“Crossing Border”: Melintasi Batas-Batas Sengketa dengan Kata

Posted by Cinta Buku on

Pengantar
Kerusuhan yang terjadi di Timur Tengah telah menyebabkan warga Israel dan Palestina tercekam ketakutan, kecemasan, dan ketidakpastian. Hampir-hampir tidak ada komunikasi dan sikap kooperatif di antara kedua bangsa tersebut. Warga Palestina harus hidup dalam pengepungan, jam malam, dan ketidakbebasan sementara warga Israel dihantui ancaman bom bunuh diri, ketakutan menguburkan teman atau kerabat mereka yang menjadi korban teror karena akan memancing kerusuhan, merasa enggan untuk keluar, menghirup kebebasan dan kehidupan normal. Kehidupan generasi muda di antara kedua bangsa tidak berlangsung seperti yang seharusnya.

Sejarah telah berbicara bahwa jurang pemisah antara dua komunitas yang bertetangga tersebut sangat lebar. Secara umum mereka saling berbagi dalam banyak hal, namun banyak sekali perbedaan di antara mereka —salah satunya, adalah batas penghalang berupa bahasa. Bahasa Ibrani (Hebrew) yang dipakai warga Israel dan Yahudi dengan bahasa Palestina (Arab) yang dipakai Palestina sebenarnya berasal dari sumber yang sama. Struktur dasarnya serupa, tata bahasanya cukup dekat, beberapa akar kata dan kalimatnya sangat mirip, keduanya juga ditulis dari kanan ke kiri. Tetapi, tetap saja, untuk saling memahami satu sama lain, untuk bisa membaca bahasa lainnya, merupakan sesuatu yang nyaris mustahil. Bukan hanya diperlukan latihan bertahun-tahun untuk dapat mempelajarinya, yang lebih penting dan sulit adalah untuk bisa merangkum atau melintasi “jurang sengketa” kuitural tersebut.

Di Israel, hanya ada sejumlah kecil pelajar sekolah menengah yang mengambil bahasa Arab sebagai program studi pilihan. Bahkan di Palestina, bahasa Ibrani tidak diajarkan sama sekali di sekolah umum. Akibatnya, kedua bangsa yang bertetangga dekat itu harus menggunakan bahasa Inggris sebagai mediator ketika sebagian dari mereka ingin berkomunikasi di tengah konflik politik tersebut.

Sekelompok anak muda yang menolak untuk mengangkat tangan, menyerah atas situasi ini, adalah anak-anak muda jurnalis dari Crossing Border. Mereka yakin bahwa jalan dialog dan tanpa kekerasan merupakan jalan terbaik untuk masa depan yang lebih baik. Mereka saling berbagi ekspresi dan cara pandang, untuk membaca penulisan dari “sisi yang lain” dan untuk dapat bertukar ide, opini, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Mereka terdiri dari belasan anak muda pelajar sekolah menengah yang bersama-sama membuat majalah Crossing Border. Majalah tersebut ditujukan sebagai suatu platform bagi pertukaran dan kesempatan untuk menyuarakan opini dari generasi muda di TimurTengah, gererasi yang suara mereka seringkali tidak didengar.

Deskripsi Proyek
Crossing Borders terdiri dan empat kelompok penulis belia yang menjadi kontributor artikel yang mewakili tiap-tiap dewan editorial: Yahudi-lsrael, Palestina-Israel (Arab yang berkewarganegaraan Israel), Palestina-Palestina, dan Jordan. Masing-masing memiliki koordinator seorang dewasa yang bekerja menghubungkan mereka dengan seluruh partisipan di sepanjang tahun tersebut.

Setiap kelompok mengadakan pertemuan secara independen (aktivitas lokal) dan pertemuan bersama (aktivitas regional). Kelompok-kelompok itu saling belajar satu sama lain baik sebagai individual maupun mewakili masyarakat dan budayanya. Hubungan personal kemudian terbentuk, dan perlahan-lahan terbangun saling percaya dan saling menghormati walaupun ada perbedaan yang sangat dalam di antara mereka. Pada seminar regional mereka yang diadakan di musim panas; anak-anak muda itu belajar tentang kemampuan jurnalistik dan media. Mereka dilatih oleh para jurnalis profesional, dan para praktisi dari berbagai aspek liputan media yang berbeda, seperti interview personal, editorial, penulisan hard news, penuangan gagasan (opini), pembuatan review, penulisan sastra, dan Iain-Iain.

Mereka bersama-sama memilih topik untuk majalah tersebut, membuat tulisan dan menyuntingnya. Tulisan-tuiisan tersebut kemudian dikirimkan kepada Dewan Editorial, yang terdiri dari wakil-wakil di keempat kelompok tersebut. Merekalah yang akan memilih, menyunting kembali, dan menerbitkan artikel finalnya.

Distribusi dan Pembaca
Majalah Crossing Borders didistribusikan ke sekolah-sekolah menengah dan organisasi atau perkumpulan remaja di masing-masing region. Sebanyak 20.000 eksemplar dikirim ke sekolah-sekolah, dan diperkirakan setiap eksemplarnya akan dibaca oleh sekitar 20-30 pelajar. Crossing Borders telah merintis jaringan kerja awal dengan lebih dari 200 sekolah di masing-masing region, dan mencapai ribuan pelajar dan pendidik. Ini masih ditambah lagi dengan sambutan baik yang tidak disangka dari teman-teman dan keluarga mereka. Majalah tersebut juga didistribusikan di berbagai organisasi non-pemerintah (LSM), perpustakaan, dan institusi publik di dalam dan luar negeri.

Distribusi ini juga sangat terbantu oleh peran guru-guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah. Sebagian artikel Crossing Borders dipakai sebagai materi bacaan umum bagi para guru dan siswa di kelas. Semakin hari semakin banyak guru yang menggunakan sebagian artikel Crossing Borders sebagai media diskusi di kelas karena kandungan isinya. Selain itu, para siswa diminta untuk mengirimkan tulisan ke editorial Crossing Borders mengenai diskusi yang mereka perbincangkan dengan tema yang ditentukan guru. Dengan menggunakan artikel Crossing Borders ini para guru dapat mencapai beberapa tujuan berikut:
  1. Mendorong dan memperkenalkan siswa untuk membaca esai yang ditulis oleh remaja seusianya.
  2. Mendorong para siswa untuk menulis dan memberikan mereka keterampilan menulis.
  3. Mendorong kemampuan untuk mendiskusikan berbagai persoalan yang tengah berlangsung di kelas, serta ditinjau dari berbagai sudut pandang.
  4. Mempelajari kultur yang berbeda.
  5. Belajar menerima pendapat yang berbeda.
  6. Memiliki koleksi majalah untuk pembacaan kelak di masa depan.

Tujuan Utama Crossing Borders
Majalah ini merupakan salah satu media pelaksanaan program people to people yang ditujukan terutama untuk mengurangi keterasingan (alienasi) antara generasi muda di Timur Tengah dan menciptakan dasar yang umum bagi mereka untuk menulis, membaca, dan mendiskusikan persoalan yang ssdang terjadi.

Tujuan tambahannya, antara lain sebagai berikut:
  1. Meningkatkan hubungan dan kepercayaan interkultural dan multinasional;
  2. Menciptakan wahana komunikasi antara para remaja di Timur Tengah;
  3. Mengatasi stereotip dan prasangka antara generasi muda Arab dan Israel;
  4. Melestarikan dialog kritis antara generasi muda, pendidik, dan masyarakat sipil Palestina-Israel;
  5. Mendorong kemampuan adaptasi dalam kompleksitas hubungan antar manusia di tengah perubahan dunia politik;
  6. Membangun kepemimpinan generasi muda.

Website
Website dari program ini (http://www.xrossingborder.org) memungkinkan pembaca dari seluruh dunia untuk belajar tentang proyek tersebut, melihat pokok persoalan yang diangkat dalam majalah ini dan menghubungi editornya, juga memungkinkan untuk kontak antar-partisipan melalui internet. Dengan launching Crossing Borders melalui web, sejumlah pembaca tak terbatas akan dapat bergabung di dalamnya.

The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva 
Partner Israel di Crossing Borders adalah The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva, yang merupakan organisasi Israel yang pertama kali didirikan (40 tahun yang lalu) untuk pendidikan perdamaian dan hidup berdampingan secara damai dan untuk merintis jalan kreatif dalam melestarikan pemahaman dan toleransi di Timur Tengah.

Organisasi tersebut merintis berbagai usaha di bidang pendidikan dan menjalankan berbagai proyek bersama untuk meningkatkan tujuannya. Crossing Borders merupakan salah satu proyeknya dengan konsentrasi di bidang kepenulisan dan membaca sebagai media ekspresi dan saling memahami antar-bangsa, yang secara khusus ditujukan kepada generasi muda dan orang-orang yang bekerja di dunia pendidikan.

“Face to Face”
Program lain yang ditawarkan The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva tersebut adalah Face to Face, berupa program untuk mempertemukan pelajar sekolah menengah dari komunitas Arab dan Yahudi, yang sejauh ini hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk saling bertemu dan membicarakan persoalan umum yang terjadi dengan basis yang seimbang. Di akhir sesi yang terdiri dari tiga hari tersebut, para siswa diminta untuk saling menulis surat. Tulisan yang bersifat aktual tersebut diharapkan akan membuat anak-anak muda itu berkonsentrasi pada pengalaman mereka, merangkum pengetahuan dan ilham yang mereka peroleh, kemudian mengungkapkan kembali kesimpulan atau kesan mereka atas workshop yang baru saja mereka ikuti.

Maka, dalam waktu singkat, ketika ingatan mereka masih segar mereka menuliskan pengalaman mereka itu. Kemudian para remaja itu menerima surat dan membacanya, kadang dengan diam-diam, kadang diucapkan keras-keras. Saat membaca tulisan “kawan dari seberang” mereka ini, setidaknya akan terjadi hal-hal berikut: mereka merefleksikan pertemuan itu; mereka melihatnya dari sisi pandang yang lain; mereka dapat saling membandingkan reaksi mereka dengan yang lain; mereka bisa memilih untuk menjawab atau membalas kembali, menyimpan, atau membuangnya; mereka bisa memperlihatkan pada orang tua mereka, guru, teman dan lain-lain. Biasanya yang mereka lakukan adalah menyimpan semua surat, memberikan ilustrasi dan judul lalu menjilidnya menjadi semacam buku kecil untuk disimpan di perpustakaan sekolah sehingga bisa dibaca siswa lain yang tidak mendapat kesempatan ikut serta dalam program ini secara langsung.

Berikut ini adalah surat yang ditulis oleh seorang pelajar Arab dari Nazareth yang ditujukan kepada seorang pelajar Yahudi dari Yerusalem, setelah seminar Givat Haviva pada Februari 2002.
Sungguh tidak mudah bagi saya untuk menuliskan kata-kata ini tetapi... teramat banyak hat yang menggumpal di hati dan pikiran saya. Kami telah melewati pengalaman yang luar biasa, dan berbagai bal mengejutkan saya, ini sungguh tidak mudah tetapi saya menikmatinya. Saya percaya, pertemuan semacam ini sangat penting dan berarti untuk alasan apa pun. Saya berharap bahwa generasi kami akan menemukan jalan yang tepat karena tampak jelas bahwa dengan perang tidak akan ada pemenang. Kami memerlukan harapan dan kepercayaan, dan yang paling penting adalah —niat baik. Dan kami membuktikan hal itu di sini.

Di atas semua itu sangat penting untuk mengingat bahwa kita semua adalah manusia yang satu asalnya dan tidak ada perbedaan di antara kita dan seharusnya tidak pernah ada. Saya banyak mendapatkan informasi dari seberang sana, sensitivitas dan empati, saya akan mencoba melakukan hal yang sama. Saya berharap kita dapat saling mengenal satu sama lain lebih baik dan lebih dekat, tetapi di balik kedekatan itu, di luar sana pintu-pintu belum terbuka, saya berharap suatu saat pintu itu akan terbuka.

Agak sulit untuk mengakhiri pertemuan ini dan untuk mengetahui bahwa situasi secara umum tidak seperti ini dan tidak bisa kita buat seperti ini... saya hanya bisa menunggu hingga hari ketika kita bisa memberikan arti dan membuat perubahan. Maka, hingga saat nanti kita bertemu lagi kami berharap Anda mengingat kami dan kata-kata yang telah kita ucapkan, dan yang di atas itu semua, telah kita setujui. Karena sekarang kita telah melihat bahwa ini sangat mungkin untuk semakin dekat untuk saling mendengarkan penderitaan, ketakutan, harapan dan mimpi masing-masing.

Kepada Givat Haviva—Terima kasih untuk telah membukakan kepada saya suatu dunia yang berbeda.

Simpulan

Di region yang sering disebut sebagai “wilayah konflik” seperti Timur Tengah yang dipenuhi oleh kekerasan dan ketidakpastian, yang menderita oleh konflik berkepanjangan dan perang, sangat penting bagi para pendidik untuk menemukan cara atau teknik untuk menghapus beban tersebut dari generasi muda. Salah satunya dengan menuliskannya. Baik menulis ataupun membaca adalah wahana untuk ekspresi diri, untuk mencari ketenangan dan harapan.

Penciptaan platform yang umum dalam penulisan dan bacaan bagi komunitas di kedua sisi garis konflik merupakan metode inovatif yang merupakan media transformasi dari ide persaingan, pengaturan pikiran, danemosi menuju bidang yang lebih “beradab” dan melalui cara yang lebih santun.

The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva, Israel, sebagai salah satu institusi tertua dalam bidang demikian di Timur Tengah, menggunakan metode-metode tersebut setiap hari dalam kerja pendidikan untuk remaja dan orang dewasa warga Arab-Israel.

Di tulisan singkat ini kami menampilkan dua contoh model komunikasi antara orang-orang dalam persilangan lini politik, nasional, dan kultural. Crossing Borders adalah majalah remaja yang ditulis dan disunting oleh generasi muda di region tersebut, yang lebih memilih untuk bertemu, bekerja sama, menulis bersama dan saling membaca, mengamati visi teman-teman dari seberang, serta menciptakan karya sastra, ketimbang saling menembak, melempar batu, atau saling berkelahi seperti yang kini tumbuh di tanah yang mereka cintai dan hormati itu.

Pada program Face to Face penekanannya adalah pada pertemuan personal dan diskusi, tetapi di akhir pertemuan para peserta tetap diharuskan untuk saling menulis kepada teman-teman dari seberang, yang akan membacanya dan menempatkannya sebagai bagian dari proses perdamaian.

Sarah Ozacky Lazar
Lahir di Israel pada 1947 dan besar di Tel Aviv. Setelah lulus dari Hebrew University, Jerusalem, ia bekerja sebagai peneliti di bidang hubungan Israel di dunia Arab di bidang pemerintahan, kemudian mengajar Sejarah dan Studi Arab di sekolah menengah. Sejak 1996 ia bekerja di The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva, dan menjadi Co-Director sejak 1997. Ia banyak menulis tentang hubungan Arab-Yahudi, baik untuk konsumsi akademik maupun jumalistik. Secara teratur ia menulis di pers Yahudi dan Arab. Ia menjadi partisipan di berbagai konferensi akademik dan workshop di dalam dan luar negeri. Pada 2001, The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva mendapatkan hadiah UNESCO untuk Peace Education atas usahanya yang menonjol tersebut.

Sarah Ozacky Lazar adalah Co-Director dari The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva, MP Menashe 37850, Israel, faks: 972-4-6270891, email: sozacky@zahav.net.il, URL: http://www.dialogate.org.il

The Jewish-Arab Center for Peace di Givat Haviva
Didirikan pada 1963, merupakan organisasi pendidikan untuk perdamaian yang tertua dan terbesar di Israel. Tujuan utamanya untuk melestarikan hubungan akrab antara Yahudi dan Arab di Israel, untuk mendidik adanya saling memahami dan mendukung kerjasama partnership dan dialog yang permanen antara kedua komunitas. Setiap tahun, sekitar 25 ribu orang berpartisipasi dalam aktivitas yang diadakannya.

Di balik perang dan pergolakan di 38 tahun terakhir ini, Center ini telah banyak berbuat dan terus memberikan kontribusi yang sangat penting bagi usaha perdamaian melalui pendidikan, proyek rise tdan penelitian, konferensi dan workshop, perpustakaan dan pusat informasi, serta program penerbitan, khususnya Crossing Borders, majalah bulanan berbahasa inggris. Majalah yang didanai oleh Denmark dan pengerjaannya dilakukan oleh para remaja belia dari Israel, Palestina, dan Jordan, adalah salah satu proyek Palestina-lsrael yang langka —mungkin malah satu-satunya— yang terus melaju dan berkembang di iklim yang sangat sulit.

(Diadaptasi dari ulasan UNESCO Press tentang para pemenang UNESCO Prize for Peace and Education 2001, di http://www.unesco.org/bpi/eng/unescopress/2001/01-93e.shtml.)

Diterjemahkan oleh Wikan Satriati dari tulisan Sarah Ozacky Lazar, “Reading as a Way of Reconciliation. The Case of Crossing Borders” di Quarterly “ABD” (Asia/Pasific Book Development) Vol. 33 No. 1 (129-2002) diterbitkan oleh Asia/Pacific Cultural Centre for UNESCO (ACCU).

Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 4/November 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru