Mas Marco Kartodikromo dan “Bacaan Liar” Era Pergerakan

Posted by Cinta Buku on

Novel Student Hidjo pertama kali muncul tahun 1918 dalam cerita bersambung di Harian Sinar Hindia. Setahun kemudian, baru terbit dalam bentuk buku. Tidak lama usia peredarannya, karena disita oleh pemerintah koionial. Buku-buku karya Mas Marco yang dikenal sebagai jurnalis sekaligus aktivis gerakan poiitik penentang kolonialisme Belanda, dipandang sebagai “bacaan liar” yang membahayakan pemerintah. Karya-karya Mas Marco terutama Student Hidjo ini memang berbeda dengan tema umumnya karya-karya sastra sezaman yang “direstui” oleh pemerintahan kolonial.

Tulisan kecil ini akan membahas peranan Student Hidjo sebagai bacaan politik yang dipakai sarana penulisnya untuk menentang kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, Ada dua hal yang akan disampaikan dalam tulisan ini, yaitu: uraian singkat mengenai Student Hidjo dan peran Student Hidjo dan juga “bacaan liar” lainnya, khususnya karya Marco Kartodikromo, sebagai sarana pembebasan dan penentangan terhadap kolonial.

Tentang Novel Student Hidjo
Student Hidjo menggambarkan kehidupan kaum priyayi Jawa dengan kemudahan-kemudahan yang mereka peroleh, seperti kemudahan menimba pendidikan. Suasana pergerakan, terutama Sarekat Islam, tempat para tokoh novel mencurahkan sebagian waktu dan kegiatan. menjadikan novel ini kental dengan politik. Bahkan, kisah cinta sepasang tokoh novel pun diwarnai dengan kegiatan poiitik.

Kisah diawali dengan rencana orang tua Hidjo menyekolahkannya ke Belanda. Ayah Hidjo, Raden Potronojo, berharap dengan mengirimkan Hidjo ke Belanda, dia bisa mengangkat derajat keluarganya. Meskipun sudah menjadi saudagar yang berhasil dan bisa menyamai gaya hidup kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak lantas kesetaraan status sosial diperoleh, khususnya di mata orang-orang yang dekat dengan gouvernement, pemerintah kolonial. Berbeda dengan sang ayah, sang ibu Raden Nganten Potronojo khawatir melepas anaknya ke negeri yang dinilai sarat “pergaulan” bebas.

Pendidikan di Belanda ternyata membuka mata dan pikiran yang sangat besar bagi Hidjo. Pertama, yang dianggap Belanda “besar” di Hindia ternyata sangat indisch di Belanda metropolitan, terutama mereka yang pernah bekerja di Hindia, dalam selera makan dan minum. Gadis Belanda dan orang tua yang pernah bekerja di Hindia menaruh perhatian besar kepada pemuda Hindia. Kedua, yang angkuh di Hindia ternyata tidak berperan di Belanda.

Hidjo sang kutu buku yang terkenal “dingin” dan mendapal julukan “pendito” sampai onzijdig, banci, akhirnya pun terlibat hubungan seksual di luar nikah dengan Betje: putri directeur salah satu maatschapij yang rumahnya ditumpangi Hidjo selama studi di Belanda. Pertentangan batin karena melakukan aib dan panggilan pulang ke Jawa akhirnya menguatkan Hidjo untuk memutuskan tali cinta pada Betje.

Persoalan menjadi sedikit berliku karena perjodohan dengan Raden Adjeng Biroe yang masih sanak keluarga, meskipun sesungguhnya Hidjo terpikat dengan Raden Adjeng Woengoe, putri Regent Jarak yang sangat cantik. Di akhir cerita, ketegangan mendapat penyelesaian. Kebebasan memilih dan bercinta diangkat ketika Hidjo tidak langsung setuju pada piiihan orangtuanya akan tetapi mencari idamannya.

Rumus perjodohan berubah. Hidjo dijodohkan dan menikah dengan Woengoe, sementara Biroe dengan Raden Mas Wardojo kakak laki-laki Woengoe. Semua, baik yang menjodohkan dan yang dijodohkan, menerima dan bahagia. Betapa cerita perjodohan tidak selalu berakhir dengan tangis dan sengsara. Juga ditampilkan, bahwa mentalitas Nyai tidak selalu ada daiam diri inlander, yaitu ketika Woengoe menolak cinta Controleur Walter.

Selain itu, pengalaman Hidjo di Negeri Belanda telah membuka matanya. Ia melihat bahwa di negerinya sendiri bangsa Belanda ternyata tidak “setinggi” yang ia bayangkan. Hidjo menikmati sedikit hiburan murah ketika dia bisa memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau di rumah tumpangan yang mustahil dilakukan di Hindia. Mas Marco secara lugas juga menunjukkan keberpihakannya kepada kaum Bumiputra. Ia menggunakan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Jawa atau Hindia.

Student Hidjo, “Bacaan Liar”, dan Perjuangan Mas Marco
Penerbitan buku-buku yang mendukung perjuangan pembebasan di Indonesia punya sejarah yang panjang. Sejak akhir abad ke-19, terutama di Jawa, tumbuh penerbit dan percetakan milik orang Tionghoa Peranakan dan Indo-Eropa yang menerbitkan sekitar 3.000 judul buku, pamflet, dan terbitan lainnya sebelum kemerdekaan. Beberapa orang bumiputra yang magang di penerbitan ini kemudian tumbuh menjadi jurnalis dan penerbit sekaligus, seperti Mas Marco Kartodikromo yang kemudian menulis Novel Student Hidjo pada awal abad ke-20 ini.

Pada 1906 pemerintah kolonial mengubah peraturan mengenai sensor. Sebelumnya, setiap penerbit diharuskan menyerahkan naskah kepada penguasa sebelum dicetak, sehingga bisa disunting, diubah atau bahkan dilarang sebelum beredar. Namun peraturan yang baru menetapkan sensor represif, yakni pembatasan terhadap barang cetakan setelah diedarkan oleh penerbitnya. Dalam waktu singkat berdiri sejumlah penerbit bumiputra, yang menerbitkan surat kabar, majalah dan buku serta pamflet. Marco Kartodikromo kemudian menjadi penulis dan redaktur surat kabar Doenia Bergerak, yang tidak segan-segan mengkritik tatanan kolonial secara terbuka. Karena tulisan-tulisan kritis dan surat pembaca yang dimuat di dalam surat kabar ini, Mas Marco pada awal tahun 1925 dituntut di pengadilan. Oleh penguasa imperialis Belanda, Marco dikenai tuduhan persdelicten. Mas Marco kemudian dipenjara.

Produksi bacaan semakin marak ketika para penerbit bersinggungan dengan dunia pergerakan yang juga sedang tumbuh. Bukan hanya organisasi pemuda seperti Boedi Oetomo yang mulai menerbitkan pikiran mereka, tapi juga serikat-serikat buruh, anak-cabang organisasi rakyat seperti Sarekat Islam, perhimpunan ulama dan kaum perempuan. Surat kabar memang bentuk yang paling populer tapi banyak juga karya-karya sastra dalam bentuk buku dan pamflet yang diedarkan. Bentuk terakhir biasanya dipilih oleh penerbit kecil karena disamping biaya produksinya lebih murah, harga jualnya juga bisa dijangkau oleh rakyat kebanyakan yang menjadi sasaran buku-buku semacam ini.

Di dalam pergaulan antara penerbit dan pergerakan inilah muncul buku-buku yang isinya mengecam kekuasaan kolonial dan sistem kapitalisme yang menjadi landasannya. Di kalangan pergerakan sendiri tumbuh kesadaran bahwa rakyat bumiputra yang menginginkan kebebasan harus memproduksi sendiri bacaannya, karena sudah terlalu lama dijajah pikirannya oleh penguasa kolonial.

Marco Kartodikromo adalah orang yang paling produktif daiam menghasilkan “bacaan liar”, Karya-karya yang dikenal adalah Mata Gelap, yang terdiri dari tiga jilid yang diterbitkan di Bandung pada 1914; Student Hidjo diterbitkan tahun 1918; Matahariah diterbitkan tahun 1919; Rasa Mardika diterbitkan tahun 1918, kemudian dicetak ulang pada tahun 1931 di Surakarta. Marco juga menerbitkan sekumpulan syair, Sair Rempah-rempah terbit di Semarang pada 1918 dan Sair Sama Rasa Sama Rata terbit di surat kabar Pantjaran Warta tahun 1917. Kemudian Babad Tanah Djawi yang dimuat di jurnal Hidoep, tahun 1924-1925.

Dari karya-karyanya ini, belum lagi dari karya jurnalisnya, tampak ketegangan-ketegangan dalam cara berpikirnya. Untuk mengetahui ketegangan-ketegangannya kita pertu membaca teks-teksnya secara teliti yakni dengan menelusuri alur cerita, karakter, dan bahasa yang digunakannya. Sebagai contoh: dalam Mata Gelap ia melukiskan hal-hal modern yang terjadi di tanah Jawa (terutama Semarang dan Bandung) dengan gamblang bahwa orang sudah keranjingan membaca surat kabar, senang hidup bebas, dan berliburan.

Ini semua menunjukkan bahwa masyarakat kolonial telah mempunyai kebutuhan baru. Tetapi di pihak lain Marco melukiskan bahwa kebudayaan Eropa yang bersinggungan dengan kebudayaan bumiputra menimbulkan persoalan demoralisasi dan dekadensi. Marco menggambarkan bagaimana kaum bumiputera juga telah mulai menyukai perjudian, melacurkan diri, main perempuan, minum dan sebagainya. Karya ini menjadi ajang pertempuran dan ketegangan ide Marco. Mata Gelap menceritakan skandal hubungan antara seorang nyai yang bernama Retna Permata yang sedang ditinggal oleh majikannya ke Eropa dengan Soebriga yang bekerja sebagai seorang klerk (juru tulis) di sebuah perusahaan Eropa. Seting cerita mengambil tempat di Semarang dan Surabaya, yang kala itu merupakan pusat kantor-kantor dagang dan industri beberapa negeri metropolis, dan juga di tempat peristirahatan di sekitar daerah Parahiyangan.

Dalam novel itu Marco menjelaskan bahwa gagasan modern yang berasal dari Eropa dan dipraktekkan di Hindia Belanda mengajarkan hal yang modem, seperti kalangan pedagang dan pegawai rendahan perusahaan swasta mulai keranjingan membaca koran, buku, mengenal waktu dan jadwal dan melakukan plesiran dan beristirahat sebagai yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha Eropa. Tetapi di pihak lain, ia melukiskan sisi negatif dari praktik kebudayaan tersebut di Hindia, yaitu kehidupan seks yang bebas, seperti Soebriga, sebagai seorang yang bermata gelap, yang bukan hanya melakukan hubungan intim dengan Nyai Retna Permata, tapi juga dengan Retna Poernama, adik Retna Permata.

Sebaliknya Sair Sama Rasa dan Sama Rata, merupakan kumpulan syair yang mengkritik negara kolonial dan sekaligus menggambarkan kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat kolonial. Dari ketiga karya fiksinya ini tampak ia masih dilingkupi oleh pemikiran Multatuli, artinya semangat dan bangunan pikirannya senantiasa meledak-ledak dalam melihat ketimpangan dan ketidak-adilan kolonial. Seiain itu, ia selalu memberi sub-judul “kedjadian jang benar-benar terdjadi di tanah Djawa”. Ungkapan ini juga harus dilihat sebagai hasil bagaimana ia memandang struktur masyarakat kolonial. Makna ungkapan ini sangat penting, karena perkataan “kedjadian Jang benar-benar terdjadi di tanah Djawa” adalah ungkapan pengalaman praktik politik penulis atau lebih luas lagi pengalamannya ketika mengamati perubahan sosial yang terjadi pada awal abad ke-20.

Ini sangat berbeda dengan karya terakhirnya Babad Tanah Djawi. Karya ini adalah hasil penelitian atas karya-karya sarjana Belanda, khususnya Prof Veth, yang menelaah babad. Dalam karyanya yang terakhir ini tampak puncak ketegangan dalam pemikirannya, yaitu saat ia melakukan putus hubungan dengan cara pikir Multatulian, dan menuju ke pemikiran yang lebih radikal. Yang menjadi pertanyaan untuk penelitian ini adalah apakah dalam Babad Tanah Djawi ia mempunyai obsesi untuk membongkar dan menjungkir-balikkan cerita-cerita babad yang ditulis oleh sarjana-sarjana Belanda untuk memperkuat iegitimasi kekuasaan kolonial? Dalam bagian pengantar jelas disebutkan bahwa ia ingin “mengambil kembali” masa lalu orang Jawa yang selama ini ada di tangan orang Belanda. Caranya adalah dengan menulis ulang babad-babad.

Bagaimanapun, sebagai seorang penulis dan pemimpin pergerakan, Marco tidak lepas dari proses belajar untuk memahami kekuasaan kolonial. Dalam novel Mata Gelap, Marco menunjukkan kejadian-kejadian yang melukiskan betapa kompleksnya pengaruh pemikiran Barat dalam masyarakat tanah Jawa di bawah kapitalisme pada awal abad ke-20.

Untuk membaca dan memahami tulisan seseorang harus dilihat perasaan dan pikiran si penulis, nafsu-nafsunya, kecenderungannya, implannya, ketololan dan kekurangannya, kecerdasannya, kecerdikannya, pengetahuannya dan banyak hal lain yang jalin-menjalin seperti benang-benang kaca yang jernih. Ingin ditekankan di sini bahwa setiap tulisan mengandung dunia kenyataan dan dunia impian. Proses ini adalah tahap pertama. Tahap berikutnya ialah memperlakukan bacaan sebagai sebuah senjata, sehingga dapat menimbang dunia-dunia kecil antara impian dan kenyataan itu, ibarat membidikkan sebuah peluru ke arah tertentu. Seandainya bobot pelurunya diarahkan ke negara kolonial atau pengusaha, maka akan timbul reaksi politik.

Penutup
Dari karya-karya Mas Marco tersebut sebenarnya pelajaran apa yang bisa kita petik? Hampir dalam setiap tulisannya, ia terus-menerus menaikkan derajat bangsa Jawa yang telah dirampas dan dijajah oleh kolonialis Belanda. Tampak sekali bahwa ia sedang mengobarkan nasionalisme Indonesia, dalam hal ini ia memakai Jawa sebagai titik tolak perjuangannya. Jawa sebagai politik identitas kebangsaan. Dalam Student Hidjo ia memakai kejawaannya sebagai counter value terhadap budaya Barat. Ia juga memanfaatkan Babad Tanah Djawi menurut versinya sebagai sarana untuk mendekonstruksi dan mendetegitimasi kekuasaan penjajah.

A. Ferry T. Indratno
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 1/Februari 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru