Royalti Kecil, Pramoedya Ananta Toer Terbitkan Sendiri Buku-bukunya

Posted by Cinta Buku on

Daya pikat sastrawan Pramoedya Ananta Toer, 78 tahun, belum pudar. Kebiasaan menerima tamu di rumahnya setiap Kamis masih terus dilakukan. Para aktivis budaya dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sering berkumpul dan berdiskusi di rumahnya yang teduh di Bojonggede, Bogor, Jawa Barat.

Pram yang mantan narapidana politik ini tidak saja memiliki komunitas pembaca yang loyal. Ia pun masih mampu meraih pembaca baru. Maka, peluncuran ulang tujuh buku karya Pram di University Center (UC), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 14 Februari lalu, dijejali lebih dari 1.000 orang. Sebagian dari mereka tak kebagian kursi sehingga harus rela berdiri sampai acara usai.

Kehadiran mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, ketika itu tentu jadi daya tarik sendiri. Selain Gus Dur, hadir pula sosiolog Manshour Fakih dan aktivis perempuan Gadis Arivia, yang ikut mengulas tujuh novel karya Pram, antara lain Sang Pemula, Hikayat Siti Mariah, Di Tepi Kali Bekasi, dan Dewi Uban.

Menurut Gus Dur, karya Pram sarat dengan nilai humanisme. Tokoh utamanya selalu digambarkan berusaha menerobos kungkungan penguasa. ''Aspek itulah yang seharusnya diketengahkan dalam sastra,'' ujarnya. Namun, di usianya yang senja kini, Pram seperti sedang cuti menulis.

Ada sekitar 40 buku karya Pram yang sudah diterbitkan. Masih ada karya-karya lainnya, karya tahun 1950-an, yang hingga kini masih terserak dan belum kembali. Pilihan hidup Pram jadi pengarang memang telah memberikan buah yang manis. Berbagai penghargaan internasional diraihnya, antara lain Wartheim Award (1995) dari Belanda dan Ramon Magsaysay Award dari Filipina (1995). Karyanya diterjemahkan ke dalam 22 bahasa asing, seperti Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Suksesnya secara materi juga gampang dilihat secara kasatmata. Ia kini menghuni rumah seluas 2.400 meter persegi, berlantai enam, di atas tanah sekitar satu hektare. ''Ini semua hasil dari royalti buku,'' tutur Astuti Ananta Toer, anak keempat dari delapan putra-putri Pram. Toh, kawan-kawannya mafhum, Pram tetap bersahaja.

Hasil materi yang dipetik Pram, bagi Mujib Hermani, pembaca setia karya Pram, juga simbol perlawanan. ''Untuk membuktikan, meski ditindas Orde Baru, tak mesti melarat,'' kata aktivis yang rajin berkunjung ke rumah Pram ini. Tapi, kenyataannya, Pramoedya belum puas atas royalti yang diperolehnya.

Menurut Pram, royaltinya belum sebanding dengan ketenaran buku-bukunya. Banyak novelnya yang dicetak ulang tanpa sepengetahuan dia. Pram jengkel. Gerutuan tentang masalah itu sering terlontar dari mulutnya.

Pram mengatakan, ada pihak-pihak yang ingin menarik keuntungan besar dari karyanya tanpa memedulikan hak sang pengarang. Ada penerbit yang sempat memegang hak ciptanya, lalu menjual ke penerbit lain tanpa izinnya. Ada pula yayasan yang ingin memonopoli karya-karyanya. Tapi, Pram sepertinya enggan blak-blakan, penerbit dan yayasan mana yang dimaksud.

Penerbit yang sempat mendapat hak dari Pram, antara lain, Hasta Mitra, Kepustakaan Populer Gramedia, dan Bentang. Tapi, kini hak tersebut sudah dicabut, dan dialihkan ke Yayasan Lentera Dipantara, yang didirikan dan dikelola keluarga Pram --anak dan istrinya.

Namun, Astuti Ananta Toer, Ketua Yayasan Lentera, membantah anggapan bahwa pihaknya akan memonopoli. ''Pram punya kebebasan menunjuk penerbit lain,'' katanya. Menurut Astuti, yayasan yang berdiri empat tahun silam itu memang sama sekali tak melibatkan Pram. Hubungan antara yayasan dan Pram berdasarkan kontrak bisnis. Untuk saat ini, Pram baru diberi royalti 15%. Tapi, selanjutnya mungkin bisa dinaikkan hingga 20% lebih.

Yayasan ini, kata Astuti, tak semata bertujuan komersial. Ada pula misi sosial dan kebudayaannya. Maka,penerbitan buku-buku itu diserahkan kepada aktivis yang mendukung ide-ide Pram, sejak proses pracetak hingga distribusi. Pemasarannya pun tak akan lagi melalui toko-toko buku besar, melainkan melalui para aktivis kebudayaan itu. Mereka berasal dari kalangan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, juga mantan tahanan politik. ''Biar para aktivis punya penghasilan tambahan,'' kata Astuti. Besaran komisinya ditentukan berdasarkan musyawarah.

Setelah tujuh buku diterbitkan ulang di Yogyakarta, lima judul lainnya akan diterbitkan di Bandung, April 2003. Judulnya, antara lain, Jalan Raya Pos, Sehari di Banten Selatan, dan Midah Bergigi Emas. Momentum itu akan dimanfaatkan pula untuk mendeklarasikan pencabutan larangan buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

Program yayasan, kata Astuti, tak hanya menerbitkan ulang, melainkan juga menyusun karya-karya Pram yang masih berserakan. Jika memungkinkan, yayasan akan melacak karya-karyanya yang hilang. Rencananya, tahun depan yayasan juga akan meluncurkan Pena Pramoedya Award, penghargaan dalam bidang kepengarangan dan seni budaya.

Kholis Bahtiar Bakri & Sawariyanto (Yogyakarta)
Majalah Gatra edisi 18 / IX, 22 Maret 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru