Studio dan Taman Baca Seorang Perupa

Posted by Cinta Buku on

Ugo adalah seorang perupa. Selain melukis, ia juga banyak membuat "seni objek" seperti boneka, benda-benda fungsional yang "nyeni", sampai kadang membuat seni instalasi kecil-kecilan. Ia merupakan salah satu perupa yang sedang bersinar dan naik daun di Indonesia, Karya lukisanya banyak bernapaskan kegalauan-kegalauannya tentang hidup. Banyak sekali materi karyanya mengungkapkan seluk-beluk dan teka-teki sehari-hari. Ugo memang tipe perupa yang pikirannya tak bisa diam dan memiliki sensibilitas yang luar biasa. Karena itulah sekarang tak sedikit dari mereka —para kolektor— yang ingin memiliki karyanya.

Saban hari hidupnya "nyantai" banyak nongkrong di studionya yang diberi nama "Studio Tanah Liat" di daerah Menayu Kulon No. 55, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. "Tanah Liat" berasal dari nama anaknya semata wayang yang lahir di Yogyakarta, 1998. Rupanya kehadiran anaknya demikian berarti sehingga memberinya berbagai inspirasi. Sekalipun demikian, Ugo —perupa yang lahir di Purbalingga 1970— sendiri jarang tidur malam di sana. Ia lebih banyak tidur di rumah kontrakannya tak jauh dari studionya, sekitar dua kilometer. Oleh karena itu, ia lebih banyak mengfungsikan studionya sebagai "kantor" tempat ia bekerja.

Studio itu tak seberapa besar —berbeda dengan studio para perupa yang telah mapan, biasanya sangat besar dan arsitektural— namun telah menjadi milik sendiri. Studio ini hanya memiliki halaman depan beberapa meter saja dan 4 ruang: 1 kamar mandi, 1 kamar tidur, 1 ruang cuci (termasuk untuk memasak), dan 1 ruang kerja atau studio. Ruang kerja inilah yang berperan besar untuk kegiatan Ugo sehari-hari. Ruangan ini biasanya juga dipakai untuk ruang pamer (seperti Pameran Boneka bertajuk "Dolanan", 2003) dan dipakai pula sebagai ruang tamu. Ruang kerjanya itulah yang banyak memberikan napas berkaryanya selama ini.

Sangat banyak kerabat, kolega: teman-temannya yang datang ke sana. Nyaris setiap hari ada tamu; entah orang kampung, sesama perupa, sampai kolektor dan beberapa jenis tamu lainnya. Semua diterima di ruang kerjanya yang memiliki luas hanya 7x10 meter persegi, namun tak ada kursi tamu seperti halnya sebuah ruang kantor, semuanya lesehan.

Mungkin karena merasa bahwa hidupnya tak bisa lepas dari studionya, ia kemudian memanfaatkannya sebaik mungkin, termasuk pada tahun ini ia resmi membuat sebuah perpustakaan atau taman bacaan atau "persewaan bacaan" yang berisi komik, novel, dan Kho Ping Hoo (sebutan cerita silat atau cersil karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo).

Ia dan beberapa kawan akrabnya yang juga tinggal di studionya, setiap hari melayani tamu-tamu yang datang. Dari mulai yang hanya ngobrol tentang kesenian, ikut-ikutan berkarya, sampai yang ingin nongkrong untuk membaca komik diladeninya. Sifat dan pribadi Ugo memang sangat terbuka sehingga ia nyaris bisa meladeni segala pembicaraan tamu-tamunya.

Tentang persewaan komiknya ia berseloroh, "Sebenarnya saya tak memiliki keinginan untuk sepenuhnya berbisnis atau bikin iklan di luar, tetapi gimana bila orang ingin pinjam? Pasti punya konsekuensi dan harus ditangani dengan baik. Biar nggak hilang!"

Persewaan komik "Tanah Liat" ini memang tidak ditangani oleh Ugo, tetapi oleh temannya bernama Eko. Dengan demikian, bagi Ugo tidak terasa berat harus memikirkan "bisnis komik" ini. Ia lebih bersandar pada tujuan idealisme untuk memberi alternatif bacaan, yaitu komik Indonesia, yang kini telah hilang di tengah masyarakat. Wah, ironis yah, kini komik Indonesia yang pernah jaya di tahun 1970-1980-an itu menjadi bacaan alternatif. Lalu bagaimana tentang komik-komik alternatif dewasa ini, alternatif atas golongan komik Jepang-Amerika atau komik-komik kita sendiri? Dan apakah hal ini dianggap wajar, karena memang persewaan komik di zaman sekarang telah didominasi oleh komik-komik Jepang dan Amerika.

Taman bacaan atau persewaan komik "Studio Tanah Liat" ini sama sekali tidak mencari untung secara finansial, karena hasil dari sewa rupanya dipakai untuk menghidupi studio ini sendiri. Walaupun Ugo mengatakan bahwa sebenarnya studio ini juga tak sepenuhnya bisa hidup dari persewaan ini, ia tetap harus mensubsidi sendiri. Tetapi paling tidak uang sewa komik itu dikelola untuk menjamu para tamu dan memberi sumbangan perawatan koleksi yang ada di situ.

Untuk mendapatkan sekian banyak koleksinya, ada beberapa riwayat. Pertama, koleksi yang dibelinya dari sebuah persewaan komik yang telah bubar di daerah Wirobrajan, Yogja. Ia telah ditawari untuk membeli seluruhnya kala masih mahasiswa, namun sayangnya saat itu ia tak memiliki uang yang cukup. Setelah lulus kuliah dan namanya berkibar sebagai pelukis yang berhasil, barulah ia kemudian mencari lagi penjual komik dan membeli seluruh koleksi yang dimilikinya. Konon, si penjual meminta harga total Rp 6 juta di tahun 2002. Yang jelas, tahun 2003 ini ganti Ugo yang membuka persewaan.

Kedua, dari mulut ke mulut. Sistem kedua ini lebih pada cara pesanan pada teman-temannya yang ingin menjual koleksinya atau dengan cara lain, yaitu seorang teman yang menawarkan apa yang didapatkannya dari hunting di pasar loak, laiu dijual ke Ugo.

Ketiga. lebih didasari bahwa Ugo sejak SD adalah penggemar komik. Ketika masih anak-anak, ia merupakan tipe orang rumahan yang jarang sekali keluar rumah, sebab sang ayah —yang bekerja sebagai guru SD— telah memberikannya bacaan-bacaan yang menarik hatinya, seperti komik, majalah anak-anak (seperti Kuncung, Bobo), dan buku cerita terbitan Balai Pustaka untuk anak SD dan SMP. Sang ayah sendiri adalah penggemar berat cersil SH Mintarja, sehingga tradisi membaca di keluarga Ugo telah lama berlangsung. Itulah yang melatari kegemaran membaca Ugo.

Pernah suatu kali ketika masih SD, saking gemarnya membaca komik, ia bersama adiknya membuat surat yang dialamatkan pada salah satu penerbit komik terkenal, bertanya cara membuat komik. Mengapa ia harus membuat surat? Karena telah beberapa hari ia membuat komik, tetapi hasilnya sama sekali di luar kendalinya. Kala itu ia tidak tahu perihal dunia percetakan, sehingga ia membuat komik pada kertas yang sama dengan jenis kertas komik aslinya, digambar bolak-balik dengan tinta Cina yang dijual di desanya, Hasilnya jelas tembus pandang dan tak karuan.

Rasa gemarnya pada komik di masa anak-anak juga tercermin ketika ia harus selalu ikut ayahnya ke kota, tempat sang ayah harus membayar angsuran kredit motor. Ia selalu ingin ikut karena ia pasti akan mengajak atau diajak ayahnya membeli buku, komik, atau majalah. Hal ini jelas menyita waktunya, karena ia selalu bolos sekolah hanya untuk ikut ayahnya ke kota.

Mengingat cerita-cerita di atas, Ugo sering kali terkesima dan teringat pada cerita sebuah komik. "Masa kecil saya seperti pelaku dalam komik H.C. Andersen, sebagai orang desa, pedalaman, yang hidup di hutan dan kemudian pergi ke kota." Alasan dan ingatan itu pulalah yang menyebabkan ia sangat ingin keluar dari daerahnya untuk menimba berbagai ilmu. Akhirnya, ia terdampar di Yogya, tempat di luar Purbalingga yang pertama kali disinggahinya, sejak 1988 sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Melihat jumlah dan jenis koleksinya, studio yang halamannya rimbun dengan pepohonan ini memiliki total sekitar 1.000 judul. Kebanyakan memang terbitan tahun 1970-1980-an, antara lain berupa komik, cersil, novel dan beberapa terbitan Balai Pustaka untuk anak-anak SD dan SMP. Hingga tulisan ini dibuat Ugo masih melakukan pemburuan beberapa karya sastra yang belum didapatkan (termasuk juga novel stensilan macam Enny Arrow, baik yang lama maupun yang berilustrasi).

Dari semua koleksinya, jelas komiklah yang menjadi andalan dan tujuan para pembacanya. Komik yang ada di sana tersedia cukup lengkap: dari komik Indonesia, Jepang, dan Amerika. Komik Indonesia sendiri didominasi komik-komik lama era 1970-1980-an (dari komik silat sampai komik roman, antara lain karangan Teguh Santosa, Djair, Man, Tatang S., Rim, Pris, Arie, Abuy Ravana, Wid NS., Jan Mintaraga, Ganes Th., Santy Sheeba, Henky, RA. Kosasih dengan Siti Gahara-nya, dan sebagainya); komik berformat majaiah (Tiger Wong, Drunken Fist, Karl May, Emilio Salgari, Eppo, dan sebagainya), atau komik Amerika (Flash Gordon, Superman. Spiderman, dan sebagainya).

Koleksi lain yang juga menarik adalah cerita silat. Karya sastrawan asal Solo bernama Asmaraman S. Kho Ping Hoo menduduki peringkat pertama dengan 83 judul, kemudian disusul oleh Bastian Tito dengan serial Wiro Sableng-nya sejumlah 60 judul, Batara (11 judul), Tjan Khu Lung (5 judul), Stefanus (4 judul), Sri Wijono (2 judul), Boe Beng Tjo, Chin Yung, Gankh, Wahyu Mulyono, Ida Wahyuni, dan Liang le Shen (masing-masing 1 judul).

Sementara karya novel cenderung tidak terlalu banyak. Sekalipun tidak banyak, tetapi cukup lengkap, mulai dari novel anak-anak, seperti karya Enid Blyton, Arswendo Atmowiloto; novel remaja, seperti karya Janet Dailey, Harold Robbins, Bung SMAS, Fredy S., Eddy D. Iskandar, Hilman Hariwijaya, Zara Zetira ZR.; atau novel detektif, seperti Agatha Christie, Nick Carter, Babara Cartland; novel misteri, seperti Abdullah Harahap, Mila Karmila, V. Lestari, S.B. Chandra dengan masterpiece-nya Manusia Harimau, Rosalind Miles, Alfred Hitchcock; novel dewasa, seperti karya Ashadi Siregar, La Rose, Yati Maryati Wiharja, Titie Said, hingga novel Ali Shahab yang berbau "roman-erotis".

Koleksi terbitan Balai Pustaka bertanda "Milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan TIDAK DIPERDAGANGKAN" juga cukup menarik untuk dibaca. Ada banyak sekali bacaan sastra untuk anak SD dan SMP dari jenis buku ini, mulai dari karangan sastrawan yang kini tidak begitu dikenal hingga karya Mohammad Ali berjudul Catatan Harian Seorang Penganggur yang berkulit muka karya perupa besar Popo Iskandar.

Sekalipun studio ini diformat dengan bentuk persewaan, jangan sekali-kali beranggapan atau berprasangka bahwa aroma bisnis tengah berlangsung. Studio ini sangat terbuka untuk anak-anak berkreasi, entah itu menggambar, membuat boneka, atau yang lain. Selain membaca, Anda (misalnya sebagai orang tua) bisa bertanya tentang seluk-beluk seni rupa. Bila Anda adalah remaja tanggung yang suka Nick Carter ingin kuliah di ISI, Ugo dan kawan-kawannya juga tak segan ditanya ini-itu. Bila Anda adalah mahasiswa (terutama seni rupa), jangan segan bertanya tentang keinginan Anda untuk berkreasi dan cara berpameran, sedangkan bila Anda orang kampung atau awam yang mungkin belum kenal dengan Ugo, setidaknya berkenalan dulu, supaya proses sewa-menyewa terjadi lebih berdasarkan kekeluargaan, bukan harus meninggalkan KTP seperti persewaan lainnya yang ketakutan koleksinya dilarikan orang.

Tentu, kekhawatiran akan hilangnya koleksi tetap dipikirkan oleh Ugo dan kawan-kawannya. Namun, hal itu telah disadari dan menjadi bagian dari "proses bisnis", siapa yang terlambat pasti didenda dan harus bayar uang transportasi bila diambil oleh pihak pengelola. Terlepas dari itu, Studio Tanah Liat yang bersuasana kekeluargaan seperti inilah rasa sayang terhadap tradisi membaca dimulai, meskipun hanya membaca komik yang konon sangat berpengaruh bagi perkembangan mental pembaca (terutama anak-anak).

Lebih menarik lagi, studio ini telah menyediakan sebuah arena berupa situs dokumentasi karya-karya seni rupa (dan sastra) yang pernah berjaya di negeri ini dan juga sebuah arena untuk berkarya sambil membaca. Tetapi, bila Anda hanya tertarik pada komik dan ingin membacanya di rumah, Anda bisa menyewa dengan harga yang relatif murah. Bayangkan, sebendel (1 judul komik setebal 10 cm tamat) hanya Rp. 2.000 per tiga hari! Jauh lebih murah dibanding playstation, bukan?!

Mikke Susanto, Kurator dan Penggiat Lingkar Studi Seni Rupa Yogyakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2 / No. 1 / September 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru