Buku yang Mengungkap Lukisan Palsu

Posted by Cinta Buku on

Pada pertengahan April 2016 lalu, Taman Budaya Yogyakarta menggelar pameran dua pelukis potensial, Maman Rahman dan Dwi Martono. Pameran disponsori oleh Agung Tobing, seorang pialang saham dan pencinta seni. Pagelaran itu memikat bukan cuma tersebab karya-karya mereka yang tergarap serius, dengan tampilan penuh warna dan ekspresif. Melainkan juga karena upaya pelengkapan unsur-unsur apresiasinya, yang pada ujungnya menjunjung seni lukis yang dihadirkan jadi lebih berharga. Salah satu unsur pelengkapan itu adalah buku atau kitab.

Semua faham bahwa sebuah buku --bukan sekadar katalogus-- menjanjikan sebuah pemaparan cenderung luas. Lantaran halaman-halaman di dalamnya memungkinkan termuatnya pengungkapan ekstensitas dan intensitas sisi kehidupan pelukis, sebagai jalan untuk menjelaskan nilai lukisan yang dicipta. Dan di dalamnya menjanjikan kehadiran pusaran kosmologi pelukis yang dipresentasi lewat cerita tekstual dan pengisahan foto atau gambar. Sehingga, hubungan jiwa dan pikiran pelukis dengan kanvasnya, serta korelasi ciptaan pelukis dengan lingkup sosialnya, tergambar nyata.

Dalam pameran tersebut, Dwi Martono dihadiahi buku apik bertebal 130 halaman, full color, dalam kemasan hard cover. Buku berjudul Dari Kesunyian Artistik Kebumen (Coming from Art Tranquility of Kebumen ini dicetak di atas art paper dalam format panorama, 25 x 30 cm. Penulis teks utama adalah Prof. Dr. M. Dwi Marianto, guru besar Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sedangkan yang menulis teks pendukung adalah Hari Prayitno, Stanislaus "sius" Yangni dan Sarah Monica. Buku ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Sebelum buku Dwi Martono ini, Agung Tobing telah mempromotori lahirnya buku tentang Affandi, Dia Datang, Dia Lapar, Dia Pergi; The Stories of Affandi, sampai Bung Karno: Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia karya Mikke Susanto. Upaya yang patut dipuji karena dapat memperkaya khasanah literasi seni rupa kita yang selama ini melarat, dan memperdalam pengetahuan seni para apresiator agar tak macet di permukaan visual belaka.

Kosmologi Dwi Martono, kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 1965, diantar rapi oleh Prof. Marianto. Diceritakan bahwa Dwi adalah pelukis yang pernah belajar di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta, kemudian berlanjut ke ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Sebagai pelukis akademis dengan potensi bagus, nama Dwi tidak hadir di tengah khalayak. Sehingga ia kalah populer oleh rekan seangkatannya yang kini moncer, seperti Nasirun, Ugo Untoro, dan Samuel Indratma. Padahal reputasi Dwi di perguruannya termasuk lumayan. Ketika di SMSR ia pernah mendapat dua penghargaan untuk ilustrasi dan seni lukis terbaik,1987. Ketika di ISI ia juga mendapat dua hadiah untuk sketsa dan lukisan, 1988 dan 1989.

Nama Dwi menghilang. Sampai kemudian diketahui ia bekerja sebagai tukang gambar di Studio Seniman Merdeka, yang menggarap baliho perjuangan. Suatu pekerjaan yang menggiring dirinya untuk terampil dalam melukis figur, serta terbiasa dengan kanvas berukuran raksasa.

Pekerjaan ini oleh Dwi dilakoni secara profesional, demi periuk nasi. Namun, karena pekerjaan di Studio Seniman Merdeka hanya berkait dengan peringatan hari-hari nasional, banyak waktu luang yang harus ia isi. Lalu, ia pun menerima pesanan melukis dengan mengikuti gaya sapuan, karakter warna, teknik melukis, pemilihan objek serta tema maestro seni lukis tertentu. Ia bahkan mencipta lukisan imitasi. Dalam buku itu disebutkan bahwa Dwi sering melukis gaya Sudjojono dan Hendra Gunawan. Ia memang mengaku sangat mengagumi karya-karya kedua maestro itu. Apa yang tertulis kosmologis dalam buku, terpresentasi dalam pameran.

Lalu, pameran dan penerbitan buku itu pun mengguncang. Karena lukisan-lukisan Dwi ternyata segera mengingatkan sangat banyak orang kepada kasus puluhan lukisan palsu, yang dipamerkan di Museum OHD, Magelang, dan kemudian terformulasi dalam buku koleksi Oei Hong Djien, Lima Maestro Seni Rupa Modern Indonesia (2012).

Banyak pemerhati seni, seperti Bambang Bujono, Siont Teja, Amir Sidharta, Syakieb Sungkar, dan Aminuddin Th.Siregar, mengatakan bahwa Dwi Martono adalah pelukis yang membuat lukisan-lukisan bodong Sudjojono dan Hendra koleksi OHD itu. Sejumlah dosen serta alumni ISI Yogyakarta dan ITB akhirnya juga mengatakan hal yang sama. Ini membuktikan, apa yang ditulis sebagai dugaan dalam buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia (2014) dalam bab "Hendra dari Kebumen" (halaman 25), hadir sebagai kenyataan.

Dan agaknya benar. Lewat penelitian visual, tanda-tanda itu tampak begitu jelas. Pelukisan wajah, gestur, draperi, suasana, komposisi, dan atmosfer lukisan perjuangan Dwi juga sama dengan lukisan yang diaku sebagai karya Sudjojono di buku Lima Maestro, dalam judul "Suatu Kejadian Mengalihkan Perhatian", "Perjuangan Belum Selesai", "Sang Besar", "Persiapan Serangan Malam", dan "Pangeran Diponegoro".

Lebih dari itu, beberapa karya Dwi yang bertema revolusi dalam pameran juga sangat mengingatkan saya kepada sederet lukisan revolusi yang diklaim sebagai karya Soedibio dalam buku Lima Maestro. Seperti lukisan "Djepang Mati Ketepang", "Tak Ada Tempat untuk Berlindung", "Perjalanan ke Langit", "Di Bawah Malaikat Maut", dan "PETA".

Penggambaran raut muka, elemen wajah, ekspresi, skin tone, pencahayaan dan pose figur karya-karya Dwi melekat dengan sebagian lukisan yang diaku sebagai karya Soedibio itu. Padahal, sebagaimana dikatakan Soedibio dalam wawancara pada Juli 1980, ia melukis revolusi hanya dalam jumlah hitungan jari sebelah tangan. Itu pun yang terhatur hanyalah simbol-simbol. Bukan gambaran realitas naratif seperti yang ada dalam buku Lima Maestro.

Alhasil, pameran karya Dwi Martono tempo hari bagai menyibak tabir yang selama 4 tahun terakhir menutup panggung perkara lukisan palsu yang dipicu oleh koleksi Museum OHD. Yang menarik, kolektor OHD sendiri justru berdiri sebagai guest of honor dalam pameran itu. Seolah pameran tersebut tidak bermasalah apa-apa dengan kehidupan pengoleksiannya. Bahkan, dalam sambutannya dalam katalogus, OHD mengaku baru kenal dengan pelukis Dwi. Begini ia menulis: ''Seniman satu ini entah bagaimana dahulu lepas dari perhatiannya saya. Dan saya baru akhir tahun lalu berkenalan dengannya....''

Publik boleh percaya dan boleh sama sekali tak percaya terhadap sambutannya. Bahkan boleh menganggap apa yang dituliskan sebagai pengakuan ganjil. Tetapi saya memosisikan diri sebagai orang yang percaya seribu persen kepada OHD. Karena, dengan itu bisa tersimpul bahwa selama ini OHD ternyata hanya korban. Ia hanya lengah, hanya tertipu, sehingga dindingnya terduduki puluhan lukisan Sudjojono, Hendra, dan Soedibio palsu.

Dan, saya juga percaya bahwa Dwi bukanlah orang yang sengaja memproduksi lukisan-lukisan bodong. Karena bisa saja ia hanya diminta melukis dengan mengikuti bentuk, gaya, warna, tema, dan atmostfer maestro tertentu dalam keadaan kothongan, alias ''kosong tanda tangan''. Dan pekerjaan ini adalah sah. Sedangkan yang membubuhkan tandatangan ''Sudjojono'' - ''Hendra'' - ''Soedibio'' kemudian adalah sindikat atau penjual lukisan palsu yang kurang-asem. Hukum seni rupa mengatakan, pemalsuan tanda tangan inilah yang dikategorikan melawan hukum. Di jagad seni rupa di mana pun, pemalsuan seperti ini dijerat pasal kriminal berat, dengan hukuman bui dan denda sangat tinggi. Maka, bagi banyak orang, pameran dan penerbitan buku di atas adalah jalan masuk pengusutan jaringan lukisan palsu.

Sementara untuk pelukis-pelukis yang terampil meniru seperti Dwi Martono, sesungguhnya bisa memiliki wadah. Dunia seni rupa Barat telah memberi contoh yang pantas ditiru. Di Wina, Austria, misalnya, pada 1984, Profesor Daniel Ermes Donde mengumpulkan puluhan pelukis yang ahli membuat repainting dalam yayasan Fondazione dei Falsi d'Autore. Mereka digodok lewat pelatihan sehingga menemukan keahlian masing-masing. Davide Brichi pun ahli meniru karya Van Gogh. Sergio Uchi dan Sabato Ariete ahli mengulang lukisan Auguste Renoir dan Edouard Monet. Robert Thestor ahli lukisan klasik, seperti karya Rembrandt, lengkap dengan tekstur retak seribu. Dan lain-lain.

Karya-karya tiruan ini, yang ditandai dengan tanda tangan asli peniru dan stempel dari yayasan, didistribusikan ke seluruh dunia oleh lembaga Le Musee Imaginaire. Peminatnya terhormat dan banyak. Mereka yang tak kebagian karya Salvador Dali, Frans Hals, dan sebagainya bisa membeli repainting-nya. Maka, pesohor seperti Arnold Schwarzenegger, Roger Moore, Frank Sinatra dan keluarga Kerajaan Monaco, mengoleksi karya-karya mereka. Koleksi Le Musee Imaginaire pernah dipamerkan dua kali di Jakarta, dan disambut meriah, meski harganya tidaklah murah!

Agus Dermawan T. Kritikus seni, penulis buku kebudayaan.
Majalah Gatra edisi 30 / XXII / 1 Juni 2016

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru