Marguerite Duras, Pecinta yang Tak Bahagia: Sastra dan Feminisme

Posted by Cinta Buku on

Ada kenangan samar-samar saya tentang salah satu karya Marguerite Duras, yakni sebuah film tanpa dialog yang saya saksikan bersama beberapa orang lain di CCF Bandung dulu, India Song. Ini adalah sebuah film berbentuk dongeng yang diberi adegan teater, atau skenografi. Hanya ada narasi dalam bahasa Perancis, diucapkan oleh seseorang yang saya tak tahu pasti: apakah pengarang/pihak ketiga atau salah satu tokoh dalam film tersebut. Tentu saja saya tak mengerti bahasa Perancis, selain oui dan merci. Yang mengherankan, saya nonton film itu sampai tamat, barangkali karena pengambilan adegan dan sudut pandang (visual) kameranya indah, yang mampu membuat penonton terpaku.

Beberapa tahun setelah itu, saya diberi tahu kawan bahwa karyanya yang lain, Moderato Cantabile diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, oleh YOI. Ternyata kawan saya lainnya, yang tengah studi feminisme di S2 UI, memiliki cukup rujukan tentang Duras, baik kehidupan, karya dan kritiknya. Tak lama dari sana, saya mendapati karyanya yang lain, The Lover, di perpustakaan EWA (Expatriate Woman's Association) di sebuah pasar swalayan di Bandung. Saya tanya ke seorang teman yang lebih tahu sastra, "Siapa sih Duras itu?" Ternyata Duras adalah nama besar yang selama ini tak saya ketahui makna pentingnya. Maka saya memfotokopi buku tipis itu.

Meskipun tipis, hanya 116 halaman, itu pun dicetak dengan font besar, ternyata buku ini dianggap merupakan karya terbaik Duras. Buku yang membuatnya menjadi sosok mencorong dalam khazanah sastra Perancis khususnya, terutama dalam ranah feminisme, nouveau roman dan l'ecriture feminine. Selain itu The Lover adalah bukunya yang paling laris; salah satu sebabnya barangkali karena buku ini merupakan autobiografi yang dinovelkan.

Selama 1984-1996 The Lover sudah terjual sekitar tiga juta eksemplar, diterjemahkan ke dalam 40 bahasa (kecuali Indonesia), dan dibuat film pada 1992 oleh Jean-Jacques Annaud. Dia pun mendapatkan Prix Goncourt, anugerah sastra paling prestisius Perancis, karena buku ini. Kritik bilang, orang tak bisa lagi menghalanginya menerima anugerah ini seperti pada 1950-an ketika masih bersimpati pada Partai Komunis Perancis, padahal dia sudah menulis secara sangat istimewa buku The Sea Wall maupun Moderato Cantabile.

Perempuan kelahiran Gia Dinh, Vietnam pada 1914 dan meninggal pada 3 Maret 1996 ini merupakan salah satu sosok penulis (perempuan) terpenting pada abad ke-20. Terlahir sebagai Marguerite Donnadieu, mengambil nama Duras dari sebuah desa di Perancis, tempat ayahnya berasal. Dia telah menulis lebih dari 73 buku, mulai dari novel, memoar, artikel, opini, dan sebagainya. Selain itu dia menulis naskah skenario film dan teater, empat di antaranya yang paling terkenal adalah Hiroshima Mon Amour disutradarai Alain Resnais, dan mendapat piala di Festival Film Cannes, Academy Award (Oscar), dan anugerah Kritik Film New York; India Song yang disutradarainya sendiri; dan Moderato Cantabile diarahkan sutradara kontroversial Peter Brook, dan The Lover tadi. Cakupan tulisannya sangat luas, termasuk ranah politik, yang sempat dia akrabi beberapa tahun selama masa Perang Dunia ke-2, terlebih-lebih karena dia bergabung dalam French Resistance (dan nanti Partai Komunis).

Karya Duras mudah diketahui ciri khas temanya, yakni cinta, kebuasan dan daya rusaknya, pencarian kebahagiaan, luka, juga hasrat seksual. Novel-novelnya mengeksplorasi alienasi, individualisme, godaan seksual, kematian, dan kenangan. Jika tidak tentang itu, ia bercerita tentang halusinasi, pengalaman eksistensial, juga sisi-sisi gelap keperempuanan. Tulisannya yang sepi, ambigu, dan abstrak membuat dia dimasukkan ke dalam bagian tak terpisahkan gerakan nouveau roman, meskipun dia sendiri belum pernah menerbitkan manifesto atau berargumentasi atas pendiriannya tentang gerakan sastra tersebut sebagaimana telah dilakukan banyak penulis seangkatannya. Sementara, kecenderungannya untuk menempatkan perempuan sebagai pusat cerita dan mengolah persoalan dan pengalaman perempuan menjadikannya disanjung sebagai eksponen penulis feminis yang sangat menonjol. Karya-karyanya merupakan contoh paling istimewa l'ecriture feminine -meskipun selalu meninggalkan sejumlah persoalan yang kompleks ketika membahasnya.

Salah satu aspek yang kerap dibicarakan dalam karyanya adalah kemalangan tokoh-tokohnya dalam usaha mendapatkan cinta, kegagalan mereka mendapatkan kebahagiaan dari pasangan hidupnya. Ada banyak contoh buku Duras yang bercerita tentang hal ini, yang paling utama adalah The Lover, The Vice-Consul, dan The Ravishing of Lol V. Stein. Kemalangan dan kegagalan itu memunculkan spekulasi yang sangat jelas bahwa sebenarnya Duras menceriterakan seluruh kehidupannya itu ke dalam fiksi, mencampurnya dengan imajinasi, gaya sastra, renungan dan kedalaman.

Kegagalan bercinta itu telah dia alami sejak remaja. Sewaktu masih menjadi anggota French Resistance, dia adalah istri Robert Antelme, seorang penyair yang juga anggota kelompok perlawanan lain, yakni Richelieu pimpinan Francois Mitterand, yang kelak memimpin Perancis. Namun, pada masa bergolak itu Antelme ditangkap oleh Gestapo, dan dikirim ke kamp konsentrasi. Meskipun mampu bertahan, tatkala kembali ke Perancis dalam keadaan di ujung kematian dan sakit mental, dia menemukan Duras jatuh cinta kepada orang lain, yakni Dionys Mascolo, seorang filsuf politik dan kritikus. Duras tetap merawat Antelme hingga pulih, sebelum akhirnya meninggalkannya. Dari perkawinannya dengan Antelme, dia sempat melahirkan seorang anak, sayangnya meninggal begitu dilahirkan. Dengan Mascolo dia memiliki seorang anak lelaki yang amat dicintai dan kerap menjadi inspirasi karya-karyanya. Tetapi, barangkali karena kehidupannya sejak kecil kelam dan pilihan-pilihannya keras, dia kerap terjebak melakukan affair, kecanduan alkohol, dan megalomania. Sampai akhir masa kehidupannya, dia tinggal dengan Yann Andrea Steiner -seorang homoseksual berusia sekitar 40 tahun lebih muda yang ditemuinya pada 1982. Steiner, yang memang sangat terobsesi pada Duras, pada awalnya menjadi sekretaris pribadinya, kemudian juga membintangi film Duras, salah satunya adalah film pendek tentang dirinya, Yann Andrea Steiner (1979). Meskipun tak diragukan lagi Duras mandiri, dalam kehidupannya dia bernasib malang, kerap kehilangan tujuan hidup, sia-sia berusaha keluar dari situasi kegilaan itu.

Duras lahir dari keluarga Perancis miskin yang migran ke Vietnam sebagai pekerja kolonial. Ayahnya meninggal ketika dia berusia 4 tahun. Untuk bertahan hidup, ibunya mengajar piano dan bahasa Perancis, sampai mampu membeli tanah untuk dijadikan ladang padi. Karena tak benar-benar menguasai teknik dan prosedur pembelian resminya, mereka bangkrut tatkala mengusahakan bendungan untuk melindungi ladang padinya dari banjir air laut. Setelah menghabiskan 17 tahun masa remaja di Vietnam, dia menuju Perancis untuk belajar ilmu hukum dan politik di Sorbonne. Setelah lulus pada 1935, dia bekerja di kementrian kolonial sebagai sekretaris pelayan masyarakat, sambil sesekali menulis, menjadi jurnalis (untuk majalah Observateur) dan aktivis politik. Baru pada sekitar 1942 dia memutuskan untuk sepenuhnya menjadi penulis, setelah berhasil menerbitkan novel pertamanya Les Impudents pada 1942.

Masa kecil yang pedih dan traumatik di Vietnam itu ternyata sangat membekas hampir ke seluruh karyanya. Mayoritas tempat, tokoh, kejadian, dalam bukunya selalu memiliki hubungan dengan Vietnam, atau Asia. Dari sisi ini, Duras juga kerap dianalisis oleh kritik dari kaca mata studi pascakolonialisme. Novel pertama Duras yang meraih perhatian luas karena dinominasikan meraih Prix Goncourt, yaitu The Sea Wall (terjemahan Un Barrage Contre Le Pacifique, 1950), bercerita tentang keluarga Perancis melarat di tanah jajahannya. Begitu juga Hiroshima Mon Amour (skenario), tentang seorang aktris Perancis istri arsitek Jepang yang digunduli penduduk Jepang karena menceritakan kisah selingkuh-singkatnya dengan tentara Jerman waktu perang. Akhirnya, perempuan ini mengalami sakit mental. The Vice-Consul, Her Venetian Name in Calcuta, The Woman from the Ganges, India Song, The Lover (dan versi lebih seksinya L'amant de la Chinese du Nord) semuanya bercerita tentang hubungan orang Eropa dengan negeri-negeri Asia sebagai daerah jajahan. Ironiknya, orang Eropa tidak digambarkan superior seperti yang umum terstereotip, melainkan menjadi sosok sakit, menderita, atau bahkan ditolak oleh orang-orang setempat. Kata Laure Adler -penulis biografi Duras- keindahan alam Asia, keburukan nasibnya sebagai orang miskin, masa kecilnya yang traumatik, misteri relasi antar-ras manusia, berkelindan sangat dalam pada Duras. Ujung pusaran ini adalah upaya Duras melepaskan diri dari semua hal yang membuatnya tersiksa, baik melalui tulisan, kehidupan, hubungan sosial, kebutuhan seks, dan caranya memandang hidup. Semuanya dipraktekkan dengan penuh keberanian, lahap dan terampil.

Awalnya gaya tulis Duras dipengaruhi Ernest Hemingway dan John Steinbeck. Belakangan justru dia yang dianggap mempopulerkan kedua penulis Amerika itu dalam khazanah sastra Perancis. Keterlibatannya yang sama intens pada teater, film dan sastra, membuat gaya dan teknik menulisnya berbeda dari kebanyakan penulis nouveau roman dan l'ectriture feminine. Dia kerap mengadaptasi karyanya dari satu media ke media lain, mengubah-ubahnya sesuai keperluan. Cara pemaparannya yang minimal penggunaan imaji kata (seperti soundtrack dalam film), abstraksi pada ruang dan waktu, sering menunjukkan dirinya adalah penulis yang sangat reflektif terhadap semua kejadian -membuktikan dia seorang pemikir soliter. Dialog yang digunakannya kerap eliptik dan lebih memfokuskan pada kehidupan batin tokoh. Tentang hal itu, Ita Kovac -seorang kritikus- menyebut bahwa buku-buku Duras adalah tulisan yang sunyi, sedang film dan teaternya adalah tanpa gambar. Memang mulai 1960-an gaya tulisan Duras jadi begitu minimal dan abstrak. Dia meninggalkan gaya realis yang dia bangun pada awal kepenulisannya. Dengan sengaja dia menolak estetika ataupun teknik stilistika. Salah satu kekhasannya ialah keberhasilannya membuat plot, perbuatan, pemaparan psikologis yang tak lazim, dan percobaan pada daya dobrak kata. Lebih lanjut, Duras berkonsentrasi pada pendekatan eksperimen pada karya-karyanya, termasuk mengabaikan pemaparan kronologi waktu, namun bolak-balik dalam memandang waktu dan kejadian. Apalagi tema yang dia gali semakin beralih pada ingatan, kenangan, hasrat, halusinasi, dan kematian -sesuatu yang memang secara alamiah sukar diutarakan lewat cara verbal, hanya bisa dirasakan atau direfleksikan. Duras menulis untuk menyampaikan suara jiwanya. Menurut Jean-Jacques Annaud, dia menggunakan novel, drama dan filmnya untuk mengkaji dirinya sendiri sebagai cermin. "Dia berusaha mengenali dirinya dalam karya sampai pada titik bahwa ia tak tahu lagi mana yang merupakan suatu kenyataan autobiografi dan mana yang fiksi."

Terhadap semua yang pernah dia ciptakan, upayakan, dia coba dan lakukan, Marguerite Duras dengan sendirinya membuat dia sebagai sosok agung pada sastra dan pemikiran abad ke-20 ini. Kehidupannya yang kompleks dan kontroversial kerap menjadi sumber inspirasi atau homage (persembahan) karya bagi seniman lain. Yang paling terkenal di antaranya adalah M.D. (Yann Andrea Steiner), Marguerite Duras: A Life (Laure Adler), dan Marguerite Duras Here, Now and in Space sebuah komposisi karya John Yi.

Anwar Holid
Majalah MataBaca Vol. 1 / No. 10 / Mei 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru