Karya Pengarang Timur Tengah di Pasar Buku Indonesia

Posted by Cinta Buku on

Namanya chicken soup, tapi tak ada hubungannya dengan masakan. Menu yang satu ini disajikan khusus untuk santapan rohani: bacaan pengembangan diri, tuntunan hidup, pencerahan jiwa, dan cerita-cerita yang patut diteladani. Dan, seperti halnya masakan, bacaan ini pun sangat digemari masyarakat.

Lihat saja beragam chicken soup garapan Jack Canfield. Karya-karya Canfield mulai chicken soup khusus remaja, kaum lelaki, kaum perempuan, hingga orang-orang gaek terjual jutaan kopi di seluruh dunia.

Lebih fantastis lagi sambutan umat terhadap buku karya embahnya motivator dan penulis chicken soup Amerika, Dale Carnegie. How to Win Friends and Influence People yang terbit pertama kali pada 1936 itu masih laku hingga sekarang dan diperkirakan terjual lebih dari 15 juta eksemplar di berbagai negeri.

Chicken soup ternyata bukan cuma milik penulis dan motivator Barat. Beberapa tahun belakangan ini, buah tangan penulis Timur Tengah pun ikut meramaikan pasar buku sejenis itu di berbagai negeri, tak terkecuali Indonesia. "Chicken soup karya para pengarang Arab kini memang makin digandrungi," ujar Anis Maftukhin, editor pada Penerbit Qisthi Press yang menyunting buku La Tahzan.

Kecenderungan yang disebut Anis itu tampak jelas saat Pameran Buku Islam 2006 pada 4-12 Maret lalu. Dalam ajang yang digelar Ikatan Penerbit Indonesia Cabang Jakarta itu, puluhan penerbit memajang ratusan judul buku sejenis chicken soup karya pujangga Islam asal Timur Tengah.

Di balik judul-judul yang ada, terdapat nama-nama ulama terkenal semacam Yusuf Qardhawi, Akram Ridha, Aidh al-Qarni, Syahid Tsani, dan banyak lagi. Penerbit buku Islam terlihat seakan berlomba menerbitkan buku-buku berjenis pengembangan diri dan tuntunan hidup ini. "Menurut pengalaman kami, buku seperti itu memang makin laku," kata Jaharuddin, Manajer Marketing Pustaka Al-Kautsar.

Jahar menyebutkan, penerbitan buku-buku jenis chicken soup Islam sebenarnya sudah lama. Tapi dia tidak menampik adanya pengaruh penerbitan La Tahzan karya Aidh al-Qarni terhadap kenaikan apresiasi pasar terhadap buku-buku yang menyentuh hati. "Memang meledaknya setelah La Tahzan terbit, dan ini berimbas pada buku-buku sejenis karya pengarang lain," katanya.

Al-Kautsar sendiri, menurut Jahar, cukup merasakan pengaruh ini. Misalnya, sambutan pasar untuk dua judul buku terbitannya, Jangan Bersedih karya Syaikh M. Abdul Athi Al-Bukhairi dan Bergembiralah buah tangan Al-Qarni lainnya. Jangan Bersedih versi lain ini pertama kali terbit pada akhir 2004. "Kami kini sedang menyiapkan cetakan ketiga buku Al-Bukhairi itu," ujarnya.

Berkah serupa dinikmati Penerbit Zahra. Menurut Ienka, manajer promosi dan pemasaran penerbit itu, serapan pasar lini buku pencerahan diri di penerbitnya pun sangat bagus. Ia menyebut dua di antaranya yang laku keras, seperti Mengobati Penyakit Hati Meningkatkan Kualitas Diri karya Sayyid Mahdi as-Sadr dan Biarkan Tuhan Menghiburmu karya Syahid Tsani.

Ia mencontohkan penjualan Mengobati Penyakit Hati yang terbit pertama kali pada Juni 2003. Buku itu sudah cetakan keempat, dengan oplah masing-masing 5.000 eksemplar. "Kami mengategorikan buku yang sudah lebih dari tiga kali cetak sebagai buku laris," katanya.

Lain lagi bagi penerbit lama macam Gema Insani Press. Kehadiran La Tahzan tak membuat jenis buku "obat hati" terbitannya ikut meledak. Amir Ma'ruf, manajer marketing penerbit itu, mengaku jenis buku core bisnis Gema tetap menjadi yang terlaris. "Buku-buku tafsir, tentang akidah, syariah, serta tentang wanita dan keluarga itu masih teratas karena memang jenis-jenis itu yang sesuai dengan pasar kami sejak dulu," katanya.

Amir juga menyebut sambutan pasar atas beberapa buku pencerahan jiwa terbitan Gema cukup baik. Dua di antaranya, Menyucikan Jiwa karya M. Abdul Qadir Abu Faris dan Nasihat untuk Orang-Orang Lalai yang terbit pada 2005 kini sedang disiapkan cetakan keduanya, dengan oplah masing-masing 4.000 eksemplar. "Tapi kedua buku itu tidak masuk kategori best seller bagi kami. Yang paling laris justru buku tentang wanita dan keluarga," tuturnya.

Tapi jangan salah. Dibandingkan dengan chicken soup ala pengarang Barat, tampak sejumlah perbedaan pada umumnya karya sejenis asal Timur Tengah. Cerita-cerita teladan yang disampaikan umumnya berupa pengalaman hidup Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, para ulama, dan orang-orang saleh. Demikian pula dengan uraian berupa nasihat-nasihat dan pengembangan diri. "Perbedaannya, buku-buku chicken soup penulis Arab banyak mengandung nilai-nilai Islam," ujar Anis Maftukhin.

Itu sebabnya, Jaharuddin dan Amir Ma'ruf menganggap istilah chicken soup kurang tepat. Mereka lebih suka menyebutnya tuntunan penyejuk jiwa atau pengembangan diri secara Islami. Apa pun namanya, yang jelas, buku-buku sejenis itu makin banyak dan bervariasi saja.

Erwin Y. Salim
Majalah Gatra edisi  19 / XII / 25 Mar 2006

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru