Menuju Jaringan Perbukuan Internasional

Posted by Cinta Buku on

Pengantar
Sejak rakernas Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Batu, Malang (Oktober 2001) sampai pencanangan 17 Mei menjadi Hari Buku Nasional (Presiden Megawati, diwakili Menteri pendidikan Nasional Malik Fadjar di Hotel Indonesia), kami catat beberapa peristiwa yang bermakna dan berdampak pada kehidupan publik. Inilah catatan peristiwa yang menjadi dunia perbukuan, pusat perhatian publik.

Industri televisi di tanah air akhir-akhir ini menimbulkan rasa was-was dan kekhawatiran serta optimisme pada banyak pihak, termasuk pihak komunitas media cetak dan perbukuan. Industri televisi bisa menjadi ancaman sekaligus peluang kampanye perbukuan. Industri ini menjadi musuh sekaligus partner untuk menghibur, menginformasikan dan mendidik masyarakat. TVRI dalam siaran sejak pukul 19.00-21.00, jumat, 17 Mei 2002 memusatkan siaran pada acara masyarakat perbukuan di Hotel Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah mengetahui langsung acara pencanangan Hari Buku Nasional, 17 Mei, setiap tahun. Televisi membantu kampanye tentang tulisan-tulisan lokal saat ini yang menonjol prestasi penulisan naskah karangannya untuk dibukukan. Kampanye tentang ilustrator dan artis perbukuan yang patut mendapat apresiasi publik dan kampanye penerbit-penerbit yang mendapat penghargaan Adikarya Ikapi tahun 2002. Arswendo yang dikenal luas dengan sinetron “Keluarga Cemara”, mendapat perhatian publik karena buku baru yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, mendapat hadiah Adikarya Ikapi tahun ini.

Salah satu prestasi menonjol dalam organisasi Ikapi dan segala organisasi perbukuan lainnya dua puluh tahun terakhir ini adalah kemampuan belajar manajemen pameran buku internasional dan diterapkan dalam kegiatan pameran yang dikelola Ikapi. Organisasi ini setiap tahun sudah terbiasa menyelenggarakan pameran buku baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lain di Jawa dan Sumatra.

Kelompok kerja pameran di lingkungan Ikapi sudah sibuk kembali sesudah menyelenggarakan Pameran Buku Internasional di Jakarta (Indonesian Bookfair) September 2001. Sebuah rombongan besar mengikuti Frankfurt Bookfair 2001 di Jerman. Maret 2002, untuk pertama kalinya di selenggarakan Islamic Bookfair di Jakarta, oleh Pokja Buku Islam, Ikapi Jaya, April 2002, rombongan kecil mengikuti Bologna Children Bookfair, Italia dan rombongan cukup besar (40 orang) mengikuti Kuala Lumpur Bookfair di Malaysia.

Sudah lama disadari bahwa peristiwa pameran buku internasional bisa dikelola menjadi sebuah bentuk diplomasi kebudayaan Indonesia yang baru. Sudah beberapa bulan di awal tahun 2002 terjadi pembentukan sebuah tim pemrakarsa diplomasi kebudayaan Indonesia ke luar negeri dengan memanfaatkan peristiwa pameran buku internasional yang diselenggarakan di kota-kota kosmopolitan di seluruh dunia.

Pada April 2002, terbentuk sebuah tim kerja dengan nama Forum TIM Venezia (untuk mengenang pertemuan tim ini di restoran Venezia-Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta), Tim ini melibatkan pejabat dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Luar Negeri, masyarakat bisnis dan unsur Dewan Buku Nasional untuk menggerakkan publik berpartisipasi aktif dalam gerakan diplomasi kebudayaan Indonesia secara baru demi citra Indonesia yang beradab di mata internasional. Kita berharap prakarsa ini berbuah dan berdampak pada dinamika baru perbukuan nasional berciri kosmopolitan.

Salah satu targetnya, Indonesia tampil dalam ruang pameran khusus di Frankfurt Bookfair untuk memperlihatkan kepada komunitas cendekiawan kosmopolitan, tingkat kebudavaan dan peradaban yang tinggi dari masyarakat Indonesia yang memiliki prinsip dan pandangan hidup dengan inspirasi pada kemanusiaan yang adil dan beradab, seperti dihayati oleh komunitas budaya cosmopolitan. Target lainnya, berfungsi secara aktif dan dinamis jaringan kantor-kantor atau lembaga kebudayaan Indonesia di seluruh dunia, seperti masyarakat terpelajar di tanah air merasakan kehadiran Goethe Institute, Pusat Kebudayaan Francis, Erasmus Huis-Pusat Kebudayaan Belanda, British Council-Pusat Kebudayaan Inggris dan kantor kebudayaan negara tetangga lainnya di Indonesia.

Bekerjanya kantor atau lembaga kebudayaan Indonesia tidak lepas dari penghargaan masyarakat terhadap pengarang-pengarang yang mapan dari Indonesia (established author) dan pengarang-pengarang yang masih perlu dikampanyekan dan dipromosikan ke luar negeri (promoting author). Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Jakob Oetama dan lain-lain bisa dijadikan proyek dan agenda diplomasi kebudayaan baru di mata internasional di dalam “kantor” kebudayaan Indonesia itu.

Sementara itu, dilanjutkan dengan kampanye dan promosi karya pengarang-pengarang muda potensial yang diseleksi melalui Adikarya Ikapi untuk dikenal melalui karya-karya terjemahannya di mata internasional. Peluang bisnis terbuka bagi literary agent agen literer dengan visi dan sense of business yang berorientasi ekspor produk-produk kultural domestik, yakni komunitas pengarang lokal yang mampu berbicara di panggung-panggung publik internasional. Perlu juga dipikirkan kegiatan menerjemahkan karya-karya pengarang lokal ini untuk kepentingan diplomasi kebudayaan dengan bahasa-bahasa besarnya. Inilah peluang bisnis sekaligus diplomasi kebudayaan untuk pengarang, literary agents dan penerjemah-penerjemah yang menguasai berbagai bahasa kebudayaan dan peradaban kosmopolitan.

Sebuah pertanyaan kritis muncul di tengah optimisme baru, biarpun masvarakat dan negara kita masih dilanda krisis politik dan ekonomi kerakyatan yang berkepanjangan adalah bagaimana komunitas perbukuan lokal menghadapi hadirnya jaringan kerja perbukuan internasional di tanah air? Kegelisahan ini diangkat dan disadari oleh komunitas penerbitan di Jakarta ketika mereka mengadakan rapat kerja di Hotel Indonesia, Maret 2002. Jaringan bisnis perbukuan internasional semakin tertarik untuk mengembangkan usahanya karena komunitas internasional semakin tumbuh dan berkembang di tanah air.

Salah satu peninjau dalam rapat kerja Ikapi DKI Java itu adalah Ketua Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta, Drs. Noor Riyadhi, yang baru diangkat oleh Diknas untuk menjadi ketua jurusan (kajur). Tradisi berorganisasi di mana saja, yang sudah sadar akan tingkat perkembangan karya dan usahanya dan sadar akan kompetitor yang menjadi inspirator, partner dan kompetitor sekaligus, ditandai dengan pelembagaan kegiatan professional training dan penelitian mutu pekerjaan teknis, profesional sekaligus memiliki sense of cultural mission.

Sudah waktunya kampus professional training untuk tenaga-tenaga perbukuan (dalam definisi kulturalnya) mengembangkan mekanisme pelembagaan umpan balik dengan industri buku nasional dan internasional. Pada bulan April, Mei, Juni dan Juli setiap tahun siswa dan mahasiswa kampus melakukan praktek industri di perusahaan-perusahaan industri perbukuan dan media lainnya. Selama ini siswa dan mahasiswa itu merasa kecewa dan frustrasi karena kampus dan industri belum memikirkan sistem ujian dan sistem supervisi serta sistem umpan balik dari dua dunia itu. Dibutuhkan gerakan pedagogi dan didaktik baru untuk menjembatani kampus dan dunia industri.

Sejak Juli 2001, Sekjen Diknas menugaskan penasihat Pusgrafin yang diangkat dengan resmi oleh Diknas, untuk memikirkan refungsionalisasi lembaga Pusgrafin dan lembaga-lembaga perbukuan di lingkungan Diknas untuk menemukan fungsinya yang tepat di era reformasi kultural sekarang ini.

Kapus Pusgrafin sudah diserahterimakan kepada pejabat baru pada Mei 2002. Tugas pejabat baru antara lain melanjutkan instruksi tugas mereformasi Pusgrafin untuk menopang gerakan pedagogi dan didaktik baru untuk mempersiapkan tenaga-tenaga baru dalam dunia perkembangan penerbit-penerbit buku sekolah (schoolbook publishing). Diknas sudah sangat berpengalaman dalam mengembangkan industri buku sekolah. Sementara perbukuan internasional pcrlu mendapat dukungan juga dari Departemen Luar Negeri, Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, Departemen Industri dan Perdagangan, serta Departemen Tenaga Kerja yang mendorong pekerja ke luar negeri. Industri buku nasional memerlukan dukungan negara untuk bersama-sama ikut berkontribusi untuk peradaban dunia melalui buku-buku dan pengarang dari Indonesia.

Praktik industri dari siswa dan mahasiswa kejuruan perbukuan menjadi momen pedagogi dan didaktik yang penting baik untuk dosen-dosen dan mahasiswa di kampus maupun untuk instruktur dan praktisi profesional yang berjiwa guru dari lingkungan industri. Semua dilakukan dalam kesadaran diplomasi kebudayaan dan persaingan sehat pasar buku internasional, karya kolektif golongan intelektual sedunia. Kita memasuki horison pengetahuan baru, manajemen kesenian dan ilmu pengetahuan dari dua dunia, praktek dan teori, learning by doing.

Frans M. Parera
Majalah Mata Baca Vol. 1 No. 1 / Agustus 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru