Novel Burung-burung Manyar Terinspirasi oleh Kehidupan Hewan di Indonesia

Posted by Cinta Buku on

Sebagai sastrawan, nama Y.B. Mangunwijaya identik dengan Burung-burung Manyar. Novel yang terbit pertama kali tahun 1981 ini langsung mengibarkan namanya dan membawanya ke khazanah sastra dunia. Berkat karyanya ini Mangunwijaya, pada 30 Oktober 1983, menerima The South East Asian Write Award. Konon, pada tahun yang sama, novel ini sebenarnya juga mendapat Penghargaan Yayasan Buku Utama, namun terkena “veto”.

Dalam esainya “Pengakuan Seorang Amatir” (1984), Mangunwijaya antara lain menjelaskan:
“Burung-burung Manyar” semula saya maksud hanya sebagai sebentuk novel untuk “mengabadikan” kota keluarga saya, Magelang, dengan latar belakang Perang Kemerdekaan, khususnya medan laga Magelang-Ambarawa, kota kelahiran saya. Sebagian itu terdorong juga oleh kejengkelan saya mengenai pemalsuan-pemalsuan dan pemitosan peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak sehat, Sekaligus saya ingin mengimbau kawan-kawan sebangsa untuk merenungkan kembali pertanyaan dasar kehidupan, dan khususnya bertanya kembali maksud esensi Revolusi 1945 itu.

Para pengamat sastra biasanya lebih tertarik untuk membahas tema besar yang menyelimuti novel tersebut. Namun, pembaca yang suka mengamati proses kreatif seorang pengarang mungkin lebih tertarik untuk memperhatikan satu hal kecil di balik riwayat “kelahiran” novel penting itu. Ternyata, di balik kesuksesannya, Burung-burung Manyar sempat mengalami saat-saat rawan dalam proses kreatifnya —saat-saat yang hampir menelikung pengarangnya dalam kemacetan. Dalam situasi macet itulah tiba-tiba muncul sang penyelamat, sehingga jadilah Burung-burung Manyar dalam bentuknva seperti yang kita baca sekarang. Dan sang penyelamat itu “hanyalah” sebuah buku sederhana, bacaan anak SD waktu itu, berjudul Dierenleven in Indonesia (Kehidupan Hewan di Indonesia) karangan Dr. H.C. Delsman.

Bagaimana kisah munculnya Dierenleven in Indonesia dalam proses penjadian Burung-burung Manyar, yang konon meminta waktu pergulatan uji coba kira-kira tujuh tahun? Dalam esai yang sama Mangunwijaya menuturkan:
... ketika dengan susah payah, dan buang-buang sekian banyak halaman, naskah percobaan saya baca kembali, terasalah bahwa hasilnya sama sekali tidak memuaskan, Bila ditanyakan novel ini mau omong apa, maka terasa hampalah ketika itu. Cerita berjalan, tetapi dangkal. Akhirnya, sesudah sekian tahun menulis, istirahat, baca ulang, kecewa, menulis lagi, buang ini, tambal itu, robek sini, tambal sana, masuk laci, baca ulang, masuk lagi, keluar lagi, diubah lagi sampai putus asa dan seterusnya, keluarlah suatu hasil yang memang ada ceritanya, tetapi macet pada halaman terakhir. Teto sudah bertemu dengan Larasati, nah lalu apa? Cinta segitiga? Kodian. Bertele-tele. Yang satu matu karena kecelakaan? Kodian lagi. Akhirnva yang absurd, semua mati? Saya tidak ingin menjadi imitator eksistensialisme Sartre maupun mengunyah kembali lakon Bharatayuda. ini harus novel Mangunwijaya. Tetapi lalu bagaimana?

Ketika itu, ide atau judul “Burung-burung Manyar” sama sekali belum muncul. Nama-nama tokoh lakon pun belum final, cuma “tanda pengenal” sementara saja, sebab memang saya ingin setia kepada prinsip Jawa, bahwa nama orang bukan sekadar tanda pengenal, tetapi mengandung makna. Akhirnya, seluruh naskah terpaksa saya masukkan ke dalam laci sesudah mengakui semua macet. Istirahat dulu. Diterbitkan sih juga bisa, tetapi saya tidak mau menerbitkan sesuatu sebelum saya sendiri yakin dan berani mempertanggungjawabkan setiap bagian novel kepada diri sendiri dan para pembaca.

Pada suatu hari, saya melihat-lihat di toko buku loakan dan menemukan buku dari kepustakaan SD nun dulu kala mengenai perilaku binatang-binatang Nusantara karangan Dr. H.C. Delsman tadi. Baca punya baca, nostalgia saya sampai pada halaman-halaman yang memuat uraian perilaku burung-burung manyar. Asyik saya membacanya karena burung-burung kecil pemakan padi itu sangat saya kenal ketika saya masih anak-anak. Dalam musim menjelang panen tadi, beribu-ribu burung manyar bagaikan awan gelap melayang-layang di udara dan menikuk ke bumi untuk menyambar padi yang dijaga ketat oleh para petani dengan tali-tali bergerak, dan lain-lain, untuk menghalau binatang-binatang penyamun itu. Penerbangan dan serangan awan-awan manyar itu bagi kami anak-anak sungguh pemandangan yang menakjubkan. Tetapi jelas sungguh malapetaka bagi pak tani. Sarang-sarang manyar pun sangat kami kenal karena sering kami kacau bunrng-burung itu bila mereka sedang berpacaran. Tetapi saya belum pernah tahu bahwa manyar-manyar jantan menghancurkan sendiri bangunan sarang buatannya apabila ditaksir kurang laku oleh si betina. Dr. Delsman menerangkan itu dengan menarik. Tiba-tiba ilham masuk dalam hati saya bahwa inilah pamor cerita yang persis dibutuhkan oleh novel saya. Sebab sampai sekian. novel barulah ibarat besi lengkung yang dapat saja dipakai untuk menusuk, tetapi belum berpamor, belum punya greget elan vital sebagai keris sakti.

Namun, akibat penentuan pamor itu, hampir seluruh naskah dari awal sampai akhir harus diulang dan dirombak kembali, praktis seperti manyar mendirikan bangunan baru. Tetapi sungguh saya lega ketika itu. Seperti fajar baru yang menyingsing setelah keragu-raguan, khawatir antara gelap dan tiada harapan.

Bila dicermati, tampak bahwa kasus munculnya cerlang cahaya dari buku Kehidupan Hewan di Indonesia itu merupakan sesuatu yang khas terjadi dalam proses kreatif seorang pengarang, yaitu dalam fase pengendapan. Tentu cerlang cahaya itu hanya mungkin muncul dalam diri seorang pengarang yang selain mampu bersikap kritis terhadap karya sendiri, juga sanggup bersikap sabar dalam proses menulisnya.

Buka Diereleven in Indonesia yang melukiskan perilaku hewan-hewan di Indonesia secara rinci dan menarik itu agaknva demikian membekas dalam ingatan Mangunwijaya sampai ia terobsesi untuk membuat buku bacaan untuk anak-anak SD. Sampai akhir hayatnya, hasratnya itu belum kesampaian. Dan ia sempat mengakui bahwa membuat buku bacaan untuk anak SD adalah bidang vang justra paling sulit ia lakukan.

Toh hasratnya itu tidak sepenuhhya menguap. Terinspirasi oleh buku ilmu hewan berbahasa Belanda itu, di SD Mangunan, Yogyakarta, yang dirintisnya beberapa tahun sebelum meninggalnya, ia mencoba membuka “mata pelajaran” Membaca Buku Bagus. Sekali dalam seminggu guru dijadwalkan membacakan kisah menarik di hadapan siswa-siswinya. Buku bacaan yang dianjurkan adalah yang mengisahkan berbagai bentuk keberanian para petualang penjelajah benua, petualang-petualang ilmu pengetahuan, dan cerita-cerita petualangan anak-anak yang berani, eksploratif, kreatif, dan integral. Hal ini dilakukan antara lain dalam rangka mengembangkan proses pembelajaran yang mampu memotivasi siswa untuk aktif berpikir, mengembangkan daya imajinasi dan daya fantasinya, rnerambah cakrawala-cakrawala luas, mengembara ke berbagai sudut terra incognita yang belum terjelajahi, hutan-hutan rimba yang penuh misteri, agar berani mencoba hal-hal baru dan tidak terbelenggu pada pola-pola lama, sehingga akhirnya ia bisa berpikir dan bersikap multidimensional, bisa menyelami dan melihat kehidupan dari berbagai segi.

Dalam manuskrip yang ia tulis sebelum meninggalnya, Mangunwijaya sempat menekankan:
Bacaan tentang cerita-cerita petualangan harus menjadi menu makanan anak-anak kita, yang dibumbui oleh komentar guru yang memuji anak, atau orang pemberani yang tak gentar menempuh risiko, dan yang bertahan pada keyakinannya, seperti Kolumbus, Pasteur, Edison, dll. untuk menemukan dunia dan cakrawala baru. Demikianlah murid-murid kita terdidik menjadi pemberani yang tidak gentar menghadapi kemacetan dan kesulitan situasional mereka; berkat dimodali semangat eksploratif, penguasaan bahasa, dan jiwa kreatif dengan kemahiran lateral thinking atau keberanian berpikir nggiwar.

Demikianlah, sebuah buku bacaan anak SD yang tampak sederhana bisa sedemikian berharga bagi hidup dan karya YB. Mangunwijaya.

Majalah Mata Baca Vol. 1 No. 1 / Agustus 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru