Profil Nur Khalik Ridwan: Pengkritik Utama Nurcholish Madjid

Posted by Cinta Buku on

Kisah tragis itu terjadi Januari 2001. Memasuki semester kedua, Nur Khalik Ridwan terpaksa berhenti kuliah S-2 di Program Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia sudah tiga kali ditagih membayar uang kuliah, namun tak kunjung punya uang. Keputusan pahit itu sempat membuat lulusan Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta itu kehilangan orientasi.

Ia sebelumnya mengagumi kampus Sanata Dharma sebagai gudang intelektual penganut teori pembebasan kaum tertindas yang dikembangkan Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Ferdinand de Saussure, atau Paulo Freire. Namun, anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) --organisasi berbasis kultural Nahdlatul Ulama (NU)-- itu bertanya-tanya: mengapa universitasnya itu tidak bisa membebaskan mahasiswa melarat yang tak mampu membayar SPP?

Ingatan pemuda kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 15 Maret 1974 itu spontan menelusuri perjalanan hidupnya yang selalu getir. Putra kedua Ridwan Buang --seorang buruh tani-- itu seolah dipaksa menerima kenyataan bahwa kaum miskin sulit melakukan mobilitas vertikal.

Sewaktu S-1, Khalik sampai tak bisa ikut wisuda gara-gara tidak punya biaya. Padahal, ia sudah bekerja sambilan jadi kuli bangunan, berjualan koran, buku, sampai dagang ketoprak. Ia pun termenung. ''Adilkah seorang dosen mendapat gaji lumayan hanya dengan mengajar dua jam, sementara buruh macul dibayar Rp 7.000 kerja sehari penuh keringat?'' ujarnya.

Setelah mundur dari S-2, ia memilih berkonsentrasi menulis. Ia ingin menuangkan seluruh pemberontakan batin dan pikirannya. Selama lima bulan, ia merampungkan buku setebal 508 halaman: Islam Borjuis dan Islam Proletar: Konstruksi Baru Masyarakat Islam Indonesia (Januari 2002, Galang Press, Yogyakarta). Itu menjadi buku induk bagi buku-buku dia berikutnya. Ia mendapatkan referensinya dengan cara membaca di toko buku, mengingat-ingat, dan mencatat yang penting. Itu karena ia tak mampu beli buku.

Buku pertama Khalik mendapat sambutan luas di pasar. Ia hendak membongkar pengotakan klasik ''Islam tradisional'' dan ''Islam modernis'', yang ia nilai usang dan imprealistik. Yang kini terjadi, menurut Khalik, relasi antara Islam borjuis yang berbasis ekonomi mapan dan Islam proletar yang miskin. Islam borjuis mengembangkan pemahaman agama yang mengukuhkan kemapanan dan mengabaikan pembebasan kalangan tertindas. Sementara, Islam proletar membangun pemahaman Islam yang beorientasi pembebasan.

Ia menempatkan diri sebagai bagian Islam proletar. Di sisi lain, ia menempatkan Nurcholish Madjid --sosok yang pernah ia kagumi semasa SMA-- sebagai maskot Islam borjuis. Pada buku kedua, Nur Khalik secara khusus mengkritik Nurcholish. Judulnya: Pluralisme Borjuis: Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur (Juni 2002, 406 halaman).

Pada April 2003, buku ketiganya hadir, masih dengan spirit pembongkaran dan pembebasan. Judulnya, Detik-detik Pembongkaran Agama, Mempopulerkan Agama Kebajikan, Menggagas Pluralisme-Pembebasan (307 halaman). Naskah buku keempat, Agama Borjuis (500-an halaman), juga sudah rampung, terbit Ramadan mendatang.

Sebelum menyusun buku, Khalik terlatih menulis. Ia pernah memimpin majalah mahasiswa IAIN Yogyakarta, Advokasia. Artikel dan resensinya kerap dimuat media cetak lokal dan nasional. Beberapa kali menyabet juara pertama lomba karya tulis, serta dua kali menjadi peresensi terbaik II (tahun 2000 dan 2003) versi Penerbit Mizan, Bandung.

Tentu, kualitas analisis dan asumsi buku-buku Khalik belum matang dan bisa diperdebatkan. Tapi, produktivitas, keuletan, etos intelektual, dan kemauan kuatnya layak diapresiasi. Tidak gampang menemukan pemikir Indonesia yang sempat menuangkan gagasannya dalam beberapa buku utuh. Apalagi baru seusia Khalik.

Khalik tekun merapikan fondasi wacana tandingan, yang belakangan menggejala di kalangan muda NU Yogyakarta. Pendekatan post-kolonial dan penggunaan teori sosial kritis banyak digandrungi simpul-simpul pemikir Islam progresif di ''kota gudeg'' itu, seperti Syarikat Indonesia, Penerbit LkiS, dan PMII. Di sanalah intelektualisme Khalik bersemai.

Dengan buku-bukunya, Khalik tampil sebagai ikon baru gelombang pengkritik pemahaman Islam mapan kaum modernis dan neomodernis Indonesia. Gagasan demikian memang bukan monopoli Khalik. Namun, ia telah berusaha mengorganisasi pergolakan pemikiran komunitasnya dalam bentuk karya tulis.

Asrori S. Karni & Sawariyanto
Majalah Gatra edisi 40 / IX / 23 Agustus 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru