Sepenggal Sejarah dalam Bundel Lusuh

Posted by Cinta Buku on

Terdorong niat agar sejarah tetap tercatat, Entjep Abdul Manan pun menyerahkan naskah kuno warisan leluhurnya kepada Museum Sri Baduga, Bandung. Naskah yang diserahkan warga Kampung Kadudampit, Cisomang Barat, itu tertulis pada berlembar-lembar kulit kayu alias sae berukuran 2,5 x 40 cm. Catatan yang tertera dengan tinta hitam itu disusun pada awal abad ke-19.

Tidak mudah mengungkap isi dokumen bertuliskan huruf cacarakan Jawa Cirebon kuno itu. Perlu keahlian khusus untuk menerjemahkan karya Mbah Ngabehi itu. Kemampuan langka seperti ini hanya dimiliki segelintir orang. Di Museum Sri Baduga, pekerjaan ini digantungkan pada Sri Mulyati. Dulu, di museum yang bersebelahan dengan Lapangan Tegallega ini, Sri berduet dengan Tien Wartini yang sekarang sudah pensiun.

Di tangan dua ahli itu, misteri di balik sae bisa disingkap. Isinya, antara lain, tentang penyerangan Mataram ke Batavia. Penyerangan itu berlansung dua kali, pada 1628 dan 1629. Serangan yang gagal itu dipimpin Dipati Ukur di matra darat dan Bahureksa di laut. Selain itu, Mbah Ngabehi juga mencatat soal strategi perang dan silsilah para penguasa Mataram.

Menurut Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga, Zend Jaenuddin, museumnya memiliki koleksi 140-an naskah kuno. Tapi baru sekitar 35 judul yang sudah diterjemahkan. Lambatnya proses penerjemahan itu karena dihadang berbagai kesulitan, termasuk di antaranya imbalan bagi penerjemah.

Tien Wartini mengakui, kendala utama dalam proses alih bahasa itu adalah minimnya honor untuk penerjemah. Tapi perempuan yang kini tergabung dalam Masyarakat Pernaskahan Nusantara ini enggan merinci jumlah bayarannya. "Tidak bikin kaya, tapi cukup untuk hidup," kata perempuan berusia 56 tahun itu.

Menurut Zend, tenaga ahli seperti Tien hanya digaji Rp 350.000 per bulan untuk waktu pengerjaan selama tiga bulan. Jumlah tersebut belum dipotong pajak. Selama kurun waktu tiga bulan itu, Tien harus menyelesaikan satu judul naskah. Kalau penyelesaiannya molor sampai setahun, misalnya, Tien tidak mendapat insentif tambahan.

Soal cekaknya honor juga dilontarkan Sri Mulyati, mantan rekan Tien di Museum Sri Baduga. Perempuan yang lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 45 tahun lalu, itu mengaku gaji yang diterimanya tidak sebanding dengan beratnya menerjemahkan naskah kuno. "Karena saya harus menganalisis naskah-naskah itu," katanya kepada Myrna dari Gatra.

"Udah kayak mau buat tesis aja. Analisisnya sampai belasan lembar, belum biaya ngetik dan ngeprint-nya," kata wanita yang sudah menyelesaikan 11 naskah kuno berupa buku itu. Seperti Tien, Sri terpaksa menjadikan pekerjaan itu hanya sebagai sambilan. "Padahal perlu keahlian khusus. Harus memahami ilmu sastra," wanita yang tercatat sebagai tenaga fungsional di Sri Baduga itu menjelaskan.

Sebelumnya, Sri berminat dengan tugas penerjemahkan lantaran melihat peneliti Australia yang gigih menterjemahkan dokumen sejarah Nusantara. "Masak saya yang orang Indonesia tidak tergerak," katanya. Belakangan ia tahu, rekannya dari negeri tetangga itu mendapat gaji sangat besar dari negeri asalnya.

Minimnya dana itu juga mempersempit peluang Sri untuk berkembang. Misalnya, sama juga dengan Tien, Sri tidak selalu bisa mengikuti seminar atau kongres. Padahal, ajang itu bisa dipakai saling tukar pengalaman dan ilmu. Menurut Sri, tidak ada dana khusus untuk ikut seminar atau kongres. "Kerapkali saya pakai uang pribadi," kata wanita yang sudah mengabdi selama 15 tahun di museum yang berada di Jalan BKR Nomor 185, Bandung, itu.

Di samping keterbatasan dana, kesulitan lain ada pada naskah yang akan diterjemahkan. Banyak naskah naskah kuno itu yang tidak utuh lagi karena usianya rata-rata ratusan tahun. Belum lagi cara penyimpanannya yang tidak memperhatikan kerentanan bahan. Akhirnya lembaran naskah kuno hilang di beberapa bagian atau bolong di bagian tertentu.

Kalau hilang di beberapa bagian, penerjemah harus putar akal. Beberapa kiat dilakukan agar kalimatnya bisa diartikan secara benar. Pedoman yang dipakai adalah kamus. Cuma, kamus bahasa kuno ini sangat sedikit jumlahnya. Wanita yang memulai pekerjaannya pada 1985 itu biasanya memakai kamus bahasa Sunda Kuno-Inggris yang penyusunnya, Jonathan Drick, berkebangsaan Inggris.

Setelah makna kalimat yang ada dipahami betul, maka kata atau kalimat yang hilang dikaitkan dengan kalimat sebelum atau sesudahnya. "Kalau sudah mentok juga, saya pakai feeling aja," kata Tien. Kalaupun ketemu maknanya, masih ada "prosedur" tambahan. Dari bahasa Sunda kuno, master filologi dari Universitas Padjadjaran, Bandung, itu harus mengubahnya ke dalam bahasa Sunda modern. Umumnya, naskah kuno itu ditulis dalam bahasa bervariasi Sansekerta, Arab, dan Jawa kuno.

Kesulitan lain yang menghambat pekerjaan menerjemahkan itu adalah teknologi penyimpanan naskah. Sri menyesalkan minimnya sarana di Museum Sri Baduga sehingga bundel lusuh tidak bisa disimpan dengan baik. "Sudah lama saya minta, tapi belum digubris," ujar lulusan Jurusan Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu. Akibatnya, naskah cepat rusak dan akhirnya makin sulit diterjemahkan.

Selain di museum, tumpukan naskah kuno juga terdapat di kompleks kerajaan. Misalnya di perpustakaan lingkungan Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta. Di kompleks istana ini, penerjemahnya berdarah bangsawan, yakni Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger. Putra ke-16 Paku Buwono XII ini adalah pengelola Perpustakaan Radya Pustaka, yang mengoleksi naskah dari Mangkunegaran dan Kasunanan.

"Lantaran besar di istana, saya merasa wajib melestarikan isinya, termasuk naskah kuno," kata lelaki 50 tahun itu. Puger benar-benar serius menerjemahkan naskah pada 1983. Hingga sekarang, sudah sekitar 200 naskah yang diterjemahkan. Naskah-naskah tersebut antara lain karya Ronggowarsito, Paku Buwono, para abdi dalem, dan para pangeran keraton.

Puger mengaku, naskah-naskah itu memang belum mengalami alih bahasa. Karena dalam melakukan alih bahasa dibutuhkan tim dan waktu cukup lama. Banyak sekali ditemukan istilah Jawa kuno yang tidak lagi umum dipakai. Bahkan dalam kamus bahasa kuno kerap tidak ditemukan padanannya. "Padahal, kamus bahasa kuno juga sangat sulit ditemukan," tutur pria berputra tiga itu.

Sama seperti dua penerjemah di Bandung, Puger sering menemukan kalimat yang mengandung kata atau istilah yang hilang. Ada juga kata yang sulit ditemukan maknanya, apakah akan diartikan dalam konteks kalimat sebelum atau sesudahnya.

Karena itu, menurut Puger, seorang penerjemah memerlukan keahlian khusus. "Ia harus paham benar mengenai tembang dan prosa," paparnya. Sebab kerapkali naskah kuno ditulis dalam dua bentuk sastra itu. Penterjemah juga dituntut punya ketelitian lebih. Ada kode-kode rumit yang perlu ditulis antara di naskah asli dan terjemahan. "Makanya, yang ahli di bidang itu bayarannya pasti mahal," kata Puger kepada Nur Latifah dari Gatra.

Kesulitan itu baru pada proses pembacaan naskah, belum lagi pada tahap pengalihbahasaan, misalnya dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia sebagaimana menjadi impian Puger. "Untuk tahapan itu, perlu biaya dan waktu tambahan," katanya. Dana cukup besar diperlukan untuk membayar tenaga ahli. Hingga kini, pihak keraton atau pemerintah daerah belum memberikan dana untuk kegiatan ini.

Pos lain yang tak kalah mahal dan sulit adalah perawatan naskah. "Banyak material yang tidak terdapat di dalam negeri," kata pria berkacamata itu. Lem khusus, kertas dengan kadar asam rendah, dan kertas jenis high tissue adalah beberapa material yang hanya bisa diperoleh dengan mengimpor. Bahan-bahan ini diperlukan untuk menghambat laju kerusakan yang kerap mengancam naskah klasik.

Kebanyakan, dokumen langka itu ditorehkan di atas bahan dengan tingkat keasaman tinggi. "Kertas yang keasamannya tinggi akan cepat rusak atau robek," kata pria berambut gondrong itu. Di sinilah diperlukan kertas high tissue. Yakni kertas tipis untuk menambal bagian naskah yang robek. "Jika dicampur dengan alkohol 90% dan direkatkan dengan setrika khusus, maka kertas itu akan memiliki kerekatan yang sama dengan isolasi," paparnya. Namun, ketika dilepas, kertas high tissue tidak akan merusak kertas yang ditambal. "Cukup diberi air, kedua kertas tersebut dapat dipisahkan."

Itulah sebabnya, alumnus Jurusan Sastra Daerah Universitas Sebelas Maret, Surakarta, itu lagi getol mengumpulkan dana. Kini Puger punya empat orang yang dianggapnya sebagai anggota tim penerjemah. Kelak mereka diharapkan bisa mewarisi kemampuan yang dimiliki GPH Puger.

Koesworo Setiawan
Majalah Gatra edisi 41 / XI /27 Agustus 2005

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru