Membentang Penerbit dan Media Sastra Alternatif di Yogyakarta

Posted by Cinta Buku on

Dunia perbukuan berkembang pesat di Yogyakarta, Seimbang dengan tingkat apresiasi dan minat baca yang lumayan tinggi, di Yogyakarta bertumbuhanlah penerbit-penerbit kecil yang menyemarakkan dunia perbukuan dan penerbitan. Jumlahnya bisa mencapai di atas 50-an penerbit. Di antara mereka ada LKiS, Bentang, Indonesia Tera, Navila, Jendela, Pustaka Sufi, Ircisod, Insist, Qalam, Galang, Putra Langit, Pohon Sukma, Akar Indonesia, dan sebagainya.

Penerbit-penerbit kecil ini, dengan segala keterbatasannya, telah berperan positif dalam merespons kebutuhan masyarakat untuk mengakses ilmu dan informasi. Keberanian mereka untuk mengeksplorasi wacana baru dalam penyajian tema dan penggarapan estetika tampilan buku patut diacungi jempol. Kehadiran mereka akhirnya menjadi alternatif yang menyegarkan dunia perbukuan di Indonesia, yang berdampak pula pada penggairahan minat baca masyarakat.

Penyegaran kreatif ini dilahirkan oleh dan melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai "penerbit alternatif". Beberapa karakteristik yang dimiliki oleh penerbit alternatif itu sebagai berikut: (1) berbekalkan semangat idealistik, (2) bukan sebagai sebuah usaha dagang yang murni profit oriented, (3) bermodal finansial yang pas-pasan, (4) dan memiliki semangat mendobrak mainstream wacana yang status quo.

Munculnya istilah "penerbit alternatif" ini pernah dipertegas oleh sebuah deklarasi pendirian Asosiasi Penerbit Alternatif Indonesia (APA) yang dibacakan pada 6 Oktober 2001 (saat acara Pameran Buku Ikapi 2001) di Gedung Mandala Bakti Wanitatama dengan para deklarator yang mewakili para pekerja kepenerbitan alternatif itu sendiri, yaitu Dorothea Rosa Herliany, Buldanul Khuri, Mustofa W Hasyim, Amien Wangsitalaja, dan Soleh UG.

Konon, asosiasi yang didukung beberapa penerbit kecil di Yogyakarta ini memiliki dua tujuan, internal dan eksternal. Internalnya untuk meningkatkan kualitas penerbit, melindungi dan memberi advokasi bagi penerbit, serta meningkatkan kesejahteraan penerbit. Eksternalnya untuk memberi kesempatan pada masyarakat dalam memperoleh sumber ilmu atau bacaan yang beragam, memperjuangkan hak-hak pembaca, dan meningkatkan minat baca masyarakat.

Namun, deklarasi asosiasi tersebut tidak berlanjut dengan terlihatnya program-program nyata yang berkaitan langsung dengan dunia kepenerbitan alternatif di Yogyakarta. Bahkan, asosiasi tersebut sudah membubarkan diri atau terbubarkan dengan sendirinya? Kini di Yogyakarta mulai terdengar adanya lembaga baru serupa: yaitu Aliansi Penerbit Independen (API).

Entah apakah API juga akan bertahan dan eksis atau kemudian tenggelam seperti pendahulunya, APA, Namun, munculnya kedua lembaga ini menandakan bahwa fenomena penerbit alternatif tengah berlangsung di Yogyakarta dan para pekerja penerbit alternatif itu berusaha melakukan pembenaran terhadap penamaan "alternatif" yang diberikan kepada fenomena kepenerbitan di Yogyakarta tersebut.

Karakteristik kesantaian hidup di satu sisi dan iklim keilmuan di sisi lain, yang banyak dirujukkan pada iklim Yogyakarta, agaknya turut membidani semaraknya kepenerbitan alternatif di kota ini, Kesantaian adalah sebuah counter terhadap ketegangan hidup oleh belitan nafsu politik dan ekonomi, Penerbit-penerbit alternatif di Yogyakarta dilahirkan secara santai tanpa belenggu oleh rasa takut dan tegang berkenaan dengan persoalan politik dan ekonomi. Mereka menerbitkan buku karena memang ingin menerbitkan buku, Oleh karena itu, buku-buku yang "di luar dugaan", yang kemungkinan besar penerbit mapan tidak akan mau atau tidak akan berani menerbitkan (oleh alasan politik dan ekonomi), bisa berterbitan di kota ini.

Iklim keilmuan tentunya juga memberi kontribusi besar. Para pekerja penerbit alternatif itu berpendapat bahwa semakin banyak buku hadir ke pembaca maka semakin menguntungkan bagi si pembaca dan kemudian bagi iklim budaya baca; sealternatif apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang alternatif), sejelek apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang jelek), sekurang sempurna apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang kurang sempurna) atau setidakprosedural apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang tidak prosedural, misalnya tidak ber-copy right dan sebagainya).

Karakteristik dan paradigma semacam ini tentu sulit ditemukan di kota-kota industri, terutama Jakarta. Maka dari itu, fenomena yang terjadi di Yogyakarta ini bisa jadi memunculkan rasa iri masyarakat perbukuan dari kota-kota lain (termasuk di dalamnya sikap sinisme dan rasa gerah).

Menuju Media Sastra Alternatif
Jika di Yogyakarta buku-buku alternatif bisa diterbitkan, buku-buku yang dalam prediksi rasional tidak akan laku juga bisa diterbitkan, akankah media-media sastra alternatif juga bisa dihidupkan di kota ini?

Media sastra —terutama sastra tulis— merupakan media yang cenderung tidak diminati secara massal sehingga cenderung tidak memiliki "masa hidup" yang panjang, Pamusuk Eneste dalam Timbul dan Tenggelamnya Majalah Kebudayaan (Matabaca, Vol.1 /No, 4/ November 2002) menyimpulkan bahwa banyak majalah kebudayaan terbit di Indonesia sejak 1930-an. Namun, saat ini hanya ada dua majalah kebudayaan yang masih rutin terbit, yaitu Horison dan Basis, ditambah dua lagi yang masih harus diuji keberlangsungan terbitnya, yaitu Kalam dan Kolong.

Dari keempat nama yang disodorkan Pamusuk itu, hanya Horison yang memiliki perhatian dalam porsi besar terhadap sastra, sementara lainnya lebih berorientasi pada kebudayaan secara umum (bahkan Basis dapat dikatakan sama sekali sudah menghilangkan rubrik sastra). Dengan demikian, bisa dikatakan Indonesia hanya memiliki satu majalah sastra, yaitu Horison. Oleh karena itu, kegelisahan untuk membuat media sastra alternatif penting untuk dimajukan, minimal untuk menyemarakkan wahana ekspresi dan publikasi sastra kita.
Lantas; kenapa Yogyakarta dimajukan sebagai kemungkinan tempat kemunculan dan keberlangsungan media sastra alternatif? Jika kita renungkan secara serius, bukan tidak mungkin jika Yogyakarta memang kondusif untuk tempat melahirkan media sastra alternatif tersebut. Beberapa alasan bisa dikemukakan, salah satunya berkaitan dengan Yogyakarta yang berkarakteristik hidup secara santai dalam mensikapi nafsu politik dan ekonomi.

Pertama, dari sisi nafsu politik. Jika dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, suasana di Yogyakarta Iebih memberi tempat kepada tumbuhnya sikap saling menghargai di antara para pekerja sastra. Politik "perkubuan" boleh dibilang telah usang untuk dikembangkan di kota ini. Suasana ini tentu berbeda dengan Jakarta: yang bias-bias politik "perkubuan"-nya teramat kental. Di sana, setidaknya, ada kubu Utan Kayu "TUK" dan Utan Kayu "Horison" (karena Horison mulai Januari 2003 juga bermarkas di Utan Kayu) sebagai dua kubu yang memiliki power tertentu yang diperhitungkan dalam "perpolitikan" sastra, kemudian di wilayah marjinalnya terdapat komunitas Masyarakat Sastra Jakarta (MSJ), Komunitas Sastra Indonesia (KSI), komunitas-komunitas sastra pergerakan yang melahirkan Media Kerja Budaya (MKB), juga komunitas-komunitas lain yang mencoba untuk Iebih bersikap independen semacam Yayasan Multimedia Sastra (YMS).

Kentalnya bias politik "perkubuan" membuat kehadiran ataupun kemunculan seseorang atau sesuatu apa pun dalam khazanah komunikasi sastra di Jakarta akan mudah direspons dalam suasana kesalingcurigaan. Melejitnya nama seorang sastrawan, pemilihan nama-nama tertentu sebagai peserta sebuah festival sastra internasional, peluncuran buku antologi sastra, penjurian-penjurian dan penghargaan-penghargaan sastra, dan sebagainya adalah peristiwa yang tak pernah luput dari nuansa politik "perkubuan" tersebut. Komunikasi sastra telah kehilangan kesahajaannya dan upaya-upaya pemajuan dunia kesusastraan rentan untuk tergiring ke penjadian dunia kesusastraan sebagai alat untuk peneguhan kubu politik.

Jika kita hendak memunculkan sebuah media sastra baru atau alternatif di Jakarta, jangan-jangan sebelum media tersebut berhasil muncul kita sudah disibukkan untuk menjawab berbagai sinisme dan kecurigaan yang ditujukan terhadap motif-motif apa pelahiran media ini, siapa berdiri di belakangnya, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berlagak kritis tapi sebetulnya melulu politis. Jika demikian, tentu Yogyakarta bisa dijadikan kota alternatif untuk penggairahan dan pemajuan sastra, termasuk menjadikan kota ini basis dari media sastra alternatif. Penggairahan dan pemajuan sastra yang diharapkan Iebih bersahaja dan tidak tenggelam oleh nafsu politik mudah-mudahan bisa dilakukan di sini.

Kedua, dari sisi nafsu ekonomi. Pamusuk Eneste dalam Matabaca edisi yang sama juga mengutip pendapat Jakob Sumardjo perihal mengapa sebuah majalah kebudayaan (atau majalah sastra) cenderung mudah mati di tengah jalan, Menurut Jakob Sumardjo, ada beberapa hal yang menyebabkan sebuah majalah kebudayaan bisa bertahan hidup, dan salah satunya bukan mengejar keuntungan komersial.

Faktor pengesampingan motif komersial inilah poin yang kemungkinan besar masih bisa dijalankan oleh komunitas sastra Yogyakarta. Sebaliknya, orang-orang dari kota-kota besar lain (seperti Jakarta dan Bandung) sulit untuk melepaskan diri dari jaring-jaring sikap hidup materialistik dan pengejaran keuntungan material semacam itu.

Kita bisa belajar dari dunia penerbitan buku secara umum. Penerbit-penerbit alternatif ini jika menerbitkan sebuah buku pertama kalinya bukan untuk mengejar keuntungan komersial, melainkan keuntungan kultural. Terbukti di Yogyakarta semangat-semangat tersebut masih bisa dipelihara, dan penerbit-penerbit alternatif tersebut juga terbukti bisa bertahan hidup di kota ini. Dari contoh bisa bertahannya penerbitan buku alternatif di Yogyakarta inilah, bukan tidak mungkin ide untuk menjadikan Yogyakarta sebagai basis penerbitan media sastra alternatif akan menemukan relevansinya.

Beberapa media sastra alternatif itu pun memang telah mulai mencoba untuk muncul dari sini, seperti Jurnal Cerpen Indonesia. Bahkan, Jurnal Puisi yang pada mulanya terbit di Jakarta dan merasa kewalahan untuk bertahan hidup dan sempat sekarat bertahun-tahun, akhirnya memilih untuk bertahan terbit di Yogyakarta.

Hal ini tentu saja masih terbuka kesempatan untuk menggagas dan melahirkan media sastra alternatif di kota ini. Kalaupun di kota ini pernah dideklarasikan Asosiasi Penerbit Alternatif (APA) dan Aliansi Penerbit Independen (API), bukan tidak mungkin akan lahir juga Asosiasi Media Sastra Alternatif (AMSA) atau Aliansi Media Sastra Independen (AMSI) yang mudah-mudahan kalis dari kepentingan politik dan ekonomi secara sempit.

Amien Wangsitalaja, penyair dan editor buku freelance.
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 11/Juli 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru