Frankfurter Buchmesse: Buku, Penulis, dan Peradaban

Posted by Cinta Buku on

Pekan Raya Buku Frankfurt atau Frankfurter Buchmesse kembali digelar pada 10-14 Oktober lalu. Sebanyak 7.448 peserta dari 108 negara menampilkan 391.653 judul buku dalam hajatan tahunan berskala internasional itu. Selama pameran, sebanyak 154.269 orang datang sebagai pengunjung. Adapun tamu kehormatan atau guest of honour kali ini adalah budaya Katalan.

Katalan adalah sebuah rumpun bahasa yang digunakan di Laut Tengah wilayah Catalonia. Tercakup di dalamnya Andorra, sebagian daerah di Spanyol, yaitu daerah Valencia dan Kepulauan Balearic (P. Majorca, P. Ibiza, P. Formentera, dan P. Minorca), Italia (P. Sardinia hanya di kota L'Alguer), dan Prancis Selatan. Tercatat 9,1 juta jiwa di daerah itu menggunakan bahasa Katalan. Meski begitu, mereka berhasil memboyong 150 penerbit dan 1.000 judul. Sebanyak 45 buku di antaranya bertema fiksi dan kumpulan sajak, yang sebagian baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.

Di antara ribuan peserta, dua stan dari penerbit Indonesia ikut menyemarakkan. Mereka adalah Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) dan Koekoesan, penerbit baru yang didirikan Rieke Dyah Pitaloka dan suaminya, Donny Gahral Adian. Ikapi mengikutsertakan 700 judul buku dengan 50 judul andalan. Yang ditampilkan Ikapi adalah buku bertema sosial politik, budaya, sejarah, dan bacaan populer dari berbagai penerbit anggotanya.

Menurut Herlina Solvia Hutauruk yang mewakili Ikapi, pihaknya ikut pameran dua tahun sekali. ''Dana adalah kendalanya,'' tuturnya Herlina. Sedangkan penerbit Koekoesan, yang baru pertama ikut pameran, mengandalkan fiksi terbaru mereka, Peri Kecil di Sungai Nipah, karya Dyah Merta dan beberapa karya lainnya.

Menurut Sahat K. Panggabean, Direktur Pemasaran Koekoesan, pasangan Rieke-Donny tak bisa hadir karena mengutamakan berhari raya bersama keluarga.

Holger Warnk, pengajar antropologi di Jurusan Asia Tenggara, Universitas Frankfurt am Main, ditemui di antara pengunjung pameran buku itu. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, Holger berpendapat bahwa Indonesia memiliki banyak sekali penulis sastra yang bermutu. Adapun para penulis yang mendapat perhatian pengamat sastra Jerman antara lain Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Leila Chudori, Ayu Utami, dan Jenar Maesa Ayu.

Untuk nama besar Pramoedya, tampaknya tak perlu usaha keras dalam penjualan terjemahan bukunya. Ini karena nama Pramoedya sudah kondang di Eropa. Lain halnya denga buku Ahmad Tohari yang sulit sekali dalam pemasarannya. ''Pasar bagi penulis Asia di Eropa memang tidak besar, termasuk pemenang Hadiah Nobel dari Cina atau Jepang,'' papar Holger.

Dalam ajang pameran buku Frankfurt itu, negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia tampak serius menggarap promosi buku-buku dan penulis mereka. National Arts Council, Singapura, misalnya, memperkenalkan para penulis andalan negara itu dalam sebuah buku dengan tampilan apik dan meyakinkan, Literature in Singapore. Sebanyak 59 penulis beserta karyanya dalam empat kategori bahasa ''diperkenalkan'' dalam buku itu.

Khor Kok Wah, Deputy Chief Executive Officer dari National Arts Council, menerangkan bahwa instansinya adalah bagian dari pemerintah yang bertugas mempromosikan budaya, sastra, dan penulis Singapura agar dikenal dunia internasional. Sayangnya, tak satu pun penulis tersebut datang pada pameran itu.

Apa yang dilakukan Singapura itu tampaknya menjadi pekerjaan rumah bersama. Pemerintah Singapura memberi dorongan penuh kepada para penerbit dan penulisnya agar dikenal oleh dunia.

Adapun Indonesia, dengan banyaknya penulis bermutu di bidangnya, bisa ikut menyapa dunia dengan menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa-bahasa dunia. Pemerintah mestinya memberi perhatian lebih pada masalah ini. Sebab buku memberi andil pada suatu peradaban, dan penulisnya adalah seniman yang mengukir peradaban itu.

Miranti Soetjipto Hirschmann (Frankfurt, Jerman)
Majalah Gatra edisi 51 / XIII / 7 November 2007

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru