Belajar dari Komunitas Sastra "Gruppe 47"

Posted by Cinta Buku on

Pada 3 Mei 1951, penulis Hans Werner Richter duduk di beranda di rumah tamunya di Bad Durkheim, Rincland-Palatinate. Pendiri dan pemimpin Gruppe 47 atau Grup 47, akan segera membuka dan memimpin pertemuan grup tersebut yang kedelapan kalinya. Tiba-tiba, seorang pria berbadan agak gemuk muncul di ruangan. Ia adalah pekerja yang disewa Richter, tetapi pria tersebut tidak datang untuk memperbaiki sesuatu. "Saya harus membaca di sini," katanya. Tiga hari kemudian dia akan menerima penghargaan grup tersebut, yang disertai dengan ribuan hadiah, bukan jumlah yang kecil pada waktu tahun 1951.

Pria berbadan tegap tersebut, yang berusia 30-an tahun dan tidak akan diketahui lagi, tidak lain adalah Heindrich Boll. Ini adalah kesan umum dari Grup 47, banyak karier seperti itu yang tumbuh hampir tanpa modal apa pun dan dalam waktu singkat, membuat komunitas bebas dan nonformal dari penyair ini menjadi suatu legenda. Penghargaan Nobel untuk sastra —yang diberikan kepada Boll— dan setengah juta penghargaan lainnya diterjemahkan ke seluruh dunia sebagai pengakuan tertinggi terhadap Grup 47.

Grup ini muncul 50 tahun lalu di sebuah negara bagian kecil dekat Fussen di Allgan, beberapa editor yang baru saja dipecat dari majalah DerRuf datang bersama-sama untuk mempertimbangkan lingkungan kesusastraan. Mereka membaca lembar-lembar naskah satu sama lain, yang sebagian besar merupakan karyawan media pers Amerika pascaperang dengan Jerman yang dianggap terlalu memberontak dan tidak patuh, tidak layak dengan tulisannya, dan akhimya mereka diberhentikan.

Grup tersebut mendiskusikan apa yang telah mereka baca kepada satu sama lainnya. Mereka melakukan undangan sebanyak 28 kali yang dikirimkan sendiri, grup tersebut selalu berbeda, selalu lebih besar daripada sebelumnya. Lingkaran kecil dari manusia-manusia yang berhasrat pada puisi dan politik ini tumbuh menjadi sebelah sastrawan terkenal di jagat kesusastraan kontemporer.

Selama masa kejayaannya di akhir 1950-an dan awal 1960-an, sebanyak 200 pengarang, kritkus, penerbit, dan jurnalis memenuhi apa yang disebut "kursi listrik" tempat seorang penyair dipersilakan untuk duduk selama setengah jam sambil mempresentasikan karyanya yang belum diterbitkan. Penyair itu kemudian dengan diam-diam menahan acara debat grup tersebut, suatu acara yang kontinyu didominasi oleh para kritikus terkemuka dari surat kabar, para profesor sastra seperti Hans Mayor dan Walter Jens, atau para pengamat sastra seperti Walter Hollerer, Joachim Kaiser, dan Marcel Reich-Ranicki.

Pada akhirnya, politiklah yang menutup nasib Gruppe 47 di tahun 1967. Pada 1967, para mahasiswa pengunjuk rasa menghentikan pertemuan di Pulvemuhle, di Upper Franconia. Setahun kemudian, pertemuan direncanakan untuk Prague tidak dapat dilakukan disebabkan oleh invasi pasukan Rusia. Satu-satunya kepercayaan politis di badan tersebut adalah yang tertinggal dalam semangat, menentang pemberhentian era Adenauer dan juga menentang para pedogma komunis serta pembangunan tembok Berlin; menentang apa yang dilihatnya sebagai kekuatan Pers Axel Springer yang monopolistik dan akhirnya, menentang perang Amerika di Vietnam. Akan tetapi, kesepakatan-kesepakatan pada lembaga, pertemuan grup ini juga mengungkapkan adanya liberalisme internal resolusi-resolusi ini tidak pernah ditandatangani oleh siapa pun, dan ternyata sering hanya ditandatangani oleh sedikit peserta.

Pada 1952, Paul Celon membaca Todesfugne atau Irama Kematian, yang kemudian menjadi puisi Jerman yang paling terkenal pasca 1945-an. Akan tetapi, puisi ini tidak menimbulkan resonansi dalam Grup 47. Pengarang seperti Gabriele Wohmann dan Hermann Lenz, menulis wacana-wacana yang tidak memecahkan inti persoalan, dan salah satu novel yang paling sukses pada saat itu adalah Deutscstunde karya Siegfried Lenz menjadi korban "Pemberanian Pembunuhan Kritik" (Kaiser) selama perdebatan, tetapi salah tafsirsemacam ini dipertimbangkan sebagai bakat kesusastraan yang memiliki wadah. Mereka yang telah sukses di jagat kesusastraan pascaperang Jerman, di kemudian hari bermunculan. Mereka terdiri atas Gunter Eich dan Gunter Grass, Martin Walter dan Hans Magnus Enjensberger, Peter Weiss, Wolfgang Hildesheimer, juga Uwe Johnson, Peter Ruhmkorf dan Use Aichinger. Kemenangan Ingeborg Bochmann dalam membaca di tahun 1953 membawa grup tersebut sementara waktu menjadi aura kekhidmatan dari eksraterestrial, kedekatan kepada kata-kata Tuhan. Pada dasarnya, para pencela konservatif dari kelompok itu, khususnya mereka yang berasal dari generasi yang lebih tua, tidak dapat menahan diri mereka dari pelemparan fitnah terhadap sistem dan selera kelompok yang kecil.

Hal ini bukan dimaksudkan bahwa kabinet Hans Werner Richter tanpa cacat, Lebih jauh lagi, juga bukan dimaksudkan bahwa kabinetnya adalah yang pertama dan yang terakhir dalam kesusastraan Jerman, tetapi pengaruh yang paling terasa adalah dominasi Grup 47 yang tidak tertandingi dalam denyut kehidupan sastra dunia.

Oleh: Jochen Hieber
(Esai Jochen Hieber ini dimuat dalam majalah Deutschland edisi bahasa Inggris, dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Edi Warsidi, editor pada Penerbit Grafindo Media Pratama, Bandung.)
Majalah Mata Baca Vol. 1 / No. 12  / Agustus 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru