Profil Penulis-Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra

Posted by Cinta Buku on

Di tengah kesibukannya memimpin Universitas Islam Negeri Jakarta -sejak empat tahun silam- 13 buku telah lahir dari tangannya. Tujuh buku diluncurkannya tiga tahunan lalu, sedangkan enam berikutnya didiskusikan di pertengahan Ramadan 2002 ini. Karya-karya itu, menurut Idris Thaha, yang menyunting sebagian besar naskah, mencakup 446 buah pikiran -baik yang dituangkan dalam bentuk makalah, kolom, maupun wawancara. Yang terakhir ini mencakup 95 buah.

Dalam konteks ini, dapat dimengerti jika Taufik Abdullah -ketika memberi apresiasi terhadap pikiran-pikiran Azyumardi Azra, tiga tahunan lampau- menyebut Azyumardi rektor paling produktif menulis di seluruh Indonesia. Menulis seakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan intelektualnya. Di tengah kesibukannya menyelesaikan program master di Columbia University, New York, Amerika Serikat (1986-1988), ia pun masih "sempat" menerjemahkan dan menyunting sebuah reader -yang memuat tulisan-tulisan sejarawan terkemuka- tentang Islam di Asia Tenggara, terbitan Yayasan Obor.

Tema yang menjadi minat intelektual Azyumardi terbilang beragam. Membaca judul-judul buku yang digarapnya, masalah sosial-keagamaan, pendidikan, kebudayaan, peradaban, politik, masyarakat sipil, demokratisasi, dan -tentu saja- sejarah merupakan tema-tema yang digelutinya secara intens. Boleh dibilang, inilah research interests Azyumardi, yang mulai berkembang ketika ia menjadi mahasiswa di (dulu) IAIN Jakarta, bekerja pada Panji Masyarakat, belajar di University of Columbia, dan lima tahun terakhir ini ketika ia merasa telah "selesai" bersekolah secara formal.

Sebagai alumnus Himpunan Mahasiswa Islam dan IAIN Ciputat, rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa pengaruh Nurcholish Madjid ada padanya. Gagasan Nurcholish mengenai the idea of progress, keharusan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya (sekularisasi), toleransi, Islam yang ramah, pluralisme, dan sebagainya, melekat pada "anak-anak" Ciputat. Meskipun bukan "mazhab" Nurcholish yang dipegangnya, paling tidak semangat etisnyalah yang dijadikan rujukan bagi setiap pengembangan intelektual Azyumardi. Ini, misalnya, terlihat pada wawancara-wawancaranya yang kemudian dibukukan menjadi Islam Substantif.

Di situ jelas sekali Azyumardi termasuk pemikir yang lebih mementingkan isi daripada forma dan simbol. Mirip dengan Nurcholish -dan tokoh-tokoh Islam seperti Munawir Sjadzali, Abdurrahman Wahid, atau Syafi'i Ma'arif- bagi Azyumardi, agama harus lebih dilihat sebagai instrumen Ilahiah yang memberi panduan etis. Karenanya, dalam konteks politik atau negara, misalnya, agama harus diletakkan dalam tataran etis yang memberikan prinsip-prinsip dasar, seperti keadilan, musyawarah, dan persamaan. Inilah yang disebut -meminjam istilah Nurcholish- common platform atau kalimah al-sawa, dasar pijak yang mengatur sendi-sendi kehidupan kita yang telanjur menjadi bangsa yang heterogen, baik secara sosial-budaya, agama, maupun orientasi ideologi-politik.

Pandangan ini hendaknya menjadi dasar pijak komunitas Islam agar, menurut Azyumardi, "umat tidak jadi buih". Tetapi, seperti alumnus Ciputat lainnya, Azyumardi jelas bukan carbon copy Nurcholish. Dengan modal intelektual yang dimilikinya, ia tegak sebagai dirinya. Misalnya, berbeda dengan cara Nurcholish mengembangkan gagasan- gagasan teologisnya dan mengaitkannya dengan persoalan-persoalan sosio-politik, Azyumardi mengajukan argumen bahwa konteks menjadi sangat penting di dalam pemahaman teologis seseorang. Kurang lebih bisa diartikan, pandangan teologis atau keagamaan kita harus diletakkan di dalam konteks sosial-budaya yang mengelilingi kita.

Inilah benang merah gagasan-gagasannya yang tertuang dalam Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Kalau kita berani menarik ide dasar ini secara agak jauh, gagasan ini mirip atau sebanding dengan apa yang oleh Abdurrahman Wahid disebut "pribumisasi Islam". Jika bagi Azyumardi hal ini juga dimaksudkan agar Islam tidak menjadi buih di republik ini, dalam pandangan Abdurrahman Wahid konteks teologi itu dimaksudkan agar Islam tidak tercerabut dari akar budaya Indonesia.

Tentu, seperti telah diisyaratkan, Azyumardi juga berbicara tentang hal-hal lain, termasuk pendidikan Islam. Maklum, derajat strata satunya, yang ia perolah dari IAIN Jakarta, berkaitan dengan pendidikan agama Islam. Tetapi, tanpa mengurangi aspek meritokrasi dari gagasan-gagasan yang banyak disuarakannya itu, orang memang lebih cenderung memfokuskan perhatian pada pikiran Azyumardi yang berhubungan dengan soal Islam, politik, demokrasi, dan masyarakat sipil. Hal ini wajar, sebab inilah tema-tema yang mendominasi diskursus intelektual keindonesiaan kita bukan hanya empat tahun terakhir ini, melainkan juga menjadi ikon di sepanjang sejarah Indonesia modern.

Jika penilaian ini benar, seharusnyalah dengan mudah kita dapat melakukan kategorisasi atas intelektualisme Azyumardi. Dengan pandangan dasar yang telah disebutkan, bisakah kita -misalnya- memasukkan Azyumardi sebagai perpaduan antara Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid? Pertanyaan ini sulit dijawab, sebab apa yang diapresiasi publik mengenai gagasan-gagasan Azyumardi sebenarnya bukan inti dari pohon intelektualisme pemikir yang dilahirkan di Lubuk Alung, Sumatera Barat, 47 tahun nan silam itu. Walaupun, pikiran-pikirannya itu -seperti diutarakan Franz-Magnis Suseno pada acara peluncuran buku-buku Azyumardi beberapa waktu lalu- "selalu mengambil posisi yang 'sehat', masuk akal, dan bermasa depan dalam menjawab berbagai pertanyaan". Atau sebagaimana disimpulkan Komaruddin Hidayat, model ekspresi keislaman kultural dan intelektual (Azyumardi) memberikan harapan menggembirakan bagi wajah Islam di Indonesia.

Tetapi, satu hal yang juga penting dicatat, yang seperti itu bukan hal unik, yang hanya bisa dinisbatkan kepada Azyumardi. Di sinilah letak kesulitan mengategorikan intelektualisme Azyumardi ke dalam kotak tertentu. Apa yang dulu pernah kami (Fachry Ali dan saya) lakukan di dalam buku Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Masa Orde Baru, yang mengategorikan pemikiran- pemikiran yang ada ke dalam kotak "neomodernisme", "sosialisme-demokrasi Islam," "internasionalisme dan universalisme," dan "modernisme Islam", pun tak banyak menolong dalam upaya pencarian "tempat" bagi Azyumardi. Apalagi, dinamika perkembangan yang berlangsung dalam empat tahun terakhir ini mengerucut pada polarisasi "radikal" atau "garis keras" versus "inklusif" atau "ramah".

Tetapi, apresiasi terhadap intelektualisme Azyumardi ini rasanya tak utuh tanpa disertai pandangan lain, yang sifatnya mengambil jarak dari hiruk-pikuk kenyataan sosial politik, terutama yang berkembang empat tahun terakhir ini. Kalau boleh berbeda, saya ingin mengatakan bahwa pohon intelektualisme Azyumardi sebenarnya tertanam kokoh pada tiga kitabnya: (1) Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; (2) Histografi Islam Kontemporer; Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah; dan -terutama- (3) Islam Nusantara; Jaringan Global dan Lokal.

Pada tiga kitab inilah, sebenarnya, mereka akan memperoleh kekokohan pemikiran Azyumardi. Ketiga buku ini memang berbicara tentang sejarah jaringan ulama dan kaitan antara Islam Nusantara dan Islam di Timur Tengah. Di sinilah ia menyumbangkan sesuatu yang sangat genuine dan tidak bersifat myopic. Di sinilah ia mendasarkan seluruh pemikirannya bahwa dinamika Islam Indonesia tidak pernah terlepas dari dinamika dan perkembangan Islam di kawasan lain, khususnya wilayah yang kini di sebut sebagai Timur Tengah.

Di sinilah sebenarnya Azyumardi mendapat keteduhan intelektualisme. Dengan enak ia bercerita tentang "teori balapan", tentang Kerajaan "Ashi" (maksudnya Aceh), tentang Sultan Ibrahim (Aceh) yang mengirim uang US$ 10.000 ke Istanbul untuk membantu Turki, tentang ashab al- Jawiyyin (murid-murid Jawa),dan sejenisnya.

Kalau pohon ini tidak dinomorsekiankan oleh keharusan menjawab segala sesuatu yang tengah berkembang dewasa ini, Azyumardi Azra akan jauh lebih bersifat historis di dalam menjelaskan, misalnya, kaitan Amrozi, Imam Samudra, dengan perkembangan Islam di Malaysia, Afghanistan, atau bahkan Timur Tengah.

Bahtiar Effendy Dosen Universitas Islam Negeri Jakarta
Majalah Gatra edisi 4 / IX / 14 Desember 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru