Kopieditor: Penjaga Gawang Penerbitan

Posted by Cinta Buku on

Minggu lalu, saya berkunjung ke rumah salah satu teman yang sudah lama tak bertemu. Dia seorang pramugari di salah satu maskapai penerbangan asing. Jadwal penerbangan yang padat membuat kami berjarak sehingga jarang bertemu. Maka dari itu, pada pertemuan pertama ini kami banyak ngobrol ke sana kemari (istilahnya ngalor-ngidul), dari mulai cerita masa lalu sampai ke masalah status dan pekerjaan kami masing-masing.

"Mir, apakah pramugari itu harus cantik dan tinggi-tinggi?" tanya saya pada Mima sambil terus memandang wajahnya yang manis.

"Tidak juga, yang jelas dia harus berpenampilan baik, luwes, bisa berbahasa asing ya... minimal Inggris, dan berwawasan luas," jawabnya.

"Tapi yang saya lihat, pramugari-pramugari itu sangat cantik-cantik," tanya saya lagi penasaran.

"Ah... itu kebetulan saja. Tapi yang penting yaitu tadi, dan terutama berwawasan luas," kata Mirna menjelaskan sambil sekali-kali menyantap makanannya.

"Kalau begitu ada kesamaannya dong dengan pekerjaan saya?" kata saya bersemangat.

"Oh...ya, saya sampai lupa, apakah kamu masih bekerja di surat kabar?" tanya Mirna sambil menatap muka saya. (Sebagai catatan, teman saya itu memang selalu menyebut surat kabar sebagai ganti penerbitan, katanya identik.)

"Di penerbitan buku," kata saya menjelaskan.

"Ya... sama saja," kata Mirna tak mau kalah.

"Lain. Ada bermacam-macam jenis penerbitan, di antaranya surat kabar, buku, majalah, dan tabloid. Dan saya bekerja di penerbitan buku. Memang pekerjaan orang-orang di dalamnya ada kesamaan: mulai mencari naskah sampai masuk ke percetakan," kata saya bersemangat.

"Kok ada kesamaannya dengan pekerjaan saya?" tanya Mirna lagi.

"lya... salah satu syarat untuk bekerja di penerbitan (apa pun jenis terbitannya), terutama untuk menjadi editor atau kopieditor adalah berwawasan luas," kata saya menjelaskan lagi sambil sekali-kali memasukkan makanan ke mulut.

"Editor? Kopieditor?" tanya Mirna penasaran, maklum ia masih asing mendengar istilah ini.

"lya... sejenis penyunting naskah. Atau bahasa lainnya, yang mengoreksi naskah sebelum menjadi buku," kata saya menerangkan.

"Oh... begitu," kata Mirna seperti sudah paham.

Untuk masyarakat awam, memang istilah editor atau kopieditor masih terasa asing. Atau mungkin kedua istilah itu dianggap sama saja; sama-sama penyunting naskah. Akan tetapi, apakah benar kedua istilah ini sama saja? Pada tulisan ini, saya mencoba membahas tentang istilah kopieditor dan cakupan kerjanya.

Memang editor dan kopieditor sama-sama penyunting naskah, tetapi editor lebih mengarah ke isi (atau dikenal dengan istilah substantive editing), sedangkan kopieditor lebih ke arah teknis (dikenal dengan istilah mechanical editing). Namun, hal ini tidak berlaku mutlak di penerbitan. Pada penerbit lain, mungkin tugas editor dan kopieditor tidak dipisahkan. Yang penting, siapa pun yang melakukan, pekerjaan seorang kopieditor (istilahnya copy editing) tidak bisa diabaikan, Pekerjaan ini merupakan tahap penting yang sama sekali tidak boieh diabaikan. Copy editing merupakan tahap yang sangat penting dalam proses panjang berupa pengubahan ide menjadi barang cetakan atau buku. Jika tahap ini dilewatkan begitu saja, hasilnya segera akan kelihatan, buku yang baru saja terbit dan beredar akan mendapat kritik dari mana-mana: mulai dari tata bahasanya yang tidak karuan, letak titik-koma atau tanda baca lainnya yang tidak pada tempatnya, cara penulisan yang tidak konsisten, daftar isi yang tidak cocok dengan isi, dan sebagainya.

Dari sini terlihat bahwa kopieditor bisa diibaratkan sebagai penjaga gawang pada permainan sepak bola. Jika penjaga gawang tidak ada atau tidak menjalankan fungsi dengan baik, gawang itu akan sering kebobolan. Itu juga yang akan terjadi dengan kopieditor. Dan kita (baca: penerbit) jangan hanya mengandalkan pada pencetak karena pada akhirnya pencetak hanyalah pekerja pabrik yang tidak bisa diharapkan untuk memperbaiki naskah. Mereka hanya mengeset apa yang tertulis pada naskah.

Dengan demikian, betapa pentingnya tugas kopieditor dalam keseluruhan proses penerbitan buku. Sebuah buku yang sangat bernilai dari segi isi, akan jatuh merek jika disajikan kepada pembaca dengan sejuta kesalahan dalam fisiknya. Sekali lagi, tugas utama seorang kopieditor ialah membuat naskah 100% siap cetak.

Sebagai penjaga gawang, selain harus menguasai tata bahasa yang baik, seorang kopieditor diharapkan berpengetahuan luas, teliti dan sabar, peka terhadap bahasa yang baik, dan supel (punya human relation yang baik). Berikut ini akan dijabarkan mengapa keempat kemampuan itu harus dimiliki oleh seorang kopieditor, baik kopieditor mula, madya, maupun utama.

Pertama, berpengetahuan luas. Dengan bekal ini, seorang kopieditor dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Dia harus sadar bahwa ilmu tidak pernah berhenti dan seseorang tidak pernah bisa menguasai segala bidang ilmu dengan baik sehingga dia harus merasakan kehausan yang terus-menerus akan pengetahuan. Dengan kata lain, dia harus orang yang senantiasa mau belajar, baik dari buku maupun dari pengalaman orang lain. Apalagi buku itu merupakan dunianya sehingga seorang kopieditor tidak boleh asing terhadap buku jenis apa pun karena jenis dan sifat naskah yang mungkin dihadapinya sangat bervariasi. Hal ini harus pula didorong oleh penerbit yang bersangkutan —tempat seorang kopieditor bekerja— untuk menyediakan buku-buku yang diperlukan dalam membantu tugas seorang kopieditor, misalnya kamus, ensiklopedi, buku-buku referensi atau apa saja yang bisa dijadikan sumber informasi dan tempat bertanya.

Kedua, teliti dan sabar. Seorang kopieditor harus teliti dan sabar, terutama dalam berhubungan dengan naskah. Tidak jarang seorang kopieditor harus membandingkan halaman demi halaman dan paragraf demi paragraf, atau mengulang kembali pembacaan naskah. Jika seorang kopieditor membaca naskah secara serampangan dan ceroboh, akan membuahkan hasil yang mengecewakan. Sebagai penjaga gawang penerbitan, kopieditor semacam itu pasti akan banyak kebobolan. Maka dari itu, alangkah baiknya jika seorang kopieditor memiiiki sistem kerja yang baik sehingga dapat membantu dalam pekerjaannya, misalnya menggunakan check list yang disusun sendiri sesuai dengan kebutuhan.

Ketiga, peka terhadap bahasa yang baik, Kepekaan mengenai bahasa yang baik merupakan modal utama seorang kopieditor. Tanpa itu, sebaiknya dia mencari pekerjaan di bidang lain saja. Meskipun dalam banyak hal pekerjaannya bisa dikatakan mekanis, hal itu tidak memungkiri kenyataan bahwa dia harus memiiiki feeling yang tajam terhadap bahasa, Jika kopieditor sama sekali tidak mempunyai feeling mengenai bahasanya, bisakah dia diharapkan bekerja dengan baik? Ditambah lagi, ia harus peka terhadap SARA dan pornografi. Jika hal ini dilanggar, penerbit akan menderita kerugian karena bisa saja buku yang diterbitkan itu dilarang oleh yang berwenang, atau penerbitnya dituntut oleh pihak tertentu ke pengadilan.

Keempat, supel dan punya human relation yang baik, Sifat ini sangat menentukan, khususnya jika seorang kopieditor harus menghadapi penulis. Dalam berhubungan dengan pihak iuar, seorang kopieditor bertindak sebagai duta (wakil) penerbit. Oleh karena itu, seorang kopieditor harus menjaga citra dan nama baik penerbit. Bisa saja penerbit menjadi kurang berkembang hanya karena para stafnya —khususnya kopieditor— memberi kesan angker sehingga kurang disukai penulis.

Mungkin masih banyak yang diharapkan dari seorang kopieditor, tetapi paling tidak keempat komponen di atas bisa mewakili apa saja yang harus dimiliki oleh seorang kopieditor. Dengan semakin majunya dunia penerbitan buku, masalah copy editing juga menjadi masalah yang kompleks. Setiap penerbit mempunyai kebijakan sendiri mengenai hal ini. Jadi, bisa saja terjadi, hal yang baik bagi penerbit yang satu, terasa kurang bagi penerbit yang lain. Akhirnya, semua itu akan terpulang kepada penerbit, terutama kopieditor masing-masing.

Pertanyaannya sekarang, apakah seorang kopieditor menyadari diri sebagai penjaga gawang terakhir yang harus menjadikan naskah 100% siap cetak sesuai dengan keinginan penulis dan penerbit? Apa pun jawaban yang diberikan, semuanya akan berpulang pada diri mereka sendiri. Dan rumus atau uraian tugas apa pun yang diberikan menjadi bersifat relatif.

Tri Marganingsih
Majalah Mata Baca Vol. 1 / No. 11 / Juli Tahun 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru