Wawancara Retnowati Abdulgani-Knapp, Penulis Buku Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President

Posted by Cinta Buku on

Baru saja bukunya diluncurkan, Retnowati Abdulgani-Knapp sudah sibuk melayani wawancara dengan sejumlah media Barat. Malah stasiun televisi Bloomberg menayangkan langsung wawancara singkat dengan anak kedua Roeslan Abdulgani ini seputar isi buku berjudul Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President itu. Lalu disusul media asing lain, seperti The Straits Times, media elektronik Jerman, ARD, media cetak Cina, Lianhe Zaobao, hingga stasiun radio Singapura: 938Live dan radio Singapore International. Berikut petikan wawancara Erwin Y. Salim dan pewarta foto Niko Fajar Utama dari Gatra dengan sarjana hukum lulusan Universitas Indonesia itu di Jakarta, Rabu sore pekan lalu.

Apa yang paling menggembirakan buat Anda?
Yang menggembirakan adalah sambutan media-media luar negeri. Seperti sudah Anda lihat, tadi itu wawancara live dengan Bloomberg. Ada lagi dengan pemancar radio-televisi Jerman, ARD, dan beberapa media lain. Arah pertanyaan mereka umumnya sama: apakah Pak Harto suka atau tidak dengan isi buku ini. Saya bilang kepada mereka, waktu diinterviu, saya belum bertemu beliau setelah buku ini terbit. Tapi, saya dengar, beliau sudah menandatangani buku ini untuk diberikan kepada sejumlah tokoh, antara lain Paul Keating. Jadi, kalau Pak Harto sudah meneken, saya tidak tahu apa artinya, wallahualam.

Mengapa diterbitkan di Singapura?
Pertimbangan saya, biar orang-orang Indonesia bisa belajar, saya juga bisa belajar, bisa membandingkan bagaimana keadaannya dibandingkan dengan luar negeri. Di Indonesia, terus terang, urusannya bikin pusing. Naskah buku ini juga pernah saya tawarkan ke sebuah penerbit di Jakarta, tapi ditolak. Mereka bilang, tentang Pak Harto itu sudah masa lalu. Lalu Penerbit Marshall Cavendish bersedia menerbitkannya. Mereka sangat profesional dalam menentukan naskah yang akan diterbitkan.

Apa tanggapan Pak Harto dan putra-putrinya terhadap isi buku ini?
Baik. Saya lega, Pak Harto dapat menerima isi buku ini. Begitu juga putra-putrinya. Tidak ada protes walaupun di sini saya mencoba untuk sekritis mungkin. Saya yakin, sejarah (riwayat seorang tokoh) tidak bisa kita halang-halangi lagi. Pak Harto itu kan tokoh yang riwayatnya akan terus digali sampai kapan pun. Jadi, kita tidak bisa menyembunyikan apa yang sudah jadi pemberitaan mengenai beliau. Kalau kita sembunyikan, itu justru akan menjatuhkan Pak Harto.

Kapan terakhir bertemu Pak Harto?
Alhamdulillah, saya bertemu Pak Harto Senin lalu (16 April), saya dirangkul. Tapi ada yang lucu,. Waktu itu, Pak Harto meneken buku ini. Beliau kan masih bisa tanda tangan. Di situ tertulis: ''Untuk Ibu Retnowati Abdulgani-Knapp'', lalu beliau menyerahkannya kepada saya dan dipotret. Saya jadi bingung, biasanya kan penulis yang menyerahkan buku kepada yang ditulis. Ini sebaliknya, yang ditulis menyerahkan kepada penulis. Unik, kan? He, he, he....

Sudah ada tanggapan dari tokoh-tokoh masyarakat Indonesia?
Setelah buku ini terbit, berbagai tanggapan bermunculan, kebanyakan yang bernada positif. Tapi ada juga yang negatif. Pengalaman saya setelah buku ini terbit, saya sudah ditembak kiri-kanan. SMS sudah berdatangan. Ada yang sudah saya hapus, ada yang saya simpan. Yang disimpan itu yang bagus. Yang dibuang itu yang isinya menyakitkan hati, he, he, he....

Apa ada tanggapan dari mereka yang anti-Pak Harto?
Ada, saya tidak perlu menyebut namanya. Dia bilang, ''Wati, kamu mau membela Pak Harto, ya? Buku kamu mau membersihkan nama Pak Harto.'' Saya bilang, seperti saya katakan di Straits Times, saya tidak bisa membersihkan nama Pak Harto karena saya bukan Jaksa Agung, saya bukan petinggi pemerintah. Saya hanya mendudukkan dalam perspektif. Saya tidak pernah mengatakan Pak Harto tidak mempunyai kesalahan. Kalau saya katakan begitu, saya kualat sama Tuhan karena manusia itu pasti punya kesalahan.

Saya hanya mengungkapkan, ini lho pengalaman saya. Referensi yang saya pakai juga bisa dilihat, ada yang pro dan ada yang kontra Pak Harto. Dari buku David Jenkins, Theodore Friends, Hamish McDonalds yang anti, dari Indonesia ada buku pledoi Abdul Latief, buku George Junus Aditjondro yang juga anti. Ada juga buku penulis yang netral. Bagaimana mungkin saya membersihkan nama Pak Harto?

Ada juga yang mencap saya kroni Pak Harto. Gimana mungkin saya kroni. Bapak saya tidak pernah jadi menteri di zaman Pak Harto. Saya juga tidak. Bapak saya itu kan kroni Bung Karno. Persahabatan Bapak dengan Pak Harto tumbuh justru setelah Pak Harto lengser. Itu pun karena bapak saya marah, kecewa, kenapa orang Indonesia begitu banget, sih. Seperti dialami Bung Karno, setelah beliau jatuh, semua menjauh.

Bagaimana dengan yang pro-Pak Harto?
Ada juga yang ''menembak'' saya. Ada yang mencap saya membongkar-bongkar luka lama lewat buku ini. Mereka bilang, ini kan menjelek-jelekkan Pak Harto. Lho, kalau mereka mau membela Pak Harto juga, silakan saja menulis, itu buku Retnowati Abdulgani-Knapp isinya salah.

Menghadapi kejadian ini, saya trenyuh. Oalah, kalau dulu orang di sekeliling Pak Harto semua begitu, pantas saja beliau terkelicuh. Yang dilaporkan yang baik-baik saja, yang jelek-jelek jangan.

Saya juga sedih, buku-buku tentang pemimpin Indonesia banyak ditulis orang asing. Mereka malah menjelek-jelekkan Bung Karno dengan sebutan banditary. Pak Harto disebut kleptomania. Sekarang saya yang mencoba menulis tentang Pak Harto apa adanya, kok dicap membongkar luka lama. Lucu, kan? Pak Harto saja bisa menerima, putra-putri beliau juga tidak apa-apa. Tapi saya tidak peduli. Saya senang buku ini sekarang sudah ada di National Library di Australia, Library of Congress di Amerika.

Bagaimana awalnya Anda bisa menulis buku ini, padahal Anda kan anak tokoh Orde Lama?
Ya, itu tadi. Bapak saya mulai dekat dengan Pak Harto setelah lengser. Sekitar tahun 2000, saya diajak Bapak ke rumah Pak Harto. Saat itu, bapak saya terlihat berbisik-bisik dengan Pak Harto. Mbak Tutut lalu bilang pada saya untuk menulis tentang Pak Harto. Lalu saya sampaikan kepada Bapak. Bapak yang menyampaikannya kepada Pak Harto. Waktu itu belum ada jawaban pasti dari Pak Harto, walaupun Bapak sudah berusaha meyakinkan beliau. Beberapa tahun kemudian, baru ada jawaban. Apalagi setelah ayah saya wafat pada 2005, Pak Harto lebih memberi jalan untuk penulisan ini. Dalam proses penulisan buku inilah saya mulai dekat dengan Pak Harto dan putra-putrinya.

Apa kesan Anda tentang Pak Harto selama proses penulisan itu?
Ada hal yang sangat saya hargai dari beliau. Selama saya menulis buku ini, Pak Harto sama sekali tak pernah menanyakan apa dan bagaimana saya menulis ini. Beliau tidak pernah mencampuri urusan saya menulis seperti apa. Beliau tidak pernah tahu sebelum buku ini terbit apa intinya yang saya tulis. Beliau hanya memberi jalan, kalau mau tahu tentang yayasan silakan, dan yang perlu diinterviu itu si ini, si ini, dan si ini. Sudah. Setelah itu, beliau tak pernah menanyakan apa yang saya gali. Hal lain, beliau juga sangat terbuka dan memberi kebebasan saya menulis. Beliau tampak sangat menghargai hak saya sebagai penulis. Itulah segi positif Pak Harto yang banyak orang tidak melihat.

Kalau tentang putra-putri Pak Harto?
Putra-putri ini, menurut saya, tingkah laku mereka sederhana dan sopan. Mengapa kok mereka sampai begitu? Teori saya --ini saya bilang juga kepada Pak Harto-- begini. Beliau kan jadi presiden selama 32 tahun. Selama itu, kan sangat sedikit waktunya untuk keluarga. Apalagi, waktu mulai jadi presiden, putra-putri ini masih kecil. Mungkin saja kemudian ada semacam rasa bersalah, sehingga kalau putra-putrinya minta apa, dikabulkan saja. Ini sangat manusiawi, lho.

Salah sih salah, memang. Tapi kita juga harus melihatnya dengan sedikit empati. Sejarah telah mencatat, setiap orang besar mesti berkorban besar juga, kan? Lihat saja Margareth Thatcher. Anaknya, Mark Thatcher, kan begitu juga, malah balap-balapan motor. Anaknya Bush yang kembar itu juga kan bermasalah. Anaknya Pangeran Charles, Harry, kan juga begitu.

Nah, dalam kaitan putra-putri Pak Harto ini, juga kan bisa dilihat begitu. Berapa banyak waktu yang diberikan Pak Harto? Sangat sedikit, kan? Banyak tugas dan acara yang mesti beliau lakukan dari pagi sampai malam, sehingga yang jadi korban jelas putra-putri. Mereka ini bingung, lalu didekati oleh teman-teman dan kondisi di Indonesia, ya, begitulah Anda tahu sendiri. Seperti saya tulis dalam buku, karena naif, mereka dimanfaatkan oleh orang lain. Tapi mereka tampaknya memang menyesal. Hal itu pernah disampaikan putrinya kepada saya, kenapa kok mereka bisa-bisanya dimanfaatkan orang lain.

Majalah Gatra edisi 24 / XIII / 2 Mei 2007

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru