Kali for Women: Fenomena Penerbitan Perempuan India

Posted by Cinta Buku on

Wacana Perempuan
Perempuan dan buku nyaris mempakan simbiotik yang utopis di India dua puluh tahun lalu, meskipun, seperti yang diungkapkan oleh Surabhi Khosla, seorang tokoh feminis India, telah berabad lamanya perempuan secara tidak resmi berperan sebagai storytellers di berbagai generasi, yakni sebagai pencerita dongeng-dongeng sebelum tidur atau kisah-kisah bijak bagi anak-anak atau cucu mereka. Akan tetapi, ketika sampai pada aktivitas dokumentasi, laki-lakilah yang secara historis terlihat mendominasi.

Kultur India memegang peran penting dalam hal ini. Misalnya, seperti yang diamati Urvashi Butalia ketika ia melakukan berbagai wawancara untuk penulisan bukunya Sisi Balik Senyap sebagai berikut.

Fakta bahwa kebanyakan wawancara berlangsung dalam situasi keluarga juga berarti bahwa perempuan jarang sendirian ketika berbicara dengan kami. Sering kali wawancara harus dilakukan di celah-celah sempit waktu luang yang tersedia bagi perempuan di antara tugas-tugas rumah tangga sehari-hari. Juga, jika ada suami atau anak lelakinya, wawancara cenderung diambil alih oleh mereka, secara kurang sadar dan tidak sengaja atau sebaliknya, sehingga perempuan menyurutkan diri ke semacam kebisuan. Ini bukanlah hal yang tidak lazim —banyak ahli sejarah lisan telah menulis tentang sulitnya berbicara kepada dan dengan perempuan, sulitnya belajar untuk sungguh-sungguh mendengarkan dengan cara lain, sering kali harus menyimak nuansa tersembunyi, hal kebisuan yang terkadang lebih fasih dan micara daripada tuturan. Dalam hal mendengarkan perempuan, kupikir tidaklah sama jika itu terjadi antara perempuan dan perempuan, dan antara laki-laki dan perempuan.

Urvashi juga menemukan suatu perbedaan besar antara tuturan laki-laki dan tuturan perempuan:

Ketika kuulang membaca wawancara-wawancara itu, yang kutemukan mencolok ialah adanya perbedaan tertentu yang sangat jelas antara tuturan laki-laki dan tuturan perempuan. Jadi apakah hal seperti penceritaan menurut gender tentang Pemisahan India memang ada? Aku menjadi dapat mengenal hal ini dalam cara perempuan menempatkan, nyaris secara seketika, kejadian besar dan penting —Pemisahan itu— dalam hal-hal kecil di kehidupan mereka. Dari para perempuan kuketahui tentang rincian sekecil-kecilnya dari kehidupan mereka, sementara sebagian terbesar laki-laki berbicara tentang relasi antarkomunitas, realitas politik dalam lingkup luas. Jarang terjadi bahwa laki-laki yang diwawancara akan berbicara tentang seorang anaknya yang hilang atau terbunuh, sedangkan untuk perempuan referensi semacam itu tidak pernah terhapus dengan cara apa pun.

Selain aspek “rasa”, atau sentimentalitas, juga kecenderungan perhatian pada hal-hal yang “kecil”, sederhana —terlepas dari penting atau tidaknya mengungkap aspek-aspek tersebut— yang menyebabkan visi perempuan sering diabaikan, dipandang tidak cukup layak atau “bernilai” untuk dipublikasikan atau menjadi wacana di dunia perbukuan, faktor kultur juga memegang peranan penting. Walaupun di India saat ini telah cukup banyak perempuan yang menduduki jabatan-jabatan penting, atau memiliki profesi “laki-laki”, kultur India tetap memiliki semacam “sekat” yang tak bisa diterobos oleh perempuan untuk mendapatkan “penghargaan” atau “kesetaraan” sebagaimana yang seharusnya.

Fenomena semacam ini tentu saja membuat para aktivis gerakan perempuan “terserang demam”. Oleh karena itu, seiring dengan maraknya gerakan perempuan, rumah-rumah penerbitan feminis pun mulai bermunculan untuk memenuhi “kebutuhan” para perempuan dan organisasi gerakan perempuan -menyediakan ruang bagi “suara” perempuan.

Kali for Women: Urvashi Butalia
Serupa dengan Indonesia, dunia penerbitan India pun harus menghadapi persoalan-persoalan tipikal penerbitan di negara Dunia Ketiga: kemiskinan yang kemudian berpengaruh pada daya beli, minat baca yang sangat rendah, dan sumber daya manusia yang kurang profesional. Persoalan ini masih ditambah lagi dengan “kendala bahasa” yang kompleks. India adalah negara dengan tingkat keragaman bahasa sangat tinggi tanpa bahasa persatuan yang mayoritas (dari sekitar 60.000 buku per tahun, 80 persen ditulis dalam bahasa-bahasa “mayoritas” di India (+17 bahasa) dan 15-20% yang ditulis dalam bahasa Inggris). Hal ini menyebabkan suatu buku hanya bisa dibaca oleh masyarakat pembaca terbatas, yakni pembaca yang bisa membaca dengan bahasa yang dipergunakan buku tersebut, Jumlah yang terbatas ini masih dikurangi lagi dengan persoalan mahalnya harga buku terutama buku-buku dalam bahasa Inggris yang merupakan bahasa mayoritas di kalangan terpelajar, yang diasumsikan sebagai konsumen buku terbesar.

Namun, keadaan ini agak terselamatkan dengan kebijakan pemerintah India untuk membuka diri dan memberikan peluang bagi penerbit-penerbit asing untuk mendirikan rumah penerbitan di India. Hadirnya cabang penerbitan besar dunia seperti Oxford, Longmann, Penguin, dan Zed paling tidak membawa keuntungan sebagai berikut: kesempatan bagi warga India untuk meningkatkan profesionalisme dengan peluang untuk bekerja —sekaligus belajar— di penerbitan besar, dikenalnya karya-karya anak negeri di mancanegara berkat penerbitan karya-karya mereka dalam bahasa Inggris yang dipasarkan secara intemasional, peluang untuk mengenal karya-karya penulis di berbagai belahan dunia dan kemungkinan untuk keep in touch dengan aktivitas atau tren intemasional.

Adanya kesinambungan yang cukup erat dengan aktivitas dan fenomena intemasional pula yang ikut mempengaruhi pendirian Kali for Women, rumah penerbitan perempuan yang pertama di India dan di wilayah Asia Selatan pada 1984. Pada saat itu, terjadi peningkatan tajam aktivitas gerakan feminisme di dunia, khususnya di Asia, yaitu mulai adanya perhatian pada aspek wacana dan ilmu pengetahuan mengenai perempuan yang ditandai dengan mulai adanya program studi khusus perempuan di perguruan tinggi dan semakin gencarnya penerbitan buku-buku dari dan tentang perempuan.

Keinginan untuk mendirikan Kali for Women ini juga berawal dari keterlibatan Urvashi Butalia dalam penyusunan daftar buku-buku Zed (sebuah penerbit tempat Urvashi bekerja sebagai editor dan manajer produksi) di negara-negara Dunia Ketiga dan riset yang dilakukannya tentang wacana perempuan di negara-negara tersebut. Ia menemukan adanya kekurangan yang serius mengenai wacana-wacana perempuan dan kemudian mengusulkan ke penerbit tempatnya bekerja untuk membuat suatu divisi khusus bagi wacana perempuan. Namun, usul tersebut ditolak karena pada waktu itu hampir tidak terlihat prospek yang cerah untuk jenis penerbitan demikian meskipun pada saat itu para aktivis perempuan mulai merasakan perlunya bacaan mengenai perempuan dan buku-buku itu tidak ditemukan di pasar India, kecuali buku-buku yang ditulis oleh penulis asing dalam bahasa Inggris yang harganya sangat mahal karena diperhitungkan sebagai produk impor.

Akhirnya, bersama sahabatnya Rittu Menon, Urvashi Butalia memulai usahanya yang serius dalam mengangkat taraf hidup perempuan India khususnya di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan partisipasi sosial dengan mendirikan Kali for Women. Kegiatan utama Kali for Women adalah menerbitkan buku yang ditujukan untuk kaum perempuan dan ditulis oleh perempuan dengan memfokuskan perhatian pada penulis-penulis dari negara-negara selatan, meliputi bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, bacaan non-fiksi umum, fiksi, buku akademik, buletin dan monograf (risalah/karangan ilmiah). Selain itu mereka juga menyediakan suatu forum untuk perempuan yang ditujukan untuk mengeksplorasi “suara” perempuan, membekali mereka dengan pendidikan yang relevan dan memberikan peluang serta dorongan untuk meningkatkan kreativitas mereka.

Tentu saja semua itu tidak mudah. Suara-suara yang meragukan sering bermunculan dari bangsa sendiri, atau sikap skeptis yang tak jarang justru muncul dari kalangan perempuan itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti, bagaimana mereka dapat survive, apakah mereka punya cukup penulis, apakah buku-buku tersebut akan terjual, atau apakah perempuan akan membacanya sering menjadi semacam teror yang melemahkan.

Untuk mengatasi hal itu, penerbitan Kali pada awalnya didominasi oleh buku-buku “teknis” tentang feminisme, buku-buku berorientasi akademik, dan penerbitan karya para aktivis yang tidak memerlukan banyak biaya, tetapi masih mampu menyuarakan wacana perempuan secara “serius” dan “relevan”. Kali juga menerbitkan buku-buku terjemahan ke dalam bahasa Inggris, kadang dengan dua versi, versi pertama untuk pasar luar negeri yang dijual dengan harga tinggi untuk menutup biaya produksi buku yang dijual di dalam negeri dengan harga murah. Penerjemahan ini juga memberikan keuntungan lain yang tak terduga, yaitu dikenalnya penulis-penulis perempuan India di mancanegara.

Fenomena nasional yang merupakan salah satu alasan berdirinya Kali, yakni mulai meningkatnya interest masyarakat kepada wacana perempuan yang diikuti dengan bermunculannya berbagai gerakan perempuan, serta mulai adanya studi khusus tentang perempuan di kampus-kampus, namun tidak diimbangi dengan tersedianya buku-buku yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut merupakan elemen yang penting artinya bagi distribusi buku-buku Kali. Aktivitas forum-forum perempuan yang diselenggarakan Kali for Women juga membantu membuat Kali ‘familiar’ bagi masyarakat pembacanya. Maka, buku-buku Kali yang harganya terjangkau dan tema-tema yang terjangkau dan tema-tema yang relevan kemudian menemukan pembacanya yang antusias.

Elemen lain yang tidak kalah penting adalah jaringan kerja yang sangat baik dengan organisasi feminis dan penerbitan lainnya. Beberapa yang cukup aktif adalah Bookindia.com, situs independen tentang dunia perbukuan, penulis-penulis India, penerbit dan editor Spinifex, penerbit feminis kontroversial di Australia, The Women’s Press, penerbitan perempuan terkemuka di Inggris dan lain-lain.

Urvashi Butalia sebagai direktur Kali for Women pun berangkat dari bekal kemampuan teknis yang baik. Selain memiliki kualifikasi yang bagus di bidang akademik —lulusan terbaik Magister of Literature di Delhi University dan meraih gelar master untuk program South Asian Studies dari School of Oriental and African Studies (SOAS) di University of London— Urvashi pun memiliki pengalaman profesional yang memadai di dunia perbukuan dan didukung pula dengan penguasaan berbagai bahasa —selain fasih berbicara dan menulis dalam bahasa-bahasa pokok di India Hindi, Inggris, Punjabi, dan Bengali, ia pun menguasai bahasa Prancis dan Italia— serta aktivitasnya yang intens di berbagai aktivitas gerakan perempuan.

Pada 1973-1978 bekerja sebagai Asisten Produksi dan kemudian menjadi Editor Produksi di Oxford University Press, New Delhi. Tanggungjawabnya meliputi pengerjaan desain buku, perkiraan harga, urusan produksi dan pencetakan, editing dan penggandaannya. Di tahun-tahun itu ia juga bekerja di salah satu bidang SOAS. Pada 1978 ia diangkat sebagai kepala bidang penerbitan di College of Vocational Studies, University of Delhi yang bertugas merancang dan menyelenggarakan pendidikan/pelatihan —sekaligus mengajar, memandu riset dan penelitian— tentang penerbitan buku. Pada 1982-1984 menjadi editor dan manajer produksi Zed Books, London. Ia ikut serta mengelola promosi buku-buku Zed mengenai politik, sejarah, budaya, ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga, dan juga ikut menyusun daftar buku tentang perempuan Dunia Ketiga —keterlibatannya dalam kerja penyusunan daftar inilah yang mengilhaminya untuk mendirikan Kali for Women.

Selama beberapa tahun (sejak pertengahan enam puluhan) Urvashi aktif terlibat dalam pergerakan perempuan India. Gerakan tersebut bermula dari kegiatan sekelompok aktivis kampus yang mengorganisasikan diri dalam suatu komunitas bernama Samta (artinya: Equality). Kelompok inilah yang pertama kali menerbitkan jurnal feminis Manushi tempat Urvashi bekerja sebagai editornya. Ia kemudian bergabung dengan Stree Sangharsh (Perlawanan Perempuan) di Delhi yang mengambil spesialisasi penentangan tindak kekerasan terhadap perempuan khususnya tentang persoalan mas kawin dan perkosaan. Kelompok ini menginginkan adanya suatu hukum atau pengadilan yang bertanggungjawab mengenai masalah mas kawin dan perkosaan dengan mendirikan semacam lembaga bantuan hukum dan pusat konseling tentang kekerasan perempuan. Urvashi juga ikut serta dalam penyelenggaraan konferensi nasional pergerakan wanita di Bombay (1980), Patna (1988), dan Kalkuta (1990).    

Ia banyak menulis dan berbicara di berbagai forum nasional dan internasional tentang tema-tema perempuan, demokrasi, pluralisme, komunikasi, media, fundamentalisme dan komunalisme serta pengaruh semuanya itu terhadap perempuan di tengah konflik-konflik sengit India yang terjadi selama ini. Secara teratur ia menulis untuk berbagai surat kabar, majalah, dan untuk buku-buku akademik. Ia juga menjadi penulis tetap di majalah internasional New Internationalist, juga untuk surat kabar web Indian Times. Ia juga menulis untuk masyarakat Hindu di Hindustan Times, Indian Express, dan lain-Iain.

Urvashi juga terlibat dalam kerja-kerja sosial dan penanganan di daerah konflik, selain sebagai sebagai konsultan, ia menjadi penyelenggara pertemuan dan dialog untuk perempuan antar zona konflik untuk mendengarkan mereka dan mencari solusi permasalahan. Dalam aktivitasnya ini, ia sekaligus melakukan riset (dengan menggunakan metode sejarah sesuai bidang ilmunya) dan menulis buku-buku. Salah satu buku terbaiknya adalah The Other Side of Silence: Voices from the Partition of India (Viking Penguin 1998, dan Durham, Duke University Press, 2000), Dalam rentang waktu tersebut buku itu telah dicetak ulang sebanyak lima kali di India, juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Cina, Hindi, Gujarat, Prancis, dan Indonesia.

Kualifikasi di atas mengisyaratkan bahwa, Kali for Women dikelola secara profesional dan oleh orang yang benar-benar memiliki kapasitas dan pengalaman yang prima, serta memilki jaringan luas yang didukung oleh aktivitas individu yang bekerja di dalamnya. Oleh karena itu, meskipun berawal dari kesederhanaan, Kali for Women tidak tumbuh besar dari “belas kasihan”, tetapi mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dalam menyumbangkan peran yang besar dalam peningkatan kehidupan perempuan tidak hanya di India tetapi juga menyebar luas ke mancanegara.

Hal ini selaras dengan pemilihan nama Kali. Nama Kali diambil dari nama Dewi Kekuatan (Goddes of Power) dalam tradisi Hindu. Kali adalah istri Siwa yang terusir secara sewenang dari Kahyangan. Dalam kemarahan dan dendamnya, ia berubah menjadi raseksi buruk rupa dan membangun sebuah komunitas mahajahat (dalam tradisi Jawa, mungkin ia seperti Uma, istri Siwa yang berubah menjadi Batari Durga kemudian mendirikan kerajaan siluman Setra Gandamayu) yang sangat kuat sebagai komunitas tandingan dari kerajaan dewa-dewa “baik” yang telah memperlakukannya dengan tidak adil. Dalam kisah Hindu itu, ia merupakan satu-satunya sosok penguasa perempuan (ratu) yang tidak didampingi pria dan memiliki kekuatan tak tertandingi. Kali adalah tokoh antagonis, mewakili kalangan hitam, sosoknya kasar dan menakutkan, namun memiliki sisi positif, yaitu tidak kenal menyerah dalam melawan apa saja yang menghalanginya untuk menciptakan suatu dunia baru. Simbol sosok yang lemah atau terpinggirkan, namun kemudian menunjukkan kekuatan luar biasa. Inilah landasan filosofis pemilihan nama Kali for Women, sebagaimana yang tampak pada logonya yang didominasi background hitam dengan ikon mata yang terlihat garang.

Wikan Satriati
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 3/Oktober 2002


Sumber Catatan
“The New Age of Woman Authors” di The South Asian.com. Februari 2002.
Sisi Balik Senyap karya Urvashi Butalia, Terj. Landung R. Simatupang, hlm. 19, Indonesiatera, 2002.
Sisi Balik Senyap, Urvashi Butalia, hlm. 20.
Wawancara langsung dengan Urvashi Butalia setelah acara peluncuran buku Sisi Balik Senyap, 2 Agustus 2002, di Yogyakarta.
“Women Writers and Publishers in South Asia” oleh Urvashi Butalia, ABD Quarterly Journals,Vol. 31, No. 4, 2001, hlm. 3.
Wawancara Urvashi Butalia.
http://www.kalibooks.com.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru