Penerbit Tiga Serangkai: Bermula dari Toko Buku hingga Melahirkan Pesantren

Posted by Cinta Buku on

Siti Aminah terlihat energik di usia 67 tahun. Ibu hajah yang sudah sepuh itu masih mengontrol roda perusahaan. Pagi hari, ia sudah berada di kantor yang terletak di Jalan Dr. Soepomo, Surakarta. Pukul tujuh hingga pukul delapan pagi, ia mengikuti pengajian bersama seluruh karyawan.

Kegiatan rohani yang mengawali kerja sejak Senin hingga Kamis itu sudah menjadi tradisi di PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, perusahaan yang hingga kini dikelola Aminah. Maklum, Tiga Serangkai yang bergerak di bisnis penerbitan dan percetakan adalah bagian dari denyut nadi Pondok Pesantren Modern Islam As-Salam Surakarta.

Selain mengelola pesantren, Tiga Serangkai juga mendirikan dan mengelola SD Al-Firdaus di Surakarta. Dengan serangkaian aktivitas itu, Tiga Serangkai merupakan aura bagi perekonomian masyarakat setempat. Setidaknya ada sekitar 2.000 orang yang menggantungkan hidup padanya.

PT Tiga Serangkai Inti Corpora merupakan perusahaan induk (holding) Kelompok Tiga Serangkai. Perusahaan induk ini membawahkan PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri (penerbitan), PT Pantja Simpati (percetakan), PT Wangsa Jatra Lestari (percetakan), PT Assalaam Niaga Utama yang mengelola Goro Assalaam (retail), PT Tiga Serangkai Nusantara (retail buku), dan PT Tiga Serangkai International (perdagangan dan distribusi).

Kini, kelompok usaha tersebut memiliki mesin cetak paling canggih dengan kecepatan cetak 25.000 buku per jam. Barang cetakannya juga tak melulu buku sekolah dan lembar kegiatan siswa, tapi mulai merambah ke tema lain, seperti novel, filsafat, dan budaya. Dengan strategi penjualan langsung ke sekolah, buku terbitan Tiga Serangkai mampu menjangkau 77.000 sekolah, 3.000 toko buku, dengan dukungan 44 kantor cabang pemasaran serta 300 sales representative.

Seluruh usaha dikomandani Syarifuddin Noor, yang duduk sebagai CEO (presiden direktur). Dia adalah suami Eni Rahma Zainah, anak Abdullah dan Aminah, pendiri Tiga Serangkai. Abdullah dan Aminah memiliki empat anak, seorang di antaranya telah meninggal. Meski bos resmi dipegang anak menantu, toh faktanya Aminah masih memegang kendali.

Manajemen kekeluargaan yang diterapkan membuat Aminah menjadi figur yang disukai karyawan. Kebiasaan pengajian di pagi hari, misalnya, menurut Hary Sumarsono, membuat karyawan betah. "Ikatan emosional karyawan dengan perusahaan dibangun dari nilai-nilai spiritual," kata Corporate Secretary PT Tiga Serangkai itu.

Itu sebabnya, angka keluar-masuk karyawan di Tiga Serangkai relatif kecil. Dalam empat tahun terakhir ini, Tiga Serangkai Group menaungi 2.000-an orang untuk seluruh perusahaan.

Bermula dari Toko Buku
Abdullah Marzuki adalah lulusan Sekolah Guru B Surakarta (kini SMU Solo). Di sela-sela kegiatan mengajar di daerah Wuryantoro, Wonogiri (sekitar 50 kilometer selatan kota Solo), Abdullah dan istrinya, Siti Aminah, rajin mengumpulkan soal-soal ulangan maupun ringkasan pelajaran untuk dijilid.

Soal dan materi pelajaran itu semula ditulis tangan. Setelah banyak terkumpul dan banyak juga yang berminat, timbul niat Abdullah untuk mencetaknya. Naskah itu kemudian dicetak di percetakan Toko Buku Tiga di Solo. Setelah naskah dicetak, Abdullah dan Aminah menawarkannya ke sekolah-sekolah.

Selain mengajar, suami-istri asal Desa Losari, Kecamatan Tulakan, Pacitan, Jawa Timur, itu juga membuka warung kelontong di depan rumah mereka. Selain itu, mereka menjadi agen buku dari Toko Buku Tiga. Di depan warung, ia memajang papan bertuliskan Penerbit Toko Buku Tiga. Tahun-tahun berikutnya, saat penjualan buku melonjak, pemilik Toko Buku Tiga keberatan dengan pemasangan papan nama itu lantaran khawatir akan terbebani pajak tambahan.

Pada akhir 1959, Abdullah mengubah nama "Agen Toko Buku Tiga" menjadi "Toko Tiga Serangkai". Nama ini dipilih agar tak jauh berbeda dari nama sebelumnya, sekaligus sebagai penghargaan kepada Toko Buku Tiga. Pada 1966, untuk mengembangkan usaha, Abdullah dan Aminah memindahkan usaha mereka ke Sukoharjo. Mereka juga pindah mengajar ke SD Begajah, Sukoharjo. Pada 1969, saat usaha penerbitan menampakkan kemajuan, pasangan suami-istri ini hijrah ke Solo.

Abdullah dan Aminah kemudian berhenti menjadi guru dan fokus untuk memajukan usaha. Mereka dibantu Kamaluddin dan Chabib Ruslan, saudara dekat pasangan suami-istri ini. Waktu itu, kegiatan produksi dilakukan di Jalan Dr. Soepomo, Solo, yang hingga kini menjadi pusat pengendali bisnis Kelompok Tiga Serangkai. Pada 1970, setelah membeli rumah di daerah Notodiningratan, Tiga Serangkai akhirnya memiliki mesin cetak stensil pertama merek Rex Rotary.

Dengan mesin itu, Tiga Serangkai mencetak banyak buku. Di antaranya yang jadi best-seller adalah Himpunan Pengetahuan Umum, Himpunan Pengetahuan Alam, Sari Bumi Indonesia, dan Intisari Bahasa Indonesia. Cara memasarkan produknya sungguh sederhana, yakni mendekati kepala sekolah yang dikenal atau mengirim contoh buku ke setiap sekolah dasar di beberapa kabupaten. "Cara ini sampai sekarang masih dipakai," kata Hary.

Kemajuan pesat terus dialami Tiga Serangkai. Namun, di tengah gelimang sukses, Abdullah Marzuki meninggal pada 1990. Kendali bisnis pun sepenuhnya beralih ke tangah Siti Aminah. Dengan gigih, Aminah mengelola Tiga Serangkai.

Pada 1992, status perusahaan CV Tiga Serangkai berubah menjadi PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Rencana pengembangan usaha pun disusun. Pada tahun 2000, PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri diarahkan untuk menjadi holding company. Lalu, pada 2003, PT Tiga Serangkai mengalami perkembangan struktur dengan mendirikan beberapa anak perusahaan.

Heru Pamuji & Sigit Indra
Majalah Gatra edisi 49 / XII, 25 Oktober 2006

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru