Sastra yang Meringkuk

Posted by Cinta Buku on

Beberapa hari yang lalu seorang kawan berkata bahwa dia baru sadar buku yang dibacanya di masa kanak-kanaknya seperti Oliver Twist, Huckleberry Finn, Around The World in 80 Days, Moby Dick dan Time Machine adalah karya sastra.

"Padahal, dulu saya membaca buku-buku itu dalam bentuk komik atau buku cerita anak yang banyak ilustrasinya. Saya pikir itu judul-judul buku cerita anak," katanya.

"O, itu adalah karya sastra klasik yang supaya lebih menarik dibuat adaptasinya. Biasanya untuk pelajaran bahasa Inggris tingkat sekolah dasar atau di atasnya. Selain itu, ada juga karya sastra yang diadaptasi menjadi bacaan anak," kata saya.

"Jadi, yang saya baca dulu itu bukan versi aslinya, ya?"

"Memang, Namanya juga adaptasi."

"Kalau begitu saya beruntung, ya. Paling tidak, saya tahu sekilas cerita-cerita sastra klasik. Ngomong-ngomong bagaimana saya mendapatkan versi asli dari cerita-cerita itu? Apakah masih diterbitkan?"

"Buku-buku seperti itu biasanya diterbitkan oleh Dover Publications, Penguin atau Orion Books. Penerbit ini memang mengkhususkan diri untuk menerbitkan karya sastra klasik versi panjang atau disebut unabridged. Harganya pun tak semahal buku-buku asing pada umumnya karena para penerbit itu mencetaknya dengan bahan-bahan yang lebih murah. Misalnya, halaman-halaman buku dicetak di atas kertas koran. Atau produk seperti Orion Books yang mencetak buku dengan ukuran Iebih kecil dari ukuran biasa. Selain harganya murah, kesannya praktis dan bisa dibaca di mana saja," jawab saya.

Saya kemudian memperlihatkan kepadanya buku The Island of Dr. Moreau-nya H.G. Wells, terbitan Dover Publications. Dia lalu mengamati buku yang kulit mukanya berwarna hijau dan halamannya yang dicetak di atas kertas koran itu dengan saksama. Tak seperti buku asing lainnya yang biasa saya dapatkan di toko buku bekas, kali ini saya mendapatkan buku tersebut dalam kondisi baru, bahkan dengan harga murah.

Saya juga memperlihatkan kepadanya The Raven kumpulan puisi Edgar Allan Poe yang diterbitkan Orion Books. Ukurannya hanya 10 x 13 cm. Sama seperti buku sebelumnya, saya mendapatkan dalam kondisi baru karena harganya murah dan terjangkau.

Saya kemudian tergerak untuk membongkar buku-buku lama saya. Saya temukan buku The Pearl (John Steinbeck), Journey to The Centre of The Earth (Jules Verne), dan Doctor Zhivago (Boris Pasternak). Kebetulan buku Journey to The Centre of The Earth dan Doctor Zhivago yang saya miliki merupakan versi abridged (versi ringkas) dengan halaman penuh ilustrasi. Buku Journey to The Centre of The Earth diterbitkan Peter Haddock, Ltd., sebuah penerbit buku anak dari Inggris. Pada kulit mukanya tertulis illustrated chosen classics retold yang berarti buku ini sudah disederhanakan isinya sesuai target pembaca yang dituju, yaitu anak-anak. Buku satunya lagi Doctor Zhivago diterbitkan Collins English Library, 1978. Beda dengan terbitan Peter Haddock, buku produk Collins English Library ini selain diberi ilustrasi, juga ada halaman khusus yang disebutnya points of understanding, yang berguna sebagai panduan. Halaman tersebut berisi pertanyaan tentang cerita buku ini secara mendetail bab demi bab. Dengan adanya halaman ini, pembaca dituntun untuk memahami cerita dari awal hingga akhir. Maklum, buku ini memang dikhususkan bagi yang sedang mempelajari bahasa Inggris.

Saya membelinya bukan karena sedang mempeiajari bahasa Inggris, melainkan karena tak mendapatkan bukunya yang konon pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kendati demikian, saya tetap merasa beruntung. Di samping harganya yang murah, saya bisa langsung memahami cerita karya sastra klasik tersebut dengan mudah.

Seusai perbincangan itu saya kemudian berpikir, kenapa penerbit buku-buku sastra klasik Indonesia tak mencontoh seperti yang dilakukan Penerbit Peter Haddock, Ltd. atau Collins English Library? Saya membayangkan, barangkali dengan metode penerbitan semacam itu gairah dan minat baca terhadap buku-buku bacaan karya sastra klasik Indonesia akan meningkat. Selain itu, royalti untuk penulisnya semakin bertambah karena karyanya diterbitkan dalam versi lain.

Buku-buku sastra klasik Indonesia seperti Layar Terkembang, Atheis, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Aki yang diterbitkan Penerbit Balai Pustaka sampai kini masih tetap diproduksi dan didistribusikan di pelbagai perpustakaan-perpustakaan sekolah, kampus sampai institusi pendidikan lainnya sebagai "bacaan wajib". Akan tetapi, sesungguhnya harus diakui bahwa buku-buku tersebut tak benar-benar sampai dibaca atau terbaca masyarakat sebaik buku-buku lain pada umumnya.

Hal ini memang tak lepas dari penyusunan kurikulum sekolah yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional. Perihal karya-karya sastra mulai dari alur cerita sampai pesan moral yang bisa dipelajari memang disinggung dalam pelajaran bahasa Indonesia. Namun, kebanyakan hanya bersifat hafalan semata sehingga siswa tak mampu menyentuh secara keseluruhan isi, kecuali kalau memang ia suka membaca sastra.

Bagaimana kalau tidak? Pada akhirnya, siswa memang paham siapa Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana atau Marah Rusli berikut karya-karyanya. Dimasukkan di angkatan berapa mereka dalam khazanah kesusastraan Indonesia? Namun, hal ini terjadi pada "kulit luar" saja. Kenyataannya, mereka tetap saja tak mengerti apa sesungguhnya cerita dari karya sastra klasik Indonesia.

Di pasaran memang banyak beredar buku-buku ikhtisar roman dari karya-karya sastra klasik Indonesia. Buku tersebut sangat praktis sehingga tanpa perlu membaca apalagi menyentuh buku aslinya kita dapat mengetahui apa isi roman yang termasuk karya sastra klasik Indonesia. Sayang, buku yang diperuntukkan sebagai buku pedoman tersebut terkadang tak diperlakukan semestinya. Pernah di sebuah sekolah ketika ada tugas menulis resensi buku untuk pelajaran bahasa Indonesia, kebanyakan siswa tinggal menyalin saja dari buku-buku ikhtisar.

Barangkali dengan mencontoh Collins English Library dan Peter Haddock, Ltd., buku-buku seperti Layar Terkembang, Atheis, dan Siti Nurbaya jika diadaptasi kembali (abridged) dengan bahasa yang komunikatif dan diberi ilustrasi menarik sebagai pendukung pemahaman cerita dapat memancing gairah untuk dibaca.

Tentu saja perlu pemilihan beberapa judul yang pantas diadaptasi sehingga dapat dikhususkan untuk pembaca tingkat sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah umum. Untuk sekolah menengah pertama, barangkali bisa dipilih karya-karya seperti Salah Asuhan dan Layar Terkembang. Untuk sekolah dasar ada Doel Anak Betawi (Aman Datuk Mojoindo), Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis), dan Siti Nurbaya (Marah Rusli). Sementara untuk sekolah menengah umum bisa dipilih judul-judul, seperti Olenka (Budi Darma).

Bukan tak mungkin produk adaptasi ini menjadi bahan pelajaran sekolah yang dalam pemasarannya menciptakan peluang baru, yaitu bersanding dengan buku-buku dongeng cerita anak atau buku sastra sejenis. Mengkomikkan karya sastra Indonesia seperti pernah diiakukan sebuah penerbit ternama di India (dulu di era 1980-an Gramedia pernah menerbitkan dalam seri Album Cerita Ternama) bisa juga menjadi peluang.

Dalam industri perbukuan dewasa ini, usaha mengkomikkan karya sastra sebenamya sebagai upaya terobosan cukup menggembirakan. Misalnya, buku Kematian Donny Osmond, Jakarta 2039, dan Taksi Blues, ketiganya kebetulan karya sastrawan Seno Gumira Ajidamna. Sayangnya, belum berlanjut pada karya-karya sastra lain (apalagi karya sastra klasik Indonesia) karena penerbitan komik lokal dari perhitungan bisnis masih "bertekuk lutut" pada komik impor.

Tetap Berpeluang
Apabila buku adaptasi karya sastra sudah diproduksi secara massal, buku versi asli (unabridged) tetap berpeluang menjadi barang dagangan. Barangkali, bagi sebagian pembaca yang "usil" (baca: teliti) ia bisa coba-coba membandingkan versi adaptasi dengan karya asli sehingga produk sebelumnya tetap tak tergerus (jika hal itu yang dikhawatirkan penerbit karya asli).

Sekadar contoh, pencetakan kembali dengan kualitas ekonomis seperti yang dilakukan Penerbit Dover Publications, Orion dan Penguin Books terbukti berpeluang sebagai barang dagangan, apalagi untuk beberapa judul tertentu yang pernah terbit tapi sulit didapatkan di pasaran. Atau, jika masih beredar di toko buku dengan harga mahal, penerbitan karya dengan "harga ekonomis" tentu dapat membantu.

Sebenarnya, model penerbitan karya sastra dengan mengadopsi produk seperti Orion Books (buku saku dengan harga terjangkau) sudah pernah dilakukan penerbit yang dimotori A.S. Laksana, yaitu Akubaca.

"Pada dasarnya, harga buku harus murah, Terutama bagi yang baru berkenalan dengan buku sastra, tentunya berat jika harus membeli buku sastra yang harganya 30.000-45.000 perak," jelas Sulak, panggilan akrabnya. Serupa dengan yang dilakukan Orion Books, penerbit dengan moto "buku kecil karya besar", juga bermaksud mensosialisasikan karya sastra terjemahan dengan harga terjangkau.

Tentu saja tidak ada salahnya jika bentuk semacam ini juga diadopsi untuk menjual karya sastra Indonesia. Penerbit Balai Pustaka di tahun 2000 pernah melakukannya dengan menerbitkan Aki karya Idrus dan beberapa judul lain yang dimasukkan dalam "seri sastra nostalgia". Buku tersebut diterbitkan dalam bentuk buku saku. Sayang, langkah penerbitan ini kurang bergairah dengan tidak banyaknya judul yang berlanjut diterbitkan dalam seri ini.

Promosi dan distribusi yang lemah serta tidak ada peremajaan desain sampul yang menawan akhirnya membuat penerbitan "seri sastra nostalgia" Balai Pustaka tak mampu bersaing. Hal serupa juga dialami Pustaka Jaya yang pernah menerbitkan bentuk semacam itu dengan menerbitkan karya-karya Kahlil Gibran.

Berbeda dengan penerbitan kembali karya sastra lama yang dilakukan IndonesiaTera dengan menerbitkan Isabel Blumertkol dan Tuan Gendrik karya Pamusuk Eneste. Sebelumnya, dua buku karya Pamusuk Eneste ini pernah diterbitkan Gunung Agung dan Puspa Swara. Seiring berjalannya waktu, buku-buku tersebut diterbitkan ulang dengan desain sampul menawan sesuai zaman. Penerbit Gunung Agung pun tak ketinggalan dengan menerbitkan kembali Merahnya Merah dan Ziarah karya Iwan Simatupang. Penerbit Yayasan Obor Indonesia melakukannya dengan menerbitkan Harimau! Harimau! (sebelumnya diterbitkan Pustaka Jaya), Bromocorah dan Senja di Jakarta, ketiganya karya Mochtar Lubis. Penerbit Buku Kompas juga tak ketinggalan dengan menerbitkan kumpulan cerpen yang pernah dipublikasikan Kompas tahun 1970-1980-an. Robohnya Surau Kami karya A.A Navis juga diterbitkan kembali oleh Gramedia.

Penerbitan kembali yang sudah dilakukan sesungguhnya menunjukkan indikasi bahwa karya sastra klasik atau lama mampu dijual. Jadi, masih ada peluang untuk memproduksi karya adaptasi sehingga hasilnya kelak tak bakal "mengganggu" penjualan karya asli. Bukankah pada dasamya setiap produk memiliki pasar sendiri-sendiri?

Penanganan Khusus
Tentu saja proses untuk mengolah kembali karya-karya sastra yang umumnya bahasa Melayu Lama bukan hal mudah dan membutuhkan koordinasi dari pelbagai pihak, di samping kesediaan dari pengarangnya sendiri. Mencari ilustrator yang cocok untuk keperluan pendukung cerita dan kemampuan editor sebagai pengolah naskah karya sastra juga bukan hal mudah. Lainnya menyangkut royalti dan hak cipta pengarang. Hal itu perlu diperhatikan sungguh-sungguh karena karya si pengarang kelak diterbitkan dalam versi "baru".

Masalah pengadaptasian karya-karya sastra memang membutuhkan penanganan khusus, bahkan tak hanya dari pihak penerbit. Tak kalah penting adalah hubungan penerbit dengan kalangan pendidikan yang notabene memiliki akses dalam rancangan kurikulum pelajaran di sekolah-sekolah. Hubungan ini bukan tak mungkin dapat merangsang minat siswa terhadap pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sastra kelak dapat menjadi sesuatu menarik hingga tak lagi menjadi momok dalam pelajaran sekolah. Pangsa pasar yang kelak direngkuh oleh penerbit sebagai konsumen pembaca pun jelas, yaitu anak-anak sekolah.

Upaya yang sudah dan pernah dilakukan memang masih dalam proses panjang, sesuai cita-cita tersosialisasikannya sastra ke masyarakat. Misalnya, program Siswa Bertanya Sastrawan Bicara yang sudah dilakukan di pelbagai tempat oleh majalah sastra Horison. Dengan program ini, siswa dapat bertatap muka dengan para sastrawan hingga terjadi komunikasi interaktif. Namun, hal ini belum cukup jika tak dilakukan langkah-langkah inovasi terhadap bacaan karya sastra itu sendiri.

Perbincangan dengan teman saya itu jelas menunjukkan kenapa bacaan-bacaan yang dianggap "agung" masih menjadi "menara gading" alias enggan disentuh, kecuali peminat mahasiswa dan peneliti karya sastra itu sendiri. Hal ini jauh berbeda di luar negeri: upaya sosialisasi karya sastra senantiasa berjalan, bahkan tak berhenti dengan hanya mencetak dan menerbitkan kembali.

Mereka tak kenal lelah berupaya mengolah karya sastra dengan pelbagai bentuk, entah dijadikan komik, diterbitkan "versi ekonomis", dibuat film kartun, dan banyak lagi. Karya sastra tak lagi meringkuk di rak toko buku, melainkan benar-benar menjadi pencerahan bagi bangsa.

Pertanyaannya sekarang, siapa yang mau memulai kalau bukan dari kita sendiri?

Donny Anggoro, redaktur situs sastra Cybersastra.net dan editor sebuah penerbitan di Jakarta.
Majalah Mata Baca Vol. 2 /No. 2/Oktober 2003.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru