 17 Oktober 2003. Acara yang telah memasuki tahun ketiga ini pun tetap diadakan oleh QB World Books.

Prestasi yang digapai Hamsad Rangkuti ini tentu saja bukan hal mudah. Terlebih lagi, Hamsad Rangkuti dengan Bibir Dalam Pispot-nya harus bersaing dengan kumpuian puisi Telepon Genggam (Joko Pinurbo}, novel Cala Ibi (Nukila Amal), kumpulan puisi Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (Sapardi Djoko Damono), dan kumpuian puisi Lalu Batu (Radhar Panca Dahana). Kelima karya sastra ini terpilih dari 70 karya sastra yang diterbitkan di Indonesia dalam kurun waktu antara September 2002 hingga Mei 2003 dan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Eka Budianta, Endo Senggono, Frans M. Parera, Veven Sp. Wardhana, dan Yanusa Nugroho.

Bibir dalam Pispot berisi 16 cerpen karya Hamsad Rangkuti yang pernah dimuat harian Kompas (15 cerpen) dan majalah Horizon (satu cerpen) selama tahun 1979 hingga 2003. Dalam buku setebal 169 halaman ini, selain menampilkan cerpen, Hamsad Rangkuti juga menampilkan beberapa kejadian yang menjadi sumber inspirasi dari kelahiran cerpen-cerpen yang ditulisnya. Misalnya, bagaimana sesungguhnya kisah di balik kemunculan cerpen "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?", "1000? 500! 1000!", dan "Pispot".

Selain kejadian, ucapan pun bisa dijadikan Hamsad Rangkuti sebagai sumber inspirasi untuk merangkai sebuah cerita. Hal ini dipaparkan Hamsad Rangkuti untuk proses kelahiran cerpen "Dia Mulai Memanjat". Ide cerpen ini terbersit setelah Hamsad Rangkuti mendengar pelukis senior Oesman Efendi berucap kepada pelukis muda, "Kalau kau mau terkenal, penggal kepala patung di Bundaran Senayan, Katakan itu karyamu. Kau akan terkenal."

Konvensional
Ditemui di rumahnya yang sederhana di kawasan Depok beberapa hari setelah meraih Khatulistiwa Award 2003, Hamsad Rangkuti mengungkapkan apresiasinya atas penghargaan yang bam diterimanya.

"Saya merasa penghargaan itu suatu pengakuan atas profesi yang setama ini saya geluti. Saya selalu setia pada jalur konvensional. Saat ini sastra kita berkembang pesat. Apalagi dengan munculnya penulis-penulis muda sehingga mereka banyak meninggalkan jalur-jalur konvensional. Penghargaan ini (membuktikan) bahwa jalur konvensional tidak kalah mutunya. Di sana (jalur konvensional—red), saya membawakan misi kemanusiaan, membawakan penderitaan rakyat-rakyat kecil yang oleh para pengamat (dinilai) tidak cengeng, tidak memihak. Saya hanya menceritakan apa adanya, malah kadang-kadang saya menertawakan kemiskinan dan kemelaratan itu. Tapi, saya tetap menyuarakan mereka karena saya akrab dengan dunia bawah (kemiskinan—red)," ungkap suami dari Hajjah Nurwindasari ini.

Saat ditanya lebih lanjut mengenai jalur konvensional yang dimaksud, ayah dari Bonang Kiswara Rangkuti, Girindra Rangkuti, Bungaria Rangkuti, dan Anggie Mauli Rangkuti ini menjelaskan, "Konvensional ini cara bertuturnya ada plot, setting, tokoh, peristiwa, penuturannya tidak berbelit-belit."

Apa yang telah dicapai Hamsad Rangkuti memang merupakan "akumuiasi" dari beragam pengalaman hidup dan kesetiaannya menulis. Dilahirkan pada 7 Mei 1943 di Titikuning, Medan, Sumatra Utara, Hamsad Rangkuti telah menapaki dunia cerpen sejak masih bersekolah di sebuah sekolah menengah di Sumatra Utara. Cerpen pertamanya berjudul "Sebuah Nyanyian di Rambung Tua" (1959) ditulis saat ia berusia 16 tahun. Setahun kemudian ia melahirkan cerpen "Mesjid" (1960) yang kemudian disusul dengan cerpen "Panggilan Rasul". Setelah cerpen ini, Hamsad mengarang "Ibu yang Pemalu", "Sebuah Spanduk", "Surat", "Jembatan", lumpuh", dan "Ikan yang Tersesat". Selama rentang waktu 1960-1979 alias 19 tahun, praktis Hamsad hanya menghasilkan tujuh cerita pendek. Pasalnya, Hamsad merasakan kesukaran untuk menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan, "Mencipta bagi saya adalah pekerjaan yang sukar," begitu ungkapnya seperti yang dimuat dalam pengantar Bibir dalam Pispot.

Keterampilan menulisnya berkembang pesat setelah empat tahun ia memiliki ilmu penulisan yang diperolehnya dari workshop penulisan skenario di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Karya pertama yang ia hasilkan setelah menguasai ilmu teknik mengarang skenario adalah cerpen berjudul "Sebuah Sajak" dan disusul "Cerita Awal Tahun".

Setelah menghasilkan dua cerpen pasca-workshop ini, Hamsad Rangkuti terus menggulirkan karya-karya lainnya, mulai dari "Dia Mulai Memanjat", "Perbuatan Sadis", "Pispot", "Ketupat Gulai Paku", "Antena", Teka-Teki Orang Desa", hingga "Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan"—cerpen yang lahir dalam proses melawan kematian. Semakin lama karya yang dihasilkan Hamsad Rangkuti tidak hanya berbentuk cerpen, tapi juga novel. Setidaknya ada tiga novel yang ia hasilkan di sela-sela kegiatannya menulis cerpen, yakni Ketika Lampu Berwarna Merah yang mengisahkan kehidupan gelandangan dan pelacur-pelacur kelas bawah di sepanjang rel; novel anak-anak berjudul Kereta Api Jam 5; dan Klamono yang mengisahkan buruh minyak di pengeboran eksplorasi dan Produksi V Sorong, Irian Jaya.

Beragam cerpen dan novel yang ditulisnya telah menempatkan Hamsad Rangkuti dalam deretan papan atas sastrawan Indonesia sekaligus mengganjarnya dengan beberapa penghargaan. Novel yang ditulisnya Ketika Lampu Berwarna Merah berhasil menjadi salah satu pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 1981) yang kemudian diterbitkan secara bersambung di harian Kompas (1981) serta diterbitkan dalam bentuk buku oleh Penerbit Buku Kompas (2001). Hal serupa terjadi pada novel anak-anak berjudul Kereta Api Jam 5. Novel ini juara pertama sayembara mengarang bacaan anak-anak dan remaja 75 tahun Balai Pustaka (1992) dan memperoleh peringkat pertama kategori buku bacaan fiksi SD dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1994). Sementara itu, cerpen-cerpennya telah dibukukan dalam bentuk kumpulan cerpen dengan judul Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000), dan Bibir dalam Pispot (2003). Selain dikumpulkan dalam antologi tunggal, cerpen-cerpen karya Hamsad Rangkuti juga masuk dalam beberapa buku antologi cerita pendek Iain, seperti Cerpen-Cerpen Indonesia Mutakhir (1991), Derabat: Cerpen Pilihan Kompas 1999 (1999), Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan Kompas 2000 (2000), serta Waktu Nayla: Cerpen Pilihan Kompas 2003 (2003).

Tidak hanya di dalam negeri, karya-karya Hamsad juga diakui kualitasnya di beberapa negara asing. Hal ini bisa terlihat dari adanya beberapa cerpen karya Hamsad yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Jerman, seperti yang termuat dalam Menagerie 1 (1992); New Voice in Southeast Asia Solidarity (Wl); Manoa, A Pacific Journal of International Writing, University of Hawaii Press (1991); Beyond The Horison, Short Stories from Contemporary Indonesia; Journal Rima, Review of Indonesia and Malaysian Affairs University Sydney, Vol. 25 (1991).

Di Iuar kegiatan menulis, Hamsad Rangkuti juga pernah terlibat aktif di beberapa lembaga. Dia pernah menjadi pemimpin redaksi majalah sastra Horison (1986-2002), pengurus Dewan Kesenian Jakarta (1997-2002), pengurus Balai Budaya (1978-1998).

Tak salah kiranya bila sosok penggemar soto betawi di kawasan TIM ini dianugerahi beberapa penghargaan "tambahan" lain, seperti Anugerah Khusus Kompas atas kesetiaannya bergelut dalam dunia penulisan dan cerpen (2001), setelah satu tahun sebelumnya penghargaan yang kurang lebih sama diberikan oieh Pemda DKI Jakarta (2000).

Kini, Hamsad Rangkuti mencoba hidup dalam konsentrasi penuh dalam penulisan. Semua kesibukan yang selama ini pernah diembannya, di luar penulisan, telah ditinggalkan. "Banyak yang ingin kutulis," katanya suatu waktu kepada teman-temannya. Ungkapan ini seolah menjadi motivasi lain untuk mengikis rasa malas yang bisa hinggap pada saat usia terasa makin lanjut dan tak ada lagi rutinitas formal yang dilakukan. Bukan tak mungkin rasa malas semakin tak tersisa bila pria sederhana yang rutin berolahraga jalan kaki setiap pagi ini menjaiankan lelaku pribadinya dalam mengenyahkan rasa malas saat menulis, yakni mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah didatangi. Bila tak ada aral melintang, hal ini akan dilakoni Hamsad yang berencana pergi ke Inggris sebagai bagian dari "paket" hadiah yang diterimanya sebagai peraih Khatulistiwa Literary Award 2003, selain uang tunai senilai 70 juta rupiah. Sekali lagi selamat, dan kita nantikan karyanya sepulang dari sana.

Oleh: Agus Setiadi dan Winoto Anung
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 4/Desember 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru