Berjumpa “Emile Zola” di Salamanca

Posted by Cinta Buku on

Dua bulan mengunjungi Australia, September-November 2002, menyusuri beberapa kota yang hamper semuanya indah, saya kira, saya telah jatuh cinta pada Hobart, sebuah kota kecil yang menjadi ibukota Tasmania. Tasmania sendiri sesungguhnya adalah sebuah pulau yang menarik, ia adalah sebuah pulau yang soliter, memisah dari Australia. Letaknya di selatan Australia. Dari Melbourne, jika ditempuh dengan pesawat terbang akan makan waktu satu jam sepuluh menit. Pulau ini menjadi tempat tujuan wisata alternatif bagi penduduk Australia —barangkali sebagaimana Bali, bagi kita orang Indonesia. Namun, Tasmania dengan luas wiiayah 67.300 hektar persegi memiliki penduduk hanya sekitar 400 ribu orang. Bandingkan dengan Bali yang luasnya dua belas kali lebih kecil tapi penduduknya 3 juta alias enam kali lebih besar dari jumlah penduduk Tasmania. Sebuah koran di Tasmania pernah menulis, jika Tasmania sepadat pulau Jawa, maka penduduk Tasmania akan berjumlah 60 juta jiwa. Fantasis! Sebab nyatanya penduduk Tasmania tak lebih dari setengah juta jiwa saja.

Hobart adalah sebuah kota kecil saja, dengan luas 200 hektar persegi dan penduduk sekitar 200 ribu orang. Hobart menarik karena sangat cantik dan fotogenik. Ada banyak bangunan bersejarah penting yang mempesona, kapal-kapal yang bersandar di atas sungai Derwent yang membentang luas yang dari kejauhan airnya sering kelihatan berubah-ubah warna, kadang kelabu, kadang biru, kadang hitam, kadang hijau, kadang juga merah muda... lalu di sekeliling kota gunung-gunung berdiri memagari si kecil cantik ini. Menyusuri lekuk-lekuk kota, saya banyak bertemu galeri, taman-taman yang indah, dan musik-musik rakyat sering terdengar di cafe-cafe yang menyediakan tempat duduk sampai di luar-luar, dengan payung-payung hitam dibentangkan jika matahari bersinar hangat. Satu sisi menarik dari Hobart adalah sebuah tempat bernama Salamanca. Tempat ini berada di tepian sebuah pelabuhan. Ada gunung es Wellington yang tinggi di latar belakang, seperti jadi kepala suku bagi bebukitan indah di sekitarnya. Lalu deretan bangunan kuno, bekas gedung pergudangan yang disulap menjadi pertokoan benda-benda seni. Setiap hari Sabtu tempat ini dipenuhi oleh para pedagang yang menggelar barang dagangannya. Setidaknya 300-an stan dengan payung warna-warni menutup jalan memanjang di depan deretan bangunan tua itu. Inilah Salamanca Market. Sebuah nama yang sangat terkenal dan sangat menarik minat orang, tak hanya penduduk Hobart sendiri, namun juga penduduk kota-kota lain. Bahkan, Salamanca Market disebut-sebut sebagai pasar paling menarik, dan paling besar, di seluruh Australia. Tempat ini juga merupakan pusat komunitas seni Tasmania. Di sini kita bisa menemukan banyak barang-barang seni dan kerajinan berkualitas, selain juga buku, pakaian, produk-produk perawatan kulit, dan masih banyak lagi. Harganya pun murah. Kita juga bisa membeli buah-buahan, bunga, dan sayur-sayuran yang sangat segar yang dijual oleh mantan para pengungsi Laos yang datang ke sini di tahun 80-an, Musik-musik tradisional dari Chili dimainkan orang-orang di tengah suasana pasar ini, memperdengarkan lagu-lagu Amerika Latin. Ada juga penyanyi solo dari Zimbabwe, Afrika. Kadang ada harpa berdesir mengantar ayunan langkah kaki, bercampur dengan suara banjo, biola, atau tetabuhan drum milik suku-suku terasing. Sebagian dari mereka sekaligus menjual kaset CD dari alat musik tradisonal yang mereka mainkan itu.

Suatu hari Sabtu, saya jalan-jalan menapaki daerah Salamanca, Setelah lelah melihat-lihat pasar sambil menikmati musik, kemudian minum secangkir kopi lattee di bar yang banyak bertebaran di sepanjang daerah itu, saya tertarik masuk ke sebuah toko buku kecil. Sebuah toko second hand book. Toko semacam ini banyak bertebaran di seputaran Salamanca. Saya menjadi terheran-heran. Hobart yang penduduk dan kotanya hanya kecil saja ini punya toko buku semacam ini sebanyak 8 buah. Kedelapannya itu, oleh kawan saya bernama Heather Curnow yang lama tinggal di Hobart, dibedakan dalam kategori: yang "rapi sekali", yang "tidak rapi tapi juga tidak berantakan", dan satu lagi yang "sungguh berantakan". Belum lagi masih ada toko buku lain, yang "mapan", yang bukan toko buku-buku bekas. Toko yang seperti itu ada 4 buah, di antaranya merupakan cabang dari toko buku terkenal di Australia, yakni Dymock, Angus & Robertson, Uni Bookshop-Hobart Campus, dan Downunder Bookshop. Jadi semuanya ada 12 toko buku. Tergolong banyak bagi penduduk yang hanya berjumlah 200 ribu saja. Semua toko second hand itu memang benar-benar mengkhususkan diri pada penjualan buku bekas saja. Buku baru tak ada. Hanya ada satu toko buku bekas yang sekaligus juga menyediakan buku baru, yakni Hobart Bookshop. Namun di dalam toko ini, rak buku bekas diletakkan terpisah, sehingga penggolongan antara bekas dan baru kentara benar. Di semua toko second hand book, buku-buku bekas yang dijual masih terlihat bagus kualitasnya.
Toko second hand book yang saya ceritakan ini bernama "Deja vu Books", di Salamanca Art Center, 77, Salamanca Place, Hobart. Deja vu bagi sebagian pecinta buku akan mengingatkannya pada ungkapan Emile Zola, seperti yang diharapkan pemilik toko buku ini agar setiap orang yang masuk ke toko ini menjadi punya perasaan "seolah-olah saya pernah berada di sini, seolah-olah saya pernah mengalami pengalaman seperti ini". Kata-kata ini mengambil ucapan Emile Zola, yang "posternya" dia pajang di atas rak, Bahkan, garnbar diri Zola pun dijadikan logo toko ini. Apa yang dinamakan dengan poster tadi sesungguhnya adalah banner kain sederhana —sambil tertawa si pemilik toko bercerita; poster itu sebenarnya adalah kain lap, yang dijual murah di Perancis. Toko satu ini juga menarik karena inilah satu-satunya toko yang sering digunakan untuk peluncuran buku, pembacaan sastra, acara-acara semacam itu.

Toko itu dijaga oleh seorang laki-laki gagah yang ramah sekali menyambut pertanyaan setiap pengunjung yang datang. Ia, Douglas Lokchart, adalah pemilik toko itu. Dari satu dua pertanyaan yang saya ajukan sambil lalu, saya malah jadi tertarik untuk berbincang agak lebih serius, Sebab ternyata pemilik toko buku satu ini juga seorang penulis novel. Bukunya yang pertama terbit tahun 1979. Sampai sekarang sudah cukup banyak buku yang dihasilkannya: Jesus the Heretic, The Paradise Complex, Wer den Wind Reitet, Sabasius enzenanzas de un Uniciado Contemporaneo, The Dark Side of God, Song of The Man Who Come Through.  

Novelis yang satu ini sebelum membuka toko buku pernah bekerja di sebuah toko yang menjual buku-buku antik, buku-buku tua yang berusia lebih dari 100 tahun; di London. Ia pindah-pindah di beberapa tempat seperti itu. Ia pernah juga menjadi wartawan. Namun baginya, "semua pekerjaan itu hanya cetak duit semata. Dan saya tidak menulis sama sekali! Lalu saya mencari-cari bidang pekerjaan yang tidak menganggu otak, yang rnembuat saya masih bisa menulis". Itulah kemudian yang membuatnya mengambil keputusan untuk mendirikan toko buku second hand ini pada tahun 1989. Pertama kali memulai, ia membuka gerai dengan sediaan koleksi buku sebanyak 3.000 judul, yang dikumpul-kumpulkan dan dibelinya dari koleksi pribadi beberapa orang. Sekarang, tokonya sudah mengkoleksi lebih dari 5.000 judul. Ia menggambarkan pekerjaannya itu sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan. Saya hanya duduk-duduk, menulis, dan orang menyerahkan uang tiap hari pada saya, Ha.,, ha... ha...."

Dari mana asal buku-buku second hand itu biasanya dia dapatkan? Yang terbanyak adalah dari orang yang menawarkan koleksi bukunya, namun ada juga orang yang langsung datang dan menjual buku di tokonya. Sebagian lagi dia borong dari garage sales. Garage Sales adalah hal yang biasa terjadi di sini, Ini adalah istilah yang digunakan jika seseorang ingin menjual barang-barang miliknya, biasanya dengan harga murah, melalui garasi rumah mereka. Tak hanya buku yang dijual. Bisa saja barang-barang isi rumah lainnya. Ada juga peralatan elektronik. Biasanya, ini karena orang sudah bosan, ingin menggantinya dengan yang baru, atau ya memang ingin cuci gudang.

Toko buku yang banyak dikunjungi para mahasiswa ini konon lebih menampakkan gairah penjualan pada musim panas. Saat musim panas, sehari bisa laku sebanyak 25-30 buku. Sedang saat musim dingin mereka hanya bisa menjual 2 sampai 20 buku.

Hari Jumat pada minggu berikutnya, saya jalan-jalan lagi ke Salamanca. Langit cerah meski hari sudah hendak bergegas. Udara dingin. Sayup-sayup saya mendengar suara musik. Itulah band "Rectango", yang menggelar musik di sana, tepatnya di Salamanca courtyard, yakni di belakang Salamanca Arts Center, saban Jumat sore. Beberapa lagu dimainkan. Makin lama makin banyak orang mendatangi tempat ini. Banyak juga keluarga yang mernbawa anak-anaknya serta, Dan tentu, ada bir ikut menghangatkan badan. Ada orang gila yang menari-nari lincah sampai memanjat ke atas balkon. Musik terus dimainkan. Beberapa orang juga menyusul berdansa. Satu di antaranya bernama Ralph Wessman.

Seorang kawan baik mengenalkan saya padanya. Ralph adalah pengelola jurnal Famous Reporter, sebuah majalah kebudayaan 6 bulanan yang berisi cerpen, puisi, prosa, haiku, esai sastra-budaya, wawancara, dan resensi buku. Nama itu, ungkap Ralph, lahir dari suatu cita-cita. "Saat masih muda saya ingin jadi reporter, sedang di hari tua, istri saya ingin jadi famous, Jadilah nama jurnal itu!" Ungkapnya. Yang menarik, meski dalam jumlah yang tak banyak, jurnal ini bisa terus-menerus terbit selama 15 tahun dengan harga langganan $ 15 AU/ tahun, Tak mahal. Ia juga mulai merambah ke dunia penerbitan.

Jurnal itu tak dikelola Ralph seorang. Ia dibantu oleh beberapa orang:sekitar tujuh orang. "Misalnya untuk haiku, ada editor khusus bernama Lyn Reeves. Namun memang bisa dikatakan saya lah yang sering harus mengeluarkan dana pribadi jika ada kekurangan. Pada 10 nomor pertama, saya mendanai sendiri. Lalu, Arts Tasmania bisa membantu dengan dana sebesar $ 1000 AU setahun. Lalu sejak 8 tahun lalu menjadi $ 3000 AU, dan syukurlah sekarang sudah menjadi $ 4600 AU. Namun, untuk itu saya harus rajin mengajukan proposal setiap tahunnya," ungkapnya.

Apa kesuiitan utama pengelolaan jurnal selama ini? Ternyata sama yang dihadapi pengelola jurnal di Indonesia: Penjualan, Persoalan yang sangat klasik dan bahkan klise. Famous Reporter sendiri dicetak hanya dalam jumlah terbatas saja. Yakni sebanyak 300 eksemplar. Itupun diperbanyak dengan cara difotokopi saja. Hanya covernya saja yang dicetakkan. Pelanggan tetap hanya berjumlah 100 orang saja. Meski demikian, kontributor jurnal ini berasal dari berbagai bangsa di dunia. Dan dalam keterangannya di dalam sampul disebutkan Famous Reporter ini masuk dalam index di Austlit, The Australian Literary Online Database yang dioperasikan oieh Fakultas Inggris dan perpustakaan Akademi Militer Australia, Universitas New South Wales, Campbell, Act.

Agaknya Ralph, yang juga mengelola sebuah penerbitan kecil, adalah bagian dari gerak yang menghidupkan pesona Salamanca di tengah kerumunan 200 ribu penduduk lainnya. Ketika tersadar dari perjalanan kecil saya di tempat-tempat yang cantik itu, saya terjerembab ke dalam rasa sedih yang tak tentu. Hari tiba-tiba makin bergegas. Saya harus meninggalkan tempat-tempat yang ramah itu, Tempat di mana ruang hati membuka diri untuk saling "bertamu", Mungkin besok saya harus meninggalkan semua pesona itu, dan kembali bertemu dengan orang-orang yang saya rindukan dan merindukan saya. Di luar sana, mungkin orang-orang yang kukenal, teman-teman, keluarga, saudaraku, sedang berkecamuk di antara rasa cemas dan takut akan realitas zaman yang carut-marut. Tempat-tempat indah ini sepertinya menjanjikan kedamaian, Tapi di lubuk dalam sana saya yakin, bahwa kedamaian harus bernaung di hati setiap manusia. Besoknya, aku harus pulang, dan kembali menemukan teman-teman, saudara dan orang-orang yang kukenal, yang tak henti-henti mempertanyakan kedamaian yang mulai terkikis dari lingkungan kehidupan mereka.

Dorothea R. Herliany
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 6/Januari 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru