Obituari Daniel S. Lev: Menatap Indonesia Hingga Akhir Hayat

Posted by Cinta Buku on

Sudah cukup lama saya mendengar bahwa Prof. Daniel S. Lev, kawan lama, terkena kanker. Tapi penuturan seorang kawan lain yang mengabarkan bahwa penyakitnya makin berat membuat saya buru-buru meneleponnya, sekadar menyapa. ''Telepon saya lagi ya, Toeti. Kalau bisa, datanglah ke Seattle," demikian pintanya di akhir pembicaraan. Suaranya masih keras, bersemangat.

''Dokter mengatakan, kanker saya sudah metastasis ke kepala," ujarnya dengan enteng. Mendengar suaranya tanpa nada derita itu, saya tidak bisa bilang apa-apa. Bahkan bingung memilih kata-kata yang paling pas untuk menghiburnya. ''Saya sedang menunggu mobil rumah sakit untuk di-chemo lagi. Tapi rupanya sulit juga, ya, perang melawan kanker." Sabtu 29 Juli lalu, perokok berat ini harus pergi selamanya pada usianya yang 73 tahun. Prof. Dr. Daniel S. Lev meninggalkan Arlene, 69 tahun, istrinya, dan dua anaknya, Claire dan Louis Lev.

Saya meneleponnya pada akhir Mei lalu dari Vancouver, B.C. Canada, langsung ke kediamannya di Capital Hill, Seattle. Tentang kondisinya saya dengar dari Sri Tuti Manu, seorang teman dari Washington University, Seattle. "Pak Dan akan senang kalau ditelepon atau dikunjungi," kata Sri Tuti Manu. Awal tahun ini, Pak Dan, begitu beliau biasa dipanggil, divonis dokter bahwa parunya terkena kanker.

Setelah pemberitahuan tentang penyakitnya itu, Dan Lev harus berkejaran dengan waktu karena masih banyak tugasnya yang belum diselesaikan. ''Saya sedang menyelesaikan biografi politik Yap Thiam Hien," ujarnya. Buku yang sudah sampai 900 halaman itu masih kurang dua bab lagi. Ahli hukum Yap Thiam Hien (almarhum) adalah pencetus ide hak asasi manusia di Indonesia.

Dan Lev, awal Juli lalu, juga sedang ngebut menulis postcript tentang Bung Karno. Catatan singkat di tahun 1950-an, utamanya untuk menjawab pertanyaan mengapa Presiden Soekarno mengganti sistem parlementer menjadi Demokrasi Terpimpin. Postcript ini semacam ''sambungan'' dari bukunya yang terkenal, The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957-1969. Penyakit kankernya memang telah menggerogoti raganya, tapi tak pernah membuat semangatnya patah. Ia tetap menatap Indonesia hingga akhir hayatnya.

Menyelesaikan MA dan doktornya dalam ilmu politik di Cornell University, Ithaca, saat menjadi murid George G. Kahin, Dan Lev tertarik akan dinamika perpolitikan Indonesia dari waktu ke waktu. Ia tertarik pada keragamannya yang sangat kompleks. Bagi Dan Lev, Indonesia bukan sakadar "rumah kedua", tetapi kehidupan orang Indonesia sangat dihayatinya. Ada semacam ikatan emosional dengan Indonesia, dengan begitu banyak tokoh Indonesia menjadi sahabatnya.

Hampir seluruh mahasiswa Indonesia yang berada di Washington State dan kawasan dekatnya --seperti Vancouver atau Berkeley, California-- disambanginya dengan hati terbuka. Dan Lev bukan seorang killer, melainkan seorang pendidik sejati yang tulus. Beliau mengajar tanpa menjejali muridnya dengan berbagai teori, tetapi diskusi lebih disorongkannya di kelas. Demokrasi tak ada gunanya kalau tak ada institusi kenegaraan seperti pengadilan yang relatif independen, transparan, kuat, dan bersih, demikian Dan Lev acapkali memberikan penekanan.

Almarhum pernah menjadi co-promotor Adnan Buyung Nasution, ketika si Abang "dibuang" ke Belanda. Dan Lev --yang selain bahasa Indonesia, juga mempelajari bahasa Belanda-- wira-wiri ke Belanda untuk membimbing si Abang. Akhirnya si Abang berhasil menyelesaikan disertasinya di Universitas Utrecht yang berjudul ''The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia'' (1992).

Meski sudah pensiun pada 1999, Dan Lev tetap menaruh perhatian besar akan perkembangan perpolitikan di Asia Tenggara, khususnya tentang konflik politik. Diingatkannya bahwa konflik dengan latar belakang keberagaman seperti Indonesia, dari sejarahnya, selalu diciptakan dari atas.

Satu hal lagi, sebagai bukti kecintaannya terhadap Indonesia ialah akan diwariskannya sebagian besar koleksi perpustakaan pribadinya ke Indonesia. Harapan Dan Lev ialah agar generasi muda bisa duduk, membaca, dan berpikir tentang bangsanya. "Indonesia berutang banyak kepada Dan Lev," kata Adnan Buyung Nasution, "Dia adalah 'duta bangsa' yang mampu menjelaskan kepada publik Barat bahwa Indonesia merupakan bangsa yang patut dihargai."

Sulit dimungkiri bahwa begitu banyak kebaikan dan atensi Dan Lev yang telah diberikan kepada masyarakat intelektual Indonesia. Bahkan itu dilakukan hingga akhir hayatnya. Namun profesor yang baik dan tulus membantu murid-muridnya ini telah pergi.

Toeti Kakiailatu, Wartawan senior
Majalah Gatra 38 / XII / 9 Agustus 2006

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru