Cara Meresensi Buku

Posted by Cinta Buku on

Patut disyukuri bahwa kini banyak media massa cetak memuat resensi buku. Kebaikan dan kebijaksanaan para redaktur yang telah memberikan ruang bagi para peninjau buku, merupakan angin segar bagi para bookholic (kutu buku). Kondisi seperti ini amat jauh berbeda dengan warsa 1960-an; media massa begitu jarang memberikan ruang bagi peninjau buku. Itu makanya pendapat pribadi kian dihargai di negeri ini (Wilson Nadeak, 1994:246).

Dari sejumlah buku dan artikel yang mengulas tentang resensi buku, saya nukilkan definisi resensi. Kata resensi memang jarang dipasang sebagai nama rubrik dalam media massa. Kompas dan Pikiran Rakyat memasang nama "Tinjauan Buku", Republika memakai nama "Pustaka", Galamedia memasang "Bedah Buku", majalah Gatra memakai nama "Resensi", Tempo memakai nama "Buku", dan sejumlah media pers bernapaskan Islam memasang nama "Kitabah" atau "Telaah Kitab". Padahal, semua itu pada hakikatnya berupa resensi.

Kata recensie (bahasa Beianda) sepadan dengan review (bahasa Inggris) yang semuanya bersumber dari bahasa Latin, revidere re = kembali dan videre = melihat). Pengertian "melihat kembali" meluas menjadi "mengatakan kembali" secara tertulis tentang pengalaman yang dirasakan dan dilihatnya atas sebuah karya (buku) dengan objektif. Simpulannya, resensi ialah suatu tulisan atau ulasan mengenai sebuah hasil karya (buku).

Dalam praktiknya, resensi ini dibedakan antara review (tinjauan) dan criticism (timbangan). Tinjauan berarti sajian laporan tanpa disertai opini pribadi peninjau sebab peninjau mungkin bukan seorang ahli dalam bidang yang dibicarakan dalam buku bersangkutan sehingga tulisannya menyerupai ringkasan atau ikhtisar, sedangkan menimbang buku pasti mencerminkan opini pribadi peresensi. Menimbang buku atau mengkritik buku itu akan bergerak dari satu objek ke subjek. "Biasanya penulis resensi seperti ini seorang pakar atau setidaknya seseorang yang dianggap mengetahui persoalan, bahkan resensinya cenderung merupakan hasil evaluasi. Tidak jarang pula berbau analitik dan interpretatif, Dalam hal ini, resensor itu tidak lagi membicarakan isi buku, tetapi konteks dan relevansinya." (Maman S, Mahayana, "Resensi Buku; Usaha Meningkatkan Minat Baca", majalah Berita Buku No. 57 Tahun VIII, Februari 1996).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku. Pertama, tujuan meresensi buku ialah menyajikan kepada pembaca, apakah sebuah buku (fiksi atau non-fiksi) layak mendapat sambutan dari masyarakat pembaca ataukah tidak.

Kedua, pertimbangan yang disampaikan penulis resensi disesuaikan dengan selera pembaca. Oleh karena itu, pertimbangan yang disampaikan melalui sebuah media massa mungkin berbeda dengan pertimbangan lain yang dimuat media massa lainnya.

Ketiga. penulis resensi harus tahu betul tujuan pengarang buku yang bukunya hendak diresensi.

Keempat, peresensi mencantumkan riwayat buku: pengarang, penerbit, edisi, editor, penerjemah, tempat penerbit jumlah halaman, dan harga buku.

Kelima, peresensi harus mampu menunjukkan atau meyakinkan pembaca tentang buku baru atau buku yang sudah langka, termasuk golongan mana buku itu (fiksi atau non-fiksi).

Keenam, peresensi menunjukkan keunggulan buku (segi mana yang menarik dari buku yang hendak diresensi —segi penulisan dan penetapan pokok yang khusus), segi organisasi karya (kerangka buku, hubungan satu dengan yang lainnya jelas; selaras, ada perkembangan yang logis), Apakah bagian yang terdahulu menjadi sebab atau dasar bagi bagian yang lainnya. Segi bahasa (jelas, teratur, dan mudah dicerna), Segi perwajahan/layout (salah cetak dan tanda baca) yang mengganggu kenikmatan pembacaan. Kutipan atau bagian tertentu yang saling berjalinan dan mendukung antar bagian teks.

Hal yang patut diperhatikan juga ialah peresensi buku harus berotak dingin dan berhati hangat. Maksudnya, pekerjaan menulis resensi adalah menganalisis dan membandingkan sehingga ia harus berotak dingin dan berhati hangat agar intelektualnya tidak tertutup oleh emosi yang tak terkendali (meminjam istilah Sri Yudianti, "Kreativitas Pemikiran dalam Meresensi Buku: Sudahkah Terwujud?", Buku Panduan Pameran Buku Ikapi Jabar 1995).

Kasus seperti terjadi pada pengarang buku Psikolinguistik: Suatu Pengantar karya Sri Utari Subiyakto-Nababan yang merasa dirugikan pihak pembedah buku, J.D. Parera. Karena merasa dirugikan, penulis buku itu menantang Parera untuk menulis buku sejenis itu. Tanggapan penulis buku kemudian dimuat Kompas (11 Agustus 1993), nukilan pernyataannya: "Mungkin jarang kita temui suatu jawaban atau keterangan oleh penulis buku atas timbangan bukunya, sebab bahan timbangan buku bukanlah materi untuk polemik. Tetapi karena dalam hal ini, oleh berbagai hal yang ditulis penimbang buku dapat menyesatkan pembaca, saya merasa perlu sebagai penulis untuk meluruskan beberapa hal. Timbangan buku yang bersangkutan (J.D. Parera, pen) tidak/belum mengikuti konvensi timbangan buku karena sama sekali tidak membicarakan isi buku dan mengevaluasi penyajiannya, kecuali menyebutkan beberapa topik, yang menurutnya 'salah istliah' atau 'sepatutnya bukan kajian psikolinguistik'. Beliau (Parera, pen.) hanya menguraikan topik-topik apa yang penimbang akan memasukkannya jika beliau menulis buku psikolinguistik". (N. Daldjoeni "Resensi Buku yang Ditolak Pihak Pengarangnya", Kompas, 5 September 1993).

Memulai Membedah buku
Berikut ini tips untuk memulai bedah buku dari penulis terkemuka, Edwar Hower dalam bukunya Reviewing Books, The Writers Handbook, The Writer, Inc. (terjemahan Dadi Pakar).

Anda tidak perlu menjadi peresensi yang hebat agar karya anda dimuat dalam surat kabar. Banyak surat kabar daerah akan senang memuat tinjauan buku. Apa lagi jika anda seorang ahli dalam masalah yang dibahas dalam buku bersangkutan. Jika anda berpendapat ada buku yang perlu diresensi dan para pembaca akan suka atau perlu membacanya, cobalah hubungi redaksi surat kabar untuk menawarkan kesediaan anda menulis tinjauan buku tersebut.

Jika anda baru mulai menulis tinjauan buku, mungkin anda harus mendapatkan sendiri buku-buku yang akan ditinjau. Hal ini dapat dilakukan dengan membeli buku tersebut, atau mungkin juga dengan menghubungi bagian promosi/pemasaran penerbitnya. Beritahukanlah bahwa anda akan menyusun resensi buku tersebut untuk suatu media massa. Mudah-mudahan uang yang dikeluarkan untuk membeli buku itu, akan terganti oleh honorarium pemuatan tinjauan buku anda dalam media massa tersebut. Jika anda telah banyak menulis tinjauan buku dan para penerbit mengetahui karya anda, tidak mustahil mereka akan mengirimkan langsung buku-buku baru secara gratis dan meminta anda menulis tinjauannya.

Janganlah kecewa jika honorarium tinjauan buku Anda yang pertama dalam suatu media massa tidak besar. Anggaplah hal itu sebagai pelajaran dan untuk mencari pengalaman. Beberapa kliping tinjauan buku yang anda buat, dapat diperlihatkan kepada redaksi koran atau majalah lain, atau kepada penerbit buku ketika anda menawarkan jasa untuk menulis tinjauan buku.

Jika anda menghubungi redaksi surat kabar atau majalah untuk menawarkan jasa penulisan tinjauan buku, jelaskanlah jenis buku yang anda sukai atau kuasai, apakah buku sastra (fiksi), sosial, politik, atau tema lainnya. Baik juga jika anda meneliti, buku-buku apa saja yang biasa dimuat dalam koran atau majalah tertentu.

Mula-mula ketika anda membaca, buatlah catatan mengenai hal-hal yang ingin anda komentari. Sungguh mengherankan, betapa telitinya anda akan membaca buku, jika anda memegang pensil di tangan, anda dapat juga belajar banyak mengenai penulisan resensi dengan membaca tinjauan-tinjauan buku yang telah dimuat media massa.

Anda akan cepat mempelajari bahwa tinjauan buku yang baik, memuat unsur-unsur berikut ini: pembukaan yang menarik dan hidup, yaitu satu atau dua paragraf singkat yang menampilkan nama, gelar, terkadang informasi singkat tentang pengarang dan juga beberapa karya terdahulunya; ringkasan alur cerita (jika buku fiksi) atau tujuan utama dan pokok masalah suatu buku non-fiksi; pendapat penulis resensi mengenai kelebihan dan kekurangan/ kelemahan buku; paragraf singkat yang merupakan kesimpulan tentang kesan yang diperoleh dari buku tersebut.

Pembukaan
Menyusun paragraf pembuka yang menarik, merupakan tantangan paling besar pada penulisan tinjauan buku. Tujuannya untuk menarik perhatian pembaca agar mereka mau membaca hal yang ingin anda ungkapkan. Untuk memulainya, buatlah catatan-catatan. Ajukanlah sejumlah pertanyaan, misalnya, apakah yang menjadi tema utama buku tersebut, apakah keistimewaan buku tersebut dibandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis, apakah dampak buku tersebut kepada pembaca? Kemungkinan Anda akan menemukan kalimat pembuka pada jawaban atas pertanyaan tersebut.

Nama pengarang dan judul buku non-fiksi biasanya dicantumkan pada paragraf pertama, tetapi terkadang Anda dapat memulai dengan gagasan terpenting buku tersebut.

Pada penulisan tinjauan buku non-fiksi, Anda dapat membukanya dengan latar belakang tentang masalah yang dibahas dalam buku tersebut, terutama bila hal itu merupakan hal yang baru bagi sebagian pembaca.

Ringkasan
Orang membaca tinjauan buku untuk mengetahui; apakah perlu membaca suatu buku tertentu. Anda perlu memberikan kepada mereka gambaran, apa yang ada di antara sampui-sampul buku tersebut. Ketika mengulas buku fiksi, ceritakanlah kepada pembaca tentang tokoh-tokoh utamanya, tetapi juga berikan ringkasan beberapa alurnya. Tidak ada hal yang lebih mengecewakan pengarang ataupun calon pembaca, daripada penulis resensi mengungkapkan apa yang terjadi pada akhir cerita! Biasanya penulis menyimpulkan sepertiga hingga setengah bagian pertama alur suatu novel, dan berhenti ketika suatu konflik akan diselesaikan, seorang tokoh akan membuat keputusan, atau adegan hebat akan mulai.

Lain halnya dengan tinjauan atas buku-buku non-fiksi, karya harus menyajikan pandangan menyeluruh tentang semua informasi penting. Sajikan tanggal, orang, tempat, gagasan, dan pernyataan, bagaimana pengarang tiba pada kesimpulannya.

Memilih cuplikan-cuplikan yang tepat dari buku, dapat menghidupkan tinjauan buku bagi pembaca. Carilah ucapan-ucapan yang menunjukkan kecerdikan, pengaruh, dan kekuatan pengarang, serta jelaskan kaitan antara pernyataan-pernyataan tersebut. Jangan lupa memberikan nomor halaman setelah kutipan.

Pendapat
Tatkala menyusun pendapat mengenai suatu buku, Anda dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: apakah yang diharapkan oleh pengarang, sejauh manakah ia berhasil, apakah buku tersebut dapat mempengaruhi saya, apakah yang saya sukai dari buku tersebut, dan apakah yang tidak disukai dari buku tersebut?

Baik juga jika Anda membagi penilaian menjadi dua kelompok, mengenai isi; apakah yang dikatakan pengarang dan gaya; bagaimana pengarang menyampaikannya. Jika mempertimbangkan isi karya fiksi, ajukanlah pertanyaan kepada diri sendiri (apakah para tokoh dan alurnya menarik, memikat, serta meyakinkan hingga akhir?). Mengenai gaya, buatlah kesimpulan tentang bahasa pengarang (apakah sederhana, kaku, dibuat-buat, atau puitis?).

Pada peninjauan buku non-fiksi, isi buku lebih penting daripada gaya yang digunakan, meski Anda perlu menyatakan apakah tulisan tersebut jetas dan mudah dipahami. Pertimbangkanlah, sejauh mana kesaksamaan dan pertimbangkanlah pengarang mencakup bahan, apakah fokus utama pengarang dan mengapa, apakah kesimpulannya ditopang bahan-bahan yang disajikan?

Anda boleh tidak setuju dengan kesimpulan suatu buku, tetapi Anda harus berusaha keras bersikap objektif, tidak berdebat dengan pengarang dan tidak mengatakan bagaimana Anda akan menyajikannya jika Anda menulis buku tersebut.

Paragraf Kesimpulan
Buatlah bagian penutup tinjauan buku secara singkat, lalu carilah kata-kata yang kuat, yang menyimpulkan pendapat Anda mengenai buku tersebut, Jika mungkin, ulangilah pernyataan yang dibuat pada paragraf awal. Ingat, tujuan Anda bukan hanya mengakhiri tulisan mengenai sebuah buku, melainkan juga menyajikan bagian akhir yang akan tetap dikenang sehingga menjadikan karya jurnalistik yang membanggakan, lama setelah buku dilupakan orang.

Begitulah gambaran dan langkah-langkah membedah buku. Semoga tulisan ini bermanfaat! Ada baiknya juga, Anda tentu harus membaca resensi karya orang lain, dibarengi dengan membaca buku teknik meresensi buku, misalnya, Pengantar Dunia Karang-Mengarang karya The Liang Gie (Liberty, Yogyakarta, 1992), Teknik Penulisan Timbangan Buku karya Purwono (Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi, Yogyakarta, 1993), Bagaimana Menjadi Penulis yang Sukses karya Wilson Nadeak (Yayasan Pustaka Wina, Bandung, 1994), dan Dasar-Dasar Meresensi Buku karya Daniel Samad (Grasindo, Jakarta 1997).

Edi Warsidi, Ketua Kiub Baca "Kancil dan Buaya" Bandung, editor pada Penerbit Grafindo Media Pratama Bandung.
Majalalah MataBaca Vol. 1 / No. 12 / Agustus 2003.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru