Anak Muda, Wacana Permenungan, dan Penerbitan

Posted by Cinta Buku on

“... Sebagai Aria Bima-putera, jang lahirnja dalam zaman perdjoangan, maka INDONESIA-MUDA inilah melihat tjahaja hari pertama-tama dalam zaman jang rakjat-rakjat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnja. Tak senang dengan nasib-ekononominja, tak senang dengan nasib-politiknja, tak senang dengan segala nasib jang lain-lainnja. Zaman “senang dengan apa adanja”, sudahlah lalu. Zaman baru: zaman muda, sudahlah datang sebagai fadjar jang terang tjuatja...!”
Frasa di atas dikutip dari alinea pembuka artikel “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang ditulis oleh Bung Karno tahun 1926. Jika dihitung-hitung, pemikiran itu diungkapkan sekitar 76 tahun yang lalu. Atau dalam hitungan “generasi” boleh dibilang sudah tiga generasi yang lewat. Bung Karno, ketika menulis artikel tersebut di koran yang diterbitkannya, Suluh Indonesia Muda, bermaksud mengajak semua kelompok masyarakat untuk bersama-sama membangun barisan melawan kolonialisme. Bung Karno ingin mengajak kelompok manapun untuk bersama-sama secara teguh membangun kebangsaan dan nasionalisme Indonesia menghadapi kolonialisme. Justru, menurut Bung Karno, masa itu adalah masa berlakunya zaman baru. Menjadi pengikut dan hamba kaum kolonialis bukan zamannya Iagi. Bung Karno mengingatkan semua lapisan masyarakat akan kebangkitan perlawanan bangsa-bangsa Asia atas kolonialisme yang menindas mereka. Bung Karno pada saat itu adalah pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikan keinsinyurannya, baru berumur 25 tahun. Pada masa yang sama, di mana-mana di tanah air bahkan di negeri Belanda, kaum muda Indonesia, yang meletakkan dirinya sebagai “kaum kebangsaan Indonesia” memberikan jiwa: baru bagi pergerakan kebangsaan Indonesia dan menetapkan suatu wacana baru, yaitu “Menuju Indonesia Merdeka”. Ini adalah sebentuk gebrakan baru, melampaui batas wacana kaum pergerakan Indonesia jauh sebelumnya, yang sekadar berkehendak akan adanya pemerintahan yang terpisah, yaitu “Hindia Belanda memiliki pemerintahan sendiri terlepas dari Kerajaan Belanda”.

Semarak kaum pergerakan menuntut kemerdekaan Hindia Belanda-lndonesia di dasawarsa ketiga abad ke-20 semakin terlihat nyata dengan munculnya gerakan kaum muda pergerakan Indonesia dengan “strategi wacana kebangsaan” melalui penerbitan-penerbitan media cetak alias koran-koran serta buku-buku bahkan cerita-cerita (novel-novel) yang banyak dihasilkan baik oleh para sastrawan kelompok Balai Pustaka, Pujangga Baru, maupun pengarang-pengarang Tionghoa Peranakan. Fakta ini membawa kita pada satu gambaran bahwa sedari awal kaum muda Indonesia, silih berganti antar generasi, selalu mengusung suatu pemikiran-pemikiran yang layak untuk dilihat dan direnungkan kembali. Bahkan boleh dikatakan, kita selalu diajak untuk melakukan “proses kontemplasi” atas wacana yang ditawarkan oleh kaum muda pergerakan tersebut. Kita ambil contoh apa yang dilansir oleh Bung Karno di koran Suluh Indonesia Muda itu, yang memaparkan peranan nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Nasionalisme baru saja membawa bangsa-bangsa Eropa ke dalam kehidupan bernegara dari hanya beberapa kerajaan besar ketika itu, misalnya negara-negara seperti Jerman, Austria, Hongaria, Polandia, dan Yugoslavia yang mulanya merupakan bagian-bagian dari Kerajaan Prusia Raya yang besar. Kemudian, Islamisme yang mempersatukan bangsa-bangsa atau suku-suku di Jazirah Arab dan Afrika utara melawan kolonialisme. Demikian pula Marxisme yang melahirkan negara Rusia.

Dari kenyataan sejarah pergerakan ini, secara sederhana bias kita simpulkan bahwa kaum muda Indonesia boleh dikatakan memiliki peran besar dalam mendobrak dan merintis pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi pembaruan bagi kemajuan bangsanya. Selain apa yang telah dikemukakan di atas, gerakan-gerakan para pemuda itu makin terbangun kokoh dengan adanya gerakan pendidikan lewat pengajaran-pengajaran dan pendirian sekolah-sekolah independen. Dunia pendidikan menjadi arena kontak dan penyebaran gagasan di antara para pelopor dan sekaligus kepada para bibit-bibit generasi berikutnya; organisasi-organisasi sebagai ruang penyatuan dan penggodokan pemikiran; koran dan media massa, juga buku-buku bacaan, sebagai sarana beradu pemikiran dan sekaligus penyebaran pembaruan ke kalangan yang luas, yakni seluruh lapisan masyarakat.

Garis tebal yang layak dimunculkan kembali pada masa sekarang ini adalah bagaimana media massa dan dunia penerbitan di masa terjajah ketika itu secara nyata menunjukkan peranannya dalam membangun wacana kebangsaan yang ditiupkan oleh kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia, Hampir tidak ada satu pun media massa, dalam hal ini koran atau surat kabar, di era sulit itu yang bisa dikategorikan sebagai media komersial. Boleh dikatakan semua surat kabar Indonesia pada awalnya seakan-akan ditakdirkan, dalam situasi sekarang bisajadi dikatakan sebagai “dikutuk”, sebagai koran yang memiliki “roh perjuangan” wacana kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Semuanya masuk kategori berwacana serius dan memerlukan perenungan yang cukup dalam. Apa yang menjadi visi dasar surat kabar yang demikian itu kemudian terus berlanjut menjadi karakteristik utama media massa sesudahnya, juga setelah Indonesia berhasil menggapai kemerdekaan dan kedaulatannya.

Barulah setelah pemerintahan rezim Orde Baru memasuki kematangannya di pertengahan dasawarsa ketujuh dan kedelapan abad ke-20 ini, di antara tahun 1978-1988, media massa Indonesia bertransformasi menjadi perusahaan-perusahaan yang mengutamakan komersialisme dan keuntungan semata. Boleh dikatakan “tugas suci berwacana penyadaran atau edukasi/pendidikan buat anak negeri” yang dirintis dan “diamanatkan” oleh koran kaum Pergerakan sudah mulai pupus. Wacana-wacana pemikiran baru dari kaum muda, yang memungkinkan tumbuhnya pembaruan bangsa, tidak lagi memiliki ruang ekspresi. Meski masih ada satu-dua rubrik yang berwacana serius dan mendalam, secara umum surat kabar juga majalah yang meruak akhir-akhir ini lebih mengutamakan dan mengedepankan komersialisme, bisnis, dan hiburan. Apalagi media baru bernama televisi yang sedikit pun tidak memiliki runutan kesejarahan akan nasionalisme dan kebangsaan. Media ini sedemikian rupa dibangun dan diposisikan sebagai gurita rakus yang mencengkeram audiens-nya dengan kehidupan kapitalistik yang konsumtif. Syukurlah, apa yang terjadi di dunia penerbitan dan perbukuan Indonesia memberi angin yang menyegarkan. Justru di tahun-tahun dasawarsa terakhir abad ke-20, dunia perbukuan Indonesia disemaraki oleh penerbit-penerbit baru yang masuk kategori penerbit buku-buku berwacana serius. Penerbit-penerbit ini memproduksi buku-buku penting dan serius, yang mengajak pembacanya tidak lagi asal-asalan dalam membaca, tidak sekadar untuk menemukan hiburan sesaat pengisi waktu luang. Penerbit-penerbit baru yang bermunculan di dasawarsa 80-an dan 90-an ini tampil menawarkan wacana-wacana besar, baik yang klasik dan mapan maupun yang sedang hangat menyemaraki wacana pemikiran dunia terkini. Beberapa penerbit berikut ini bisa disebutkan sekadar untuk mewakili fenomena dunia penerbitan Indonesia: Mizan yang lahir di Bandung pertengahan tahun 1980-an, lalu Bentang Budaya yang muncul di Yogya awal tahun 1990-an, berlanjut dengan perkembangan yang luar biasa di akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an ini, terutama di Yogya dan Jakarta: LKiS, Fajar Pustaka Baru, Mata Bangsa, Pustaka Promethea, Jendela, Teplok, Akubaca, Garba Budaya, Jalasutra, Terompah, Qalam, Galang, dan masih banyak lagi.

Dan, suatu koinsidensi mungkin, bahwa penerbit-penerbit baru tersebut dikomandoi oleh orang-orang muda, yang sebagian besar di antara mereka mulai bergiat di bidang penerbitan dalam usia yang bisa jadi tidak jauh berbeda dibanding usia para pemuda kaum pergerakan ketika mengawali tuntutan kemerdekaan Indonesia, tiga generasi yang lalu. Ternyata dalam hiruk pikuk dunia media di Indonesia yang dipenuhi dengan semata-mata komersialisasi yang hanya berisi hiburan bahkan mungkin hanya hiburan berkelas rendah, masih tampak ada keinginan dari sekolompok muda Indonesia lewat dunia penerbitan untuk menawarkan permenungan yang serius dan mendalam. Kita bisa mengingat kembali perdebatan para sastrawan di era Pujangga Baru, tentang modernitas dan tradisi, kemudian juga era berikutnya, di tahun 1960-an, tentang realisme-sosialis dan humanisme universal, atau sekian wacana lain yang pernah bergulir di negeri ini. Kini kita boleh berharap, kaum muda Indonesia lewat dunia penerbitan dan perbukuan menawarkan wacana-wacana yang sangat luas dan beragam, yang mesti ditangkap dengan kesungguhan dan keseriusan untuk mendalaminya.

Sayangnya, semangat kaum muda Indonesia yang menawarkan kedalaman atas tema-tema penting bagi kemajuan bangsa dalam segala bidang ini tidak begitu bersambut di medium-medium ekspresi peradaban manusia lain yang sedemikian sibuk dengan perhitungan rugi-laba. Bisa jadi, memilah garis batas dan membandingkan keberadaan mereka yang tak puas-puas dengan komersialisme-hiburan dan mereka yang tak habis-habis melakukan permenungan-pemikiran semacam ini adalah sesuatu yang kontraproduktif. Jika begitu, mari kita menempuh jalan pilihan masing-masing dengan penuh kejujuran dan optimisme. Sekali lagi, salut untuk kaum muda dan penerbitan Indonesia.

T. Jacob Koekerits
Majalah Mata Baca Vol. l/No. 6/Januari 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru