Gita Cinta dari Taman Bacaan Anak

Posted by Cinta Buku on

Dunia tak selebar layar perak. Begitulah lakon yang diperankan Yasmine Yuliantina Tjakra, 41 tahun, bintang remaja awal 1980-an yang kondang dengan nama Yessy Gusman. Setelah meninggalkan gebyar dunia film, lantas keasyikan dalam kehidupan rumah tangga, ia menemukan dunia lain: taman bacaan anak (TBA).

Ia merintisnya pada Desember 1999, dan TBA Namira miliknya kondang di kalangan bocah-bocah sekitar Gang Porti, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Tak cukup dengan satu TBA, lewat Yayasan Bunda Yessy (YBY), ia makin serius mengembangkannya hingga kini mencapai 16 TBA. Tentu, ia merelakan sebagian uang pribadinya.

Upaya yang dirintisnya pun mulai menuai dukungan. Sabtu dua pekan lalu, Penerbit Mizan, Bandung, memberikan penghargaan atas kepeduliannya pada dunia buku. Uang Rp 10 juta dan sejumlah buku bacaan anak diterima ibu dua putra itu.

Bank Niaga pun menggandeng Yessy dalam misi ''sejuta buku'', yang dibagikan gratis awal Mei hingga 22 Juli nanti. ''Ini program untuk membantu anak-anak kurang mampu yang haus bacaan,'' ujar Dina E. Sutadi, Corporate Communication Division Head Bank Niaga.

Selain mengelola 16 TBA --untuk anak usia 5 sampai 15 tahun-- Yessy juga menjalin kemitraan dengan 30 TBA lain, mulai Banten, Bandung, Pemalang, hingga Sukoharjo. ''Saya seneng banget ada yang peduli dengan usaha memajukan anak-anak bangsa ini,'' tutur Yessy kepada Nuke Susanti dari GATRA.

Yessy merintis upaya itu lewat TBA Namira di Gang Porti, permukiman sederhana tak jauh dari deretan rumah mewah tempat orangtuanya tinggal. Modal awalnya 30 judul buku. Yessy mengaku ingin memberi bacaan bermutu pada anak-anak dari keluarga sederhana tanpa mereka harus mengeluarkan biaya. Buku-buku yang disediakan mulai fiksi anak-anak, ilmu pengetahuan, hingga buku-buku agama.

TBA yang didirikan itu tak cuma disambut hangat oleh anak-anak, melainkan juga ibu mereka. ''Anak-anak di bawah empat tahun umumnya datang diantar ibunya. Karena itu, disediakan majalah-majalah wanita. Ibu-ibu biasanya mencari resep masakan,'' ujar Ela, Sekretaris YBY.

Buku yang disebarkan YBY, termasuk lewat 30 TBA mitranya, sudah lebih dari 10.000 eksemplar. ''Selain yang berbahasa Indonesia, ada juga yang berbahasa Inggris, tergantung sumbangan yang masuk,'' kata Yessy, si pemeran utama film Gita Cinta dari SMA itu.

Untuk mengoperasikan jaringan TBA-nya, Yessy memang mengandalkan donatur tetap. Yayasan juga mencari dana dengan menjual katu pos, poster, kaset, dan membuat acara tahunan. Pengurus yayasan sekitar 20 orang, dan ada 20 orang lagi yang menjadi sukarelawan untuk mendukung kegiatan yayasan.

Dari komunitas TBA itu, kini tumbuh sebuah sanggar di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Berbagai kegiatan seni, seperti menyanyi, melukis, drama, puisi, dan sandiwara, digelar di sana. Kegiatan dimulai pukul 14.00 hingga 17.30 WIB, diikuti anak-anak dari semua TBA yang dikelola YBY. Tak semua bisa diboyong ke sana karena masalah transportasi dan konsumsi. ''Anak-anak dipilih berdasarkan minat dan bakatnya di dunia seni, lalu dilatih di sanggar,'' kata Yessy. Saat ini, ada 50 anak yang aktif di sanggar. Setiap TBA diwakili 4-5 anak.

Yessy memang bukan orang pertama yang memiliki kepedulian terhadap bacaan anak-anak. Di Yogyakarta, mendiang Romo Mangun Wijaya, sejak 1983, memelopori TBA di pinggir Kali Code. Tapi, TBA yang kini dikelola karang taruna itu keadaannya merana. Tak ada lagi buku-buku baru, sedangkan buku-buku lama sudah rombeng berdebu. TBA itu kehilangan daya tariknya.

Di Surabaya, sejak 1999, berdiri Yayasan Insani yang bergerak di bidang pemberdayaan anak jalanan. Yayasan yang dipimpin Dr. Sri Adiningsih ini cukup dikenal di ''kota buaya''. Kini, Insani mempunyai tiga rumah singgah, satu di antaranya di Jalan Panjang Jiwo 6, Surabaya. Di rumah singgah inilah, secara lesehan, anak-anak bisa membaca buku-buku bermutu, selain koran dan Al-Quran.

Ada juga Komunitas 1001 Buku, yang bisa menjembatani masyarakat untuk mengakses buku-buku murah, khususnya untuk anak-anak. Komunitas 1001 Buku adalah kelompok relawan dengan beragam latar belakang, yang direkat oleh keinginan mendukung penyebaran perpustakaan dan TBA di berbagai wilayah.

Saat ini, anggota yang terdaftar di komunitas itu lebih dari 600 relawan di seluruh Indonesia. Kegiatan mereka adalah menyumbangkan buku kepada yang memerlukan dan mengadakan sarana kreativitas anak. ''Kami berusaha mengantarkan buku dan sarana kreativitas, sehingga bisa dimanfaatkan oleh anak-anak yang kurang beruntung,'' ujar Tia S., seorang relawan.

Mengelola TBA memang tidak mudah. Selain ketelatenan dan dukungan dana, juga diperlukan napas panjang supaya bisa berlanjut. TBA yang didirikan Romo Mangun, misalnya, kini seperti tinggal menunggu ajal. Bila tak ada dukungan dana memadai dan perhatian kontinu, peremajaan buku tak bisa dilakukan. Anak-anak pun menjauh.

Karena itulah, Dr. Murti Bunanta, Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak, mengemukakan bahwa sedikitnya ada tiga hal yang perlu diperhatikan agar sebuah TBA bisa lestari. Yakni adanya mekanisme pemilihan buku yang relevan bagi pengunjung, ada program kegiatan lain untuk penunjang kegiatan utama membaca dan pinjam-meminjam buku, serta adanya dana yang memadai agar eksistensinya tetap terjaga. Napas panjang Yessy tentu saja amat diharapkan.

Imah Mengajak Membaca
Namira tidak perlu tempat mentereng. Taman bacaan anak (TBA) yang didirikan Yessy Gusman, 4 Desember 1999, itu nyempil, nyaris terselip di antara rumah sederhana di Gang Porti, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Toh, tak sulit mencarinya. Cukup bertanya di mana TBA Yessy Gusman, warga tahu persis letaknya.

Sebagai TBA, ruangan Namira jauh dari besar. Hanya berukuran 4 x 4 meter, berdinding warna cokelat muda, dengan kaca nako yang bingkainya sudah mulai berkarat. Di depan pintu masuk tergantung papan kecil bertuliskan ''Taman Bacaan Anak Namira'', buka Senin sampai Sabtu pukul 09.00-16.00.

Di langit-langit tergantung perbagai macam hiasan anak, dan sebuah kipas angin yang sudah macet. Dinding dalamnya yang dicat putih, dipenuhi poster warna-warni. Umumnya bentuk-bentuk huruf, angka, dan gambar kartun. Juga ada tempelan fotokopi guntingan majalah dan koran yang memuat liputan tentang Yessy Gusman dan TBA-nya.

Sekitar 1.000 buku dan majalah memadati empat rak. Isinya tentang pengetahuan umum, pengetahuan dasar, agama, novel remaja, komik, selain cerita fiksi anak-anak. Ada majalah wanita edisi baru, ada juga terbitan 1988. Aneka permainan anak, seperti puzzle, rumah-rumahan, alat mewarnai, dan buku gambar, ikut menyemarakkan TBA ini.

Karpet warna biru terhampar sebagai alas untuk anak-anak membaca sambil lesehan. Rabu pagi pekan lalu, misalnya, ketika Nuke Susanti dari GATRA berkunjung ke Namira, ada delapan anak usia 6-12 tahun sedang membaca buku cerita. Ada yang asyik mewarnai gambar beruang, juga ada yang serius berusaha menyelesaikan puzzle yang tengah disusun.

Tengoklah Nina, 14 tahun. Ia sedang asyik membaca buku cerita Serial Cinta. Gadis manis berambut sebahu ini sering berkunjung ke TBA Namira pagi hari, karena ia sekolah siang hari di SMPN 182 Jakarta. Pelajar kelas II ini senang membaca serial Doraemon dan komik-komik lainnya. Tapi, dia tak suka yang tebal-tebal. ''Capek bacanya. Tapi, kalau libur, bolehlah yang tebal-tebal itu,'' ujarnya, sambil menunjuk sederetan komik yang ada di rak buku.

Aktivitasnya sebagai pembaca setia TBA Namira itu membawa Nina aktif mengikuti teater yang diadakan sanggar Yessy. Bahkan, tahun lalu ia pentas di Gedung Kesenian Jakarta untuk memperingati Hari Anak Nasional. ''Seneng deh, bisa pentas di sana,'' tuturnya.

Ada Nina, ada juga Maya. Gadis cilik delapan tahun yang duduk di kelas II SDN 04 Petang Rawajati itu lebih asyik dengan buku cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Beda dengan Nina yang lebih senang ke TBA, Maya awalnya lebih asyik bermain bersama teman-temannya di situ.

Berkat bujukan Imah, sang pengurus TBA, anak-anak seperti Maya bisa diajak bergaul dengan buku-buku bacaan. Imah, yang baru empat bulan bertugas mengurus TBA Namira, mengaku punya kepuasan tersendiri. ''Ini karena cinta pada dunia anak-anak,'' katanya.

Kehadiran TBA Namira di tengah-tengah permukiman padat Jakarta seperti membawa angin segar bagi lingkungannya. Setidaknya, ia ikut menebarkan iklim gemar membaca pada anak-anak. Hal yang tentu berguna bagi mereka, apa pun pekerjaan mereka kelak.

Herry Mohammad
Majalah Gatra edisi 27 / IX / 24 Mei 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru