Editor: Partner Pengarang, Mediator Pembaca

Posted by Cinta Buku on

Minggu lalu saya bertemu dengan teman-teman lama saya waktu di sekolah menengah dulu. Katanya sih reuni (temu kangen), tapi seperti biasa yang datang hanya segelintiran orang yang memang merasa sangat dekat. Sepertt biasa, kami ngobrol ngalor-ngidul sambil mengingat masa lalu. Dan sampailah kami pada pembicaraan tentang pekerjaan masing-masing.

“Fulan, sekarang pekerjaanmu apa?” tanya Mira (bukan nama sebenarnya)
“Wartawan,” jawab si Fulan santai.

Semua pun mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti bahwa pekerjaan si Fulan mencari berita.

“Kalau kamu apa, Wat (juga bukan nama sebenarnya)?” tanya si Fulan.
“Peragawati,” jawab Wati dengan bangga.

Semua teman saya pun mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti bahwa pekerjaan Wati berlenggak-lenggok di catwalk. Atau mungkin sebentar lagi Wati akan menjadi selebriti terkenal seperti kebanyakan peragawati lainnya yang sudah merambah ke dunia entertainment.

Begitu seterusnya, satu persatu teman saya akan ditanya dengan hal yang sama. Dan sampailah giliran saya untuk menjawab apa pekerjaan (bidang) yang saya geluti sekarang ini. Begitu saya menjawab bahwa pekerjaan saya sekarang ini adalah editor, semua teman saya pun terperangah dan menunjukkam mimik muka yang beragam.

“Pekerjaan apa itu?” tanya Mira penuh kebingungan,
“Apakah sama dengan auditor?” tanya Wati sigap dan tak mau kalah,
“Itu bidang baru ya?” tanya yang lain.

Begitulah, banyak sekali pertanyaan muncul tentang pekerjaan editor ini. Lain halnya dengan si Fulan yang wartawan, dia hanya tersenyum-senyum. Mungkin karena pekerjaan kami agak mirip, sehingga dia sedikit banyak mengetahui pekerjaan saya ini.

Memang, mendeskripsikan profil editor ini agak susah apalagi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan profesi ini. Saya pun agak kewalahan (mungkin susah) untuk menjawab pertanyaan seputar dunia keeditorialan (penyuntingan), terutama kepada masyarakat awam yang tak mengerti seluk-beluk penerbitan. Namun, di sini saya mencoba menjelaskan profesi editor ini dengan membandingkan “Syair Jalanan Kreta Api” karya Tan Teng Kie dan menurut Arthur Plotnik, editor senior Amerika.

Menurut syair ini, dunia editor di Indonesia sudah ada sejak 1890, walaupun yang mengerjakan bukan orang-orang pribumi melainkan orang-orang Hindia Belanda dan Tionghoa yang bermukim di Bumiputra (sebutan untuk Indonesia pada zaman penjajahan Hindia Belanda), Dalam syair ini juga dijelaskan bahwa seorang editor harus membaca dan mengoreksi keseluruhan naskah dari awal sampai akhir agar enak dibaca.
Jika sudah buku terkarang
Oleh editor dipereksa terang
Serta ditambah apa yang kurang
Supaya pantes dibaca orang
(“Syair Jalanan Kreta Api, 1890” karya Tan Teng Kie, Kesusastraan Melayu Tionghoa dan Kebudayaan Indonesia, jilid 1, 2000, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia).

Yang bisa saya tangkap dari syair ini adalah dunia editor yang berkaitan dengan naskah (manuscript), atau dalam dunia penerbitan disebut dengan copyeditor atau manuscript editor. Setiap harinya, para copyeditor ini melaksanakan tugas-tugas redaksional dengan skala prioritas mengoreksi proof pada tahap persiapan produksi dan menyunting naskah-naskah yang siap cetak. Dengan demikian, seorang copyeditor harus bekerja sama dengan tim yang lain, seperti art, desainer buku, dan asisten produksi.

Hasii penyuntingan copyeditor pada tahap pracetak berupa naskah bersih (clean copy), yang akan diserahkan kepada desainer buku untuk merancang visualisasi clean copy menjadi buku melalui proses setting. Namun, yang berlaku sekarang di kebanyakan penerbitan, clean copy ini langsung diserahkan kepada setter untuk proses setting, sedangkan tugas desainer hanya membuat rancangan cover. Hasil setting (proof) inilah yang harus dibaca kembali oleh copyeditor sebelum naik cetak yang tentu saja harus mendapat persetujuan dari atasannya (managing editor).

Seorang copyeditor profesional harus memiliki beberapa keterampilan (skill) sekaligus, seperti kemampuan teknis-operasional dalam bidang komputer (khususnya yang berkaitan dengan program penyuntingan), menguasai bahasa dengan baik, dan sabar serta teliti dalam pekerjaannya. Dengan demikian, copyeditor profesional bisa dikatakan sebagai pembicara yang baik, pembaca kritis dan penulis laporan tertulis, dan korespodensi dengan pengarang atau mitra kerja lainnya demi kelancaran pekerjaan.

Namun, keterampilan copyeditor profesional tidak sebatas pada penguasaan keterampilan teknis-operasional, kebahasaan, dan komunikasi saja. Penguasaan pengetahuan tentang anatomi berbagai jenis buku dan tuntutan artistik buku-buku yang akan diterbitkan memang diperlukan untuk membangun keterbacaan (readibility) pada calon pembaca potensial. Selain itu, seorang copyeditor profesional —jika ingin disebut seorang terpelajar dan intelektual— dituntut untuk memahami secara mendalam teknologi penulisan, menguasai logika penyajian atau proses penyuntingan isi (substantive editing), mengenal ragam-ragam struktur karangan, keterbacaan dan ketelitian fakta, menumbuhkan pola pikir yang selalu bertanya-tanya (a questioning mind), kebiasaan membaca (reading habits), dan menjadi pengunjung perpustakaan pubiik yang setia untuk menerapkan teknik-teknik penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian dokumentasi (documentation research).

Lain halnya definisi editor menurut Arthur Plotnik, seorang editor senior Amerika. Menurutnya, editor tidak hanya mengoreksi naskah dan berhubungan dengan orang lain. Seorang editor harus memikirkan bagaimana arus naskah masuk ke penerbit dari pelbagai sumber informasi di luar penerbit. Editor harus memikirkan kesinambungan arus masuk, sehingga penerbit selalu mampu menerbitkan judul baru setiap bulan. Dengan kata lain, editor harus mampu menangkap kebutuhan pasar sehingga dianggap sebagai wirausahawan yang berusaha dalam sebuah pasar. Editor seperti inilah yang disebut Arthur Plotnik sebagai penyunting perancang atau managing editor, ada juga yang menyebutnya sebagai trade editor.
“Seorang editor adalah seorang pria atau wanita dengan latar belakang pendidikan eklektis (campur-baur) dan pengikut bermacam-macam kursus singkat tentang prosedur kerja penerbitan dan atau barangkali peraih gelar MBA. Semua pengetahuan yang dimiliki bermanfaat dalam kegiatan estimasi biaya operasional dan peluang meraih keuntungan dari berbagai proyek pernaskahan yang dipesan atau yang dikemas dalam rumah produksi sendiri dan menolak ide dan konsep yang ditawarkan kepadanya atau mendukung bahkan menjualnya ke departemen pemasaran dan bekerja berdasarkan kontrak kerja dengan pengarang atau agen naskah atau perancang paket informasi. Proyek ini biasanya berjumlah sekitar 10-20 naskah dalam setahun dan mengelola setiap proyek naskah itu selama 5-9 bulan menjadi buku sampul tebal atau tipis. Artinya, seorang editor harus mencermati minat dan kebutuhan pembaca dengan melibatkan diri dan aktif ikut serta dalam kegiatan promosi dan publisitas, penjual serta periklanan. Dia juga berupaya mendapat dukungan dari kalangan pengelola majalah, perkumpulan pecinta buku, penerbit, dunia perfilman dan prosedur televisi dan penerbit luar negeri. Semua kesibukan ini dilakukan di antara rapat mingguan menanggulangi pelbagai krisis dalam pekerjaan dan rapat-rapat editorial mingguan dan rapat bulanan untuk menyerahkan naskah kepada copyeditor untuk di-kopiedit dan rapat dengan bagian produksi dan mengikuti konferensi-konferensi kuartalan dari satu dan lain asosiasi profesi dan serentak pula menghadiri konferensi-konferensi setengah tahunan untuk penjualan dan pameran dagang tahunan yang diselenggarakan oleh ikatan pengusaha toko buku dan sekitar seratus pertemuan dengan para pengarang dan para agen dan para freelance dan staf copyeditor bagian redaksi. Dia juga harus menyusun katalog penerbit, membuat sinopsis untuk jaket buku, membuat rancangan desain atau ilustrasi, dan membuat apa saja yang tidak dilakukan oleh editor lain. Jadi, dia dapat mencuri sedikit waktu untuk melakukan sebagian dari apa yang dipikirkan orang untuk dilakukan, yakni membaca naskah baru yang diandaikan sebagai pembaca pertama dan melakukan penyuntingan pada isi naskah-naskah yang sedang dibaca sehingga secara tidak sadar sudah melanjutkan dengan kegiatan berikut seperti menyunting baris per baris dan memikirkan aspek produksi dan pemasaran dan melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan penyuntingan”.
(Arthur Plotnik, The Elements of Editing, A Modem Guide for Editors and Journalist, 1984, London: Mac Millan).

Dari definisi Arthur Plotnik ini terlihat jelas bahwa orientasi kerja managing editor berbeda dengan orientasi copyeditor yang hanya memusatkan perhatian pada persiapan percetakan (tahap pracetak). Peranan managing editor lebih terarah pada proses pra seleksi naskah, khususnya mengembangkan peranan biro naskah pada bagian redaksi sehingga penerbit tidak kekurangan judul baru setiap tahun.

Seorang editor profesional juga harus mempunyai banyak mitra kerja, yang perlu dijaga agar suasana kerja tim tetap terpelihara. Mitra kerja ini dapat dibedakan menjadi dua golongan. Pertama, mitra kerja internal, yang meliputi mitra kerja di bagian redaksi, produksi, pemasaran, subsdiary rights, dan bisnis. Kedua, mitra kerja eksternal, yang meliputi penulis (author), para penyalur (distributor), dan pembaca potensial (potential reader). Berdasarkan pengalaman di lapangan, aliansi yang paling rumit adalah hubungan interaktif antara penulis dan editor. Banyak waktu, tenaga, dan pikiran dialokasikan oleh editor untuk menjaga agar aliansi penulis-penulis dengan penerbit melalui hubungan profesional editor tetap terpelihara. Kerawanan mudah sekali timbul dalam hubungan kerja ini, terutama masalah aspek isi naskah, aspek keterbacaan naskah, dan aspek dampak dari isi dan keterbacaan terhadap pembaca-pembaca potensial yang akan mengkomunikasikan buku di pasaran.

Untuk menghindari kerawanan ini, seorang editor profesional dituntut mempunyai aspek penyuntingan yang baik —dikenal dengan P-POSTA— yang menurut Prof. Nunokawa, President Editological Society of Japan, sebagai berikut:
P (philosophy, purposes, project);
P (policy, planning, preparing the contents);
0 (opinion, organizing, originality/editing is creative);
S (securing the materials, selection of them to be published, suitable examining);
T (technique/arrangement layout, time, team work);
A (appeal to reader, accounting/economical/timely authorize).

Jika para editor sudah menghayati aspek penyuntingan niscaya hubungan dengan para penulis akan berjalan dengan baik, sehingga aliran naskah akan berjalan dengan lancar. Dengan kata lain, menurut Prof. Nunokawa, seorang editor bukan hanya sebagai pengrajin (berhubungan dengan manufaktur, tipografi, layout, art) melainkan juga sebagai manajer sekaligus intelektual yang bisa melacak kebenaran fakta.

Untuk mengenalkan sesuatu yang baru kepada masyarakat memang agak rumit. Masyarakat hanya mengenal dan tahu bahwa buku yang ada di pasaran (baca: toko buku) itu mempakan hasil jerih payah pengarang. Mereka tidak peduli siapa yang paling disibukkan dengan proses pembuatan buku itu dan siapa yang membuat buku itu menjadi enak dibaca.

Begitu pula dengan teman teman saya waktu acara reuni itu. Saya mencoba menerangkan semudah mungkin tentang profesi editor ini, walaupun sesungguhnya saya pun tahu tidak semua teman saya itu mengerti tentang profesi ini. Ada yang mengangguk (entah mengerti atau tidak), ada yang membelalakkan mata, manggut-manggut, bahkan diam. Tapi setidaknya, saya sudah mencoba untuk mengenalkan profesi ini ke dunia luar.

Tri Marganingsih
Majalah Mata Baca Vo. 1/ No. 3/ Oktober 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru