Buku Tentang Cover Buku

Posted by Cinta Buku on

Cuma sebuah sampul! Cover buku memang hanya sebuah komponen kecil sebuah produk bernama buku. Pendekatan seni apapun yang menghubungkan sampul buku dengan konsep rupa sebagai fine-art, bahkan high-art tetap akan kembali para fungsinya untuk mencitrakan sebuah rangsangan pasar. Inilah perkembangan art-cover book dalam industri perbukuan. Ia memang secara tak langsung menjadi produk iklan. Yang membedakan produk iklan bahwa buku memiliki masyarakat pembeli dengan karakter lebih spesifik. Sementara iklan lebih mengacu pada kebutuhan sehari-hari.

Sebagai sebuah genre seni, sampul buku sendiri berkembang sangat lambat, Karena hanya bagian dari sebuah produk, ia tergantung dari berbagai faktor: percetakan, dana, pertimbangan pemasaran, dan seterusnya. Hal lain yang membuatnya berjaian pelan adaiah keterbatasan informasi. Banyak hal yang secara mendetail dapat dipelajari, namun tak ada standardisasi penyampulan buku yang "baku".

Buku ini, Front Cover: Great Book Jackets and Cover Design karya Alan Powers (Octopus Publishing Group Ltd., 2001) —dan Covers & Jackets karya Steven Heller yang terbit 8 tahun sebelumnya— boleh jadi sangat komprehensif mengungkap perjalanan cjpta sampul buku sejak era ditemukannya cetak logam hingga era digital. Meski konsep pendekatannya "industri", tapi aspek pendekatan seni menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dunia cipta cover bahkan melibatkan berbaurnya lingkungan pelukis murni, bahkan kita bisa melihat betapa konsep kreatif dalam senirupa bisa berbalik seperti beralihnya para perupa realis ke abstrak.

Sampul luar buku pertama kali.muncul di Inggris pada abad ke-19, ketika para penerbit masih mencari-cari cara untuk memikat para konsumen. Konsep kreatif mereka masih tampak kacau, liar, sehingga tak banyak berarti bagi peningkatan konsumen. Setelah tahun 1900, sampul luar buku mulai dikenal secara luas. Sekitar tahun 1914-1918 perkembangannya mulai tampak. Ukuran utamanya adalah peningkatan penjualan! Bahkan perkembangan ini juga berimbas pada sekolah seni, yang berlomba-lomba untuk mempelajari teknik baru hingga jarak antara seni dan sikap komersil pada saat itu telah berubah.

Tahun 1920-an dan 1930-an, banyak penerbit mencari perancang sampul luar buku mereka. Sir William Orpen Sir William Nicholson, perancang logo untuk William Heinemann's Windmill, adalah nama yang paling dikenal dari periode ini. Saat itu, perancangan sampul luar buku juga berkembang dengan cepat. Perkembangan itu menjadi sebuah fenomena sosial yang sekaligus mengubah konsep seni dari pembuatan sampul buku.

Sebuah penerbitan Inggris yang terkenal, yaitu Penguin Books didirikan Allen Lane pada 1935, merupakan sebuah awal perkembangan industri penerbitan sejak adanya penemuan percetakan. Setiap penerbit harus mempunyai kepekaan terhadap pasar yang akan dituju dan juga harus menyiapkan sesuatu jika apa yang dilakukannya gagal. Penguin Books hingga saat ini agaknya merupakan sebuah ikon besar bagi evolusi art-cover yang paling langgeng.

Buku ini secara detail memaparkan empat era evolusi art-cover book. Perkembangan pertama berangkat dari kuatnya dampak modernisme di tahun 1920-1930. Keterbatasan teknis tidak menghalangi para kreator untuk melakukan inovasi kreatif. Dari rancangan dalam satu warna (monochrome) evolusi beranjak ke temuan-temuan inovatif dari rancangan desain yang menarik.

Tersebutlah Edward Bawden dan Eric Ravilious yang memulai kariernya di Inggris. Mereka mempunyai gaya khusus dan melukis secara berbeda dibanding rekan sejawat lainnya. Mereka terbiasa menggambar dengan teknik ukiran, cetakan pada kain, menggambar dengan pena dan penggunaan pada warna, Pada saat itu, gaya mereka mulai mengemuka karena unikum mereka yang tak tersaingi. Nama lain adalah Victor Gollancz (1893-1967) yang merintis penggunaan kertas tipis sebagai reaksi atas depresi ekonomi luar biasa yang menimpa negaranya saat itu. Mewabahnya novel-novel klasik, tarik-menarik abstrak dan realisme, menandai evolusi art-cover yang bergerak di antara hinnpitan sosial-ekonomi yang kuat di masa ini.

Buku-buku Penguin pada tahun 1935 merupakan kunci sejarah dalam penerbitan. Kombinasi antara keberanian dan profesionalisme dan perhatian yang mendetail terhadap setiap rancangannya membuat banyak pelukis bekerja pada Penguin, Seperti Allen Lane (1920-1970), yang di awal 1930-an, ketika mengalami kesulitan dalam hal keuangan; Lane mempergunakan kertas tipis untuk pekerjaannya, namun ditolak oleh atasannya sehingga ia mendirikan usahanya sendiri.

Era kedua ketika creation of style mulai menjadi ciri kuat sampul buku. Dimulai 1940-an hingga tahun 1960-an, masa ketika perancang sampul luar buku merupakan pekerjaan yang sangat janggal di periode pertengahan perang yang terjadi pada masa itu.

Ketika konsep seni menjadi sesuatu yang di-'sakral'-kan, tipografi tulisan mulai menjadi unsur yang penting di samping gambar. Bahkan banyak buku dengan rancangan sampul yang menggunakan tipografi huruf sebagai satu-satunya kekuatan visual. Jean Paul Sartre (1905-1980) dan Simone de Beaviour (1908-1986) adalah dua tokoh yang paling menonjol.

Era ini juga didominasi oleh rancangan sampul yang tipikal dengan begitu merebaknya buku-buku "Kitchen Sink", yaitu novel yang laku keras di pasaran, seperti bacaan kelas bawah yang tidak mempedulikan rancangan, mutu maupun isi buku. Selama buku tersebut laris, mereka tidak peduli. Di tahun 1954, Jonathan Cape menerbitkan Casino Royale, novel pertama Ian Flemning (1908-1964). Novel-novel detektif yang diterbitkan oleh Dell Books juga menjadi contoh menarik, namun penerbit ini memiliki rancangan sampul yang di kemudian hari bahkan memunculkan "legenda" dengan filosofi "lubang kunci"-nya. Juga cerita-cerita horor seperti karya Sherlock Holmes, munculnya generasi Beat yang dipelopori Jack Kerovac (1922-1969) seorang blasteran Perancis dan Kanada, tinggal di Massachusettes, yang menerbitkan buku berjudul On The Road pada 1957.

Era ketiga ditandai oleh mulai kuatnya pengaruh perkembangan percetakan (1960-an dan 1970-an). Warna dan gaya bahkan menjadi unsur yang tidak semata dilihat sebagai "materi". Ekspresi fotografis juga mulai terasa lebih bebas dan dominan karena perkembangan dunia percetakan memungkinkan hal itu. Idiom erotika bahkan dengan leluasa dieksplorasi lewat visual yang detail dan gamblang dengan mengeksploitasi foto perempuan telanjang seperti pada novel-novel Edna O'Brien. Penggunaan paperback yang dipelopori Penguin juga mulai menjadi trend. Nama-nama perancang sampul andal saat itu adalah Len Deighton, Ivan Chermayeff, Tom Geismar, Paul Rand, dan Iain-lain.

Era terakhir diwarnai dengan kuatnya pertutnbuhan teknologi digital dengan komputer sebagai perangkat kerasnya (1980-1990-an). Evolusi teknologi yang demikian pesat dan canggih memungkinkan berbagai pengolahan materi visual dan tipografi untuk memenuhi selera artistik yang sempuma. Namun, penerbit menghadapi tantangan yang khas: manajemen yang mengacu pada aspek kepercayaan pada konsumen menekankan pada penerbit dan perancang buku untuk menjamin bahwa mereka tak akan melakukan pem-"bohongan". Jadi, rancangan sampul harus tetap mengungkapkan isi. Hal ini membuat para kreator rancang sampul menjadi lebih inovatif dan kreatif. Hermes dan Athene salah satu yang merintis sikap ini. Penerbit-penerbit dengan rancang sampul brilian salah satunya adalah Faber and Faber yang menghasilkan 200 sampul buku dalam setahun. Ia melakukan penggabungan antara foto dan gambar, dikombinasikan dengan permainan komputer sebagai ciri khas garapan sampulnya, Nama lain adalah Picador, Harvill Press (penerbit yang bergerak di bidang penerjemahan karya sastra yang antara lain menerbitkan Doctor Zhivago, Giuseppe di Lampedusa's The leopard, Joy Adamson's Born Free), Bloomsbury, Black Sparrow Press, dan lain-Iain.

Evolusi teknologi ini berjalan terus, bahkan makin cepat, Barangkali hal ini akan mempercepat perkembangan konsep dan wawasan kreatif para pencipta rancang sampul, bahkan akan melahirkan dilema yang kian rumit pada karakter "art" dari dunia rancang sampul ini, yang boleh jadi mengembalikan derajat seni rupa pada kastanya yang asasi. Entahlah, Sampul, cuma sampul. Ia bagian dari cara menjual diri!

M. Iqbal Azcha, desainer grafis.
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 12/Agustus 2003 

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru