Dav Pilkey dan Serial Komik 'Kapten Kolor'

Posted by Cinta Buku on

Di Indonesia nama Dav Pilkey dikenal lewat serial komik Captain Underpants (Kapten Kolor). Pilkey, lengkapnya David Pilkey, lahir di Ohio, 4 Maret 1966, Ayahnya, David Pilkey, Sr., seorang salesman di perusahaan baja. Ibunya pemain organ di sebuah gereja. Dav, demikian panggilan akrabnya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ihwal nama Dav sendiri pun punya cerita sendiri. Pada 1983, ia pernah magang sebagai pramusaji di Pizza Hut. Waktu itu dibagikan name tag untuk seluruh pegawai. Begitu gilirannya, ia menemukan salah cetak di name tag-nya. Namanya bertuliskan "Dav" saja. Sejak itu, ia dipanggil Dav. Ia sendiri pun akhirnya menggunakan nama salah cetak itu sampai sekarang.

Semasa bangku sekolah dasar, Dav dikenal sebagai anak hiperaktif yang suka bikin onar, mirip karakter George dan Harold dalam komik Kapten Kolor bikinannya. Di sekolah, ia biasa ditemui di ruang hukuman sedang menulis kalimat-kalimat janji yang menyatakan "lain kali ia tidak akan berbuat begini, atau begitu". Ia sulit untuk bisa duduk tenang dan diam. Belum tingkahnya yang suka nyeletuk dalam pelajaran di kelas. Karena ulahnya yang menyebaikan itu, sang guru menghukumnya dengan menyuruh Dav masuk dalam kelas khusus hukuman buat anak-anak nakal.

Dalam kelas khusus yang pada waktu itu kosong melompong inilah Dav Pilkey yang saat itu berusia 8 tahun asyik berkhayal. Di situlah ia mulai menggambar komiknya yang pertama, The Amazing Captain Underpants. Komik ini mengisahkan tokoh superhero yang hanya mengenakan kolor dan bertelanjang dada. Komik konyol ini mendadak dikenal teman sekolahnya karena Dav juga memperbanyak dan mengedarkannya.

Berbekal "kesuksesannya" itu, pengagum jagoan Bionik Six Million Dollar Man ini ditegur gurunya agar suatu saat berhenti melakukan tindakan konyolnya dan mulai bersikap lebih serius. "Sayang, saya bukan pendengar yang baik." kenang Pilkey sambil tertawa. Jadi, ia dan komik konyolnya terus saja beredar. Kontan, para guru menilainya sebagai biang kerok, berkelakuan ajaib sehingga sikapnya perlu perbaikan besar-besaran.

"Sebenarnya masa-masa sekolah itu menyenangkan, kecuali gurunya," papar Pilkey dalam sebuah wawancara dengan CNN. Kendati tiap hari diisi kenakalan, masa-masa sekolah Pilkey dilalui dengan mulus. Ia tak pernah tinggal kelas, pun ketika ia menginjak bangku SMU.

"Saya tahu kamu punya bakat dalam menggambar, tapi kamu tidak bakalan jadi seniman yang berhasil," kenang Pilkey mengingat teguran kepala sekolahnya. Namun, gara-gara teguran itu, Pilkey merasa potensinya akan lebih baik jika memasuki dunia seni.

Menang Kontes
Tahun 1984 Dav masuk Fakultas Seni Kent University. Seorang dosen menganjurkannya untuk mengikuti kelas creative writing untuk diarahkan menjadi penulis cerita, Untunglah ketika itu Dav sadar sehingga ia tak lagi merasa dirinya "bukan pendengar yang baik". Ia merasa jika kemampuannya terus diasah ia tak hanya mampu menggambar komik saja melainkan sekaligus bisa menulis cerita. "Saat itu, saya merasa jalan hidup saya adalah juga sebagai pengarang," jelasnya kepada Julia Darago dari Sunday Times.

Selanjutnya Dav lebih serius meneruskan kuliahnya hingga ia mendengar ada kontes The National Written and Ilustrated yang diselenggarakan untuk mahasiswa. Pemenangnya selain mendapat hadiah uang, karyanya juga akan diterbitkan. Selama setahun Dav bekerja keras agar ia bisa memenangkan kontes itu. Gayung bersambut, ia berhasil menjadi juara. Karya debutnya komik anak-anak berjudul World War Won berhasil lolos dan diterbitkan Penerbit Landmark Editions. Kesuksesan ini membuatnya harus meninggalkan Ohio. Ia lalu pergi ke Kansas untuk menemui editor Landmark. Di sana ia terlibat diskusi panjang agar karyanya yang berhasil jadi pemenang layak diterbitkan. Di sini ia mendapat pengetahuan tentang penerbitan buku.

Setelah karyanya berhasil diterbitkan Landmark, Dav tak melupakan kuliahnya yang belum selesai. Ia kembali ke Ohio sampai bertemu Cynthia Rylant, penulis cerita dalam kelas creative writing. Bersama Cynthia yang kelak selalu mendampinginya menulis inilah mereka kemudian cocok hingga akhirnya ke pelaminan sampai sekarang.

Pencinta Anak dan Binatang
Lulus kuliah iapindah ke Oregon. Di sini ia mulai memantapkan diri sebagai penulis dan penggambar buku anak. Karya pertamanya Twas the Night Before Thanksgiving (1990) dan A Friend for Dragon (1991) terbit. Kendati tak terlampau laris, namanya semakin dikenal sebagai ilustrator andal, Dav juga mengerjakan ilustrasi beberapa pengarang cerita anak, di antaranya Julius karya Angela Johnson (1993); The Dumb Bunnies karya Sue Denim (1994); The Dumb Bunnies' Easter oleh Sue Denim (1995).

"Saya menulis banyak buku karena saya suka membaca, saya suka cerita-cerita lucu dan juga cerita tentang binatang. Saya menyukai cerita dengan banyak gambar, tetapi sedikit kata-kata. Bagi saya, teks dalam buku adalah kerangka, sedangkan ilustrasi adalah daging, kulit beserta otot-ototnya," papar Dav ketika ditanya kenapa ia membuat komik. "Saya suka anak-anak, jadi saya menggambar dan menulis cerita lucu untuk anak di sekitar lingkungan saya dulu," tambah pengagum ilustrator anak James Marshall, Arnold Lobel, dan Dr. Seuss.

Dalam penulisan dan penggalian ide, ia selalu bermitra dengan sang istri, Cynthia Rylant yang akrab dipanggil Cyndi. Dalam dunia ilustrator anak, nama Dav baru melesat setelah ia menerbitkan Katkong dan Dogzilla, dua cerita anak yang idenya tercetus setelah melihat hewan peliharaannya seekor anjing bernama Leia menghancurkan mainan lego anaknya; Nate, yang berbentuk gedung-gedung bertingkat.

"Ide Dogzilla semakin bertambah ketika saya dan istri menonton film anak-anak Jepang Megaloman vs Godzilla, Ketika Leia menghancurkan lego yang sudah disusun rapi oleh Nate, saya melihatnya seperti seekor monster besar yang selesai menghancurkan kota. Maka, jadilah cerita Dogzilla," jelas Dav.

Komik Dogzilla yang diterbitkan tahun 1993 meraih penghargaan Best Books for Reluctant Young Readers dari The American Library Association. Komik lainnya (yang juga bersumber dari kesukaannya melihat hewan peliharaan) Dragon's Fat Cat (1992) terpilih sebagai buku anak terbaik versi The Children's Book Council dari The International Reading Association.

Menghibur Pacar
Ide menerbitkan Kapten Kolor terjadi ketika Dav mengingat kembali masa kecil yang penuh dengan kenakalannya, Uniknya, ia menciptakan Kapten Kolor dengan gambar tak sebaik ia membuat Katkong atau Dogzilla. Ia benar-benar menggambarnya dengan gambar lugu persis imaji anak kecil. Dengan kata lain, ia kembali memindahkan imaji masa kanak-kanaknya. Kapten Kolor adalah komik petualangan yang secara eksplisit dan jenial membuat analogi visual yang sesungguhnya berdasarkan refleksi psikologisnya di masa kecil sekaligus parodi kehidupan komikusnya sendiri yang selalu dianggap "biang kerok" oleh guru-gurunya. Gambar-gambar komik Kapten Kolor sepertinya malah menjadi formulasi nomor dua setelah ide cerita dan imajinasi. Tampaknya ini suatu bentuk "perlawanan" Pilkey terhadap "pakem-pakem komik (khususnya komik Amerika) yang kebanyakan hanya bertumpu pada pijakan-pijakan visual. Hebatnya, pijakan eksploratif Pilkey tetap terjaga kontinuitasnya dalam merespons pelbagai peristiwa keseharian anak-anak sekolah dasar hingga secara subtil berhasil diutarakan dalam bentuk gambar. "Saya sebenarnya sudah membuatnya kembali ketika masih kuliah untuk menghibur pacar saya: Cyndi," jelas Dav.

Komik Kapten Kolor mengisahkan George Beard dan Harold Hutchins, dua murid sekolah dasar Jerome Herowitz. Di Sana mereka dikenal sebagai biang onar di sekolahnya. Di samping dikenal sebagai biang onar, mereka juga menjual komik bikinan mereka yang dijual di taman bermain, Tokoh khayalan yang mereka ciptakan adaiah Kapten Kolor.

Kapten Kolor diperkenalkan sebagai tokoh masa depan penumpas kejahatan ketika superhero lain sudah uzur. Tibalah saatnya muncul pahlawan baru, Kapten Kolor yang muncul beraksi menumpas kejahatan. Kapten Kolor adalah parodi terhadap tokoh superhero sebelumnya, seperti Batman dan Superman yang dikenal mengenakan kostum dengan celana dalam di luar. Kapten Kolor sendiri adalah superhero tanpa kostum (pun otot "kawat tulang besi" sekalipun) berkepala gundul, mengenakan kolor dan jubah yang terbuat dari tirai. Senjata andalannya hanya celana dalam yang ditembakkan dengan kecepatan tinggi.

Lewat komik ini, Dav memukau perhatian lewat komiknya yang penuh sensasi dan memiiiki keunikan estetis yang belum ditemukan dalam komik-komik pada umumnya. Keunikan itu terletak dalam dua hal yang saling melengkapi dan bersinergi, yaitu kekuatan mendongeng Pilkey.

Dav Pilkey sendiri berhasil menyuguhkan karyanya menjadi bukan sekadar komik, selain ia sendiri sepertinya "menolak" Kapten Kolor adalah karya yang "hanya" komik (dia menyebutnya "novel epik"). Kapten Kolor pun mampu terjual jutaan eksemplar.

Seorang guru dari sekolah dasar Greenwood Elementary School Toledo di Ohio berkomentar, "Inilah komik terbaik Amerika yang pernah diterbitkan."

Sebuah pujian yang cukup beralasan karena komik ini di sekolah-sekolah dimanfaatkan sebagai pendidikan anak untuk melatih imajinasi lewat gambar Flip O' Rama, rangkaian animasi sederhana dengan menyuguhkan gambar-gambar di halaman buku Kapten Kolor yang jika kita gerakkan dengan tangan secara cepat menjadi gambar bergerak. Secara persuasif Pilkey diam-diam telah berhasil menerapkan satu dari strategi pendidikan yang dapat memicu daya imajinasi dan kreativitas anak lewat Flip O' Rama.

Tak hanya buku, di dalam situs resminya (www.pilkey.com) Dav memberikan tips bagi guru sekolah bagaimana menggunakan buku Kapten Kolor dan ceritanya yang lain (Dogzilla dan Katkong) agar dapat dipergunakan sebagai bahan memberikan games dan teka-teki plus gambar-gambar hitam-putih yang siap diberi warna. Dalam situs itu, ia juga membuat biografinya dalam versi komik sebagai bahan cerita kepada anak bahwa setiap orang bisa sukses seperti dirinya.

Peraih penghargaan Associate of Arts degree dari Kent State University (1987) dan Caldecott Honor untuk buku cerita anak (1997) ini seperti membuktikan adagium yang pernah dilontarkan fisikawan Albert Einstein, yaitu "imajinasi memang bukan sekadar iimu pasti".

Darimana ide Flip O'Rama muncul? "Idenya muncul ketika waktu kecil ada mainan animasi sederhana yang disebut Flip Actions, Saya pikir, bagus juga kalau dimunculkan kembali. Nama Kapten Kolor sendiri muncul ketika guru SD saya bertanya mau mengarang apa? Saya jawab saya mau buat Kapten Kolor (Captain Underpants). Guru saya marah dan bilang, 'Underpants tidak lucu!' Kendati semua anak di kelas tertawa, Saya pikir, celana dalam punya kekuatan tersendiri, sebuah 'super power', yaitu membuat orang tertawa sekaligus guru marah!" jelasnya kepada Beth Nielsen dari CNN.

Dav juga banyak memasukkan aksesoris kamar mandi dan pakaian dalam, seperti popok, kertas tisu WC, dan toilet sebagai penyerta cerita Kapten Kolor. Untuk karakter utama George dan Harold, dua pengacau, Dav terinspirasi dari buku favoritnya di masa kanak-kanak, yaitu Georgie the Ghost dan Harold and the Purple Crayon.

Mengundang Kecaman
Kesuksesan Kapten Kolor tak urung membuat Dav selain dipuji sekaligus dikecam. Pasalnya, beberapa orang tua protes anak-anaknya jadi bertingkah jahil seperti tokoh George dan Harold. Menanggapi hal itu, Dav berkomentar, "Orang-orang dewasa kadang terlampau serius. Padahal, saya banyak mendapat surat dari pustakawan, guru sekolah dasar, dan tokoh-tokoh pendidikan yang merasa terbantu dalam mendidik anak agar suka membaca. Tapi saya akui buku-buku saya barangkali mengundang keengganan bagi tipe orang kutu buku (maksud Dav pembaca buku-buku serius yang selera humornya jelek) karena gambarnya terlalu banyak."

Sebuah pernyataan yang cukup beralasan karena dalam salah satu judul Kapten Kolor, yaitu Kapten Kolor dan Serbuan Ibu Kafeteria (Kapten Kolor 3), ia memasukkan tokoh antagonis yang disebutnya "zombie kutu buku". Pilkey sendiri sepertinya tak begitu peduli lewat karyanya telah berhasil membuat pijakan-pijakan berarti dalam dunia komik. Yeah, itulah Dav Pilkey yang hanya ingin mengajak pembacanya tertawa dan tertawa....

Donny Anggoro, redaktur Cybersastra.net dan editor sebuah penerbitan di Jakarta.
Majalah Mata Baca Vol. 1/ No. 11/ Juli 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru