Membaca & Menulis: Dua Keasyikan yang Saling Terkait

Posted by Cinta Buku on

"Saya tidak suka dengan cerpen Anda yang menggambarkan kehidupan hedonistis," begitu komentar seorang penanggap kepada Djenar Maesa Ayu dalam acara Menulis itu Asyik yang digelar pada 8 Februari 2003 di Toko Buku Gramedia Matraman dengan menghadirkan empat pengarang wanita: Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Violetta Simatupang, dan Dewi Lestari. Penampilan para sastrawati muda usia, cantik dan berbusana apik itu seolah membawa suasana harum, sehingga moderator M. Fajrul Rahman menjuluki acara tersebut pagelaran "sastra wangi".

Empat Pertanyaan Pokok
Acara yang diselenggarakan oleh Pustaka-Pustaka 97,4 Jakarta News FM bekerja sama dengan berbagai sponsor itu mendapatkan respon hangat dari para penggemar buku, yang kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa-mahasiswi. Kegiatan tersebut merupakan suatu peristiwa perbukuan yang penting sebagai pembelajaran bagi pengarang maupun publiknya. Dari acara semacam ini pengarang dapat mendengar tanggapan dari publik, misalnya komentar yang dikutip di awal tulisan ini. Sementara itu, para penggemar buku dapat memperoleh informasi langsung dari sumbernya mengenai latar belakang pemikiran di balik karya yang mereka baca. Mereka juga dapat belajar dari tanggapan sesama pembaca terhadap karya seorang pengarang.

Secara garis besar ada empat pertanyaan pokok yang diajukan dalam pertemuan itu. Pertama, apa sebenarnya arti menulis bagi keempat sastrawati itu. Kedua, dari mana mereka menimba bahan untuk karya mereka, dan seberapa jauh karya mereka bersifat autobiografis. Ketiga, apakah mereka menjumpai kesulitan dalam menulis. Keempat, apakah bagi mereka menulis dapat untuk hidup.

Mengenai pertanyaan pertama, keempat sastrawati itu memandang menulis sebagai sarana pengungkapan diri. Bagi mereka, menulis dibutuhkan untuk menyalurkan perasaan, pikiran, atau suasana hati tertentu seperti sedih, stres, putus cinta, dan sebagainya. Tentang pertanyaan kedua, Violetta mengemukakan, pada umumnya bila peka terhadap lingkungan kita akan menemukan banyak bahan untuk ditulis. Ia juga mengakui pengalaman hidupnya banyak mengilhami karyanya. Sebagai contoh ia membacakan sajak Oublie Moi, yang melukiskan gejolak hatinya ketika makan malam sebagai tanda perpisahan dengan pacarnya dulu di sebuah cafe di Paris. Menanggapi pertanyaan yang sama, Djenar mengatakan, cerpen-cerpennya tidak bersifat autobiografis, meskipun bisa saja pengalamannya sebagai anak mirip dengan pengalaman tokoh tertentu dalam karyanya. Dalam hal ini Fira Basuki mengaku, ia meminjam hal-hal akrab dalam kehidupan pribadi untuk karya fiktifnya, misalnya tokoh suami dalam salah satu novelnya ditampilkan sebagai seorang Filipina berdarah Tibet, seperti suaminya sendiri. Ada pun Dewi Lestari, yang berprinsip jujur terhadap diri sendiri, mengungkapkan, bila sedang terpukau dengan ide bifurkasi, misalnya, maka ia pun membuat tokoh dalam novelnya bersibuk dengan ide tersebut.

Tentang hambatan dalam menulis, Violetta mengaku, ia jarang dapat menulis sekali jadi. Satu syair bisa membutuhkan waktu berhari-hari, karena ada saja kata-kata yang perlu diubah. Di sela-sela kesibukannya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, ia harus hemat waktu, sehingga kertas tisu pun digunakan untuk mencatat ilhamnya yang tiba-tiba datang. Menurut Fira Basuki, yang sehari-hari bekerja sebagai wartawati, ia tak ada hambatan dalam kelancaran menulis.

Apakah menulis dapat untuk hidup? Bagi Djenar, Fira, maupun Violetta, menulis bukan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Lain halnya dengan Dewi Lestari. Menurutnya, menulis sebagai sarana ekspresi diri merupakan keasyikan yang tak berurusan dengan duit. Tetapi kepengarangan sebagai salah satu unsur dalam industri buku, tidak bisa tidak harus menjawab tantangan apakah profesi itu bisa untuk hidup. Dalam hal ini, sebagai pengarang ia harus berbisnis, dan karenanya perlu bekerja sama dengan banyak pihak, aktif berpromosi, dan lain sebagainya.

Tanya jawab siang itu oleh moderator digiring ke masalah apresiasi publik terhadap karya sastra. Rupanya hal itu menunjang salah satu tujuan penyelenggaraan acara tersebut. Konon, oleh adanya acara itu terjadi kenaikan penjualan buku di Toko Buku Gramedia Matraman. Hal itu sah dan sudah selayaknya. Tetapi, pada hemat saya, salah satu kelemahan acara tersebut ialah tidak dieksplorasinya keterkaitan antara membaca dan menulis dalam pengalaman keempat wanita pengarang itu. Padahal penulisan Supernova, misalnya jelas mengandalkan bacaan luas dan mendalam tentang perkembangan sains mutakhir. Bila Majalah Matabaca ada di balik acara temu pengarang pada 8 Februari itu, seyogyanya tidak lupa diekspose kaitan antara keasyikan menulis dengan keasyikan membaca.

Pengarang Bicara, Publik Bertanya
Dalam tulisan Membaca dan Mengarang, Kakak-Adik Kandung Tak Terpisahkan, penyair Taufik Ismail menyatakan, dalam hal membimbing anak didik untuk membaca dan sekaligus mengarang, bangsa kita terlambat 50 tahun. Sesudah empat setengah tahun perang revolusi dan pada 1 Januari 1950 kita seratus persen menjalankan roda pemerintahan sendiri, sejak itu kita di SMA "memberi prioritas dan gengsi berkelebihan pada ilmu eksakta dan ilmu sosial, serta mengucilkan bimbingan membaca buku, mengarang, dan apresiasi sastra", itulah sebabnya kita kini, menurut Taufik Ismail "telah menjadi bangsa yang rabun membaca buku dan lumpuh menulis" (Lih. Katalog Pameran 21st Indonesia Book Fair 2001, Membangun Budaya Baca).

Situasi yang menyedihkan itu telah mendorong Taufik Ismail dan kawan-kawannya melatih guru-guru SMU dan yang sederajat dalam bidang membaca buku, menuliskan karangan dan apresiasi sastra (MMAS). Itu berlangsung sejak tahun 2000 sampai 2001. Sebanyak 17 pelatihan berlangsung di Jawa dan Sumatera, yang diikuti oleh sekitar 900 orang guru bahasa dan sastra. Mulai September 2001 MMAS tersebut dilanjutkan ke Kalimantan, Sulawesi dan Bali-NTB.

Untuk menggugah minat siswa dan guru terhadap sastra, Majalah Horison dengan bantuan The Ford Foundation memprakarsai pelaksanaan program SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya). Menurut Taufik, di tahun 2000, 43 sastrawan masuk ke 30 sekolah di 20 kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY, berdiskusi dengan 15.000 siswa dan guru. Di tahun 2001, 60 orang sastrawan masuk ke 48 sekolah di 36 kota di Jawa Timur dan seluruh provinsi Sumatera, bertemu dengan 24.000 siswa dan guru SMU serta sekolah sederajat. Kegiatan tersebut mendapat respons yang sangat hangat dari siswa dan guru.

Acara semacam SBSB seperti itulah yang terlintas di benak saya, ketika mendengar dari Frans M. Parera, Pemimpin Umum Majalah Matabaca, bahwa ia sedang membujuk agar pihak Toko Buku Gramedia bersama Humas KKG (Kelompok Kompas Gramedia) bersedia menyelenggarakan acara temu pengarang seperti yang dilaksanakan 8 Februari lalu secara berkesinambungan, misalnya satu bulan sekali. Kategori pengarang yang ditampilkan kata Frans, diperluas, sehingga mencakup para pengarang senior dan para pengarang buku non-fiksi. Tentu saja, acara semacam itu sebaiknya terbuka untuk semua kategori pengarang dan karyanya.

Gagasan Frans itu mengingatkan saya pada mimpi yang pernah dilontarkan oleh Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama, tentang toko buku idamannya di lingkungan KKG. Menurutnya, paling tidak ada satu di antara Toko Buku Gramedia, yang seyogyanya tak hanya menjual buku, melainkan juga menjadi suatu pusat budaya, tempat orang datang berdiskusi dalam suasana kultural yang bebas, nyaman, dan santai sambil menikmati suguhan dari cafe yang ada di situ. Tahu-tahu, apa yang diimpikannya itu dalam tahun 2001 telah diwujudkan oleh para pengelola toko buku seperti QB, Ku/Bu/Ku, Limma, dan Aksara. Koran Kompas (12/8/2001) yang mengamati fenomena itu menurunkan laporan Membaca itu perlu dan "Enaak".

Bila toko-toko buku, bekerja sama dengan elemen perbukuan dan atau pihak-pihak lain, secara berkesinambungan menyelenggarakan temu antara pengarang dan publik, maka kegiatan itu dapat menunjang dan memperluas acara SBSB yang dilakukan oleh Majalah Horison. Temu pengarang seperti itu bisa dinamai Pengarang Bicara, Publik Bertanya (PBPB). Di situ diciptakan kesempatan pembelajaran bagi pengarang maupun publik penggemarnya.

Menuai Apa Yang Ditanam
Tentang tulis-menulis, seorang guru saya, J.W.M. Bakker SJ, penulis Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar (1984), mengajarkan menulis itu memanen apa yang kita tanam dengan membaca. Kebenaran ucapannya itu terwujud antara lain dalam diri salah seorang confrater-nya, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno SJ. Filsuf kita ini sangat produktif menulis buku, sekaligus sangat banyak membaca.

Dalam hal kaitan antara menulis dan membaca, Susan Sontag, pengarang novel The Volcano Lover, memberikan panduan mendasar yang jelas dan tegas. Dalam kumpulan esai 46 pengarang Amerika, Writers on Writing (2001), ia memberikan panduan: "Directions: Write, Read, Rewrite, Repeat Steps 2 and 3 as Needed." Menurutnya, menulis dan membaca merupakan dua hal yang saling terkait, sebab menulis adalah mempraktikkan, dengan intensitas dan perhatian istimewa, seni membaca. Kita menulis untuk membaca apa yang telah kita tulis dan melihat apakah itu sudah baik, dan karena tulisan kita tentu saja tidak pernah bulat-bulat baik, maka kita menulis untuk menuliskannya ulang, sekali, dua kali, sebanyak kali, sampai kita dapat merasa enak bila membacanya lagi. Kita adalah pembaca pertama tulisan kita sendiri, mungkin pembaca paling kejam. Sulit dibayangkan menulis tanpa membacanya ulang.
 
"Membaca," tulisnya, "biasanya mendahului penulisan. Dan dorongan untuk menulis hampir selalu dikobarkan oleh kegiatan membaca. Membaca, kecintaan membaca, adalah apa yang membuat kita bermimpi untuk menjadi pengarang. Dan lama sesudah kita menjadi seorang pengarang, membaca buku-buku yang ditulis oleh orang lain dan membaca ulang buku-buku kesayangan di masa lalu merupakan godaan tak tertahankan untuk menyela kesibukan menulis. Godaan untuk menyela. Hiburan. Siksaan. Dan, tentu: ilham."

Tentang membaca ulang dan merevisi karya sendiri, Hannah Arendt bisa menjadi contoh bagus. Dalam usia 22 tahun, filsuf brilian ini menulis tesis doktoral, Der Liebesbegriff bei Agustinus. Versuch einer philosophischen Interpretation (1929). Tesis ini dibacanya ulang, bahkan direvisinya dan diterbitkan dengan judul Love and Saint Augustine (1996). Ternyata pengkajian ulang karyanya itu mendorongnya untuk merevisi bukunya Origin of Totalitarianism, menulis On Revolution, serta Eichmann in Jerussalem, dengan referensi-referensi yang secara eksplisit atau implisit berwarna Augustinian.

Kaitan antara menulis dan membaca juga dengan gamblang dirumuskan dalam Aturan utama untuk seni tulis-menulis, yang ditulis oleh Stephen King (On Writing: A Memoir of the Craft, 2000). Kaidah itu berbunyi: "Menulis banyak, Membaca banyak." Ini selalu tak lupa ditekankannya bila pengarang lebih dari 30 novel pop itu berceramah tentang penulisan. Ia sendiri mempunyai agenda tetap: pagi untuk menulis, siang untuk menjawab surat-surat dan siesta, malam untuk membaca, acara keluarga, dan revisi-revisi yang tak bisa ditunda.

Tentang motivasi untuk membaca, Annie Dillard, pemenang penghargaan Pulitzer lewat karyanya Pilgrim at Tinker Creek, dalam The Writing Life (1989), menegaskan kita membaca dengan harapan pengarang akan menerangi dan mengilhami kita dengan kebijakan, keberanian, dan kemungkinan kebermaknaan, serta akan mendesakkan pada pikiran kita misteri-misteri yang paling dalam, sehingga kita merasakan lagi keagungan dan kekuatannya.

Menulis: Sebuah Perjalanan 
"Menulis adalah perjalanan," begitu Dee dalam Kata Pengantar Supernova. Ucapan ini cocok dengan gagasan penyair Patrice Veccione ketika dalam bukunya, Writing and the Spiritual Life (2001) ia berkata: "Cerita atau syair adalah pesan yang dibawa pulang penulis dari perjalanan."

Perjalanan pengarang adalah perjalanan pencarian, yang penuh ketidakpastian. Seperti dikatakan Patrice Vecchione, kita tidak dapat tahu apa yang akan kita temukan di sana atau apa yang harus kita katakan sesuai dengan panggilan kita. Kita hanya tahu bahwa hanya dengan menulis kita menemukan apa yang kita butuh ungkapkan.

Bila begitu, tak mengherankan bila pengarang kadang merasa tak mampu mengatakan dengan kata-kata apa yang harus dikatakannya, seperti dirasakan oleh Elie Wiesel, penulis Amerika Serikat berdarah Yahudi, yang selamat dari kamp Nazi di tahun 1986 mendapat hadiah Nobel untuk perdamaian. Menurutnya, kendati melakukan studi atas sastra klasik Perancis, Jerman dan Amerika, ia merasa tak mampu dan mungkin tak pantas mengemban tugas sebagai orang yang selamat dari kamp Nazi dan sebagai pembawa pesan. "Saya ada hal-hal untuk dikatakan, tetapi tak memiliki kata-kata untuk mengatakannya," begitu tulisnya dalam esai "A Sacred Magic Can Elevate the Secular Story Teller" (Writers on Writing, 2001).

Bila mengalami kemacetan, menurut Patrice Vecchione, kita sebaiknya, seperti dianjurkan oleh Judith Moore (Never Eat Your Heart Out), bertanya: "Apa yang sedang saya rasakan, saya pikirkan, saya elakkan, untuk saya dengarkan?" Kita, kata Patrice Vecchione, perlu menunggu jawaban atas pertanyaan itu. Mungkin kita akan menemukan ada sesuatu yang harus dipotong, yang tidak pas di sana; mungkin kita akan tahu kita butuh memasuki kekacauan dan menemukan jawaban di sana. "Kini, kita harus menjadi bukan saja seorang penulis, melainkan juga seorang pembaca." Dalam hal ini, refleksi Vecchione bersesuaian dengan keyakinan kehidupan Augustinus dari Hippo sebagai pujangga, sekaligus pembaca.

Augustinus: Peletak Dasar Budaya Baca
Perhatian orang terhadap Augustinus dari Hippo (354-430), biasanya terfokus pada kualifikasinya sebagai seorang pujangga gereja yang sangat produktif, seperti dicatat dalam The Cambridge Dictionary of Philosophy (1995) dengan karya-karya kondang seperti Pengakuan, Tentang Trinitas, Tentang Kota Allah. Karenanya, buku Augustine the Reader (Harvard University Press, 1998), karya Brian Stock yang menyoroti kegiatannya sebagai pembaca menjadi sangat menarik.

Buku ini mengupas upaya Augustinus meletakkan dasar suatu budaya baca. Augustinus yakin, kata-kata dan imaji memainkan peranan fundamental dalam memediasi persepsi atas realitas. Sejak 386, ketika minatnya pada Kristianitas bangkit lagi, ia mencoba menempatkan penyelidikan-penyelidikannya ke dalam pengalihan-pengalihan makna dalam kerangka suatu program studi Kitab Suci. Dari situ muncul penyatuan antara wawasan-wawasan filosofis, psikologis, dan literer, yang kemudian melahirkan teori tentang membaca yang pertama-tama dikembangkan di Barat.

Adalah khotbah-khotbah Ambrosius, gurunya, yang mengajari Augustinus untuk membedakan antara makna harfiah dan makna spiritual dari teks yang bersifat edukatif dan menyodorkan model keheningan meditatif dengan cara membaca. Pertobatannya sendiri dari kehidupan sensual yang hedonistis terjadi lewat tindakan membaca. Ini semua diceritakan oleh Augustinus dalam Pengakuan buku 1-9, yang menurut Brian Stock merupakan narasi terbaik tentang peranan membaca dalam pendidikan yang membentuk pribadi Augustinus.

Dalam buku 9, ia mengungkapkan kesadarannya bahwa pemahaman tentang membaca dan menulis lebih berharga daripada kesenangan fana yang dirasakannya ketika ia meresitasi teks tertentu. Ia melihat, dalam kegiatan membaca ada aspek estetik. Respon estetik terjadi bila pembaca menganggap kenikmatan teks merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. Di sisi lain, respon asketik berlangsung bila pembaca memandang teks bacaan sebagai suatu sarana untuk mencapai suatu tujuan yang lebih tinggi. Belakangan, dalam bukunya Tentang Manfaat Kepercayaan, Augustinus membayangkan suatu hermeneutika "menggunakan" dan "menikmati" yang membuat pembedaan antara teks bacaan kita sebagai sarana komunikasi, dan kebenaran-kebenaran lebih tinggi yang ke arahnya kita dibimbing. Dalam hal terakhir ini, membaca tidak lagi merupakan sutau kembara dari kesenangan yang satu kepada kesenangan yang lain, tetapi menjadi suatu "ziarah", di mana semua pengalaman tekstual diarahkan pada satu tujuan tunggal.

Dalam membentuk ide-idenya tentang membaca, Agustinus menimba banyak sumber kuno yang membawa dia memadukan kepedulian spiritual dengan refleksi metafisiknya. Namun bukan karya para penulis kuno itu, melainkan tulisan dialah yang menyediakan pernyataan-pernyataan sintetik paling awal para pengarang klasik itu bagi refleksi Barat tentang membaca, integritas, dan transedensi.

Adalah menarik bahwa terdapat dua jenis pembaca yang terbayang dalam sejarah hidup Augustinus. Pertama adalah Allah yang mengajarinya dan tak belajar apapun darinya. Kedua adalah orang-orang yang membaca karyanya. Mereka ini boleh jadi belajar dari kesalahan-kesalahannya. Augustinus melihat dirinya termasuk dalam kategori pembaca yang kedua.

Patut dicatat, dalam kariernya sebagai pujangga, pikiran Augustinus begitu diresapi oleh mentalitas pembaca sehingga perlu untuk membuat pembedaan antara tindakan membaca secara lisan atau diam dan "intensi" serta "perhatian" pikiran yang menyertainya. Ia membaca dan berefleksi atas Pengakuan 1-9 sambil sibuk menggubah buku 10. Ketika dalam tahun 430 Augustinus terbaring di ranjang menunggu ajalnya, tujuh Psalm Tobat dikopi dan digantung di samping tempat tidur sehingga ia dapat membaca, menangis dan bertobat.

Tampaknya, Augustinus dari Hippo patut menjadi sumber pembelajaran yang berguna bagi mereka yang ingin mendalami keterkaitan antara kegiatan menulis dan membaca.

Oleh: Alfons Taryadi
Majalah MataBaca Vol. 1 / No. 10 / Mei 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru