Menelusuri Buku Kehidupan 9: Deja vu, Saya Pernah di Sini Sebelumnya

Posted by Cinta Buku on

Sepertinya hidup ini kerapkali bergerak melingkar kembali. Bagaikan sebuah roda ia bisa berputar sembari maju atau mundur ataupun bergerak di tempat. Suatu saat orang berada di satu titik, kemudian beberapa atau sejumlah tahun kemudian tampaknya menyentuh lagi titik tersebut. Deja vu, I have been here before. Saya sepertinya pernah berada di sini. Dia dapat berupa tempat, peristiwa atau titik perhatian yang sama. Hanya mungkin bentuk kesadarannya tidak sama. Sepertinya kesadaran memang mempunyai tingkatan yang berlapis-lapis.

Semua ini berhubungan dengan dulu sewaktu saya berkantor di lantai 3 Jalan Gajah Mada, Jakarta-Kota. Hampir setiap pagi saya turun ke lantai bawah. Di sana terletak Toko Buku Gramedia pertama yang berdiri sejak 1970. Mula-mula hanya 25 meter persegi untuk kemudian berangsur-angsur diperluas.

Saya suka mengamati buku-buku yang terletak di rak-rak. Saat itu, banyak "buku saku" (pocket books) bahasa Inggris yang dijual. Harganya relatif lebih murah dan banyak judul yang menarik. Sering kali saya membeli karena tertarik pada judul atau daftar isi. Hanya kerap tidak langsung dibaca, melainkan disimpan lebih dulu. Baru kalau ada relevansi dengan minat yang dihadapi, saya mengambil dan membacanya.

Demikian yang terjadi dengan buku The Silva Mind Control Method karangan Jose Silva dan Philip Mele. Saya baru mengeluarkannya setelah menerima undangan acara perkenalan "Mind Control Psychorientology" medio tahun 1980-an. Pembicaranya Ir. Rd Lasmono Dyar yang sebelumnya berkecimpung di bidang komputer, namun kemudian minatnya meluas ke parapsikologi dan pengendalian nir-sadar.

Sebagai orang yang lama tertarik pada "daya linuwih" (kekuatan lebih yang terpendam), saya berpendapat ada baiknya mengikuti lokakarya Silva Mind Control (SMC). Siapa tahu ada hikmah yang bisa dipetik untuk pengembangaan pribadi dan perusahaan.

Selama enam hari berturut-turut setiap malam —kurang lebih 35 jam— saya menekuni lokakarya yang diadakan Yayasan Teta. Tempatnya di sebuah rumah di Jalan Kramat VI, Jakarta. Lasmono Dyar selaku instruktur memperkenalkan konsep-konsep dasar Silva Mind Control, siapa itu Jose Silva, apa yang diharapkan dari pelatihan serta teknik-teknik yang akan dipelajari. Kedengarannya memang faniastis dan memberi harapan untuk melakukan "lompatan besar" (quantum leap) dalam pengembangan pribadi.

Adapun mind control yang dipelajari meliputi pengendalian bukan saja pikiran, melainkan juga perasaan, kemauan, laku, dan sebagainya. Memang demikian makna luas mind dalam bahasa Inggris.

Agar pengendalian itu dapat terjadi perlu kemampuan untuk relaksasi dan turun ke "bawah sadar". Demikian diperkenalkan adanya berbagai tingkatan dalam frekuensi otak kita. Sebagian besar manusia melewatkan sebagian besar waktunya pada tingkatan beta, di mana gelombang otak bergerak pada kecepatan 14 hertz atau lebih per detiknya. Inilah keadaan yang sehari-hari disebut siaga atau sadar, namun sebenarnya hanya berupa "kesadaran luar".

Setelah itu, ada tingkatan alpha atau bawah sadar dengan kecepatan gelombang otak antara 7-14 hertz per detik. Pada posisi ini, orang berada antara tidur dan terjaga. Inilah wilayah relaksasi dan meditasi yang dilatih dalam Silva Mind Control. Diri berada dalam keadaan homeostatis, di mana organ tubuh, sel dan semua zat, bergerak dan bekerja dalam keadaan seimbang. Di sini kita mulai masuk ke wilayah "kesadaran dalam".

Di bawah lagi ada tingkatan theta, saat gelombang otak bergerak makin pelan antara 4-7 putaran hertz per detik. Inilah wilayah sugesti yang amat kuat. Kebanyakan kegiatan hipnotis dilakukan pada daerah ini, Kemudian yang paling dalam adalah tingkatan delta, di mana gelombang otak bergerak sangat pelan antara 1,5 hingga 4 hertz per detik. Inilah tingkatan tidur yang pulas, di mana pemanggilan ulang dan sugesti terjadi sepenuhnya.

Bagaimana metodenya agar kita sewaktu-waktu mudah turun ke alpha? Ternyata ada langkah-langkahnya yang dimulai dengan relaksasi, menarik napas dalam-dalam dan ketika mengembuskannya sambil mengendurkan syaraf kemudian mulai menghitung mundur dari 100 turun ke 1. Bayangkan tempat damai-teduh yang pernah dikunjungi atau dikhayalkan. Kemudian katakan secara mental kata-kata penguat seperti "setiap hari dalam setiap langkah saya membaik, membaik dan membaik..." lalu secara mental ingatkan diri bahwa pada hitungan ke 5 —dimulai dari 1— saya akan kembali kepada kesadaran semula.

Pada awalnya latihan adalah semacam itu. Setelah sebulan lebih dan makin mahir countdown, hitungan dapat dikurangi, mulai dari 50 turun ke 1. Lalu berangsur-angsur malah dapat diperpendek, langsung dari 5,4,3,2,1... masuk ke alpha. Bahkan dengan teknik tiga jari (jempol, telunjuk dan jari tengah dilekatkan), orang yang sudah mahir dapat seketika masuk ke alpha.

Kebanyakan orang pada hakikatnya lebih sering berada pada gelombang beta; lalu kalau mengantuk atau melamun turun ke alpha, tidur masuk ke tetha dan bila pulasjatuh ke delta. Jadi, gelombang alpha bukan sesuatu yang asing atau tak dikenal bagi manusia kebanyakan. Hanya bedanya peyakin Silva Mind Control, tanpa susah payah dapat setiap saat masuk ke wilayah alpha. Di sana ia mencari inspirasi dan menggali jawaban atas persoalan dari "kesadaran dalam". Sementara manusia kebanyakan lebih sering bertolak dari "kesadaran luar" atau "kesadaran di permukaan". Tidak heran, kalau kualitas tindakan dan keputusannya tak begitu mendalam. Presisinya juga tak terlalu tinggi karena lebih mengandalkan nalardan perasaan saja.

Saya suka bertanyadi dalam hati, "Apakah sesungguhnya Silva Mind Control itu bukan nama lain dari hipnosis diri, self hypnosis atau tak lain semacam meditasi juga?" Lasmono Dyar menyahut kurang lebih, "Ada kesamaan arah, namun tidak serupa benar dengan apa yang dikenal selama ini."

Dalam gemuruhnya zaman, memang banyak yang ditawarkan. Oleh himpitan dan tekanan kehidupan para pencari tidak putus asa berjalan ke sana kemari menimba ilmu. Siapa tahu ditemukan sesuatu yang berharga yang dapat membantu dia dalam menjalani kehidupan. "Hidup ini sulit," kata M. Scott Peck, penulis The Road Less Travelled. Jadi, masing-masing orang mencari pegangannya sendiri-sendiri? Ada yang secara rasional berkiblat kepada rumus-rumus ilmu pengetahuan; ada pula yang khusyuk berdoa, menekuni agama; sementara ada juga yang berupaya lewat pendekatan spiritual, tanpa terlalu terikat kepada dogma-dogma. Sepertinya masing-masing memiliki kebebasan untuk memilih. Sementara Jose Silva menawarkan penemuannya, Silva Mind Control....

Silva, Murphy, Shakti Gawain, Dll.
Di mata saya, Jose Silva yang lahir tahun 1914 di Laredo, Texas adalah pribadi yang unik dan istimewa. Sejak usia empat tahun, ia sudah yatim dan tak pernah punya kesempatan mengenyam pendidikan formal. Umur enam tahun, ia telah mencari nafkah dengan berjualan surat kabar, menyemir sepatu dan pekerjaan-pekerjaan tak menentu lainnya. Jadi, ia prototipe anak jalanan.

Ia seorang pemuda yang pantang menyerah, penuh tekad mendobrak semua rintangan hidup (against all odds). Lewat korespondensi, ia belajar menjadi montir radio. Setelah lulus, ia membuka usaha servis radio yang kemudian berkembang menjadi salah satu yang paling besar di wilayahnya. Bahkan berkat keterampilannya ia diangkat menjadi pengajar elektronika di Laredo Junior College. Padahal, Jose Silva sendiri tak pernah bersekoiah. Ia belajar baca-tulis dari saudara-saudaranya yang ironisnya dihidupi oleh mata pencarian Jose Silva.

Pertemuannya dengan seorang psikiater yang tengah melakukan survei, membuat Jose Silva tertarik pada lika-liku potensi dan kejiwaan manusia, Secara otodidak ia mendalami buah pikiran Freud, Jung dan Adler, Awalnya, ia juga tertarik pada hipnosis dan menemukan sesuatu yang tampaknya paradoks; otak adalah lebih energetik, sewaktu ia kurang aktif. Pada gelombang yang frekuensinya lebih rendah (alpha, tetha), otak justru mampu menyerap dan menyimpan informasi lebih banyak.

Selama 28 tahun ia melakukan riset dan eksperimen dengan menjadikan anak-anaknya sendiri menjadi "kelinci percobaan". Ternyata dengan konsentrasi yang relaks (effortless concentration) dan latihan visualisasi mental, kecerdasan (IQ) itu dapat ditingkatkan. Bahkan salah seorang putrinya selama bincang-bincang sudah mampu membaca pikiran Jose Silva! Itulah extra sensory perception (ESP) atau persepsi di luar pancaindra atau lebih dikenal dengan indra keenam.

Eksperimen diperluas dengan 39 anak Laredo dan setiap kali tekniknya diperbaiki sampai kemudian ia berani mengadakan lokakarya untuk masyarakat umum. Semua itu terjadi setelah ia mantap dengan riset dan percobaan selama hampir 30 tahun. Kini, menurut informasi, sudah sekitar 20 juta orang di lebih dari 100 negara yang pernah belajar Silva Mind Control.

Di Indonesia sendiri, saya termasuk angkatan pertama yang mengikuti lokakarya SMC sekitar Juli 1985, Kemudian hari, saya baru mengetahui bahwa pada satu-dua angkatan sesudahnya pernah ikut belajar juga Megawati Soekarnoputri. Saya tidak mengetahui apakah ia masih tetap melatih diri dengan SMC atau tidak. Namun, hemat saya, seorang pemimpin yang akrab "menyelam" dalam gelombang alpha, akan lebih tahan bantingan dibandingkan mereka yang tidak. Teror mental dan fisik sarat mengepung hari-hari kehidupan, apalagi untuk mereka yang disebut pimpinan.

Lewat bukunya, Jose Silva menjelaskan persamaan dan perbedaan antara hipnosis diri dengan SMC. Dua-duanya berusaha menenangkan otak dan menanamkan sugesti. Pada hipnosis, penerimaan atas saran-saran itu dilakukan secara pasif, sementara pada SMC masih ada kesiagaan dan independensi untuk memberi arah. Yang penting, kemampuan untuk turun ke gelombang alpha.

Juga ia membedakan antara meditasi yang bersifat pasif dengan yang aktif atau dinamis. Pada meditasi pasif yang dicari berupa keheningan dan ketenangan diri. Sementara Silva Mind Control yang bersifat dinamis menjadikan meditasi sebagai medium untuk pemecahan masalah. Teorinya adalah problem-problem kehidupan yang berat lebih mudah "dicairkan" dengan pendekatan alpha yang kaya-intuisi dibandingkan dengan analisis beta yang lebih mengandalkan rasio dan pengetahuan belaka.

Lasmono Dyar juga mengutarakan untuk keberhasilan programming, kita harus mempunyai keinginan sebesar 100%, kepercayaan sedalam 100%, dan harapan setinggi 100%. Setelah itu. mari kita lihat sama-sama hasilnya.

Saya bukan orang yang mudah percaya akan berbagai gagasan yang banyak bertebaran di masyarakat. Sebaliknya, saya tak mau menutup diri, bersikap apriori terhadap hasil suatu peneiitian selama 28 tahun. Yang penting dijaga adalah sikap terbuka tetapi kritis, berani memilah-milah mana yang dapat dan mana yang kurang dapat diterima. Pada diri saya ada semangat untuk experiencing (mengalami) sesuatu yang baru dan layak dicoba. The proof of the pudding is by eating. Rasa lezat tidaknya sebuah kue puding adalah dengan mencobanya. Demikian saya mencoba dan mencicipi puding yang lain, yang serupa, tetapi toh tak persis sama....

Di perpustakaan saya tersimpan juga buku Creative Visualization karangan Shakti Gawain serta The Power of Your Subconscious Mind dan Secrets of The I Ching oleh Dr. Joseph Murphy, dan lain-lain. Saya suka bertanya ke dalam hati, "Kau mendalami buku-buku seperti itu, karena kurang yakin terhadap dirimu sendiri atau apa?" Jawab saya dalam dialog batin, "Mungkin juga, karena situasinya memang serba tidak menentu, tidak pasti. Namun, kalau ada kekuatan linuwih, yang masih terpendam di dalam, mengapa ia tidak diubah saja dari sesuatu yang laten menjadi riil, nyata?"

Dari Joseph Murphy saya belajar, kalau kita bertanya kepada I Ching, The Book of Changes, yang sudah berusia 5000 tahun dan memperoleh jawaban, sebenarnya jawab itu berasal dari kekuatan bawah sadar atau alpha kita sendiri (Hideki Yukawa, ahli fisika Jepang, pemenang Hadiah Nobel 1949 dan Yang Chen Ning serta Lee Tsung Dao, keduanya ahli fisika keturunan Cina, pemenang Nobel 1957 senantiasa berkonsultasi dengan I Ching dalam setiap langkah risetnya).

Sementara dari Shakti Gawain, saya memperoleh konfirmasi bahwa kekuatan visualisasi kreatif atau pembayangan alpha itu bekerja hanya untuk tujuan dan maksud baik. Bila dia disalahgunakan untuk maksud destruktif atau merusak, sesuai dengan hukum sebab-akibat (karma) ia akan kembali kepada pengirimnya. Apa yang telah ditabur akan dituai. Kalau kita menabur angin, kita akan mengetam badai. Bila kita menyebar kebaikan, kita menuai berlipat kebaikan pula.

Saya kerap bertanya juga ke dalam diri. "Selama ini apakah telah terasa manfaatnya upaya menyelam ke 'kesadaran dalam' seperti itu?" Saya juga yang menjawabnya kembali. Jadi, seperti dialog dengan diri sendiri, "Saya belum melatih dan menjalankan secara optimal. Namun, dari sekian bagian yang pernah dilakukan, saya merasa lebih banyak manfaat dari mudaratnya."

Setelah lebih dari 15 tahun lalu, saya mempelajari SMC dengan on dan off-nya, sepertinya ada kerinduan kembali untuk mendalami yang satu ini. Padahal, selama ini saya sudah berjalan cukup jauh menjelajahi yang lain-lain, Bagaimana kalau kini didekati dengan pemahaman yang tidak sekadar ingin tahu? Ya, seperti bertemu kembali dengan teman lama dari sekian tahun, namun perjumpaan kini dengan pemahaman yang lebih. Deja vu, I have been here before.

Indra Gunawan, pencinta buku dan tingga! di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol.2/No.3/November 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru