Cara Membuat Skenario Film Independen

Posted by Cinta Buku on

Tulisan ini sengaja saya buat setelah berdiskusi berjam-jam dengan teman-teman Bandung dari Liga Film Mahasiswa (LFM), Layarkata Network, Cinemags, Sineas Independen Bandung, patontontonton.com, dan rekan-rekan yang rela bergabung, nonton dan berdiskusi berjam-jam di Potluck Kafe, Bandung, Minggu, 12 Oktober 2003.

Dari beragam pertanyaan seputar masalah film dan teknik penulisan naskah, ada sebuah pertanyaan yang terlontar dan membuat saya berpikir ulang untuk menjawabnya. Pertanyaannya sederhana: "Bagaimana membuat skenario film independen format film pendek (0-30 menit) yang membawa berbagai macam pesan, kesadaran dan pencapaian sinematografi yang memuaskan?"

Di sini saya hanya ingin membahas bagaimana membuat film independen dari sisi skenario. Dalam pandangan saya, film adalah seni bercerita, sebuah cerita yang bagus sangat mendukung sebuah film walaupun film tersebut dibuat dengan cara sederhana. Jika sempat melihat film "Mayar", Anda akan mendapatkan berbagai macam kesan dan kesadaran tentang budaya, kehidupan politis, romantisme Indonesiawi dalam balutan suasana Yogyakarta, kesederhanaan tanpa maksud menggurui atau kesan dibuat-buat. "Mayar" sendiri berkisah tentang cerita seorang gadis bernama Mayar yang pulang ke Yogya (dalam cerita, Mayar bekerja di Jakarta) dan bertemu dengan dua orang yang mencintainya, Yang seorang menjadi pendukung calon lurah dengan lambang Pete (petai) dan seorang lagi menjadi pendukung lurah dengan lambang Lombok (cabe). Mereka saling berseteru untuk memperebutkan Mayar. Puncaknya, Mayar memilih salah seorang dari kedua pencintanya dan melakukan date dengan berjalan-jalan di sekitar Yogya dengan naik sepeda. Sementara pesaing lainnya marah-marah dan berusaha mencari-cari mereka dan menemukan berbagai macam simbol tanda kehadiran Mayar dan pasangannya. Penuils skenarionya adalah Ifa Isfansyah dari Fourcolours Films dan sampai sekarang masih berstatus mahasiswa ISI yang baru saja selesai ikut Kuliah Kerja Nyata.

Film "Mayar" memunculkan pemikiran, kritik, dan kesadaran. Dengan format sekitar 30 menit, film ini berhasil mengundang perhatian dari banyak kalangan untuk membahasnya. Sederhana dalam bercerita, namun sarat dengan pesan dan kesadaran.

Tentu masih banyak ribuan cerita yang bisa kita gali, yang mungkin bisa lebih baik dan menyegarkan. Beragam jenis ide cerita yang bisa kita buatkan skenarionya dan menghasilkan kesadaran baru. Kalau sudah begitu, pertanyaan yang muncul dari segenap pembuat film: Bagaimana cara membuat skenarionya? Bagaimana membuat skenario yang membangkitkan kesadaran? Bagaimana menilai sebuah skenario sehingga memberikan efek stimulan yang mendalam?

"Care", "Love", "Hope", dan Film Independen
Judul yang lebih tepat mungkin membuat skenario film independen berdurasi pendek (0-30 menit). Membuat skenario untuk industri komersil (TV) dalam format film pendek (30 menit) sangat sulit. Karena dibatasi dengan berbagai macam iklan, kita hanya bisa membuat kurang dari 30 menit (sekitar 20-24 menit). Sebuah cerita dibuat dengan begitu ringkas, tetapi diharapkan bagus (karena dikontrol oleh rating). Dalam kasus ini, peran produser sangat menentukan bagaimana sebuah cerita bisa diterima dan diproduksi.

Membuat skenario untuk sebuah film pendek independen lebih menantang dan menyenangkan. Kita tidak dibatasi dengan segala aturan komersil atau perhitungan rating yang kadang membuat kepala pening. Bahkan, berbagai macam ide yang kadang mentok di televisi dengan alasan komersil bisa kita muntahkan habis-habisan dalam kreativitas independen.

Seorang penulis skenario harus mampu membuat berbagai macam cerita atau mengadaptasi berbagai macam kejadian dan menuliskan dalam sebuah format skenario yang sederhana, ringkas dan padat. Teorinya gampang, rapi pelaksanaannya sangat sulit.

Ada sebuah rumus yang bisa menjadi pegangan seorang penulis untuk mulai membuat cerita. Seorang teman mau membagikan ilmunya bagaimana membuat skenario dengan baik untuk jenis film pendek. Saran ini ternyata bisa diterapkan untuk kebutuhan komersil dan independen. Sarannya sangat sederhana: "Sebuah cerita/skenario film pendek harus mampu menggambarkan care, love, dan hope pada setiap film yang diproduksi!"

Care menggambarkan kepekaan main character terhadap lingkungan, perhatian terhadap sesama, dan interaksi komunikasi dengan rekan-rekannya. Love merupakan cinta yang terjadi antara main character dengan lawan main yang berwujud kasih sayang, romantisme, atau rasa saling memiliki. Hope biasanya berada di akhir cerita, dilambangkan dengan berbagai harapan atau perasaan untuk melanjutkan (pertanyaan akan kelanjutan cerita) yang ditandai dengan kepergian salah satu orang pemain menuju tempat tugasnya. Atau sebuah dialog penutup yang menceritakan harapan terhadap masa depan.

Pada menit-menit awal, sebuah film pendek harus mampu mengeksplorasi karakter utama. Penonton diharapkan tidak perlu bertanya-tanya lebih jauh lagi bagaimana hubungan antar-tokoh. Penonton diharapkan mendapatkan penuh informasi dan bersiap melanjutkan cerita tanpa perlu pusing-pusing lagi. Menurut Jujur Prananto, "Penonton harus mendapatkan informasi sejelas-jelasnya tentang abilitas dan kemampuan tokoh tersebut. Karakter yang kuat tidak selalu bersifat ofensif (super, cantik, ganteng, dsb.). Bahkan karakter seorang tokoh yang terlihat lemah, sakit, atau menderita pun bisa menjadi 'kuat' asalkan kita memberikan informasi cukup dan mengarahkan cerita kita untuk melakukan simpati kepada karakter tersebut." 
                                        
Love dalam sebuah cerita merupakan penggambaran paling besar yang menempati ruang dalam skenario, yang timbul karena aktivitas yang dilakukan antar pendukung. Love digambarkan sebagai rasa ingin memiliki, tidak ingin kehilangan, atau perasaan untuk saling menyayangi. Jika Anda sudah masuk dalam pembuatan scene-scene yang menggambarkan aktivitas ini, disarankan menggunakan berbagai macam adegan perlambang/simbol. Bisa berupa montage shot, property, wardrobe, suasana background interior atau eksterior, dan penempatan dialog-dialog pendek yang menceritakan hubungan 1-2 orang. Tentu saja, gesture dan penggunaan adegan face to face antar-karakter masih cukup ampuh untuk menceritakan perasaan cinta. Masalahnya, bagaimana kita bisa menggambarkan keseluruhan adegan tanpa terjebak dalam adegan-adegan yang membosankan.

Hope dalam film pendek dilambangkan dalam scene-scene perpisahan: pergi, kematian, matahari terbit (tenggelam), suasana pagi, sebuah kendaraan yang melaju (bis, kapal, kereta api, dsb.). Bahkan, sebuah scene paling sedih pun dapat menimbulkan perasaan berharap terhadap sebuah cita-cita walaupun dalam cerita terasa menyakitkan. Celakanya, orang sering salah dalam menginterpretasikan adegan kematian (meregang nyawa, pemakaman, kuburan, dsb.) sehingga yang terjadi hanya adegan yang bertele-tele dan membosankan.

Untuk mengatasinya, diperlukan sebuah narasi dan musik penutup yang mengiringi scene ini. Beberapa film pendek yang berhasil kadang menggunakan teknik pengambilan gambar long shot, zoom out atau menggunakan crane untuk menghasilkan pemandangan luas (semacam est shot). Ending biasanya diarahkan menuju langit, gunung, atau suasana alam dan lingkungan yang menggambarkan area yang luas. Ini dipilih untuk memberi perspektif yang luas, yang bisa menjadi sebentuk penyadaran bagi penonton.

Antiklimaks sebagai "Hope"? 
Pernah nonton film "Brave Heart"? Menjelang akhir cerita dikisahkan proses kematian William sebagai seorang pahlawan yang dieksekusi algojo. Hope ditampilkan dengan sebuah narasi penutup dan sebuah scene yang menggambarkan semangat perjuangan. Scene paling akhir ini hanya menggunakan waktu kurang dari 20 detik, menggambarkan visualisasi semangat perjuangan terakhir dari para prajurit Skotlandia yang ditinggalkan. Lain lagi dengan film "Bedjo van Derlaak" hope justru ditampilkan dengan dialog penutup yang menyebutkan nama bayi yang baru lahir dan satu scene kematian para pejuang. Untuk lebih menimbulkan suasana "breathless", sering pula disisipkan efek slow motion guna memperlambat detik-detik keharuan.

"Ending", "Scene" Penentuan
Scene akhir yang menampilkan hope sering menimbulkan perdebatan serius di antara sutradara dan penulis skenario. Dalam kasus film independen, yang tidak terikat dengan kepentingan komersialisme, para pembuat film independen ini banyak menggunakan scene-scene terakhir untuk mengempaskan seluruh pokok pikiran yang sebelumnya telah tertuang di sepanjang film.

Ide dan Rumus Lain
Tentu saja masih banyak ide dan rumus lain yang bisa dieksplorasi. Namun, tidak semua orang tertarik membuat film yang sarat dengan pesan dan makna. Sebagaimana yang banyak mengemuka, kebanyakan film kita masih lebih banyak berisi kelucuan dan hiburan ringan semata. Bila kita mempunyai sebuah tujuan untuk membuat film yang bisa menghasilkan kesadaran dan kesegaran, sebuah film yang diharapkan mampu menyalurkan pesan-pesan yang mendalam, tidak ada salahnya Anda mencoba rumus sederhana care, love dan hope.

Apa yang bisa didapatkan dari rumus sederhana itu? Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar film independen yang mendapat penilaian terbaik di tingkat festival film dunia memunyai rumus yang sejenis care, love dan hope. Saya tidak tahu apakah rumus ini memang tepat. Yang saya selidiki, sebagian besar film independen yang dibuat dengan rumus di atas menggunakan pendekatan "menyentuh hati" para pemirsa karena tujuan sebuah fiim untuk membuat kesadaran secara logika dan membangkitkan semangat dari dalam hati. Pesan yang ditampilkan tidak bersifat menggurui atau bertele-tele dalam dialog. Kadang kita menemui sebuah film yang sebenarnya ingin mengungkapkan sebuah pesan yang baik, tapi ceritanya jadi tidak karuan karena penggarapannya yang bertele-tele dan menggunakan dialog seperti sebuah pidato atau khotbah.

Kesalahan membuat dialog sering dialami para penulis skenario yang belum memahami format dan gaya filmis secara benar. Adakalanya kita harus bercermin dengan para pembuat skenario kelas Oscar yang mampu menyajikan berbagai macam teknik dialog yang menakjubkan. Tentu saja teknik dialog di setiap negara dan budaya berbeda-beda. Bahkan, setiap wilayah industri perfilman dunia memiliki beberapa perbedaan yang intinya berasal dari kultur dan bahasa yang dipakai untuk bertutur cerita. Film India dalam penggunaan dialog antar-karakter cenderung menggunakan gaya tutur puitis, menyanyi, dan berdendang. Film-film Hollywood menggunakan pendekatan dialog langsung, kalaupun terdapat beberapa simbol untuk mengungkapkan sebuah pemikiran, mereka cenderung mempersingkat penggunaan kata-kata. Film-film Asia Timur dan Selatan paling banyak menampilkan adegan dialog tanya-jawab, obrolan, dan gaya orang-orang Asia yang terkenal mudah akrab dengan siapa saja.

Semuanya sah-sah saja, bukankah film diciptakan untuk dinikmati? Namun, jangan lupa untuk tetap menggunakan pendekatan cinta, harapan dan perhatian dalam mengungkapkan rasa. Rasa, inilah yang harus bisa diterjemahkan secara lugas dalam sebuah skenario yang Anda buat.

Sony Set, praktisi perfilman, penulis skenario, dan penulis buku Menjadi Penulis Skenario Profesional
Majalah Mata Baca Vol.2/No.4/Desember 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru