Jihad Akbar ala Hidayat Nataatmadja

Posted by Cinta Buku on

Secara resmi, Hidayat Nataatmadja menyandang predikat peneliti ahli di bidang ekonomi pertanian. Namun, ia gemar melakukan eksplorasi ke dunia yang berkaitan dengan filsafat ilmu. Setelah lama ''cuti'', tiba-tiba ia muncul lagi lewat buku barunya, Inteligensi Spiritual.

Di blantika pemikiran, Hidayat pernah membuat heboh pada 1982, dengan antara lain menggugat teori relativitas Albert Einstein. Ia pun mencoba mengurai argumennya lewat persamaan-persamaan matematik yang berhalaman-halaman. Namun, pemikirannya ''tak dipahami'' para fisikawan ataupun matematikawan.

Sebagai pemikir, dalam kurun 1982-1985, ia amat produktif dengan melemparkan tujuh buku karyanya. Sembilan tahun kemudian ia muncul lagi melalui Krisis Manusia Modern. Setelah itu, ia seperti kelelahan dan nyaris dilupakan hingga hadir Inteligensi Spiritual ini. Buku ini mengingatkan pembacanya atas sosok berpembawaan kalem namun mampu meledak-ledak di ruang seminar.

Buku ini masih berkutat tentang ilmu-ilmu objektif semacam fisika, ilmu ekonomi, atau psikologi. Kata Hidayat, ilmu-ilmu objektif itu mengandung inkonsistensi logika. Cabang keilmuan itu sering tak sesuai satu sama lain. ''Karena adanya paradigma yang mendasari masing-masing disiplin ilmu itu,'' ujar Hidayat.

Menurut pandangannya, adalah sia-sia memperbaiki ilmu sosial tanpa lebih dulu melihat kesalahan mendasar pada ilmu ''kebendaan'', khususnya fisika. Hal itu, katanya pula, terjadi karena ilmu berinduk pada ilmu kebendaan. Memang, ilmu kebendaan punya kelebihan yang tidak bisa diikuti ilmu-ilmu sosial. ''Yakni dalam verifikasi empiris,'' tulisnya di halaman 210.

Maka, meski landasan teorinya keliru, fisikawan selalu bisa menguji satu teknik secara empiris agar sesuai dengan level kesalahan yang tak membawa masalah. Contohnya, mustahil fisikawan bisa membuat as roda berdiameter 5 sentimeter tanpa kesalahan. Tapi, mereka bisa membuatnya dengan kesalahan cuma 0,005 sentimeter, misalnya. ''Mereka bilang, penyimpangan seperti itu tidak menimbulkan masalah,'' ia memaparkan.

Dalam ilmu sosial, verifikasi empiris jauh lebih sulit. ''Tidak ada jalan lain kecuali memperkuat jalur validasi fitriyah,'' katanya. Maka, dalam urusan ini, katanya pula, ilmu sosial mempunyai peluang jauh lebih besar untuk menimba ilmu dari kandungan Al-Quran dan sunah.

Tanpa memperkuat validasi fitriyah, banyak konsep, sebutlah pasar bebas yang disebutnya tak pernah terbukti berhasil secara empiris, terus dipaksakan selama ratusan tahun. Contoh lain adalah demokrasi, yang hanya bisa diterapkan di Barat melalui trial and error selama ratusan tahun. ''Itu sebabnya, negara-negara berkembang pun hanya bisa menerapkan trial and error dengan segala konsekuensinya,'' katanya.

Hidayat menawarkan konsep kembali pada Al-Quran yang tidak sebatas retorika. ''Harus benar-benar dijalankan,'' katanya. Ia menyebut para pembaharu Islam seperti Jamaluddin al-Afghani sampai Muhammad Abduh, dari Rasyid Ridha sampai Muhammad Iqbal. Mereka melawan suffisance atau merasa kecukupan. Merasa cukup dengan akal tanpa wahyu (ala Barat), atau merasa cukup dengan apa adanya yang dilakukan kaum beragama. ''Sikap ini akibat sikap dan cara berpikir objektif-ilmiah belaka,'' ujarnya pula.

Karena itu, menurut Hidayat, umat Islam cuma bisa bangkit bila berjuang mengembalikan Islam pada sumbernya yang asli. Yakni, Islam yang hidup, kreatif, dan dinamis. Rumus yang dipakai adalah jihad dan ijtihad. Dengan jihad melalui dekonstruksi dan rekonstruksi paradigma terhadap ilmu pengetahuan modern dengan rukun iman sebagai paradigma ilmu pengetahuan baru, berarti terciptanya buah pikiran --hasil ijtihad yang benar-- yaitu ilmu pengetahuan Islami.

Buah pikiran yang benar, kata Hidayat, hanya bisa tercipta lewat pikiran yang benar. ''Pikiran cuma bisa dikatakan benar kalau berpijak pada rukun iman atau wahyu,'' katanya. Inovasi Hidayat adalah mengubah cara berpikir objektif-rasional ke cara berpikir agamawi yang berpijak pada sumber-sumber wahyu. Menurut Hidayat, ini jihad akbar yang di dalamnya terkandung ijtihad.

Bukan Filsuf Politik
Dalam usianya yang hampir 71 tahun, ia masih energik. Bicaranya ceplas-ceplos. Hampir tak berubah sejak publik mengenalnya sebagai ilmuwan unik pada 1982. Ia terus mempertanyakan kemapaman perspektif ilmu, bahkan filsafat ilmu. Dialah Dr. Hidayat Nataatmadja.

Ia lahir di Serang, Banten, 15 September 1932, sebagai anak keempat dari enam bersaudara yang tumbuh dalam kultur Islam yang kental. Kedua orangtuanya guru. Cita-citanya ketika remaja adalah menjadi fisikawan.

Namun, perjalanan membawanya ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia lulus tahun 1962 sebagai sarjana pertanian. Lepas dari IPB, Hidayat mengajar di Sekolah Menengah Pertanian Atas Bogor (1962-1964). Di sekolah ini pula Prof. Andi Hakim Nasution (almarhum), mantan Rektor IPB, mengajar. Pada 1964, ia dipromosikan menjadi sekretaris di Akademi Pertanian Ciawi, Bogor, sampai 1968, saat ia mendapat beasiswa untuk belajar di University of Hawaii di bidang ekonomi pertanian. Ia lulus pada 1974.

Setelah meraih gelar doktor ekonomi pertanian, Hidayat kembali ke Bogor. Tapi, kali ini ia ditugaskan di lembaga penelitian ekonomi di bawah Departemen Pertanian. Ia pernah menjabat Kepala Bidang Penyaluran Hasil Penelitian di Pusat Penelitian Agro Ekonomi, lembaga di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian.

Gelar doktor pertanian tidak menghalanginya terus menekuni ilmu fisika murni, juga ilmu sosial. Pada 1974 sampai 1977, Hidayat mengutak-atik beragam teori. Sikap kritisnya terhadap pemikiran keilmuan muncul. Pada 1977, ia mengklaim menemukan teori yang disebutnya eigen frame physics, yang didasarkan pada prinsip keunikan sistem kedirian. ''Pada saat itu, saya melihat prospek untuk memugar ilmu-ilmu sosial didasarkan pada prinsip keunikan sistem kedirian itu,'' katanya. Teori-teorinya juga didasarkan pada Al-Quran dan hadis Nabi.

Tapi, gayung tak bersambut. Pemikirannya tidak digubris orang. Ia kemudian mulai menuliskannya secara sistematis. Maka, pada 1982, dua bukunya pun meluncur terbit, Karsa Menegakkan Jiwa Agama dalam Dunia Ilmiah dan Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (Al-Furqan). ''Tahun 1982 adalah babak baru bagi saya, buku-buku itu diterbitkan, dengan gaya psy-war!'' katanya sembari terkekeh.

Berkat kedua buku itulah nama Hidayat mulai diperbincangkan banyak orang. Ayah lima anak ini akhirnya laris manis diundang ke berbagai forum, baik di lingkungan dunia akademis, pemuda, maupun pesantren. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku ketiganya, Membangun Ilmu Pengetahuan Berlandaskan Ideologi (Al-Bayyinah). Di situ, ia meledek pemikiran sejumlah pakar, seperti Jujun S. Suriasumantri, Arief Budiman, dan Dawam Rahardjo.

Dawam, misalnya, dinilainya cuma gudang referensi. ''Saya tidak berhasil melihat Dawam yang sesungguhnya,'' katanya. Ia menilainya cuma pengumpul referensi, tapi pikirannya sendiri tak pernah muncul.

Di buku ketiganya, ia mendorong Pancasila Goes International agar bisa dinikmati masyarakat dunia. Ia tidak peduli pada kondisi politik ketika itu yang penuh penolakan terhadap upaya ''pemaksaan asas tunggal'' Pancasila sebagai referensi politik. Kalangan aktivis Islam menuduhnya corong pemerintah. ''Padahal, pendekatan saya murni ilmiah. Saya tak paham politik, dan saya tak berhitung untuk politik,'' katanya.

Sejak buku ketiga itu terbit, Hidayat mulai jarang diundang bicara di berbagai forum. Ia merasa dikucilkan, tapi tetap menulis. Sampai 1985, tujuh bukunya diterbitkan. Baru sembilan tahun kemudian, 1994, satu buku lagi terbit, Krisis Manusia Modern. Setelah itu, ia seperti raib.

Maka, ketika Inteligensi Spiritual terbit, orang seakan diingatkan kembali akan keberadaan makhluk yang namanya Hidayat Nataatmadja. ''Ada lima buku lagi yang siap terbit,'' kata Amir Kumadin, Direktur Penerbit Intuisi Press, yang diberi hak menerbitkan karya-karya Hidayat.

Kini, di rumahnya yang asri di Cimanggu, Bogor, suami Ruhaniyah itu terus menulis. ''Hobi saya satu-satunya, ya, berpikir dan menulis,'' ujarnya. Saat GATRA bertandang ke rumahnya, Selasa pekan lalu, ia menunjukkan lebih dari 50 tema yang sudah ditulisnya, dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Ia merasa sebagai filsuf yang tak boleh berhenti berpikir. ''Kalau tidak ada respons, ya, santai saja,'' katanya, sambil terkekeh.

Herry Mohammad
Majalah Gatra edisi 20 / IX / 5 April 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru