Hasrat Kartini dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

Posted by Cinta Buku on

Stella,
Jika aku mempunyai anak nanti,
baik laki-laki maupun perempuan,
maka anak itu akan kudidik
sesuai dengan kehendak hatiku.
Akan kubuang kebiasaan buruk
yang melebihkan anak laki-laki
daripada anak perempuan....

Tekad Raden Ajeng (RA) Kartini yang tergores dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, sahabat penanya dari Belanda, itu tak kesampaian. Ia keburu dijemput maut, ketika putra pertamanya berusia empat hari. Kartini meninggal di kediamannya, di Rembang, Jawa Tengah, 13 November 1904, kala usianya 25 tahun lewat enam bulan dan 13 hari.

Namun, bukan berarti keinginan Kartini menjadi sia-sia. Itu justru dinikmati oleh puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan perempuan yang hidup setelah era Kartini. Budaya feodal yang membelenggu hak perempuan, lambat laun runtuh oleh hasrat Kartini yang tertuang dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku itu memang sekadar kumpulan surat-menyurat Kartini dengan beberapa sahabatnya. Berisi seputar keluh kesah, kegemasan, kejengkelan, hingga harapan dan cita-cita untuk mengangkat derajat kaum perempuan. Bukan cerita tentang jatuh-bangunnya praktek perjuangan emansipasi yang sesungguhnya. Walau sebatas "keinginan", buku itu telah menerangi kaum perempuan dari kegelapan.

Tak kurang, pemerintah sendiri mengakui jasa besar Kartini terhadap perbaikan nasib perempuan Indonesia. Sehingga, ia dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan, pada 1964. Tanggal kelahirannya, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini.

Lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, Kartini merupakan anak kelima dari 11 bersaudara. Ia berasal dari lingkungan keluarga priayi. Ayahnya, Raden Mas Sosroningrat, adalah asisten wedana yang kemudian menjadi Bupati Jepara. Sebagai keluarga bangsawan, sejak kecil Kartini sudah diajari adat dan tata krama Jawa kolot. Kepada yang lebih tua atau yang kelas sosialnya lebih tinggi, harus menyembah. Dalam bicara pun, tutur katanya mesti halus.

Bagi Kartini, tata krama itu sungguh mengherankan. Pernah, pada suatu hari, Kartini kecil sedang bermain dengan Mbok Rami, pengasuhnya, di kebun bunga. Tiba-tiba, datang R.A. Sulastri, kakak Kartini. Seketika itu, juga Mbok Rami --yang usianya jauh lebih sepuh-- menyembah, sambil menyuruh Kartini melakukan tindakan serupa. Kartini menurut saja. Tapi, saat sang kakak berlalu, ia bertanya, "Mengapa saya harus menyembah kepada Mbakyu, Mbok?"

Pemberontakan terhadap kungkungan adat seakan terlampiaskan kala Kartini sekolah di Europese Lagere School. Di situ ia bertemu dengan anak-anak Belanda Indo, dan sedikit sinyo totok, yang punya budaya bebas. Di sekolah, Kartini bak ikan ketemu air. Ia bisa bermain sesuka hati, bercanda, loncat ke sana kemari, dan tertawa terbahak-bahak bila menemukan hal yang lucu. Karena pembawaanya itulah, Kartini mendapat panggilan "Trinil", nama seekor burung yang lincah.

Suatu pagi, saat usianya 12 setengah tahun dan baru lulus dari Sekolah Rendah, keceriaan Trinil tiba-tiba sirna. Kedua adiknya, Rukmini dan Kardinah, terheran-heran melihat sang kakak tak mau beranjak dari peraduan. Padahal, hari sudah siang. Kedua adik Kartini itu semakin terkejut ketika melihat kedua mata sang mbakyu sembap. "Mengapa Yu menangis?" Kardinah bertanya. Dengan suara pelan, Kartini menyahut: "Saya tidak boleh sekolah lagi."

Ayahnya, Sosroningrat, telah begitu saja merenggut cita-cita Kartini untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Bahkan, ketika permintaan Kartini melunak, hanya ingin meneruskan ke HIS di Semarang, sang ayah tetap menggelengkan kepala. Sang bupati lebih tunduk kepada adat kolot: perempuan yang telah menamatkan sekolah rendah harus dipingit.

Selama masa pingitan, perempuan ningrat harus digembleng dengan adat istiadat adiluhung sehingga menjadi putri bangsawan sejati. Bicaranya harus halus dan lirih, tak boleh tertawa, hanya boleh tersenyum dengan bibir tetap rapat, berjalan perlahan-lahan, berjongkok, dan menundukkan kepala tiap kali anggota keluarga yang lebih tua lewat, serta harus dapat "mlaku ndodok" atawa berjalan sambil jongkok.

Sungguh suatu aturan yang menyiksa Kartini, karena bertentangan dengan jiwa dan pembawaannya. Suasana bak di neraka itu harus dijalaninya sendirian selama empat tahun. Sosok Trinil si periang pun sirna, terkurung dalam "sangkar" adat kolot. Jika sudah tak kuat lagi menahan derita, Kartini hanya bisa menangis.

Tetapi, lambat laun Kartini sadar. Tak ada gunanya meratapi nasib. Ia mulai memanfaatkan waktu untuk mengupas pertanyaan-pertanyaan yang menyesaki kepalanya. Kenapa mesti ada adat kuno yang memusuhi perempuan bangsawan? Kenapa kaum perempuan begitu bodoh sehingga tak kuasa melawat adat? Kenapa kaum perempuan harus dipersunting oleh pria bukan pilihannya, sekalipun harus dimadu?

Kartini terus-menerus mencari jawaban. Beragam buku bacaan yang disediakan sang ayah sedikit demi sedikit membuka wawasannya. Satu di antara setumpuk buku yang mempengaruhinya adalah karya Pandita Ramabai, tokoh pergerakan perempuan dari India. Berkat buku itulah pikiran Kartini terbuka: bahwa perempuan pun punya hak yang sama dengan kaum pria, dalam segala sendi kehidupan.

Kartini semakin bergairah ketika kedua adiknya, Rukmini dan Kardinah, memasuki masa dipingit. Mereka ditempatkan dalam satu kamar. Kartini pun mengakhiri kesendirian yang telah menyelimutinya selama empat tahun. Kepada adik-adiknya, Kartini membuang jauh-jauh tata krama kuno yang mengharuskan sang adik menyembah kakak. Ia bahkan mengajak Rukmini dan Kardinah untuk berdiskusi. Memecahkan persoalan kaumnya secara bersama-sama.

Seabrek cita-cita pun muncul dari Het Klaverbad (Daun Semanggi) --demikian ketiga putri bupati itu menamakan diri-- yang juga bisa diartikan "tiga serangkai". Hasrat untuk melanjutkan sekolah ke Belanda pun kembali menyala. Agar kelak, setelah lulus, mereka bisa jadi guru bagi kaumnya. Agar perempuan terangkat dari kegelapan. Tidak lagi pasrah menjadi istri kedua, ketiga, bahkan kesekian.

Maka, ketika bebas dari pingitan, 1898, Kartini kembali mendesak ayahnya, mohon diluluskan menimba ilmu di Negeri Belanda. Saking ngebetnya, Kartini juga berkirim surat ke Mr. J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Isinya mohon bantuan untuk dapat subsidi.

Keberangkatan Kartini ke Belanda sebetulnya sudah di pelupuk mata. Setelah menunggu beberapa tahun, permohonan subsidinya diterima. Ayah dan ibunya pun sudah memberi lampu hijau. Namun, pembicaraan Kartini dengan Abendanon di pemandian Klein Scheveningen, Jepara, di penghujung Januari 1903, meruntuhkan cita-cita yang sudah diperjuangkan begitu panjang. Kartini ternyata mau menerima begitu saja saran Abendanon agar kepergiannya ke Belanda dibatalkan. Ia juga setuju untuk membuat surat permohonan bersekolah di Batavia saja.

Selama menunggu permohonannya dapat balasan, akhirnya Kartini nekat mendirikan sekolah di dalam lingkungan kabupaten, pada Juni 1903. Muridnya tidak banyak, hanya tujuh orang. Itu pun sebatas anak-anak perempuan dari kalangan priayi.

Baru saja sekolah berjalan satu bulan, Kartini dilamar oleh Raden Adipati Joyo Adiningrat, Bupati Rembang. Di sini sungguh ironis hidup Kartini. Penentang poligami itu akhirnya mau dipersunting Adiningrat, yang telah memiliki beberapa istri. Pinangan bupati berusia setengah baya dan berperawakan tambun itu diterima sehari sebelum permohonan Kartini sekolah ke Batavia dikabulkan. Artinya, pupuslah cita-cita Kartini mengantongi ijazah guru.

Atas kemauan Kartini menjadi istri kesekian, Stella, yang sekitar lima tahun memahami seluruh cita-cita luhur Kartini, menulis surat bernada kecewa. "Dengan tindakan itu Kartini telah mengkhianati dirinya sendiri...." Namun, gagasan Kartini telah menjadi inspirasi bagi pergerakan kaum perempuan di Indonesia.

Hidayat Gunadi
Majalah Gatra edisi 22 / X / 17 April 2004

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru