Seratus Tahun Meninggal Friedrich W. Nietzsche

Posted by Cinta Buku on

Seperlima hidup Friedrich Nietzsche gila dan berakhir dengan seperenam hidup lainnya terpadu dari lumpuh dan gila. Ketika pertama kali jatuh menjadi gila di jalan-jalan kota Turin, Franz Overbeck bergegas dari Basel tanggal 8 Januari 1889 pergi ke Turin menjemputnya. Terkejut menemukan Nietzsche bermata liar terbahak-bahak dalam keadaan mengerikan tergolek di sofa hotel, menggeram liar dan bangkit menari-nari. Meneriakkan diri sebagai: Yang Tersalibkan. Anti-Kristus. Dionysos. Caesar. Raja Italia. Memuja Cosima Wagner (putri Franz List), janda mendiang musikus Richard Wagner dengan nama mitis: "Adriadne, aku cinta padamu. Dionysos, Yang Tersalibkan."

Itulah Friedrich Nietzsche (FN) si Dionysos dalam delirium tremens menulis surat edan kepada teman dekat di awal kegilaannya di Turin. Mengapa gabungan tokoh fakta dan fiksi: Anti-Kristus Yang Tersalibkan dan Dionysos: si dewa anggur, kesuburan, phallus dan ekstase, suami dewi Adriadne dipilih menjadi alias FN? Dalam buku Ecce Homo pernah ia gariskan identifikasi perbedaan Dionysos dan Kristus dengan aforisme khas nietzschean: "Dionysos, Ya untuk Hidup dan Ya untuk Derita. Kristus, Ya untuk Derita dan Tidak untuk Hidup". FN tidak peduli jarak perbedaan di antara tokoh Rekayasa (Dionysos) dan Nyata (Kristus). Entah dalam kesadaran moral Ya untuk menderita FN konon menurut catatan dokter Rumah Sakit Jiwa Universitas Jena sering melumar diri dengan tahi sendiri dan mengumbar kata-kata: "isteriku Cosima Wagner telah membawa aku ke sini", atau "Malam tadi aku tidur dengan 24 perempuan peiacur".

Museum Schiller kota Weimar, bekas pusat Imperium Jerman (Deutsches Reich) merayakan '100 Tahun Meninggal Nietzsche' pada 25 Agustus 2000 dengan pameran Arsip-Nietzsche yang berlangsung sembilan bulan (April-Desember) tahun 2000. Kepala Yayasan Klasik Weimar Bernd Kauffmann memperkirakan daya tarik turisme paling tidak mencapai angka 30.000 orang hingga pameran berakhir 31 Desember.

Namun hingga akhir Oktober 2000 pameran Arsip-Nietzsche ternyata baru meraih angka 6500 pengunjung. Bahkan lebih sedikit dari angka 10.000 tahun 1999. Kesungguhan minat kunjungan pada Rumah Goethe di Weimar tampaknya tetap meraih perhatian pengunjung nomor satu dengan angka 23.000 orang, pun dalam tandingan acara 100 tahun meninggal Nietzsche tahun 2000.

Pers lokal Jerman mencatat satu-dua berita peringatan "100 Tahun Meninggal Nietzsche" di beberapa kota Jerman. Pada puncak peringatan 25 Agustus 2000 di bekas Imperium Jerman Weimar, Peter Sloterdijk si Juru bahasa Nietzsche dewasa ini membawakan ceramah bernyali profetik: "Die Verbesserung der frohen Botschaft: Nietzsches Uberhumanismus" (Perbaikan Terhadap Kabar Perutusan Gembira [Injil]: Purna-humanismus Nietzsche). Ceramah itu tidak bergaung sehebat ceramah "Regein fur den Menschenpark" yang dituduh sebagai Proyek Zarathustra di Puri Elmau setahun sebelumnya. Peter Sloterdjik memang telah dikontrak sejak Oktober 1999 menjadi profesor tamu pada lembaga yang baru didirikan Stiftung Weimarer Klassik tahun 1999: Kolese Nietzsche untuk Filsafat Mutakhir (Nietzsche-Kolleg fur Gegenwartsphilosophie).

Di Rocken Negara Bagian Sachsen-Anhalt tempat pekuburan keluarga Nietzsche, berziarah sekitar 200-an simpatisan ke kuburan Nietzsche (resmi menjadi Monumen Negara tahun 1986) pada 25 Agustus siang itu. Tak jauh dari sana di Naumburg: tempat tinggal masa kecil dan muda Nietzsche diadakan acara penyerahan "Hadiah Friedrich Nietzsche" Negara Bagian Sachsen-Anhalt sebesar DM 30.000 kepada Rudiger Safranski. esais/penulis asal Berlin untuk buku dia terbaru: Nietzsche, Biographie seines Denkens (diterbitkan Penerbit Carl Hanser, Munchen Wien, 2000).

Di Hamburg bertempat di Akademi Evangelis Esplanade 15, FN dikenang dengan pembacaan korespondensi surat-menyurat antara Nietzsche dan Franz Overbeck dilakukan Rolf Becker dan Erik Schaffler dengan pungutan tiket masuk DM 10/DM 5. Dalam bagian kota Hamburg lain di "Literaturhau" (Rumah Sastra) Schwanenwik seminggu sesudahnya tanggal 1 September diadakan acara yang disebut "Kafe Filsafat" (Das phiiosophische Cafe) bertema "Nietzsche" menampilkan pembicara Rudiger Safranski dan Theo Ross (pembuat film) dengan tiket masuk DM 12/DM 6.

Diberitakan pula peringatan dengan berbeda motif wujud terjadi di beberapa negara: Yunani, Italia, Denmark, Belanda, Swis dan Israel. Sementara jauh di seberang "6000 Fut jenseits von Mensch und Zeif" (6000 kaki di seberang jarak manusia dan waktu) di luar jarak stilistikyang dipergunakan FN tanpa diketahui pers Jerman di Jakarta (Goethe Institut) dipentaskan pembacaan-dramatik Teaterawan Bandung Wawan Sofwan mengenang "100 Tahun Meninggal Nietzsche" 25 Agustus 2000 dengan peluncuran edisi Indonesia pertama kali terjemahan buku FN "Maka Berbicaralah Zarathustra" (Also Sprach Zarathustra) disertai 'Teks Pengantar' Dami N.Toda (Universitas Hamburg) diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende. Pementasan itu tak lebih dari kepedulian terhadap 'sastra Nietzsche' dengan teks episode "Awal Bicara" (Vorrede) Zarathustra Buku I. Pementasan serupa telah diawali tanggal 23 Agustus di Bandung, dan atas permintaan peminat terbatas dipentaskan lagi tanggal 3 September di Bandung disertai diskusi tentang Nietzsche.

Peringatan 100 tahun arwah Nietzsche tahun 2000 di Jerman rupanya ditandai pula dengan ledakan penerbitan Nietzsche. Dalam setahun itu terbit sekitar 50-an judul baru topik Nietzsche menambahi 1500-an jilid yang telah terdokumentasi di rak buku Bibtiotek Jerman Frankfurt. Terbitan paling mendapat pujian resensi surat kabar hingga memperoleh "Hadiah Friedrich Nietzsche" tahun 2000, ialah karya Safranski berjudul; Nietzsche Biographie seines Denkens (Nietzsche, Biografi Pemikiran Dia). 399 halaman. Dengan itu Safranski sudah pula terbukti berjasa baik sebelumnya dengan penulisan biografi Arthur Schopenhauer dan Martin Heidegger (i.e. tokoh terdahulu dikagumi FN.. tokoh kedua mengagumi FN).

Terbitan lain FN bervariasi antara sungguh-sungguh dan ringan hingga produksi untuk buku hadiah, antologi, pengantar, anekdot dan biografi singkat; dapat disebutkan pajangan beberapa judul: Friedrich Nietzsche, Chronik in Biidern und Texten (Penerbit Hanser, Munchen), Nietzsche (karya Friedrich Volker Gerhardt, Penerbit Beck, Munchen), Dertolle Mensch (karya Christoph Tiircke, Penerbit Zu Klampen, Liineburg), Derangstliche Adler: Friedrich Nietzsches Leben (karya Werner Ross, Penerbit Kastell, Munchen), Friedrich Nietzsche: Biographie (karya Curt Paul Janz, Penerbit Zweitausendeins, Frankfurt), Samtliche Briefe (Terbitan Kritische Studienausgabe, 8 Jilid), Samtlich Werke (susunan Giorgio Colli dan Mazzino Montinari, terbitan Kritische Studienausgabe, 15 jilid), Werke (susunan Karla Schlechta, CD-Rom, Directraedia, Berlin), Weisheitfiir Ubermorgen (susunan Heinz Friedrich, terbitan dtv, Munchen), Nietzsches ietzter Traum (karya roman Joachim Kohler, Penerbit Blessing), Nichtkalt Genug (karya roman biografi Bernhard Setzwein, Penerbit Haymon), Nietzsche zum Vergnugen (Penerbit Reclam), Antologi dari Nietzsche-Texten zur "Kunst der Gesundheit", Nietzsche -der gute Europaer (karya Knesebeck), Biographie in Biidern dengan foto-foto panorama, "Bibei" derNietzsche-Exsgese (15 Jilid), Terbit kembali Nietzsche und der Faschismus (karya Berhard Taureck, Penerbit Reclam), Nietzsche und die Versuchung des Antisemitismus (karya Fritz Stern, Penerbit Schwabe & Co), Nietzsche und die Deutschen (karya Steven Aschheim, penerbit Metzler), Frauen urn Nietzsche (karya Mario Leia, Penerbit Rowohlt), Vergiss die Peitsche (Karya Carol Diethe, Penerbit Europa) dan lain-lain.

Tak kalah sensasional dalam terbitan bertema Nietzsche tahun 2000 ialah sumbangan kota Yogyakarta Indonesia. Koleksi FN Bibliotek Jerman (Deutsche Bibliothek) di Frankfurt pantas dilengkapi sensasi tersebut, Dua versi terjemahan Indonesia dari sumber terjemahan Inggris Thus Spake Zarathustra terbit bersamaan bulan September 2000 di Yogyakarta menyusul terbitan terjemahan pertama kali versi bahasa asli Jerman (Also Sprach Zarathustra) tiga bulan terdahulu (Juni) oleh Penerbit Nusa Indah, Ende. Terbitan Yogyakarta ke-satu berjudul: Zarathustra. Hasil terjemahan bersama; H.B. Jassin, Ari Wijaya, Hartono Hadikusumo diterbitkan Yayasan Bentang Budaya (cetakan pertama September 2000, 572 halaman, termasuk terjemahan tulisan 'Pendahuluan' Robert John Hollingdale (2000; 3-46), penerjemah karya FN tersebut ke dalam bahasa Inggris. Dilaporkan terjemahan berdasarkan terjemahan Inggris Thus Spoke Zarathustra, Penguin Books 1977 dengan membandingkan naskah asli Also Sprach Zarathustra.

Terbitan Yogyakarta ke-dua berjudul; Sabda Zarathustra terjemahan Sudarmaji dan Ahmad Santoso, diterbitkan Penerbit Pustaka Pelajar (cetakan pertama September 2000, 497 halaman, termasuk "Catatan Penerjemah" (2000: 5-23) dan terjemahan "Kata Pengantar Elisabeth Forster-Nietzsche (1905)" (2000: 25-44). Diterangkan terjemahan bersumber pada edisi Inggris Thus Spake Zarathustra.

Kegairahan Yogyakarta menerbitkan karya FN akhir abad 20 merupakan kelanjutan 'mitos' FN tiba di Indonesia sejak penerbitan Ecce Homo, Lihatlah Dia Friedrich Nietzsche (Penerbit Pustaka Pelajar, cetakan ke-1 Februari 1998, cetakan ke-2 September 2000, 172 halaman) terjemahan Omi Intan Naomi dari edisi Inggris karya FN oleh R.J, Hollingdale Ecce Homo, How One Becomes What One Is (Penguin Book 1979, 1992).

Terbitan lain, ialah Senjakala Berhala dan Anti-Krist terjemahan Hartono Hadikusumo dari edisi Inggris The Twilight of the Idols and the Anti-Christ (Penguin Books 1968) terbitan Yayasan Bentang Budaya, cetakan ke-1 Juni 2000, cetakan ke-2 Agustus 2000, 345 halaman. Tahun 2001 masih menyusul pula repro buku cergam (cerita bergambar karikatur) susunan Marc Sautet dan gambar besar-besar karikatur karya Patrick Boussignac berjudul "Nietzsche for Beginners" (1990) terbitan Writers and Treaders Publishing, Inc. London, edisi Indonesia diterbitkan Penerbit Kanisius Yogyakarta terjemahan teks dilakukan Imelda Kusumastuty berjudul: Nietzsche untuk Pemula. Buku cergam berpenampilan esais itu secara visual menarik dengan teks singkat-singkat dengan kesimpulan gampangan bernyali meniup studi Nietzsche dengan metode 'pompa sepeda' perbengkelan pinggir jalan.

Lebih sungguhan mungkin menyaksikan pertarungan esai tajuk dua mingguan berita terkemuka Jerman mengenang 100 Tahun meninggal Friedrich Nietzsche (FN) 25 Agustus 2000. Der Spiegel (Nr.34/21 Agustus 2000: 190-8) bermarkas di Hamburg menurunkan esai tajam Johannes Saltzwedel berjudul: "Si Pembunuh Tuhan" (Der Morder Gottes). Sangat menarik pertanyaan gencar dan kesimpulan kritis yang menjadi subjudul tulisan Saltzwedel: "Siapakah Friedrich Nietzsche - seorang Nihilis sastra-seorang Purna-Manusia sinting, seorang Pemikir-garda depan Ras dan rekayasa peternakan-ras (manusia)-unggul, ataukah memang dia seorang filsuf jenius? Seratus tahun sesudah meninggalnya barulah tampak jelas dia berciri: Seorang Pemain-pemikiran visioner (ein visionarer Gedanker-Spieler)".

Mingguan Focus (Nr.34/21 Agustus 2000: 80-6) bermarkas di Munchen menurunkan esai Peter Sloterdjik. Dengan stilistik literer berbicara dari mimbar ala FN yang menilai Hidup (das Leben) sebagai "ein Experiment des Erkennenden" (sebuah eksperimen orang pintar), Peter Sloterdjik mewartakan peringatan 100 Tahun meninggal FN berjudul "Abad pertama Nietzsche" (Nietzsches Erstes Jahrhundert). Wacana subjudul Peter Sloterdjik bergaya menunjuk: "100 Tahun meninggal Sang Filsuf menantang imbangan pemikiran dan dampak" (Der 100. Todestag des Philosophen fordert zur Bilanz seines Denkens und seiner Wikung heraus).

Peter Sloterdijk seperti melayang-layang bersama roh FN di atas "bayangan kelabu langit utara" (= metafor sastra kesukaan FN) dengan impuls pertanyaan 'pertarungan nilai' diaktualkan dalam wacana mimpi visioner FN: "Bagaimana orang Eropa tiba pada sebuah era "Injil" ke- 5? (Wie kommen die Europaer zu einem funften Evangelium?)". Pertanyaan yang bertolak dari ilusi bilangan 'angka' Injil- "Leit-Zahl des freien Geistes" (Angka-Penentu Ruh rnerdeka) yang "mau lain" (Anders-wollend), i.e. "Angka 5"! Sementara Kristologi hanya melulu mengenal angka "4" Injil (4 Evangelia) berdasarkan penulis: Matheus, Johanes, Markus, Lukas. Angka "Injil ke-5" (Leit-Zahl 5 itu merupakan "Injil-visioner Nietzsche" yang mengelu-elukan penebusan "Europaer" (Ras Eropa) kejenjang Anti-Krist(us) diajarkan sang Purna-Manusia (Obermensch), tokoh sastra FN 'Zarathustra'.

Berlainan dengan esai interpretatif literer Peter Sloterdijk, esai Johannes Saltzwedel kritis menilai setelah 100 tahun meninggal FN barulah tampak jelas ia berciri: Seorang Pemain-pemikiran visioner (ein visionarer Gedanker-Spieler). Dalam gaya subjunktif miris pada tragedi manusia FN menulis Saltzwedel: "Dia agaknya martir dari sebuah kebenaran"... "Badut dari keabadian-keabadian baru (Possenreisser der neuen Ewigkeiten)". Sambil menimang argumen wacana Vorrede 2 (Awal Bicara 2) dari FN sendiri di dalam karya "Kebendak untuk Berkuasa" (Der Wille zur Machi): "Apa yang hendak aku kisahkan, adalah sebuah kisah dari dua abad berikut..." dan ramalan visioner yang telah ditulis FN sendiri: "Sulit mengenali siapa aku, kita tunggulah seratusan tahun -hingga masa itu mungkin terdapat seseorang jenius pengenal manusia, yang menggali siapa gerangan Tuan FN itu" (Friedrich Nietzsche 1885). Perlukah menanti putaran waktu 100 tahun lagi untuk macam temuan "mainan-pemikiran visioner" FN lain? Cuma satu kemungkinan sudah dapat dipastikan, bahwa Jerman tercatat sebagai korban interpretasi "permainan visoner" paruhan putaran pertama abad 20 di bawah resepsi Fasisme Nazi Hitler, Kedambaan pada penebusan 'Heroische Humanitat' -suatu konsep kemanusiaan pahlawan- ternyata sangat provokatif dan amis bila didarah-dagingkan pada semacam rekayasa Purna-Manusia -atau bioteknologi peternakan manusia ras, seperti tuduhan 'proyek Zarathustra' diarahkan kepada ceramah provokatif Peter Sloterdjik berjudul: "Regelnfur den Menschenpark" (Aturan untuk Per-taman-an Manusia) di Puri Elmau, Bayern-Atas, menjelang akhir Juli 1999.

Tema pemalsuan tercipta menjadi satu dengan mitos Nietzsche dalam sejarah. Pemalsu atau para pemalsu mestinya orang luar diri FN, seperti juga para penafsir pemuja dan pemitos. Pemandangan janggal terekam pada saat kesibukan persiapan "Pameran 100 Tahun Meninggal Nietzsche Tahun 2000" di Weimar. Juru Arsip Nietzsche, Roswita Wohlkopf, memilih tidak melibatkan diri. Ketika ditanya wartawati Angelika Overath mengapa tidak meiibatkan diri, Roswita Wohlkopf hanya tersenyum melambaikan tangan dan beralih kepada kesibukan lain.

Angelika Overath pernah menulis artikel: "Nietzsche di Weimar: Sebuah Alamat Rumit" (Nietzsche in Weimar: eine komplizierte Addresse) (Du, Nr. 6: Juni, 1998: 47-9) dengan kesimpulan tandas: "Pada langkah pertama dapat dikatakan tak dapat terlihat manuskrip Nietzsche yang asli di Weimar." Overath diperkuat oleh ketegasan tulisan Wolfram Groddeck "Pemalsuan Kurun Abad: Kisah edisi Nietzsche'' (Falschung des Jahrhunderts: Zur Geschichte der Nietzsche-Edition) dalam majalah Du, Nr. 6, Juni, 1998: 60-1.

Sasaran pemalsuan terutama teks-teks catatan/ tulis tangan FN yang memang senantiasa coret-coretan atau diolah kembali. Sering sulit terbaca. Terkadang sobekan manuskrip lama tertempelkan lagi, kemudian tulisan tangan orang lain menuliskan untuk dia. Mungkin bukan tanpa alasan juga. Nietzsche memang sering terserang sakit kepala hebat dan sakit mata, sehingga Heinrich Koselitz (alias "Peter Gast") sering menjadi mata dan tangan bagi dia. Buku: Manusiawi, Terlalu Manusiawi (1878 Menschtiches, Allzumenschiiches) diakui Nietzsche: "Pada dasarnya Saudara Peter Gast berstudi di Universitas Basel dahulu, sangat membantu saya menuiiskan buku itu. Saya mendikte, dengan kepala terbebat karena sangat sakit dia menulis dan juga memperbaiki, sehingga pada dasamya dia-lah sesungguhnya penulis, sementara saya hanya pengarang belaka."

Tanggal 7 Agustus 1886 buku: Di seberang Kebaikan dan Kejahatan (Jenseits von Gut und Bose) terbit atas biaya sendiri pada Penerbit C.G. Naumann - dialihkan Nietzsche kepada Penerbit Fritzsch dengan putusan, eksemplar-eksemplar yang belum lakuterjual pada penerbit terdahulu akan dipasarkan dengan prakata baru di penerbit lain (Fritzsch). Gejala seperti itu selama terjadi dalam kurun kewarasan nalar FN dapatlah dicatat sebagai sisi sejarah proses kreatif terlahir sebuah karya.

Tetapi tentu lain halnya bila gejala-gejala seperti itu terjadi pada masa setelah FN tidak lagi waras ataupun meninggal. Sejak Januari 1889 misalnya, Peter Gast membenah/membaca sandi-sandi tulisan tangan Nietzsche serta mengurusinya untuk diterbitkan menjadi utuh. Dengan kepulangan Elisabeth dari Paraguay prakarsa Peter Gast serta-merta dicela Elisabeth sebagai pemegang kuasa hak cipta untuk seluruh naskah-naskah FN. Kendati Peter Gast tetap berperan utama di sisi Elisabeth dalam hal penerbitan edisi anumerta FN.

Pemalsuan arsip FN di Weimar dilaporkan semarak terjadi sejak ketakwarasan Nietzsche. Terutama menyangkut surat-surat pribadi. Karya utama FN yang disebut-sebut sebagai inti Filsafaf FN dan dijuluki Alfred Baeumler dengan nama rumah filsafat FN: Der Wille zur Macht (Kehendak Untuk Berkuasa) ternyata hanya suntingan berdasarkan penggalan-penggalan lepas coret-coretan Nietzsche 1885-1888 diterbitkan Elisabeth dan Peter Gast pada 1901 dan 1906 sebagai Jilid XV dan XVI terbitan saku Nietzsche's Werken.

Dalam terbitan mutakhir karya itu di tangan Penerbit Kroner Stuttgart tahun 1996 muncul berjudui definitif lengkap dengan anak judul yang panjang: Der Wille zur Macht Versuch einer Umwertung alter Werte—Ausgewahlt und geordnet von Peter Gast unter Mitwirkung von Elisabeth Fnrster-Nietzsche (Kehendak Untuk Berkuasa. Sebuah Usaha Peruntasan Terhadap Segala Nilai —dipilih dan disusun Peter Gast bekerja sama dengan Elisabeth Forster-Nietzsche). Tertampil bervariasi dalam bentuk mosaik pepatah pemikiran berurut nomor 1 -1067 dengan keseluruhan 752 halaman, termasuk riwayat hidup FN: catatan penutup dan bibliografi ditulis Walter Gebhard.

Desain judul karya itu memang sudah disebut-sebut FN bertahun-tahun di dalam banyak coretan tulis tangan lepas (sejak 1883-8) tertulis juga (dengan ejaan lama) "Die Umwerthung alter Werthe" (Peruntasan Atas Segala Nilai). Berparalel dengan isi tematis Der Antichrist (Anti-Kristus) ditulis September 1888 dan "Gotzen-Dammerung" (Rembang Keberhalaan). Dalam "Vorwott" (Prakata) buku "Gotzen-Dammerung" (Rembang Keberhalaan) tercantum keterangan penting; bahwa 30 September 1888 di Turin merupakan tanggal akhir penulisan karya Rembang Keberhalaan bersamaan dengan tanggal selesai penulisan Buku I dari "Die Umwerthung aller Werthe" (Peruntasan Terhadap Segala Nilai).

Maka: berdasarkan berita orisinal bersumber FN sendiri jelas berarti "Buku I" (Peruntasan Terhadap Segala Nilai) yang berjudui: Erstes Buck Der Europaische Nihilismus (Buku I: Nihilisme Eropa) setebal 90-an halaman selesai ditulis FN juga pada 30 September 1888 itu di Turin. Berarti tiga bulan sebelum FN menjadi gila. Lalu bagaimana dengan Buku II-III dan Buku IV dari karya besar Der Wille zur Macht yang seluruhnya masih lebih dari 600-an halaman lagi? Apakah sejauh itu 'kebenaran' coret-coretan FN dan susupan faham Nazi dan anti-humanis di-dopping Elisabeth dan Peter Gast?

Judul: "Die Umwerthung aller Werthe" (Peruntasan Terhadap Segala Nilai) itulah dimantapkan kemudian menjadi berjudul Kehendak Untuk Berkuasa (Der Witte zur Macht).

Tubuh buku Kehendak Untuk Berkuasa tersebut terdiri dari empat buku: Erstes Buch: Der Europaische Nihilismus (Buku I: Nihilisme Eropa), hlm, 7-96, Zweites Buch: Kritik der Bisherigen Hochsten Werte (Buku II: Kritik terhadap Nilai-nilai Tertinggi Masa Kini), hlm. 99-326, Drittes Buch: Prinzip einer Neuen Wertsetzung (Buku III: Asas Sebuah Pemancangan Nilai Baru), hlm. 329-578, Viertes Buch: lucht und Zuchtung (Buku IV: Pembiakan dan Peternakan), hlm, 581-697. Ke-4 buku itu diawali prakata berjudul: Vorrede (Awal Kata) terdiri dari 4 alinea: hlm. 3-4. Topik keseluruhan 4 buku itu diurut dengan nomor berangka "1" hingga berakhir "1067". Terdapat nomor yang hanya terdiri dari sebuah wacana, misalnya dua nomor (1001, 1002) penutup 'Grundgedanke' (Pemikiran dasar) pada topik Buku IV: Zucht und Zuchtung (Pembiakan dan Peternakan), Topik bernomor "1001" berisi hanya wacana tertulis: "Nicht Menschheit", sondern Qbermensch ist das Ziel! (Bukan "Kemanusiaan" melainkan Purna-Manusia adalah sang Tujuan!). Topik bernomor 1002 dalam bahasa Italia tertulis: 'Come I'uom s'etema ..." (Maka abadilah manusia ...). Tulisan kursif untuk wacana bernomor 1001 dan 1002 di atas sesuai dengan keaslian tercetak di sana.

Kesinambungan resepsi Nietzsche selama satu abad cukup gamblang terbaca dalam antologi esai susunan Alfred Guzzoni: Seratus Tahun Penerimaan Filosofis Nietzsche (100 Jahre philosophische Nietzsche-Rezeption) terbitan 1991. Sejak pertengahan 1980-an terlihat perhatian pada FN di Eropa dan Amerika menanjak. Tetapi perhatian itu lebih tercurah pada sisi sastra Nietzsche Maka Berbicaralah Zarathustra (Also Sprach Zarathustra). Claus Zittel yang menerbitkan karya disertasinya tahun 1999 di Universitas Frankfurt (diterbitkan tahun 2000): Kalkulasi Estetik 'Maka Berbicaralah Zarathustra' Friedrich Nietzsche (Das Asthetische Kalkul von Friedrich Nietzsches Also Sprach Zarathustra) menamakan tahun 1980-an sebagai 'boom' Nietzsche. Masa awal "renesans Zarathustra".

Tanpa dilupakan Zittel mencatat kendala studi sastra Nietzsche sebagai 'anak tiri' tak disukai penelitian -karena nasib sial karya itu dicurigai sebagai kambing hitam di belakang kebringasan dua perang dunia. Sastra Purna-Manusia (Obermensch) Zarathustra Nietzsche itu telah dipesan sebagai bacaan wajib pembina moral dan propaganda semangat tempur (Erbauungsbuch und Kampfschrift) bagi tentara Jerman.

Guzzoni membagi resepsi seratus tahun Nietzsche ke dalam tiga periode berdasarkan gejala karya Nietzsche perasuk semangat 'nasionalis-sosialis' di kalangan kaum muda Jerman sejak awal abad. Esai Georg Lukacs tahun 1947: Fasisme Jerman dan Nietzsche (Der Deutsche Faschismus und Nietzsche) dimasukkan Guzzoni ke dalam periode resepsi ke-3 bersama dengan tulisan Andras Gedo tahun 1988: Mengapa Marx atau Nietzsche? (Warum Marx Oder Nietzsche?) dengan catatan tambahan: "Wajah resepsi Nietzsche 100 tahun terakhir akan menjadi tidak utuh tanpa dilihat dari latar belakang kepautan dengan paham Nazi-sosialis Drittes Reich".

Pemimpin Drittes Reich Hitler memang terkenal sebagai pengagum berat Nietzsche. Berkali-kali ia mengunjungi Elisabeth Forster-Nietzsche, adik wanita FN yang membenahi rumah meninggal Nietzsche Villa Silberblick di Weimar menjadi "Pusat Arsip Nietzsche". Konon sekitar 30.000 surat korespondensi, sketsa coretan-coretan pikiran Nietzsche tercecer dari seluruh Eropa dihimpun Elisabeth di tempat itu. Setelah Elisabeth meninggal tahun 1935, Hitler menghimpun dana membangun "Balairung Nietzsche" di samping Villa Silberblick tahun 1937.

Pameran 100 Tahun meninggal FN di Weimar sudah berlalu, Penerbitan bertema FN sebaliknya menjadi marak. Gairah kepedulian membiaskan wajah baru FN sebagai literatur visioner Eropa tampak bangkit. Tanpa kurang pula samar-samar ironi awan mendung literatur Nazi masa Hitler untuk bacaan propaganda perang membina moral dan semangat tempur (Erbauungsbuch und Kampfschrift) tentara Nazi paruhan abad silam.

Nietzsche rupanya senantiasa memiliki gambaran rancu tatkala resepsi terhadap kehadirannya di Jerman muncul bertumpang tindih dalam sosok pantulan-kaca sastra dan filsafat. Sudah dapat diramaikan terjadi tabrakan frontal tak terhindar di antara 'kebenaran' mimpi besar (fiksi) dan kebenaran nyata (fakta). Tabrakan itu telah hadir secara kiasan dan nyata di Jerman, tatkala Nietzsche sebelas tahun terakhir memang hidup sebagai pasien sakit jiwa yang lumpuh, dan Hitler di puncak kekuasaan Nazi-sosialisme menjelmakan 'rekaan' mimpi besar menjadi kebenaran: proyek bioteknologi, ras unggul, perang, pembasmian ras 6 juta turunan Yahudi serta kaum gipsi Sinti/Roma.

Dami N. Toda, kritikus sastra. Kini tinggal di Jerman.
Majalah Mata Baca, Vol. 1/No. 7/Februari 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru