Penerbit Indonesia Pertama yang Memiliki Website dan E-book

Posted by Cinta Buku on

Penerbit Mizan, Bandung, kembali mencatat "rekor". Setelah tampil sebagai penerbit pertama di Indonesia yang memiliki website (Mei 1996) dan perdagangan buku lewat internet (September 1999), Mizan kini menyuguhkan buku elektronik, atawa e-book. "Yang membanggakan, ini e-book pertama di Indonesia," kata Putut Widjanarko, Direktur Pelaksana Penerbitan Mizan, Rabu pekan lalu.

Sebagai menu pembuka, penerbit yang getol meluncurkan buku bernafaskan Islam ini menghidangkan Wasiat Sufi Imam Khomaeni Kepada Putranya, Ahmad pada jalur mayanya. Suntingan dari buku berjudul Imam Khomaini's Will to His Son, Ahmad ini sudah bisa diklik oleh para netter lewat gerbang www.mizan.com, atau ekuator.com, mulai Jumat pekan lalu.

"Kami belum berpikir memasukkan buku terbitan Mizan yang best seller," kata Putut, kepala proyek ini. Menurut dia, tampilan e-book ini tak ubahnya buku cetak biasa. Pertama-tama, pembaca akan disuguhi sampul buku yang bergambar foto sang Imam. Halaman selanjutnya memuat daftar isi, lalu pengantar dari penerbit dan penyunting, dan seterusnya.

Yang membedakan adalah cara membuka halaman demi halaman. Kalau pada buku konvensional pembaca masih bisa menjilat telunjuk sebelum berpindah halaman, maka jangan coba-coba kebiasaan itu dilakukan pada e-book."Layar komputer bisa belepotan," kata Putut, bercanda. Untuk berpindah halaman, tinggal mengklik kursor pada ikon"lanjut", atau"kembali".

Buku setebal 90 halaman ini terdiri dari dua bab, di luar pengantar penerbit. Bab pertama, yang merangkum 40 halaman, memaparkan sosok Ayatullah Khomaeni sejak muda, masa menempuh pendidikan, hingga mulai menuliskan pikiran-pikirannya. Pribadi sederhana dan keluhuran akhlak sang pemimpin Revolusi Iran ini juga disuguhkan.

Sebetulnya,"daging" buku ini dimulai pada bab kedua, yang tebalnya 27 halaman. Bab ini bercerita tentang wasiat sang Imam, yang ditujukan kepada manusia dan alam semesta. Di dalamnya terurai pemikiran Khomaeni mengenai ketergantungan manusia kepada Allah, dan alam semesta sebagai penampakan Sang Khalik. Total buku ini menghabiskan kapasitas penyimpanan sebesar 400 kilobyte.

Agar e-book ini enak diklik, Mizan menggandeng Virtuon Technologies dalam merancang tampilannya. Setelah digodok selama tiga pekan, pilihan desain jatuh pada pemakaian software Adobe Acrobat Reader. Alasannya, selain banyak tersedia, kata Manajer Pemasaran Virtuon, Kodrat Dj. Wasono,"Peranti lunak ini pun mengandung teknologi postcript yang bisa mengenali tulisan dan citra bergerak."

Hasilnya, ketika pembaca berpindah halaman,"lembaran kertas" seolah bergerak seperti membuka buku cetak biasa. Virtuon juga memanjakan para netter dengan menyuguhkan tulisan dalam format portable documents format, yang punya 1.000 pilihan font huruf. Dengan memilih huruf berukuran font 12 dan spasi yang cukup renggang, tampilan e-book ini cukup akrab di mata.

Dengan fasilitas hyperlink, pembaca dimudahkan"melompat" dari halaman satu ke halaman lain, meskipun jaraknya berjauhan. Sayangnya, Mizan belum memiliki server sendiri untuk menyimpan berkas e-book-nya. Untuk sementara, menurut Putut, file itu dititipkan pada hosting server CDL2000 di Jakarta. Itu pula yang membuat proyek ini tak banyak menelan modal."Investasinya tak lebih dari Rp 10 juta," katanya.

Untuk tahap awal, e-book ini disajikan gratis. Targetnya adalah menularkan budaya baca lewat layar monitor. Putut lalu mengutip prediksi John Vicker, Wakil Direktur Vista Computer Services, bahwa dalam 10 tahun mendatang, 50% produk terbitan akan berupa buku elektronik."Saya optimistis, kondisi ini merambah ke Indonesia," katanya.

Hidayat Gunadi
Majalah Gatra, 12 Pebruari 2001

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru