Sepatu dan Buku

Posted by Cinta Buku on

Dalam terowongan hantu Disneyland Tokyo ada rak buku tentang hantu. Lalu saya percaya (cerita) hantu hidup dalam buku. Kesan ini juga ada ketika membaca The Encyclopedia of Ghosts (Daniel Cohen, New York, 1984). Oleh karena itu, hantu(?) Dalam One Hundred Japanese Strange Creatures (Brandon Drew Hunter, 1992) "hidup" dalam imajinasi orang. Hantu yang bersarang dalam buku ini berupa catatan cerita. Akan tetapi, bukan hanya hantu yang ada dalam buku. Ada lagi yang bersarang dalam buku?

Sinetron Emperor Kang Xi meyakinkan saya pentingnya buku dalam kerajaan Cina —juga dibicarakan dalam satu acara TV Discovery dan paling tidak ini ada pada pengarangnya. Maharaja menghadiahkan rumah penuh buku kepada pegawai tinggi yang pensiun. Kesan sama ada pada cerita silat Cina. Orang belajar silat melalui buku, yang kadang berupa catatan dinding. Pendeknya, untuk punya pengetahuan, agar memiliki ilmu, orang mesti membaca. Oleh karena itu, dalam teks F30 dan F31 MSS 1589 yang ditulis di Bukittinggi awal abad ke-19 dan kini ada pada Perpustakaan Negara Malaysia, bercerita sebagai berikut.

Pada suatu hari maka datang pada majlis itu seorang lakilaki dagang memakai kain buruk. Maka duduk ia pada kesudah-sudahan majlis di belakang orang banyak pada tempat yang terkebawah. Maka segala ulama pun berkata-katalah daripada perkataan ilmu dan adalah adat mereka itu mengeluarkan suatu masalah daripada segala perkataan dan segala p.n.k.t.h yang latif-latif bersoal pada tiap-tiap duduk dalam majlis itu hingga sampailah kepada lakilaki itu. Maka dijawabnya dengan jawab yang terlebih baik daripada jubah segala orang yang duduk dalam majlis itu. Demi didengar raja Ma'mun al-Rasyid jawab lakilaki itu, maka dipujinya akan dia serta dititahkan raja ia kepada tempat duduk yang terlebih daripada tempat yang dahulu itu. Maka itupun duduklah ia. Maka tatkala datanglah pada masalah yang kedua, maka dijawab[nya] lakilaki itu.terbaik pula dari jawabnya yang dahulu itu. Maka dititahkan raja Ma'mun al-Rasyid mendudukkan dia terlebih pula daripada tempatnya yang dahulu itu. Maka tatkala sampai kepada masalah yang ketiga, maka dijawabnya pula dengan terlebih baik daripada jawabnya yang dahulu kedua itu, maka dititahkan raja Ma'mun al-Rasyid pula mendudu(k) dia hampir kepada sisinya. Maka tatkala selesailah segala ulama [maka] daripada bersoal jawab, maka dihadirkan oranglah akan air pembasuh tangan mereka itu. Maka makanan pun diangkat oranglah. Setelah selesai daripada makan, maka bangkitlah segala ulma dan fukaha dan segala hukama mohon kembali. Maka mereka itu pun kembalilah. Maka diisyaratkan raja Ma'mun al-Rasyid akan lakilaki itu menyuruhkan dia tinggal. Maka ia pun tinggal duduk. Maka hampir raja Ma'mun al-Rasyid serta ia berkatalah dengan hormat dan 'azat seperti kata 'arif: (...) artinya pakaian kamu memuliakan ia akan kamu sebelum duduk ilmu kamu memuliakan ia akan kamu. (Umar Junus, Undang-Undang Minangkabau, Wacana Intelektual dan Warna Ideology, Kuala Lumpur, Perpustakaan Negara Malaysia, 1977:227-228)

Si miskin, berpakaian buruk, dimuliakan raja karena kaya ilmu. Lalu cerita ditutup dengan: "Mulanya seorang dimuliakan karena pakaiannya, Tapi yang menentukan sebenarnya ilmunya". Raja memuliakan si miskin dengan pakaian buruk karena jawabnya atau ilmunya "lebih baik dari jubah segala orang yang duduk dalam majlis itu". Saya duga ia tak membeli jubah (yang megah) karena uang habis untuk membeli "buku" yang baginya lebih penting dari jubah. Pakaian cukup asal jadi.

Sukar menemui orang begini. Bagi umum yang hadir dalam majlis Raja Ma'mun jubah lebih penting dari buku. Oleh karena itu, dikatakan jawab si berpakaian buruk "lebih baik dari jubah segala yang duduk dalam majlis itu". Ini juga fenomena kini. Banyak yang berpikir berjuta kali untuk membeli buku harga lima puluh ribu, Dianggap mahal. Namun, tak berpikir banyak membeli sepatu setengah juta. Tidak dianggap mahal, malah dianggap wajar, karena sepatu yang pakaian kaki bagi mereka lebih utama dari buku yang pakaian otak. Keluhan yang kini ada hanya tentang mahalnya harga buku, tidak tentang mahalnya harga sepatu, Salah satunya artikel Johan Jaaffar (The New Straits Times, 24 Desember 2002).

Saya tak pasti apakah harga buku kini mahal (tapi ada yang naik), Harper's 2002 hanya $4.95 senomor tapi menjadi $5.95 pada 2003. Yang pasti, saya kurang beli buku. Sejak pensiun tak ada urgensi beli buku. Bacaan bagi saya kini hanya untuk memperkaya pengetahuan tanpa diembeli pengembangan ilmu —dulu pengembangan ilmu diembeli pengetahuan, Apalagi, begitu banyak buku dan majalah ilmiah milik saya yang belum saya baca, Kadang tergoda juga untuk membeli dan membaca buku tersebut. Saban ke toko buku biasa pulang dengan Harper's atau The New York Review of Books, atau buku yang diresensi di majalah itu. Saya kurang membeli buku karena keuangan tak mengizinkan. Ada buku yang saya ingin miliki, tapi tak saya beli karena mahal untuk saku saya atau ada faktor lain.

Kegiatan lain 50 tahun lalu menambah uang ikatan dinas sehingga saya bisa habiskan untuk membeli buku. Apalagi harga buku teks impor dengan kupon Yayasan Lektur mendapat diskon 50% sehingga harga buku terasa murah. Saya tidak hirau pakaian dan tidak ada keharusan membeli baju yang megah. Tak ada yang branded. Atau tak pernah terpikir memilikinya karena di luar jangkauan. Suasana ini terus berlanjut sampai 1960-an. Saya lebih berpikir untuk mengembangkan ilmu daripada beli mobil dan rumah, karena keduanya di luar jangkauan. Apalagi sejak 1970-an banyak barang branded masuk ke Indonesia sehingga memaksa orang berpikir untuk memilikinya. Harga terasa berada dalam jangkauan. Mobil dan rumah apalagi yang branded menjadi lebih utama dari buku.

Kejadian ini lalu mentradisi dari generasi ke generasi. Orang kurang bicara tentang buku. Sepatu yang pakaian kaki, tempat terkumpulnya toksin —menurut iklan Kinohimitsu— lebih utama dari buku yang pakaian otak. Pendeknya, kaki lebih utama dari kepala yang mengingatkan saya kepada berotak ke empu kaki, ungkapan Minang. Orang tak sadar kita bisa hidup tanpa kaki (yang utuh), tetapi tidak bisa hidup tanpa kepala, kecuali dalam cerpen "Kepala" Putu Wijaya. Kaki yang tak mutlak penting lebih dihargai dari kepala. Kaki diberi sepatu yang mahal, tetapi otak tidak diisi dengan bacaan yang berharga. Akibatnya, otak tetap kosong, Itulah kesan yang saya tangkap pada masyarakat waktu itu, apalagi saya sudah menetap di Malaysia.

Namun, tak usah terburu-buru untuk sampai pada kesimpulan ini. Sepatu dan buku merupakan dua dunia yang lain. Harga sepatu yang sesuai kaki saya tidak satu. Ada yang amat mahal dan ada pula yang amat murah. Keuangan saya melarang untuk membeli yang mahal. Saya pilih yang terbaik dari yang murah. Pada sepatu ada pilihan. Namun, tak ada pilihan pada buku. Ada pilihan untuk baju khalayak majlis Raja Ma'mun al-Rasyid, tetapi tidak ada pilihan untuk kepala (tempat otak) dan Tuhan mengkaruniakan akal kepada otak itu. Oleh karena itu, ia (baca: si berbaju buruk) sampai ke depan meskipun berbaju buruk. Atau ia tetap bisa menghadiri majlis itu tanpa sepatu atau dengan sepatu murah.

Banyak orang lebih menghargai sepatu dari kepala. Tidak pernah dipertanyakan mengapa sepatu mahal karena orang membeli brand-nya. Tapi akan dipertanyakan hasil pemikiran yang kelihatan sederhana. Kalau tidak salah, pernah dipertanyakan harga satu juta dolar yang dibayar Garuda untuk logonya. Hal yang begitu sederhana mengapa mesti dibayar mahal. Logo itu memang sederhana, tetapi kita tidak tahu masa yang diperlukan penciptanya untuk sampai kepada logo itu. Hakikatnya sama dengan telur Columbus.

Itu pandangan pengguna. Penerbit bisa punya pandangan lain. Menurut Alfons Taryadi dalam "Perang Kata dalam Kongres XV Ikapi", Matabaca, Vol. 1/No. 5/Desember 2002, ada penerbit yang ingin merendahkan harga buku dengan mencetaknya dengan kertas murah —pernah saya dengar persentase harga kertas untuk ongkos buku kecil. Ada juga yang ingin menaikkan harga buku biar pengarang menjadi "kaya" sesuai milik intelektual. Keduanya ada benarnya. Oleh karena itu, di Amerika buku bisa terbit dalam edisi kulit keras (hard cover) dan lembut (soft cover) —bukan dalam "buku saku"— karena harga untuk kedua edisi itu sama. Jika kulit keras untuk si kaya dan kulit lembut untuk si miskin, tentu saya akan memilih kulit lembut. Tapi ini bukan tanpa "gangguan". Kulit lembut —mungkin di dalamnya ada hantu karena kata lelembut "hantu" didaftarkan dalam kamus bahasa Jawa Pigeaud di bawah kata lembut —biasa dibuang sehabis dibaca (dicatat H.J. Jackson dalam Marginalia, Readers Writing in Books, New Haven, 2001).

Dengan alasan menghormati warisan, Malaysia menerbitkan karya agung dalam edisi mewah —yang selama ini terbatas kepada karya lampau— dengan harga RM200. Hal ini tentu di luar daya beli si miskin dan hanya mampu dibayar si kaya yang menjadikannya hiasan. Dengan demikian, banyak peneliti tak menggunakan edisi ini dalam penelitian karena merugikan dunia ilmu. Dan ini saya rasa berlawanan dengan ide asal penerbitan karya agung, yaitu memungkinkan orang memperolehnya dengan mudah dan diharapkan akan mengundang perdebatan.

Ada untung dan ruginya penerbitan buku dalam edisi mahal dan murah. Edisi mahal memberikan nilai lebih dan prestise kepada karya. Namun, membatasi calon pembeli. Edisi murah memberi kesempatan kepada banyak orang, namun tanpa kepastian mereka akan membeli. Banyak benda lain yang dirasa seseorang lebih penting dari buku. Jadi, tidak ada urgensi untuk membaca. Membaca yang duduk bisa menyebabkan orang menyangka ia termenung.

Oleh karena itu, perlu ada cara untuk menumbuhkan minat baca dan ini bisa berakar pada pendidikan. Saya gila baca karena waktu kuliah dulu yang penting bukan bahan kuliah melainkan bacaan. Saya pernah ujian —waktu itu semua ujian lisan— sebelum habis kuliah karena telah membaca bacaan wajib dan tak wajib. Atau mungkin juga pada materi ujian. Ujian dengan jawaban benar dan salah membatasi bacaan seseorang, Lain halnya dengan ujian yang memerlukan jawaban yang argumentatif. Orang terdorong untuk membaca banyak karena bacaan menolongnya memberikan jawaban dengan argumen yang meyakinkan.

Umar Junus, penulis, pengajar, dan kritikus sastra. Tiggal di Malaysia.
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 12/Agustus 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru