LKiS Menerima Prince Clauss Award

Posted by Cinta Buku on

Dengan wajah sumringah, Jadul Maula menerima ucapan selamat dari Stephen Hill, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Rabu malam 11 Desember lalu. Acara di kediaman Duta Besar Belanda di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, itu adalah penyerahan Prince Claus Award kepada Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) yang dipimpin Jadul.

Penghargaan ini diberikan Prince Claus Fund setiap tahun kepada seniman, pemikir, dan organisasi budaya di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Kepulauan Karibia. Sepuluh penghargaan diberikan setiap tahun; satu penghargaan utama dilampiri uang 100.000 euro, dan sembilan penghargaan lain dengan masing-masing "lampiran" 25.000 euro. LKiS masuk kategori terakhir ini.

Orang Indonesia yang pernah menerima penghargaan serupa adalah, antara lain, Ayu Utami (penulis), Sardono W. Kusumo (koreografer), dan Jim Supangkat (perupa). Akan halnya LKiS, lembaga ini dinilai telah menyumbangkan pengaruh positif kepada masyarakat dalam lingkup budaya dan sosial. Karya-karya lembaga ini dianggap mampu menstimulasi inovasi dan keterbukaan dalam agama Islam.

"Penghargaan ini menunjukkan bahwa kami masih mempunyai komitmen sosial cukup tinggi," kata Jadul Maula, 34 tahun, Ketua Yayasan LKiS, kepada Gatra. Yayasan ini didirikan para mahasiswa di Yogyakarta pada 1993. Berawal pada akhir 1980, ketika beberapa mahasiswa Islam yang sering berkumpul di Masjid Jamik IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan terlibat diskusi tentang keislaman dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Secara kebetulan, para aktivis diskusi adalah alumni pesantren. Jadul Maula, misalnya, berasal dari Pesantren Krapyak, Yogyakarta; Imam Baihaki dari Tebu Ireng, Jombang; Kairul Salim dari Pesantren Banjarmasin; dan Ahmad Suaidi dari pesantren di Mataram. "Secara kebetulan kami kuliah di Yogyakarta," kata Jadul, yang alumnus sastra Arab, IAIN Sunan Kalijaga.

"Kami berusaha membawa pemikiran tradisional yang ada di pesantren dalam berdialog dengan kultur dan agama yang berbeda," ia menambahkan. Dalam perkembangannya, para peserta tak hanya didominasi mahasiswa IAIN. Para mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, antara lain, ikut pula bergabung.

Pada 1993, mereka mengadakan seminar dengan topik "Agama, Demokrasi dan Keadilan". Di antara pembicara, tampil Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Afan Gaffar, serta sejarawan dari Sanata Dharma, G. Mujanto. Seminar yang berlangsung di Perpustakaan Bung Hatta, Yogyakarta, itu ternyata mendapat sambutan banyak pihak.

Hasil seminar pun dibukukan, dengan judul Agama, Demokrasi dan Keadilan, bekerja sama dengan Gramedia. Buku yang dicetak 3.000 eksemplar itu ternyata habis dalam tempo tiga bulan. Pada tahun yang sama, LKiS menerbitkan buku Kiri Islam, karya teolog asal Mesir, Hasan Hanafi. Buku ini mengajak pembaca melakukan rekonstruksi terhadap teologi Sunni klasik, agar bisa berwatak revolusioner. Ternyata, sampai kini buku itu sudah tujuh kali cetak ulang.

LKiS pun bergelut dengan tema-tema toleransi, pluralisme, dan antikekerasan. Sampai sekarang, sedikitnya 150 judul telah mereka terbitkan. Kini, LKiS tak hanya berkutat dalam penerbitan buku, melainkan juga penelitian dan pelatihan. Bermula pada 2001, LKiS mendirikan yayasan yang membawahkan tiga divisi: penerbitan buku, penelitian, dan pelatihan. Dua yang terakhir jamak dilakukan di pesantren-pesantren.

Toyota Foundation, Ford Foundation, dan Asia Foundation adalah lembaga donor yang sering membantu aktivitas LKiS. Mereka pun tak lagi berdisuksi hanya di teras Masjid Jamik IAIN Sunan Kalijaga, dan menempati kantor di Jalan Pura Nomor 1, Sorowajan Baru, Yogyakarta, yang disewa Rp 9 juta per tahun. Sebanyak 25 karyawan ikut memperlancar aktivitas lembaga ini.

Apa visi yang terus diperjuangkan? "Kami tidak akan kehilangan kesantrian jika bergaul dengan agama lain, dan bisa memberi analisis sosial jika berada di pesantren," kata Jadul. Lalu, akan dibuat apa hadiah dari Prince Claus tersebut? Jika 1 euro setara dengan Rp 9.000, maka hadiah yang diterima LKiS besarnya mencapai Rp 225 juta. Rencananya, dana itu akan dipakai untuk investasi kantor dan bikin "award" kecil di daerah.

"Dana tersebut sangat membantu untuk memaksimalkan aktivitas kami," tutur Jadul Maula. Begitulah, kehadiran LKiS merupakan jawaban bahwa para santri mampu memberdayakan umat, dan berdialog dengan ragam keyakinan dalam masyarakat plural Indonesia.

Herry Mohammad & Sawariyanto
Majalah Gatra edisi  6 / IX / 28 Desember 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru