Kaya (Cerpen Putu Wijaya)

Posted by Cinta Buku on

“Tapi Bung Dukun, ingat, lantaran aku miskin, aku tidak bisa bayar apa-apa sekarang. Nanti kalau aku sudah kaya, aku bisa balas.”

Dukun mengangguk.

“Itu biasa Bos. Jadi Ente mau kaya?”
“Persis! Tapi bukan hanya kaya-kayaan. Bukan cuman kelihatan kaya padahal gembel. Nehi! Gua pingin kaya beneran. Jadi orang kaya sejati. Seperti Oom Liem. Atau Kashoggi. Bisa nggak? Apa mereka juga datang kepada kamu waktu mereka mau kaya?”
“Seingat saya tidak, Bung Alung.”
“Oke. Tapi apa kamu bisa bikin gua kaya? Terus-terang saja. Kalau ya, bilang ya, kalau tidak, gua pergi sekarang! Kita terbuka saja!”
“Ente bener mau kaya?”
“Kalau bisa orang terkaya di Asia!”
“Ente tahu apa artinya orang kaya?”
“Berduitkan!”
“Cuma itu Bung Alung?”
“Orang kaya adalah orang yang...pokoknya orang yang tidak pernah punya susah soal-soal duit! Mau mobil, beli. Pingin kapal terbang, beli. Nafsu sama tanker, beli. Pingin kawin, tancep!”
“Begitu ya?”
“Begitu dong! Lu dukun, masak kagak tahu!”

Dukun mengangguk, lalu mulai komat-kamit pasang mantera. Tiga detik sudah kelar. Lalu ia tersenyum.

“Oke Bung, Ente bisa kaya. Orang-orang di sana setuju. Ente dikasih kesempatan.”
Alung bingung.
“Kok gampang amat? Cepet lagi! Orang-orang di sana siapa? Di mana?”
“Itu rahasia perusahaan Bung, pokoknya Ente tahu beres. Mau kaya kan? Sip! Tapi ada syaratnya?”
“Bilang cepat apa?!”
“Kalau mau kaya Ente mesti pelit! Pelit! Tidak bisa kaya kalau tidak pelit.”
“Pelit?”
“Ya pelit! Semua orang kaya itu pelit. Bagaimana bisa kaya kalau tidak pelit?”
“Pelit? Kok gampang bener mau jadi orang kaya. Kalau tahu cuma begitu, dari dulu juga gua mau? Jadi!”
“Makanya, kenapa tidak dari dulu-dulu Ente kemari? Tapi jangan lupa Bung Alung, pelit itu artinya kalau Ente punya apa saja, Ente dilarang membagi sama orang lain, meskipun orang itu minta. Kalau terpaksa harus ngasih, yah, icrit-icrit, bikin jadi susah setengah mampus. Bahkan kalau mungkin dibuat supaya pemberian itu adalah awal dari penerimaan berlipat ganda. Ente tidak boleh punya perasaan sosial! Itu musuh terbesar orang kaya. Itu tabu! Itu maksiat!”
“Jadi begitu ya?”
“Begitu!”
“Oke! Itu sih gampang. No problem!”
“Syarat kedua...”
“Lho masih ada lagi?”
“Syarat kedua: Ente harus egois!”

Alung terkejut. Berpikir lalu tertawa. Ha-ha-ha.

“Itu lebih gampang lagi!”
“Tahu artinya egois?”
“Mesti tahu dong! Egois adalah orang yang...pokoknya orang yang, itu kan orang yang...ya gua tahu deh maksud elu. Egois itu something no good.”
“Salah, egois itu buat orang kaya good very good'.”
“Jailah, Elu bahasa Inggrisnya boleh juga. Oke, egois oke!”
“Syarat ketiga: Ente harus berani menipu orang lain demi keuntungan!”
“Kalau itu sudah biasa! Memang mesti begitu! Bisnis kan! Adam Smith sudah lama bilang, keruk sebanyak-banyaknya, keruk lagi dengan modal sekecil-kecilnya, kalau bisa tanpa modal. Itu namanya seni. Seni ekonomi. Puisi ekonomi!”
“Syarat keempat...”
“Lho kok banyak syarat?”
“Kalau mau kaya memang harus begitu. Ini syarat terakhir. Keempat: harus berani melihat orang lain miskin alias menderita! Harus berani melihat orang lain celaka!!”

Alung ketawa.

“Elu dukun goblok. Masak syarat-syaratnya gampang banget. Kalau memang syarat Elu itu bisa bikin orang kaya, buat apa orang beli SDSB, lebih baik kemari teken kontrak sama elu. Tanpa keluar satu peser, pulang dari sini sudah jadi orang kaya. Enak banget. Tapi bener nggak ini? Kok enteng bener syaratnya, gua jadi curiga juga! Hah?”
“Iya bener!”
“Cuma empat syarat itu saja?”
“Memang cuma empat. Namanya catur syarat!”
“Hmmm. Jadi catur ya? Oke. Beres! Itu saja? Bisa pulang sekarang?”
“Pulanglah, kecuali kalau Ente masih mau ngendon di sini. Itu halaman rumah saya kotor, Ente bisa potongin rumputnya kalau nganggur! He-he-he”

Alung ikut ketawa.

“Yang bener aja. Mana ada orang kaya motong rumput. Mau psikotes ya! Gua pulang sekarang. Janji bisa kaya ya! Berapa lama? Tiga bulan?”
“Boleh, tiga bulan sudah cukup!”

Alung ketawa lagi, lalu mengeluarkan selembar sepuluh ribu.

“Lu kompak bener! Nih buat beli geretan!”

Dukun memberikan kembalian enam ribu, karena setiap syarat ongkosnya tidak boleh lebih dari seribu. Itu juga syarat. Alung mengangguk puas melihat kedisiplinan itu, lalu ngeloyor pulang.

Tiga bulan kemudian, sebuah BMW berwarna hitam berhenti di depan rumah dukun. Dari dalam mobil yang masih profit itu keluar seorang lelaki yang nampak OKB. Sepatunya berlapis emas. Gagang kacamatanya gemerlapan oleh intan-berlian.

Semua orang mengangguk hormat mempersilakan ia lebih dulu masuk. Bahkan hansip tampak dengan sukarela mengawalnya.

“Ya betul, saya ini Alung, Guru,” kata lelaki itu kemudian dengan hormat pada dukun di dalam ruang praktek.
“Dulu saya minta kekayaan. Guru menjanjikan dalam waktu tiga bulan saya akan jadi kaya-raya. Ternyata baru dua bulan, saya sudah jadi konglomerat. Setelah itu terus menanjak, sarnpai kewalahan menyetopnya. Setelah tiga bulan, saya sudah jadi rajanya konglomerat. Tidak ada lagi orang yang lebih kaya dari saya, Guru.”

Dukun memperhatikan Alung.

“Jadi Ente Alung?”
“Waktu miskin saya bernama Alung. Sekarang saya dipanggil Bapak Raden Mas. Bukan kemauan saya. Mereka memberikan nama itu sebagai penghormatan, atas kemauan mereka sendiri. Mereka tidak berani memanggil nama saya lagi. Biasa Guru, itu naluri penjilatan yang paling sederhana. Kekayaan saya sudah memancarkan radiasi yang melumpuhkan mereka yang berada dalam radius saya. Saya top-nya konglomerat sekarang!”

Dukun menatap tenang.

“Bagus. Artinya catur syarat sudah Ente praktekkan dengan konsekuen, Raden Mas!”
“Begitulah, Guru”.
“Kalau begitu, mengapa Raden Mas datang lagi. Ingin apa lagi?”

Alung menyembah.

“Saya cuma mau bilang. Raden Mas ini ingin bilang kamsia sama Guru. Guru memang dukun hebat. Tapi selain itu, saya ingin bikin negosiasi sedikit. Bisa kan?!”
“Negosiasi apa?”
“Begini Guru! Saya ini sekarang sudah kaya. Bahkan terlalu kaya. Tapi bagaimana saya bisa menikmati kekayaan, kalau saya mesti tetap kikir? Bagaimana saya bisa merasakan kekayaan itu, kalau saya tidak bisa nampang sedikit dengan mengobral perbuatan sosial? Untuk apa saya kaya, kalau saya mesti terus-terusan menipu orang, seperti orang yang masih kekurangan saja. Dan bagaimana saya bisa merasakan keenakan kaya itu, kalau semua orang lain begitu miskinnya, sehingga membuka mata saja tidak mampu karena tak punya tenaga akibat kurang makan. Apa enaknya kaya kalau tidak ada yang melihat kekayaan, saya itu? Guru, tiap detik sekarang saya makin kaya. Kekayaan saya tumbuh membabi buta, dahsyat bahkan menakutkan. Karena semakin bengkak kekayaan itu, semakin miskin dan jauh orang-orang lain. Saya kok seperti diseret makin jauh dari kehidupan. Setiap saya bangun pagi sekarang, saya merasa berada di puncak gunung, sendirian, terlalu kaya jadi nggak enak juga?! Jadi Guru, bisa nggak, kekayaan itu dikurangi sedikit. Sedeng-sedeng begitu, biar pas!”

Dukun manggut-manggut.

“Kalau begitu artinya Raden Mas, tidak punya bakat jadi orang kaya! Kenapa dulu ingin jadi orang kaya?”

Raden Mas Alung bingung.

Ia terpaksa pulang kembali untuk berpikir masak-masak. Benarkah ia tak punya bakat jadi orang kaya? Benarkah kaya itu soal bakat? Akhirnya ia menyimpulkan bahwa dukun hanya ingin menguji mentalnya. Itu PR rutin buat orang kaya.

Setelah pikirannya tenang, Raden Mas Alung datang kembali.

“Begini saja Guru,” katanya dengan hati-hati, “bisa nggak dinegosiasikan. Atur supaya supaya saya bisa menikmati kekayaan saya itu dengan perasaan ketika saya dulu masih miskin. Maksud saya supaya sinkron. Jangan kaya saja tapi tidak bisa dinikmati. Mestinya kaya dan tetap bisa menikmati kekayaan itu. Kaya itu sebenarnya kan begitu. Maksud saya, bukan hanya kaya dengan materi tetapi juga kaya apresiasi pada kekayaan itu sendiri. Itu baru canggih. Kalau tidak begitu, apa gunanya kaya, betul-tidak Guru? Koreksi saya kalau keliru!”

Dukun nampak susah.

“Habis dulu bilangnya mau kaya, bukan mau bahagia.”
“Ya! Pokoknya saya mau yang itu!”
“Itu namanya bahagia, Raden Mas. bukan kaya. Bahagia itu bisa kaya, bisa juga miskin. Kaya dan bahagia itu agak beda.”
“Sekarang mau kaya dan bahagia, begitu?”
“Persis!”
“Bukannya miskin tapi bahagia?”
“Bener Guru!”
“Tapi kalau mau bahagia, itu, biasanya miskin. Dan kalau kaya, itu, biasanya tidak bahagia. Coba kalau tidak percaya. Nih saya perlihatkan buku pegangan saya. Tapi jangan bilang-bilang sama orang lain Raden pernah melihat buku ini!”

Dukun membongkar peti, lalu mengeluarkan sebuah buku tua. Buku bulukan dan ditulis dalam aksara yang tidak bisa dibaca oleh Raden Mas Alung.

“Nih coba lihat!”

Raden Mas Alung memperhatikan buku itu dengan kecewa.

“Saya tidak bisa baca yang beginian, Guru!”
“Saya juga tidak. Ini buku warisan. Tapi kata orang tua saya, isinya memang begitu. Tapi coba nanti saya baca-baca lagi, mungkin ada yang terlewat. Siapa tahu, permintaan Raden Mas Alung masih bisa diakali. Mestinya bisa. Tapi biasanya pakai syarat lagi. Dan biasanya syaratnya makin lama makin sarat”.
“Kalau begitu bagus. Apa sajalah syaratnya, saya sanggup!”

Dukun memejamkan mata. Tiga detik kemudian ia tersenyum.

“Memang bisa!”
“Betul?”
“Bisa, bisa diatur. Tapi harus dipastikan dulu permintaannya, supaya nanti jangan bolak-balik lagi. Ini perjalanan nasib, beda dengan pita tape yang bisa seenaknya di-rewind. Sekarang jawab dulu, Raden Mas Alung sebenarnya mau apa coba. Mau kaya? Mau bahagia? Atau mau kombinasi keduanya? Kaya yang bahagia? Atau bahagia yang kaya?”

Alung berpikir.

“Tidak boleh salah lagi. Sekali pilih mesti berani tanggung resiko! Gimana? Kaya yang bahagia? Atau bahagia yang kaya?”

Alung merenung dalam-dalam.

“Boleh minta waktu berpikir?”
“Silakan!”
“Berapa lama?”

Dukun tertawa.

“Terserah Raden Mas. Ini nasib, bukan olahraga. Tidak ada batasan waktu. Silakan yang tenang saja berpikir. Ada orang bisa berpikir cepat. Biasanya para jenius. Ada orang berpikir seumur hidup dan hasilnya tidak ada. Orang gila malah tidak pernah berpikir, karena dia sudah tahu itu tidak ada gunanya. Oke Raden Mas. Boleh pulang dulu, kalau belum bisa memutuskan. Nasib Anda itu sabar menunggu, keputusan Anda. Semua nasib orang lain juga sabar begitu!”

Alung terhenyak di kursi.

“Ya Tuhan, kalau saja aku tahu mana yang lebih baik,” bisik Alung, “aku tidak tahu mana yang lebih menguntungkan! Aku tidak mau menyesal. Aku mau semua yang sekarang belum ada. Aku tidak mau merasa bahwa ada yang belum ada. Itu tragedi. Aku ingin sempurna. Ya kaya. Ya bahagia. Ya, aku tidak mau merasa kekurangan apa-apa.”

Dukun seperti mendengar suara hati Alung.

“Bagaimana Raden Mas?”
“Gimana ya? Pokoknya Guru, saya percaya deh, bikin begitu rupa, supaya Raden Mas ini tidak usah datang lagi kemari. Guru kan pasti bisa melihat apa kekurangan saya sekarang! Bisa kan?”

Dukun komat-kamit sebentar.

“Saya bisa melihat, tapi masalahnya, Raden Mas setuju tidak dengan apa yang saya lihat?”

Alung tercengang.

“Guru melihat kekurangan saya?”
“Ya!”
“Kalau begitu sikat dong!”
“Oke bisa! Tapi jangan nyesel!”

Alung tercengang.

“Apa kekurangan saya Guru?”
“Raden Mas Alung ini mungkin merindukan mati”.
“Apa? Mati!”
“Ya Tuhan! Masak begitu Guru!”

Alung kelihatan gemetar. Dukun tenang saja.

“Memang begitu. Orang yang seperti Raden Mas ini ingin kesempurnaan. Tapi di dunia ini, satu-satunya yang tak ada adalah kesempurnaan. Jadi saya simpulkan Raden Mas ini sudah putus asa. Orang yang sudah segan hidup!”

Alung terbelalak.

“Maaf Guru, saya kira Guru keliru. Saya ini, demi Tuhan, sumpah, saya adalah orang yang mencintai kehidupan. Hidup ini begitu indah. Hidup ini begitu bertambah indah setiap hari. Ada peperangan. Ada penderitaan. Ada kekecewaaan. Tapi semuanya kemudian bisa diproses dan diselesaikan dengan baik. Hidup ini sempurna dan cantik. Hidup ini sebuah karya yang maha sempurna, Guru!”

Dukun mengangguk-angguk.

“Ya kalau sudah begitu, terima dong, Raden Mas!”

Alung seperti orang keselek.

“Memang saya terima, Guru.”
“Jadi kalau begitu beres?”

Tiba-tiba Alung menangis.

“Saya terima Guru. Tapi boleh dong, boleh dong saya merasa tidak puas. Hanya merasa saja. Saya mencintai hidup ini. Saya tidak membencinya. Saya tidak putus-asa! Saya hanya menggerundel. Itu kebahagiaan saya satu-satunya sekarang.”

Dukun termenung.

“Sekarang saya melihat perubahan pada hidup Raden Mas.”

Alung menatap dukun.

“Perubahan apa?”
“Saya kira, Raden Mas sekarang punya bakat jadi orang kaya!”
“O ya, begitu ya?”
“Ya!”
“Pasti?”
“Pasti!”
“Bagaimana Guru bisa pasti?”
“Karena hanya orang-orang kaya yang suka menggerundel. Itu bakat alam. Orang miskin bisanya nrimo dan pasrah. Itu yang membuat mereka miskin. Orang kaya itu selalu menuntut dan minta, itu yang membuat mereka kaya. Selamat Raden Mas!”

Alung seperti orang linglung.

“Guru,” katanya kemudian lirih, “Tolong cabut saja bakat-bakat itu biar aku bahagia!”

Dukun tercengang. Ia ragu.

“Ayo Guru! Biarkan aku miskin lagi. Buat apa kaya kalau tidak bahagia. Lebih baik miskin asal bahagia! Cepetan! Aku pulang sekarang. Tapi jangan lupa, kembalikan aku pada jatidiriku yang semula! Nih untuk beli mobil!”

Alung pulang sambil meninggalkan cek yang cukup untuk membeli BMW Dukun terhenyak. Tapi karena dipaksa, ia tidak bisa berbuat lain, ia tak boleh menolak permintaan pasiennya. Itu syarat ketika ia menerima wangsit untuk praktek dukun.

Permintaan Raden Mas Alung untuk jadi miskin —seperti juga permintaannya yang pertama, untuk kaya— terlaksana. Persis seperti yang dijanjikan, bahkan sebelum tiga bulan, Alung sudah bangkrut. Ia kembali jadi kere.

Tapi anehnya, begitu kere, Alung terbang kembali mengunjungi dukun. Dengan nafas ngos-ngosan ia nyerobot antrean panjang, iangsung menghadap gurunya itu.

“Lu gila, Duk! Masa cepet banget! Belum tiga bulan, gua udah miskin lagi. Padahal keputusan gua dulu itu kan hanya emosi. Emosi biasanya perlu dipikirkan lagi. Orang yang berada dalam pengaruh emosi itu, otomatis orang yang tidak mampu berpikir. Di dalam hukum, dia dianggap orang yang berada di dalam pengampuan. Seperti juga di pengadilan, orang tidak bisa dihukum atas keputusan dan perbuatan-perbuatannya di dalam keadaan mabok. Aku kan juga begitu. Setelah sampai di rumah gua baru tenang berpikir. Lalu gua menyesal. Meskipun tidak bahagia, masih enakan kaya. Daripada jadi kere. Katanya saja bahagia, tapi tidak ada bukti nyata, buat apa! Gua nggak mau miskin lagi, sudah kenyang. Eh, baru mau ngomong elu sudah bertindak. Miskin lagi dah sekarang. Gimana sih? Jangan ekspres begitu. Lamain dikit dong, biar ada think dan rethink.”

Dukun komat-kamit lagi. Lama sekali. Bahkan terlalu lama. Alung jadi penasaran. Ia menyenggol kaki dukun itu dengan keras.

“Hee gimana? Jangan tidur dong!”

Si Dukun memang hampir saja terseret tidur. Ia cepat membuka mata dan menatap Alung. Darah tinggi Alung meluap. la mendampratnya.

“Bisa nggak, Duk?”
“Beres!”
“Masak?!”
“Sumpah!”

Alung tercengang.

“Jadi bisa direwind, kembali seperti dulu?”
“Bisa. Tapi semuanya atau separuh gulungan!”
“Semua!?”

Dukun mengernyitkan alisnya.

“Semua itu berarti, kamu akan kembali ke masa ketika kamu masih miskin dan datang kemari supaya bisa kaya. Sampai di situ, betul?”
“Oh nggak dong! Salah! Enak aja. Sampai gua kaya saja!”
“Oh itu. Sampai ketika kamu sudah kaya dan tidak bahagia? Lalu putus asa dan ingin mati?”

Alung cepat memotong.

“Gila, jangan! Itu namanya goblok! Sampai ketika gua baru kaya-kayanya. Ketika enak-enaknya. Mau mobil, beli. Mau rumah, sikat! Mau tanah, caplokl Mau apa saja, beres!”
“Ketika lagi kemaruk-kemaruknya?”
“Ya boleh saja pakai istilah itu. Waktu uang mulai mengalir. Karena sudah lama miskin, jadi uang dan segala materi itu masih dinikmati betul keindahannya. Masih dihayati betul seiris-demi seiris kepuasannya! Ketika uang masih perawan. Cepat, kembalikan aku ke momentum yang luar biasa itu.”

Dukun cepat melakukan semedi.

“Oke bisa!”

Alung tercengang.

“Yang bener. Kok cepet bener!”
“Udah. Otomatis. Ini pakai mesin ‘mega –turbo’ kok!”

Alung terhenyak. Ia tak percaya.

“Kalau tak percaya, coba saja renungkan, rasakan!”

Alung buru-buru memperbaiki duduknya. Ia mengumpulkan konsentrasi untuk menyelami perasaannya sendiri. Ia berkontemplasi untuk menguji. Ia mencoba melihat dan menilai dirinya.

“Fantastis!” teriaknya kemudian sampai banyak orang kaget. “Lu bener Guru! Semua permintaan saya sudah dikabulkan. Saya peka lagi kepada keindahan rupiah, kepada keindahan mobil, makan sea-food, kepada rumah mewah, kepada kecantikan wanita, kepada keindahan hidup. Aduh, kok bisa begini, seluruh perasaan-perasaannya sempurna. Begitu sempurna. Aku seperti orgasme terus-menerus. Nikmat, nikmat sekali dan lama, lama lagi, terus-menerus, sambung menyambung. Ini keindahan dan kenikmatan yang abadi. Aduh, aduh, aduhhhhhhhhh!”

Alung merintih kenikmatan.

Seperti linglung Alung keluar. Terhuyung-huyung dihajar oleh kenikmatannya. Ia mabok oleh rasa bahagia. Ia terbakar oleh rasa lezat. Ia terguncang-guncang oleh rasa enak. Tak percaya tapi nyata.

“Aduh, aduh, aduhhhhhhh....”

Alung pulang. Semua yang tidak ada sudah ada. Tak pernah lagi ada saat bahwa ada yang tak ada. Ia berada di puncak. Alung bertengger di ujung tanduk. Tak seorang pun yang bisa seperti Alung, seperti Raden Mas Alung yang beruntung. Karena di tempat itu hanya tersedia satu kursi buat satu pantat orang. Kursi itu milik Alung.

“Aduhhhhhhh, aduhhhhhhh, enak.”

Tapi ketika Raden Mas Alung menoleh ke sekitarnya, ia tercengang. Ia merasa seperti gamang, di awang-awang. Segalanya begitu lembut.

“Di mana sih aku ini?” tanyanya tiba-tiba.

Tak ada yang menjawab suaranya.

“Apakah aku sudah mati?”

Tidak ada jawaban.

“Tapi aku tidak minta kesempurnaan. Aku hanya minta kenikmatan, jangan salah! Stop sampai pada kenikmatan saja! Di mana aku sekarang?”

Tetap tidak ada jawaban.

“Hee! Aku tidak ingin selesai. Aku tidak mau berhenti!”

Masih tetap tidak ada jawaban. Raden Mas Alung jadi penasaran. Ia buru-buru kembali ke dukun.

Dukun yang baru saja hendak menutup kamar praktek tercengang, ia seperti tak percaya melihat kedatangan Alung.

“Lho belum sampai satu jam, kok sudah kembali?”
“Habis, aku tidak tahu aku di mana sekarang?”
“Katanya minta di-rewind, kan sudah?”
“Ya, tapi d; mana ini?”
“O ingin tahu peta lokasi?”
“Ya dong! Lokasinya di mana ini?”

Dukun termenung.

“Masak dukun tidak tahu? Ini kan semua usaha Guru?”
“Saya tahu Raden Mas. Tapi...”.
“Tapi kamu tidak mau mengatakan?!”
“Bukan. Saya takut, nanti kalau Raden Mas tahu, Raden Mas tidak akan suka. Kalau tidak suka, nanti segala yang enak bisa berubah jadi tidak enak! Ada baiknya tidak tahu”
“Ah Guru jangan berfilsafat begitu. Aku ingin bahagia. Bagaimana bisa bahagia kalau aku tahu bahwa aku tidak tahu? Peta lokasi itu justru akan menambahku lebih bisa merasakan kebahagiaan ini, Guru. Percayalah! Di mana aku sekarang Guru, jangan begitu dong. Kalau menolong jangan tanggung-tanggung!”

Dukun memejamkan mata. Dan seperti biasa, lalu cepat membukanya.

“Di mana Guru?”
“Dalam mimpi”.
“Mimpi?”
“Ya. Mimpi. Seperti seratus delapan puluh juta orang lain itu!”

Putu Wijaya
Jakarta, 29-7-91


Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru