Taslima Nasrin: Feminis Yang Terluka Oleh Agama

Posted by Cinta Buku on

Taslima Nasrin merupakan sosok kontroversial bagi sejumlah kalangan. Di negaranya, Bangladesh, novelnya Lajja dilarang beredar beberapa minggu setelah diterbitkan dan menjadi best seller sebuah karya sastra. Di sisi lain, bagi dunia barat, dia adalah tokoh kebebasan berekspresi, feminis, dan pembela HAM dengan reputasi tinggi, sehingga kehidupan dan pendapatnya adalah hal yang harus dilindungi.

Kini, meskipun diasingkan oleh Bangladesh karena memperoleh fatwa hukuman mati dari kalangan fundamentalis agama, dia tetap lantang menyuarakan gagasan, berceramah, dan terus menulis. Pendukung dan pembencinya sama besarnya, hingga kedua pihak itu bisa bentrok kapan saja, seperti pernah terjadi di kota-kota Bangladesh, dan menyebabkan lebih dari 200 orang mengalami luka-luka.

Kontroversi terhadap dirinya memang sudah lama muncul sebelum dia menulis Lajja. Tapi harus diakui, Lajja menjadi puncak kemarahan golongan yang tak setuju terhadap gagasan dan tulisan Nasrin. Di Bangladesh dan India, Lajja memicu kerusuhan sosial, dan oleh pemerintah Bangladesh dianggap mengganggu kedamaian masyarakat dan sentimen agama.

Baru-baru ini terjemahan Lajja sudah beredar dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh LKIS, Yogyakarta. Harapan saya, kita disini seharusnya bias lebih toleran terhadap segala hal, termasuk pada sebuah novel yang di Bangladesh dan India dilarang, menimbulkan gejola sosial, mengakibatkan penulisnya dijatuhi fatwa hukuman mati oleh ulama fundamentalis Bangladesh, dan berjanji menghadiahi sekitar 1.250 dolar AS untuk kepalanya pada 1993-1994. Sejak itu, hidup Nasrin terancam. Dia menyembunyikan diri. Atas bantuan PEN, Amnesti Internasional, dan Persatuan Eropa dia melarikan diri dari Bangladesh, diberi suaka di Swedia pada 1994, kemudian pindah ke Perancis dan tempat-tempat lain.

Bagi golongan tertentu, dia adalah "Salman Rushdie Betina" yang begitu berbahaya bagi yang lain, dia adalah contoh tentang keberanian dan kegigihan melawan fanatisme, penindasan terhadap perempuan, dan pengekangan terhadap hak bersuara. Yang sangat jelas, dia begitu nyinyir, bahkan benci terhadap agama. Dia kerap menyatakan, "agama adalah penindas besar, dan harus dihancurkan." Terang-terangan dia mengaku ateis, agnostik (tak percaya Tuhan), tak percaya doa. Yang dia percayai adalah kerja. "Kerja saya adalah penulis. Maka pena adalah senjata saya," katanya.

Bagaimana jadinya ada seseorang yang begitu terluka dan marah oleh agama? Pada masa kanak-kanaknya, Nasrin hidup di lingkungan kelas menengah muslim. Ayahnya, Dr. Rojab Ali, adalah seorang fisikiawan negara dan pengikut Sufi, dan ibunya, Idul Owara, seorang yang sangat taat pada agama. Tentu Nasrin kecil juga seorang muslim yang pada awalnya. Baru ketika beranjak remaja, sekitar usia 11-12 tahun, banyak kejadian yang membuatnya jadi seorang ateis.

Salah satunya adalah ucapan mursyid sufi itu kepada tetangga-tetangga yang menyatakan bahwa seluruh keluarga Rojab Ali akan dibakar di neraka. Namun, yang paling menyakitkan dia adalah pengekangan dirinya kepada kehidupan sosial karena dia perempuan. Meski disekolahkan hingga menjadi dokter, dia terus dipingit hingga remaja, diantar-jemput ke sekolah, dilarang bepergian ke kota. Lebih parah dia tak diizinkan pergi ke warung untuk membeli permen, atau bermain ke luar. Sejak kecil dia sudah dibiasakan (dipaksa -dalam penuturan Nasrin) untuk melakukan ibadah dan membaca Al-Qur'an dalam bahasa Arab tanpa mengetahui maknanya. Dia sudah protes pada Ibunya, "Ibu, saya tidak tertarik pada sesuatu yang tak saya pahami. Aku ingin tahu makna ayat-ayat itu." Tapi Ibunya menjawab, "Kita tak perlu tahu maknanya. Kita harus membaca ayat-ayat ini ditulis oleh Tuhan. Jika kamu baca ini, Tuhan akan memaafkan kamu dan mengirim kamu ke surga."

Kawan sebayanya lebih parah lagi, banyak di antara mereka yang tak disekolahkan. Perempuan dilarang nonton film, dan menurutnya, tak ada perempuan beranjak dewasa yang terlihat bahagia. Di masa itu, keluarganya mengalami banyak guncangan sosial karena ketidakstabilan politik dan perang saudara di Bangladesh, India, dan Pakistan. Pada saat yang sama keluarganya retak; ayahnya ternyata terang-terangan berselingkuh, namun Ibunya hanya bisa pasrah pada guru sufi yang menyatakan semoga kesabarannya akan membawa mereka ke surga. Ayahnya jadi kerap memukuli dia dan saudaranya, dan memaksa mereka agar baik-baik bersekolah.

Kekecewaan dan pengalaman buruk berlatar belakang agama itu menjadi luka yang membuat dia tak bisa berdamai dengan segala "aturan Tuhan." Pertanyaan tentang agama dan keadaan sosial banyak yang tak terjawab, karena bertanya membuat dia justru semakin tersudut. Ajaran terhadap agama yang dogmatik dan tak masuk nalar itu memupuk bibit pemberontakan pada dirinya. Fakta-fakta terhadap kekerasan yang dilakukan oleh pemeluk teguh di tempatnya, pertikaian laten hindu vs islam, perang atas nama agama semakin membuat dia yakin bahwa agama hanyalah semacam mesin mengerikan untuk melakukan pembunuhan. Terlalu kerap darah dan air mata jatuh atas nama agama yang dia saksikan. Agama tidak berhasil mengajari manusia mencintai sesamanya. Alih-alih, agama justru membuat orang bergantung pada nasib, dan kemudian kehilangan kepercayaan diri. Sisi gelap agama terlalu nyata bagi dia, dan itu membuatnya beralih jadi humanis sekular. Baginya, filsafat paling agung adalah mencintai kemanusiaan. Dalam sebuah puisinya, dia menulis: "From now on let religion's other name be humanity (Sejak sekarang biarkanlah nama lain agama adalah kemanusiaan)."

Meskipun tak memungkiri agama menciptakan sejumlah sisi agung peradaban, Nasrin yang sedang tumbuh semakin tahu bahwa sisi lain "pencapaian" agama justru terlalu mudah dilihat: disalahgunakan, menyebabkan perang, pertikaian, perampasan, penjajahan, perpisahan, pengungsian, dan membuat banyak orang menderita.

Di atas semua itu, yang paling dia benci adalah fundamentalisme. Baginya, fundamentalisme adalah ideologi yang mengalihkan orang dari jalur alamiah perkembangan kesadaran dan kepribadian, dan merusak hak-hak pribadi seseorang. Mereka yang kecewa dan putus asa mencari keselamatan dalam kekuatan membabi buta pada iman. Akibatnya, mereka jadi tak punya nalar. Kaum fundamentalis juga yang akhirnya mengancam keselamatan jiwanya.

Sekolah membuatnya jadi rasional dan memungkinkannya menulis banyak hal. Semangat menulisnya tumbuh sejak kecil. Karya-karya awalnya muncul di jurnal sastra yang disunting oleh kakak tertuanya, pada 1975-an. Dia terutama menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya terbit pada tahun 1986. Kumpulan puisi yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris terutama oleh Carolyne Wright, antara lain:

Amar Kichu Jay Ase Na (I couldn't care less); 1988,

Nirbasita Bahire Antare (Banished Without and Within); 1989,

Atale Antarin (Captive in the Abyss); 1991,

Behula Eka Bhasiyechila Bhela (Behula Floated the Raft Alone); 1993,

Ay Kasta Jhepe, Jiban Debo Mepe (Pain Come Pouring Down, I'll Measure Out My Life For You).

Pada 1989-an, dia mulai menulis serial kolom bertajuk Niubachita di Koran Bangladesh. Atas sejumlah karyanya dia mendapatkan anugrah sastra Ananda Award pada 1992 di India, sebuah anugrah prestisius bagi kalangan sastra anak benua itu. Ia juga penerima hadiah Natosabha Purushkar pada 1993. Di Bangladesh pun sebenarnya dia adalah penulis yang dihormati.

Pekerjaannya sebagai dokter kandungan di rumah sakit umum pedesaan Bangladesh, kemudian Mitford dan Akademi Kedokteran Dhaka, membuat dia berinteraksi dengan banyak perempuan miskin. Keadaan ini dengan pedih membuatnya sadar terhadap betapa besarnya perempuan yang dianiaya di masyarakat islam tradisional Bangladesh. Pada 1993 dia menyaksikan hukum rajam pada seorang perempuan 23 tahun atas perintah Mullah setempat; yang menyatakan bahwa perkawinan kedua perempuan adalah sebuah pelanggaran hukum islam.

Sejak itu perhatiannya berubah; kekejaman pada perempuan membuat perhatiannya. Dia menulis tentang perempuan yang secara tak adil ditindas dan hal semacam itu, tentang hak asasi manusia dan ketidakadilan yang terjadi di depan matanya, di negerinya. Tulisannya jadi sangat keras. Puisi-puisinya tampak terlalu mudah dipahami sebagai bentuk kemarahan eksplisit. Esai-esainya menyerang semua pihak yang dianggap bertanggung jawab terhadap kondisi buruk perempuan dan hak asasi di negerinya. Tulisannya jadi sangat keras. Dia menjadi pembela hak asasi dan feminis radikal. Mulailah dia melakukan perlawanan bahkan kepada pihak yang dianggap memiliki otoritas agama dan negara. Dia menggunakan kata-kata dan karyanya untuk menguatkan iktikadnya.

Mulailah dia menuai badai. Karena menyatakan bahwa Al-Qur'an harus direvisi seluruhnya, dia langsung mendapat reaksi keras dari kaum fundamentalis. Pernah dia diserang sekelompok orang disebuah pameran buku untuk dihancurkan. Puncaknya ketika dia menerbitkan novel pertamanya pada februari 1993, Lajja (Aib), yang dia selesaikan hanya sekitar tujuh hari karena dihantui oleh banyak peristiwa pengejaran minoritas Hindu di Bangladesh oleh mayoritas muslim, sebagai dampak dari penghancuran Masjid Babri oleh fundamentalis Hindu di Ayodhya, India, pada 6 Desember 1992.

Meskipun laku keras di sana, sempat terjual lebih dari 60.000, sebelum akhirnya dilarang pemerintah dengan alasan mengganggu kedamaian masyarakat dan sentimen agama, novelnya menimbulkan gejolak sosial. Nasrin kecewa dengan keputusan pemerintah. Sebagai protes, dia berhenti menjadi dokter. Balasannya, paspornya disita, dan diminta untuk berhenti menulis. September 1993, kelompok fundamentalis memberi fatwa hukuman mati terhadap dirinya atas buku itu dan pernyataannya tentang agama dengan sejumlah hadiah uang. Dia juga harus menghadapi pengadilan atas tuduhan melakukan penghujatan agama.

Untunglah Nasrin tidak gentar. Dia menghadapi itu dengan ketabahan mengagumkan. Sejak 4 Juli dia mulai menyembunyikan diri berbulan-bulan. Kegemparan terhadap novel itu membuat negara-negara Barat dan organisasi internasional tertarik pada kasusnya. Bagi negara barat, kasus seperti Nasrin merupakan komoditas politik yang menarik, minimal untuk menunjukkan bahwa mereka peduli pada keselamatan jiwa dan kebebasan atau kemerdekaan seseorang. Baru pada Agustus 1994, akhirnya dia mencari amnesti ke Panitia Penulis Wanita dari PEN Internasional, melarikan diri ke Stockholm, Swedia.

Sebaliknya, pembelaan terhadap Nasrin melukai dan mengecewakan kaum fundamentalis setempat. Mereka memburu Nasrin di mana pun. Ketika sadar Nasrin dibiarkan pemerintah meninggalkan Bangladsh, salah seorang juru bicara dari partai fundamental Jamaat-e-Islami, Abdul Kader Mollah menyatakan, "Pemerintah harus membayarnya dengan harga yang sangat tinggi." Salah satu bentuknya, kata Shafiul Alam Prodhan, juru bicara untuk koalisi 13 fundamentalis, ialah, "Masyarakat akan menggulingkan pemerintah dan mendudukkan pimpinannya di pengadilan karena berkhianat kepada Islam."

Untuk bukunya sendiri, kasus itu mendongkrak popularitas, dan membuatnya diterjemahkan dalam berbagai bahasa-menurut berita sekitar 22 bahasa. Kontroversi itu mengingatkan orang pada puisi-puisi Nasrin, dan menarik minat Barat untuk menerjemahkannya pula. Pada 1995 terbitlah kumpulan terjemahan puisinya yang pertama, yakni The Game In Reverse. Kemudian pada 1997, menyusul 100 Poems Of Taslima Nasreen. Perlawanan terhadap kemapanan membuahkan ribuan pengagum pada dirinya. Dia menjadi simbol pertarungan fanatisme agama di anak benua India. Mereka yang mencacinya menginginkan kepalanya; mereka yang membelanya menjadi dia sebagai pahlawan humanisme dan pluralisme.

Dalam pengasingan itu Nasrin menjadi selebritis hak asasi manusia, feminis terkenal, penulis dengan reputasi internasional, diundang di banyak seminar internasional, berbicara segala macam sesuai perhatiannya, berpidato terutama tentang feminisme, hak asasi manusia, dan masih berapi-api terhadap fundamentalisme agama. Dia disukung banyak penulis dan orang terkenal: mulai Paul Kurtz, Salman Rushdie, Wole Soyinka, hingga Steven Weinberg, Czeslaw Milosz, Mario Vargas Llosa, Milan Kundera, dan lain-lain.

Dan lazimnya pejuang, dia lantas dianugrahi banyak penghargaan, antara lain Feminist Of The Year, Amerika Serikat, 1994; Anugrah Hak Asasi Manusia dari Pemerintah Perancis, 1994; Hadiah Humanis Internasional dari International Humanist and Ethical Union, 1996, bahkan doctor honoris causa dari Universitas Gent, Belgium, 1995. Dia bertemu dengan pribadi-pribadi besar, misalnya Jacques Derrida dan Gunther Grass. Peter Priskil, yang menulis biografi Salman Rushdie, tertarik menulis kisah hidupnya beserta latar belakang kejadian dan ulasan kritik sastranya, di sebuah bukunya, Taslima Nasrin: The Death Order and its Background (1997).

Di pengasingan itu dia terus menulis, untuk jurnal dan seminar internasional. Pada 1999, dia menulis sebuah memoar masa kecil yang kembali kontroversial, Amar Meyebela (Masa Gadisku), dan langsung dilarang oleh pemerintah dengan alasan serupa dengan Lajja. Pada Juni 1999, dia menerbitkan novel baru, yakni Utal Haowa (Angin Ribut), yang diluncurkan di negara bagian India, Bengal Barat.

Bagaimana sebenarnya tulisan dia jika dibandingkan dengan begitu banyak kontroversi di dalam kehidupannya? Harus diingat bahwa sisi terkuat tulisan Nasrin adalah puisi. Sejumlah kritik mengatakan puisinya tedas dan pedas. Nyaris tak ada metafora, apalagi karya-karya terbaru yang memang langsung ditujukan terhadap kenyataan ketidakadilan sosial pada perempuan. Dia biasa menceritakan kekerasan seksual dan rumah tangga, juga tentang beban yang ditanggung perempuan muslim masyarakat islam tradisional. Dia menantang tabu-tabu tentang perempuan dan seksualitasnya. Puisinya bergaya langsung.

Lajja pun sebenarnya tidak terlalu sastrawi dalam gaya. Ini novel yang realis, apalagi dipenuhi fakta dari guntingan koran setempat. Membuatnya tampak seperti kolase peristiwa nyata yang dihiasi fiksi. Justru isi dan ceritanya yang membuat sebagian golongan mayoritas di negerinya marah. Ini novel yang bercerita tentang keluarga Hindu-nasionalis pribumi Bangladesh yang dikejar-kejar kaum fanatik islam karena marah terhadap penghancuran masjid Babri. Keluarga Sudhamoy menolak meninggalkan Bangladesh, karena merasa di negeri inilah mereka hidup dan merupakan tanah airnya; akibatnya nereka diancam dan didera. Orang-orang Hindu banyak yang diperlakukan semena-mena, pura banyak dihancurkan.

Novel ini memperlihatkan perjuangan kaum minoritas terhadap kemarahan kaum mayoritas. Dalam faktanya, Bangladesh diisi 90% muslim, dari 120 juta penduduknya (1994). Novel ini menjadi terkenal karena fatwa yang ditujukan pada penulisnya. Maka, perhatian kini beralih pada penulis, alih-alih pada buku tersebut. Sebuah ulasan menyebutkan buku ini penting karena besarnya pengaruh yang bisa didapat oleh pembaca, bukan karena nilai sastranya. Pembaca akan dipaksa melihat dengan sudut yang berbeda pada dirinya dan masyarakat tempat dia tinggal. Pembaca akan tahu rasanya diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Bahkan di dalam Lajja, Nasrin dituduh memanipulasi data dan fakta, atau memunculkan berita secara tak seimbang.

Kritik tarhadap karya pasca pengasingan kadang-kadang menjadi stereotipe. Mereka bilang Nasrin seperti anak-anak yang curang, dia tahu yang ingin didengar dan dibaca Barat, dan membuat terlampau besar upaya untuk menyenangkannya. Dia suka bercerita tentang banyak kekerasan, pengekangan, kekakuan, dan kejumudan keluarga atau budaya Bangladesh. Tapi barangkali untuk itulah ketidakadilan harus didengarkan dan disimak.

Begitukah? Dalam esainya, Women's Rights Nasrin menulis, "puisi saya, prosa saya, seluruh tulisan saya, mengungkapkan perampasan terhadap wanita yang sudah dieksploitasi selama berabad-abad. Ungkapan yang saya gunakan keras, dan karena kejahatan itu sakarang saya harus meninggalkan negeri yang saya cintai." Tampaknya Nasrin memang belum pulih dari lukanya pada fundamentalis yang menginginkan kematiannya, pada agama yang membuatnya bersikap jadi sangat keras, dan pada ketidakadilan yang merenggut kaumnya.

Dengan keyakinan penuh, dia yakin akan terus menulis. Di sebuah wawancara, dia bilang, "saya akan terus mengatakan yang saya yakini sampai hari akhir hidup saya, di Bangladesh, di Eropa, di mana saja. Tak akan berhenti menulis, dan tak akan pernah berkompromi dengan fundamentalis." Sebuah pilihan hidup berani dan keras bagi seorang perempuan lajang seperti dia.

Dalam hidupnya sejauh ini, Taslima Nasrin, kelahiran Mymensigh, Bangladesh, 25 Agustus 1962, telah menerbitkan sekitar 17 buku; terdiri dari 9 volume puisi, sejumlah kumpulan esai dan kolom, sebuah memoar, dan dua novel.

Anwar Holid, pembaca sastra, penulis dan penerjemah.
Majalah MataBaca Vol. 1 / No. 12 / Agustus 2003.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru