Penulis Perempuan dan Industri Keindahan

Posted by Cinta Buku on

Tren Membaca Buku
Pameran Buku Indonesia ke 2 tahun 2002 baru saja dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar pada 18 September. Pameran akan berlangsung selama lima hari (18-22 September 2002) di Asembly Hall, Jakarta Convention Center. Pada acara pembukaan dideklarasikan berdirinya sebua lembaga publik yang baru, yakni Dewan Buku Nasional (National Book Council). Sebuah rekomendasi dari UNESCO tahun 1950-an untuk negara-negara sedang berkembang yang mengalami hambatan dan kesulitan dalam distribusi dan sirkulasi buku secara tidak merata (pincang) dibandingkan dengan sistem distribusi dan sirkulasi buku di negara industri perbukuan yang sudah mapan di Barat dan Amerika Utara. Indonesia baru mewujudkan rekomendasi dari lembaga kultural PBB itu sesudah setengah abad direkomendasikan, sementara negara-negara tetangga sudah lama mengapresiasi rekomendasi lembaga kultural intemasionai itu.

Dari 13 asosiasi perbukuan nasional yang mendeklarasikan berdirinya Dewan Buku Nasional (DBN), tampil lima wanita yang berpartisipasi dalam prakarsa ini, yakni Titiek WS (Himpunan Pengarang Indonesia, Aksara), La Rose (Wanita Penulis Indonesia/WPI), Ediyani Bondan (Ikatan Pustakawan Indonesia/IPI), Adwiyatni S. Subagyo (Klub Perpustakaan Indonesia/KPI), Murti Bunanta (Kelompok Pencinta Bacaan Anak/KPBA). Dialog kultural yang akan dikembangkan dalam forum ini akan berkembang ke arah positif dan konstruktif karena akan terjadi keseimbangan antara suara pria dan suara wanita dengan kepentingan dan perjuangan yang berbeda-beda dan mempertemukan kepentingan yang berbeda-beda dalam sebuah konsensus bersama sebagai agenda kerja dan aksi afirmatif yang nyata dan konkret. Bisa juga dibayangkan apabila wakil-wakil rakyat hasil Pemilu 2004 menghasilkan sebuah komposisi seimbang dalam pentas politik di antara suara wanita dan suara pria dalam pentas politik DPR/MPR, eksekutif, yudikatif, dan lembaga social control lain, maka perkembangan politik ke depan akan lebih mendukung perbaikan ekonomi. Hal itu menandakan bangkitnya gerakan kesembuhan diri sebagai bangsa, masyarakat, dan negara. Satu pertanyaan yang menarik adalah pameran buku di mana saja merupakan barometer perkembangan industri buku nasional dan internasional. Lalu bagaimana kontribusi dari kelompok perempuan dalam proses industri perbukuan sekarang?

Seharusnya jawaban atas pertanyaan ini diperoleh dari sebuah aktivitas penelitian di lapangan dari lembaga penelitian media yang punya nama. Namun, karena skala prioritas kegiatan penelitian industri buku di Tanah Air masih di urutan bawah, kita tidak mungkin mendapat jawaban yang jelas dan meyakinkan pada saat-saat sekarang. Kita coba meraba-raba perkembangan yang sedang berlangsung dengan mengandalkan pada sumber informasi yang dikumpulkan panitia pameran dengan mengeluarkan buku panduannya. Pada pembukaan acara pameran, para undangan dibagikan profil kegiatan pameran yang pada judul sampul depannya tertulis Refleksi Perbukuan Masa Kini, dengan embel-embel pengiklanan pameran ini sebagai pameran buku internasional terbesar dengan tema pameran adalah buku mencerdaskan bangsa.

Alinea selanjutnya dalam karangan ini lebih berupa resensi pendek atas isi refleksi yang disiasati panitia penyusun profil itu. Saya secara khusus membatasi pada kontribusi beberapa wanita dalam refleksi perbukuan. Para kontributor wanita itu, antara lain Rina RM (Direktur Utama Perusahaan Dyandra Promosindo), Asma Nadia (penulis dan ibu rumah tangga), Peggy Melati Sukma (artis sinetron mewakili konsumen pembaca buku), Angelina Sondakh (penulis buku dan Putri Indonesia 2001), dan Yessy Gusman (artis, pengelola taman bacaan anak).

Inilah laporan singkat tentang para wanita (dengan segala perbedaan fungsi dan posisi publik) yang melaksanakan prinsip timbal-balik (resiprokal) antara dirinya dengan dunia perbukuan. Semoga kita mendapat input yang berharga baik tentang dunia wanita maupun dunia keindahan yang diserap dalam industri perbukuan kita. Dari mata wanita, perbukuan hanya salah satu ekspresi dari industri keindahan yang menjadi fokus dari semangat kehidupannya, karena wanita adalah keindahan itu sendiri. Rina melihat pameran sebagai ekspresi dari komunikasi bisnis dan perdagangan serta industri. Pameran adalah peristiwa publisitas produk dan produsennya kepada konsumen. Dalam dunia perbukuan juga dibedakan antara professional visitor dalam pameran dan private visitor. Pengunjung umum dilihat sebagai private visitor, sedang masyarakat perbukuan, masyarakat grafika dikategorikan sebagai professional visitor, yakni penerbit dalam dan luar negeri, perwakilan kebudayaan asing, produsen peralatan pendidikan, importir buku dan produk lain yang menjadi bahan pembuatan buku (book making) atau sarana edukatif. Pusat atraksi lain adalah bedah buku, lomba mewarnai, menggambar, mengarang dan sebagainya, yang melibatkan pengunjung umum dari segala usia.

Bila Rina meiihat buku sebagai gejala komunikasi bisnis dan industri antara produsen, mediator dan konsumen dari masyarakat pasar kelas menengah ke atas, yang terikat dalam globalisasi, maka ada sudut pandang lain yang dilihat oleh Asma Nadia (penulis sekaligus volunteer untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu dan keluarga kurang gizi dari kelas sosial menengah sampai kelas akar rumput yang mengalami proses marginalisasi). Buku dilihat sebagai sarana untuk proses emansipasi anak-anak kelas bawah yang pada masa sekarang memungkinkan adanya dan terjadinya revolusi personalia, individu-individu yang menjadi biografi yang dibaca di mana-mana. Saksi sejarah riwayat manusia baik yang masih bekerja, pensiun atau yang sudah masuk kubur, yang mengalami revolusi personalia, berkembang menjadi orang karena nasib dan keberuntungan serta kerja kerasnya.

Buku tidak dilihat dari pasar buku, tetapi dari perjuangan untuk mengatasi rasa lapar dan haus setiap hari serta disepelekan dan dilecehkan oleh tetangga-tetangga yang mengidap penyakit sosial masa kini yakni hedonisme (mengejar kenikmatan-kenikmatan kehidupan) dan materialisme (melihat sukses dan keberhasilan hidup diukur dari pemilikan harta benda dan jaminan keuangan di bank-bank simpanannya).

Asma Nadia, peraih penghargaan pengarang terbaik Adikarya Ikapi 2001 dan 2002, seorang istri, ibu dua anak, tetapi sekaligus aktivis sosial melalui jalur pendidikan luar sekolah. Dia mendirikan LSM untuk distribusi buku ke keluarga-keluarga kurang mampu, penghuni lokasi kampung kumuh di kota-kota. Setiap minggu rumahnya menjadi sanggar pendidikan dasar, melayani anak-anak usia sekolah dasar dan menengah dari keluarga miskin dengan aktivitas membaca buku-buku dan latihan teater, berbicara dengan berbagai gaya di depan publik untuk menyampaikan pesan-pesan penulis naskahnya. Taman bacaan akan ditingkatkan menjadi perpustakaan yang dikhususkan bagi pembaca dari kelas menengah ke bawah. Inilah tindakan emansipatoris yang nyata, bahwa orang miskin tidak berarti tidak punya minat membaca.

Bila kita ingin membangun kaderisasi penulis dan pengarang ke depan, Asma Nadia merekomendasi dengan membuka taman bacaan; dan bukan dengan membuka kursus reading and writing yang berlokasi di hotel mewah atau sekolah favorit saja. Nama-nama pengarang junior (promoted writers and outhors), seperti Pipit Masawa (Palembang), Meldi Muzadafa (Banjarmasin), Muti Musfuah (Kalimantan Timur), dan penulis muda dari Aceh mulai beredar dalam lingkungan pembaca junior. Mereka hasil dari pembentukan taman-taman bacaan di kampung-kampung kelas menengah ke bawah.

Pengarang-pengarang yang berasal dari kelas menengah ke bawah dan mampu mencapai sebuah revolusi personalia, sebuah mobilitas vertikal menerobos masuk ke kelas menengah ke atas dan menarik perhatian publik, tentu akan mengarang, mewakili jeritan dan rintihan penderitaan kehidupan dari voice of the voiceless (masyarakat yang diam, tidak banyak omong). Karangan jenis Multatuli (saya banyak menderita) refleksi dari pengorbanan manusia dan keluarga mereka hasil dari sebuah revolusi sosial, mengganti sistem ekonomi desa tradisional menjadi ekonomi terbuka, modern dan urban pasti masih sangat relevan dan aktual pada masa kini.

Mendalami Konsepsi Kekayaan
Peggy Melati Sukma, Yessy Gusman dan Angelina Sondakh memberi kontribusi konseptual dunia perbukuan, tidak dari pendekatan komunikasi komersial, pendekatan ekonomi kerakyatan yang berciri emansipatoris, tetapi dari pendekatan pengungkapan diri, siapa dia sebenarnya, tidak seperti yang dilaporkan oleh wartawan dan opini publik; buku sebagai sarana ekspresi diri.

Peggy membaca apa saja, kalau memberi manfaat kepadanya seperti harta bermanfaat pada pemiliknya, Buku adaiah harta menurut mahasiswi ilmu komunikasi di FISIP-UI dengan IPK 3,65. Peggy mengambil sikap alternatif dari sikap budaya massal pada umumnya, yakni budaya dengar; sebagai artis dan mahasiswi di kampus, dia berpihak pada manfaat budaya melihat daripada manfaat budaya mendengar. Melihat sesuatu itu lebih pasti kesannya daripada mendengar sesuatu. Lebih kurang pasti, sehingga pengetahuan berbasis mendengar adalah pengetahuan berbobot ketidakpastian yang selalu menimbulkan sikap ragu-ragu dan ambigu yang menghambat kecepatan mengambil keputusan pada saat yang tepat. Perkembangan tidak terjadi bila keputusan selalu ditunda-tunda karena keraguan. Melihat banyak menyebabkan kebutuhan refleksi yang banyak. Pengalaman ini berlaku pada artis-artis yang sibuk dengan industri hiburan dan tren infotainment dan edutainment. Membaca menjadi latihan untuk refleksi, beri makna pada kesibukan rutin.

Yessy Gusman yang terbiasa menjadi library user atau library visitor ketika belajar di Amerika Serikat sudah terlihat dalam upaya kategorisasi buku-buku untuk taman bacaan di kampung kumuh, kelas menengah ke bawah. Pembaca kelas bawah membutuhkan bacaan pengetahuan umum (kamus dan almanak, ensiklopedia), pengetahuan dasar (ilmu-ilmu dasar atau life skills), pengetahuan etika (budi pekerti, agama, sikap sosial dan tanggung jawab atas perbuatan sendiri) dan buku cerita. Kategori buku untuk taman bacaan juga merupakan hasil sebuah paket pendidikan untuk keluarga miskin. Masyarakat Indonesia pada dasarnya suka membaca seperti orang Jepang atau orang Barat, tidak ada beda dalam intelektualitas dan rasionalitasnya. Hanya karena negara tidak menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang maka reading habit belum menggelora di masyarakat. Taman bacaan bila dikelola dengan baik (ada manajemen book fair di dalamnya) akan menjadi pusat perbukuan, pusat permainan edukatif, pelajaran mengarang, pelajaran menggambar dan lokasi bersahabat. Gerakan reformasi untuk kelas bawah dapat dimulai dari kegiatan mengunjungi taman bacaan. Mereka akan yakin bahwa membaca itu penting di dalam jadwal kesibukan rutin. Kemiskinan ekonomi atau materi tidak menjadi hambatan untuk berkembang.

Kondisi kemiskinan materi tidak menandakan bahwa keluarga itu tidak memiliki apa-apa lagi. Konsepsi kekayaan itu tidak boleh disalahtafsirkan hanya pada kekurangan harta milik fisik. Keluarga miskin harta tetapi tetap keluarga kaya dan menambah kekayaannya pada meraih ilmu, kebaikan, keramahtamahan serta kepercayaan diri. Kebanyakan pengalaman orang kaya menjadi percaya diri bila sudah menjadi kaya. Manusia itu ibarat bunga, berkembang dengan keindahan masing-masing, Keindahan itu antara lain kepercayaan diri, yang harus dipupuk biarpun miskin. Membaca dengan rajin akan membuat atau membuka kesempatan dan peluang untuk menulis. Untuk bisa menulis harus dimulai dengan kebiasaan membaca. Tidak ada larangan bahwa masyarakat miskin menjadi masyarakat yang gemar menulis dan mengarang buku.

Konsepsi Keindahan 4B
Ketika diselenggarakan pemilihan Putri Indonesia 2001, panitia pemilihan memperkenalkan kepada publik, pesona wanita cantik itu direduksi menjadi 3B (brain, behavior, dan beauty). Dalam proses pemilihan Putri Indonesia 2001, juri berhasil menobatkan Angelina Sondakh menjadi Putri Indonesia 2001. Selama setahun Angelina Sondakh sibuk dengan kegiatan publik untuk mengampanyekan kecantikan wanita, dan dia berhasil menemukan konsepsi keindahan menurut keyakinannya. Konsepsi keindahan wanita itu adalah hasil benturan dengan kenyataan di lapangan. Dalam banyak perjalanan dan perlawatan ke mana-mana, dia menyaksikan dari dekat dan langsung, para orang tua merasa khawatir dengan kemerosotan akhlak putri-putri mereka. Banyak remaja putri kehilangan rasa bersalah dan rasa malu, sudah tidak bermoral. Kecantikan wanita sudah disalahgunakan (misused). Banyak wanita mengejar arti kecantikan, tetapi dari konsep keindahan dan kecantikan yang keliru dan berat sebelah. Gejala kecantikan yang mencolok mata memang kecantikan fisik, kecantikan luar. Namun, Angelina yang cantik itu membangun konstruksi pemikiran kecantikan dari filsafat keindahan yang dipelajari baik dari bacaan, tokoh idolanya maupun keprihatinan luas dari penyalahgunaan kecantikan wanita-wanita itu sendiri.

Dia mendalami filsafat keindahan selama belajar di Presbyterian Ladies College di Australia dengan kewajiban membaca kesusastraan dunia, seperti karya Shakespeare dan Umberto. Juga membaca biografi tokoh-tokoh wanita dunia, seperti Mother Theresa, Margareth Tacher, Aung San Su Kyi, Gloria Macapagal dan Hillary Clinton dengan bukunya Hillary Choice. Dari biografi wanita itu dia menyempurnakan konsep keindahan panitia Putri Indonesia, tidak hanya 3B tetapi 4B (brain, behavior, beauty dan bright). Hillary Clinton memperkenalkan satu aspek dari keseluruhan filsafat keindahan, yakni bright. Bright ini bermula dari keceriaan keremajaan (pesona wanita remaja), sesuatu yang atraktif dari remaja putri, sesuatu yang berciri fisik, biologis. Daya tarik dengan ciri bright itu berasal dari rasa kepercayaan diri, mencintai diri sendiri sehingga akan menampilkan kecantikan dari luar fisik (metafisik), yang mampu ditangkap oleh mereka dengan rasionalitas dan intelektualitas tinggi. Membaca menjadi salah satu latihan untuk mencapai bright.

Kontribusi wanita-wanita yang ditampilkan oleh panitia dalam buku profil pameran sudah memberikan kita pesan dan wawasan lain dari sisi pandang dan kebutuhan wanita dengan dunia perbukuan kita.

Timbul pertanyaan berikut, apakah kasus pameran ini juga mencerminkan pergolakan wanita dalam proses karang-mengarangnya, hanya berurusan dengan ekonomi rumah tangga serta keprihatinan dengan tetangga dekat sekitarnya? Secara umum bisa dijawab “ya”, tetapi juga bisa dijawab “tidak”. Kita coba melihat salah satu fenomena penulis wanita datam diri Helvy Tiana Rosa (kelahiran 1970). Dia memang seorang ibu rumah tangga, sarjana sekaligus juga penulis. Dia menulis dengan misi emansipatoris yang bernuansa tersendiri, berhadapan dengan struktur kekuasaan yang didominasi oieh politisi, negarawan yang mayoritas masih dipegang pria.

Dua Sisi Keindahan: “Bright” dan “Darkness”
Di mata pria, wanita itu memiliki dua sumber energi: kehangatan dan kedinginan atau kesejukan. Mengapa demikian? Wanita (seperti juga pria) tetap menyimpan kerahasiaan, sebuah misteri penuh teka-teki tanpa jawaban pasti, selalu terbuka untuk ketidakpastian (uncertainty).

Forum Lingkar Pena (FLP, Asma Nadia kini menjabat Ketua III) tahun 1999 menerbitkan sebuah kumpulan karangan sastra karya Helvy Tiana Rosa. Kini akan dilaporkan sedikit motivasi Helvy (panggilan akrabnya Al Hamasah, yang berarti semangat), sarjana sastra Arab dari Program Studi Asia Barat, terjun menjadi seorang penulis wanita. Perjalanan kariernya sebagai penulis wanita diikuti dengan cermat oleh pengamat sastra Indonesia, seperti Ismail Marahimin, Soekanto S.A., Hamsad Rangkuti, Budi Darma, Anis Matta, Titiek WS, Ikranegara, Agus Noor, Nenden Lilis A., dan Taufik Ikram Jamil.

Karya tulis itu berbicara dengan dua jenis pembicaraan. Karya berbicara tentang tokoh-tokoh yang jauh, seperti di luar diri penulisnya; karya tulis selalu berbicara tentang sesuatu, itulah yang dipublikasikan, dibuka untuk dikonsumsi oleh pembaca. Namun, karya tulis itu sekaligus menyingkap satu jenis pembicaraan, yakni berbicara dengan penulis sendiri, berbicara tentang pergulatan batin dan luka hati dari penderitaan kejiwaan yang peka dari penulis itu sendiri. Begitu juga ketika membaca kumpulan karangan Helvy Tiana Rosa, yang dikumpulkan oleh Forum Lingkar Pena (FLP), Penerbit Gunung Djati, Agustus 1999, dengan judul Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah.

Wanita itu biasanya simbol kepasrahan terhadap otoritas di lingkungan dirinya. Kelompok manusia ini menunjukkan sikap civil obedience, sikap taat warga negara sipil kepada otoritas yang memerintah. Namun, penulis ini menunjukkan sikap civil disobedience. Mengapa dia tidak taat pada otoritas publik? Dengan misi apa yang diperjuangkan sehingga menolak taat kepada otoritas politik demi mempertahankan martabatnya sebagai seorang wanita. Sebuah advokasi kepada hak-hak asasi wanita yang selama ini dinodai oleh struktur-struktur kekuasaan di dalam masyarakat (dari yang terkecil, yakni keluarga sampai yang raksasa seperti PBB).

Helvy mengarang cerita pendek (April 1996) berjudul Bait-Bait Aku, Ayah dan Dudayev, Tokoh utamanya seorang aktivis perempuan dari Chechnya, bernama Vakha Bolsov, putri seorang panglima perang, seorang jenderal kemiliteran Chechnya. Ayahnya adalah staf inti dari Jenderal Dudayev, panglima perang melawan Rusia (1994-1996), Vakha selalu berjilbab, tetapi berketerampilan mendaki gunung, melempar pisau sebagai latihan tempur, memasak, mendaki tebing dan jurang. Terlibat dalam semangat patriotis dan kebangsaan, berani berada di medan tempur dan tidak takut mati demi sebuah perjuangan kemanusiaan yang tinggi dan mulia. Mempertahankan martabat dan harga diri mereka sebagai manusia dengan identitas lokal dan budayanya sendiri.

Perjuangan kemanusiaan itu dipertaruhkan dalam konflik kekerasan dan dirundingkan dalam perang fisik, adu kekuatan senjata dan strategi memenangkan peperangan secara keseluruhan. Karena peran publik sebagai anggota pasukan khusus wanita Chechnya, dia bersama dengan elite-elite politik bangsanya, mulai dari presiden, wakil presiden, militer sampai rakyat jelata. Dia menyaksikan sendiri kematian ayahnya, pemimpin-pemimpin bangsanya. Tetapi dia juga menyaksikan bagaimana sebuah masyarakat tidak akan musnah karena senjata-senjata fisik dari negara industri senjata bila semangat hidupnya masih dipertahankan dengan memprioritaskan sikap religius yang menjadi sumber inspirasi dan kekuatan kehidupannya sendiri. Wanita itu dewasa dengan konsep tentang kehidupan dan pandangan-pandangan untuk membela iman, kebenaran, kebaikan, keindahan serta keadilan. Wanita yang sangat peka kesadaran etis dan keinsyafan etisnya.

Keindahan dengan Konsep 5B
Dalam diskusi singkat dengan Putri Indonesia 2001 mengenai konsep kecantikan seorang wanita, Angelina menyinggung juga soal B yang kelima, yakni brave. Saya mulai memahami novel dan cerpen Helvy tentang perang Chechnya sekitar tahun 1994-1996, seperti perang kemerdekaan melawan sistem kekuasaan yang menindas sebuah bangsa atau sebuah masyarakat. Helvy sebenarnya bercerita tentang proses reformasi di Tanah Air, apakah itu mirip dengan sebuah perang untuk merebut dan mengisi kemerdekaan. Reformasi juga membuka kesadaran kolektif kita apakah kita sudah merdeka? Ataukah kita masih dijajah? Lalu bagaimana kita mesti mengangkat senjata, membentuk pasukan khusus untuk berpartisipasi mengisi kemerdekaan itu? Kita tidak hanya membutuhkan beauty, brain, behavior dan bright. Kini kita harus berani menghadapi segala malapetaka untuk mendapat way-out. Kita butuh keindahan yang lengkap, yakni brave (keberanian untuk berbuat dan berani bertanggung jawab atas perbuatan itu).

Industri Hiburan Kita
Kini kita hidup dalam kesibukan industri hiburan (entertainment industry) yang disuguhkan dari bermacam-macam media. Penulis wanita memberi sumbangan besar untuk industri hiburan itu. Industri hiburan kita penuh dengan suguhan keindahan dan pengalaman keindahannya. Semuanya sudah berjalan, bahkan berjalan dengan lancar sekali tanpa hambatan yang berarti.

Kita membaca kata hati dan isi rasa wanita-wanita penulis kita dihadapkan dengan sebuah konstruksi pemikiran mereka tentang apa itu makna keindahan. Untuk sementara, mereka mengajarkan keindahan itu terdiri dari 5B. Bila kita menyadari kondisi dan situasi hukum dan politik akhir-akhir ini, kegelapan (darkness) menjadi pengalaman estetisnya (pengalaman menyeramkan dan membingungkan serta menakutkan). Partisipasi keberanian wanita di dalam dunia hukum dan politik tidak seimbang dengan kontribusi dan partisipasi mereka di dunia keluarga, pekerjaan dan pasar. Kita butuh wanita seperti tokoh wanita Vakha Bolsov dari Chechnya dengan misi hukum dan misi politik menegakkan keadilan baik untuk melanjutkan gerakan emansipasi wanita maupun gerakan menyelamatkan kehidupan publik kita yang masih tarik-menarik antara kepentingan ekonomi dan kepentingan kelompok sendiri, Kita mulai dengan kebiasaan membaca lagi. Perjuangan kemanusiaan itu dipertaruhkan dalam konflik kekerasan dan dirundingkan dalam perang fisik, adu kekuatan senjata dan strategi memenangkan peperangan secara keseluruhan.

Frans M. Parera
Majalah Mata Baca Vol. 1 / No. 3 / Oktober 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru