Profil Penerbit Spesialis Buku Antiglobalisasi

Posted by Cinta Buku on

Rumah bercat putih di Gang Bima, Jalan Magelang, Yogyakarta, itu terlihat sepi. Perabotannya masih belum tertata rapi. Tumpukan buku dan kertas berserakan di sebuah ruangan, bercampur dengan gulungan poster. Di ruang tamu, tersedia seperangkat meja kursi. Sepintas tak terkesan bahwa rumah dengan tiga kamar itu merupakan kantor penerbitan.

Sudah dua pekan rumah itu dipakai sebagai kantor penerbit bernama Resist Book. "Papan namanya saja belum dipasang," kata Eko Prasetyo, Koordinator Resist Book. Meski baru, penerbit yang berancang-ancang menerbitkan lima judul buku ini punya sejarah panjang. Resist adalah pecahan penerbit Insist Press, spesialis penerbit buku bertema antiglobalisasi.

Kelahiran Insist dibidani Dr. Mansour Fakih (almarhum), Rum Topatimasang, Fauzy Abdullah, Sita Aripurnami, MA, dan Rizal Malik. Kelimanya adalah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang kerap menyoroti perkara sosial. Organisasi yang berkantor di kawasan Sekip, Yogyakarta, ini berkecimpung di bidang pengembangan sosial yang meliputi isu demokrasi, pendidikan, gender, lingkungan, dan hak asasi manusia.

Menerbitan buku baru dilakoni Insist lewat suborganisasi yang dinamai Insist Press pada 1999. Semula, penerbit yang berkantor di Blimbingsari, Catur Tunggal, Depok, Sleman, ini hanya memublikasikan penelitian yang telah mereka lakukan. Mereka juga menerbitkan Wacana, jurnal tiga bulanan yang diisi tulisan para aktivis LSM.

Tahun itu pula, Insist Press mulai menerbitkan buku terjemahan berjudul Menapak Jalan Revolusi, tulisan pemimpin Libya Muammar Khaddafi. Buku ini melengkapi terbitan Insist Press sebelumnya, yakni Pengakuan Hak Atas Sumber Daya Alam, tulisan Ton Dietz. Masing-masing buku terjual hampir 2.000 eksemplar. Lumayan, mengingat setiap buku Insist hanya dicetak sebanyak 3.000 eksemplar.

Berbekal dua buku ini, Insist mulai menemukan corak dengan menerbitkan buku bertema antiglobalisasi, yang dijual Rp 15.000 sampai Rp 35.000. Meski tak bisa dibilang jeblok, buku bertema antiglobalisasi tetap mendapat tempat. "Minimal dibeli kalangan LSM," kata Eko Prasetyo, yang juga mantan Koordinator Insist Press, kepada Mukhlison S. Widodo dari Gatra.

Menurut hitungan Eko, buku Insist memang ditujukan bagi LSM yang kini berjumlah sekitar 2.000 organisasi. Jadi, dengan hanya mencetak 3.000 jilid, sebuah buku sudah bisa terserap dua pertiganya. Di antara buku-buku itu, yang terbilang laku adalah karya Eric Shcoller berjudul Negeri Fast Food (2000), seri komik berjudul Che untuk Pemula (2003), dan Orang Miskin Dilarang Sekolah! karya Eko Prasetyo (2004).

Ketiga buku itu terjual sekitar 5.000 eksemplar. Hingga kini, Insist telah menerbitkan 70 judul buku. Kebanyakan buku itu merupakan karya terjemahan dengan tema yang tak jauh dari sikap antiglobalisasi. Tema ini, menurut Eko, sesuai dengan pandangan para pengurus Insist. "Yang memberikan isyarat bahwa globalisasi banyak membawa dampak negatif," kata Eko, yang juga Ketua Divisi Program Pusat Studi Hak Asasi Manusia, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Lebih dari separuh jumlah cetakan disebar melalui jaringan LSM. Sisanya dipajang di beberapa toko buku mapan. Meski tak banyak menangguk laba, penjualan buku antiglobalisasi mampu mendenyutkan kegiatan penerbitan. Sampai kemudian datang perselisihan pada penerbitan ini. Biduk Insist pecah. Sebanyak 15 pengurus, termasuk Eko, memilih keluar dan mendirikan penerbit baru bernama Resist Book.

Buku-buku yang telah diterbitkan menjadi harta gono-gini yang pembagiannya masih dibahas. Pecahnya Insist, konon, dipicu rencana sebagian pentolannya untuk mengukuhkan penerbitan ini dalam sebuah perseroan terbatas. Seluruh pengurusnya bakal dijadikan karyawan dengan kewajiban layaknya pegawai kantoran.

Rencana ini memicu protes, lantaran dianggap mengekang kreativitas dan tak sesuai dengan semangat antiglobalisasi. "Sebagai perusahaan, penerbit pasti berorientasi keuntungan saja," kata Eko. Perseteruan inilah yang melahirkan Resist. "Lembaga ini tetap LSM, jadi kelaminnya jelas," kata Eko. Namun, menurut pengurusnya, Insist Press tak pernah berencana mengubah idealismenya.

"Kami tetap berpegang pada tema yang sama," kata Ahmad Mustofa, 26 tahun, pengurus Insist yang juga redaktur jurnal Wacana. Kalaupun ada reorganisasi, menurut dia, semata demi efisiensi kerja untuk mendongkrak produktivitas organisasi. Jadi, kelamin Insist pun sebenarnya sudah jelas.

Sigit Indra (Yogyakarta)
Majalah Gatra edisi 40 / X, 21 Agustus 2004

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru