Menengok Dunia Distribusi Buku

Posted by Cinta Buku on

Lahirnya Distributor Buku
Bila kita berbicara tentang distribusi buku, salah satu aspek dan dimensi yang menarik adalah bagaimana terjadi pembagian tugas di antara pengusaha-pengusaha yang menjadi investor dalam dunia pustaka. Kita melihat sebentar dalam sejarah industri percetakan dari tempat kelahirannya, yakni di Jerman Selatan. Keluarga Johannes Gutenberg di Mainz tahun 1400-an dikenal secara luas sebagai pemilik perusahaan percetakan uang logam untuk kebutuhan tukar-menukar di pasar-pasar Jerman. Mesin cetak temuan Gutenberg merupakan sebuah lompatan dalam manajemen produksi, karena mesin itu mampu mencetak pada kertas dan menjadi buku. Yang sebelumnya hanya mampu mencetak logam atau benda keras lainnya untuk uang (security printing lebih dulu berfungsi daripada publishing printing). Kota Mainz terkenal sebagai kota bisnis para pengusaha percetakan (printing company).

Berbeda dengan sejarah kota Strassbourg di bagian selatan kota Mainz. Kota Strassbourg dikenal sebagai kota kelahiran distributor buku sedunia. Distributor buku pertama, mitra kerja pengusaha percetakan Gutenberg adalah Dr. John Faush, John Faush adalah perintis untuk para pengusaha distribusi buku di seluruh dunia dari industri perbukuannya. Buku pertama yang didistribusikan adalah Kitab Injil berbahasa Jerman yang dicetak oleh Gutenberg di Mainz. John Faush adalah kenalan Gutenberg, tetapi hidup di kota yang berlainan. Di kota Mainz sekarang, ada sebuah tugu yang didirikan oleh pemerintah kota untuk menghormati Gutenberg. Di bawah tugu Gutenberg itu ada sebuah prasasti dengan tulisan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan Indonesia sebagai berikut: Biarlah di sana ada terang. Mesin cetak dianggap sebagai sumber penerangan untuk kegelapan di sekitarnya. Terangnya percetakan berarti terangnya sebuah wajah (visual) yang mengekspresikan terangnya akal budi dari pemilik wajah yang cerah itu.

Lalu, di mana tugas khas kota Strassbourg sebagai tanah kelahiran distribusi buku Dr. John Faush itu? Buku itu seperti manusia, memiliki kepala dan wajah serta badan, sekaligus memiliki kaki-kaki yang mampu berjalan ke sana dan kemari sehingga terang itu bisa berfungsi di mana ada gerakan kaki. Distribusi itu komponen utuh dari sosok perbukuan yang memiliki pikiran, wajah yang indah dan kaki-kaki yang lincah berjalan dan berlari mencari pasangan dan partner kerja pengusaha, yakni konsumen atau pembaca. Distribusi menjadi lokasi penting untuk membangun struktur industri perbukuan yang mantap dalam pembagian tugas dan fungsi, seperti fungsi-fungsi organis dari anggota tubuh manusia. Distribusi membuat definisi buku menjadi utuh dan lengkap, buku menjadi sebuah mesin baca yang mampu beroperasi dan berjalan ke mana-mana menemukan mitra kerja dalam urusan baca-membaca. Dari mesin menjadi inspirasi untuk mesin dengan desain baru pada masa berikutnya.

Kota Strassbourg menyimpan etos kerja distributor pada masa perintisannya. Etos distributor yang masih  melekat dengan sikap sosial dari John Faush sendiri. John Faush mengagumi produk cetak buku karena alat  cetak ini mampu melahirkan sebuah keseragaman dalam bentuk dan format antara buku yang dicetak itu. Para pemilik buku itu menjalin kesamaan pengalaman memiliki buku yang serupa dan sama serta sebangun, hasil dari sebuah sistem reproduksi seperti melahirkan anak kembar yang sama-sama dalam anatomi dan perwajahannya.

Ada perasaan berciri alam gaib mengiringi hasil cetak buku itu, analog antara rahim wanita yang mampu melahirkan anak kembar yang persis sama; rahim wanita dengan kemampuan reproduksi yang mengagumkan dari kelahiran anak-anak kembar, begitu juga mesin cetak Gutenberg, merupakan sebuah mesin reproduksi dengan hasil kembaran yang mengherankan penglihatan dan perasaan manusia yang melihatnya. Perusahaan percetakan menjadi perusahaan reproduksi, penggandaan, fotokopi mengikuti jejak langkah proses reproduksi rahim betina dan perempuan untuk beberapa hasil repro yang sama, serupa dan sebangun.

Hasil reproduksi cetak buku Injil ini hampir menjerumuskan John Faush ke penjara karena dituduh oleh pejabat gereja (seorang uskup agung gereja Katolik di Jerman Selatan) sebagai kaki tangan setan dan iblis dari neraka untuk menjebak umat Katolik dari tujuan hidup yang sebenarnya. Uskup yang sudah mendapat buku dari John Faush pernah berkunjung ke istana raja, sahabat dekat uskup. Ternyata raja juga memiliki sebuah Kitab Injil yang dikirim oleh John Faush kepada raja. Dua buku dari dua pemilik kelas elite itu ternyata mirip dalam kuaiitas, Pengalaman kesamaan seperti ini belum pernah terjadi dengan buku-buku tulisan tangan sebelumnya. Keistimewaan produk teknologi cetak baru itu menimbulkan interpretasi faktual yang membahayakan keselamatan distributor buku karena ancaman pihak agama.

Sejak saat traumatis itu karena diancam hukum agama, John Faush pun menjadi takut dengan orang lain dari kerjaan sebagai distributor; demikian juga berkembang tidak percaya kepada orang lain yang akan membantu pendistribusian buku jualannya. Kota Strassbourg menjadi kota distributor buku pertama di Jerman, kota kelahiran pengusaha-pengusaha grosir dan pengusaha eceran perbukuan yang berlaku sampai sekarang ini.

Dari Strassbourg dimulai sebuah mekanisme sirkulasi dan distribusi ke luar kota Strassbourg. Sesudah memesan buku dari percetakan di Mainz, dia berusaha mengedarkan sendiri buku-buku yang akan didistribusikannya. John Faush mulai merintis sebuah observasi tentang konsumen buku, calon pembeli. Observasi konsumen melahirkan proses seleksi untuk dijadikan target grup kesibukan distribusinya. Dia berkesimpulan bahwa pembelian buku mahal ini adalah elite atau kelas atas dari struktur masyarakat Jerman yang menganut sistem politik feodalistis. Masyarakat menerima adanya raja dengan keluarganya beserta para bangsawan yang menjadi staf dan pembantu raja, Inilah target grup perdana terjadinya transaksi jual-beli buku. Para pemimpin gereja atau pangeran gereja (uskup, kepala biara, imam, dan calon imam) juga menjadi target grup penjualan buku dari distributor perdana itu. Hasil dari penjualan buku menjadi modal kerja untuk memesan kembali buku baru yang selesai dicetak oleh Gutenberg di Mainz. Kelas elite selain menjadi pembeli buku utama (dengan harga yang diperhitungkan oleh pengusaha-pengusaha perbukuan) sekaligus juga berfungsi sebagai Maecenas, pendukung perkembangan seni grafika karena buku-buku itu sekaligus produk artistik yang menarik perhatian dan memesona hati dan perasaan pemerhatinya.

Sesudah 600 tahun berlalu (1450-2002), beberapa kota di Jerman Selatan dan Tengah, kini memiliki citra sendiri dari segi industri perbukuan di Jerman. Mainz dan Strassbourg menjadi kota pengusaha cetak, pengusaha distribusi dan toko buku. Heidelberg menjadi kota industri penghasil mesin-mesin cetak dengan jangkauan penjualan ke seluruh penjuru dunia, termasuk banyak pengusaha cetak Indonesia membeli mesin cetak dari Heidelberg. Kota Frankfurt am Main, kota kelahiran Goethe ini terkenal sebagai kota pameran buku tahunan terbesar dibandingkan dengan pameran buku internasional sepanjang tahun di kota-kota metropolitan lain. Frankfurt menjadi barometer industri perbukuan global yang digelar selama Frankfurt Book Fair setiap bulan Oktober setiap tahun.

Kota dengan Peran Perbukuan
Pertanyaan berikutnya, apakah sejarah perbukuan di Jerman itu berulang kembali di lokasi lain di seluruh dunia dan juga berlaku di Indonesia? Sulit menjawab pertanyaan itu secara memuaskan karena masyarakat perbukuan Indonesia belum memiliki buku sejarah cukup lengkap yang mengisahkan perkembangan perbukuan di tanah air dari masa perintisan awalnya. Saya hanya berusaha memberi satu ilustrasi kecil. Saya mulai dengan pertemuan kami dengan Prof. Shigeo Minowa yang berlangsung di sebuah restoran di Senayan selama kami makan siang bersama tahun 1997 (yang hadir, antara lain Alfons Taryadi dan Teddy Surianto, keduanya dari Kelompok Kompas Gramedia).

Orang Jepang yang ahli dalam penelitian perbukuan di Jepang ditugaskan oleh kepala proyek penelitian Book Production Consumption (BPC) bekerja sama dengan UNESCO. Penelitian dilakukan untuk mengetahui dari dekat seberapa banyak warga negara Indonesia menyisihkan uang dari pendapatan sebulan untuk membeli dan mengonsumsi buku. Dia mengadakan wawancara dan observasi untuk memenuhi harapan dari kepala proyek penelitian itu.

Di Jepang setiap tahun selalu dikeluarkan oleh lembaga penelitian perbukuan Jepang hasil pemantauan tentang distribusi dan penjualan segala jenis publikasi pengusaha industri perbukuan Jepang. Selalu ada informasi dan penjelasan tentang lalu lintas distribusi publikasi, kondisi riil, harga jual di outlet eceran (retail price), kontrol harga dan margin keuntungan bisnis distribusi, pengelolaan harga retail dan sistem konsinyasi penjualan dan komposisi dari jaringan distribusi nasional. (Keterangan lebih lanjut lihat tulisan Dorothea Rosa Herliany dalam majalah Matabaca Edisi Perkenalan/ Agustus 2002, “Pengalaman Mengunjungi Jepang, Dicari: Karya (Asli) Sastra Indonesia”, hlm.17-22).

Kota Tokyo mirip kota Mainz di Jerman, menjadi pusat industri penerbitan dan percetakan Jepang, Tokyo juga menjadi kota para pengusaha besar dalam sistem distribusi buku nasional, karena di sana bekerja pengusaha grosir (grosir umum dan grosir produk khusus), seperti Tohan Ageo Centre atau Tokyo Logistic Center. Tokyo menjadi kota kombinasi Mainz, Strassbourg dan Frankfurt, karena setiap tahun pada akhir Januari atau Februari diselenggarakan Tokyo International Book Fair. Namun, di luar Tokyo masih terdapat kota-kota sebagai pusat perdagangan buku, seperti kota Kanda. Di Kanda terdapat banyak grosir dan toko buku eceran. Kota Kanda menjadi pusat pendidikan dan sekolah kerakyatan karena masyarakat Jepang mengalami proses pencerdasan dirinya selain menjalankan kewajiban sekolah formal (negeri dan swasta) dengan jadwal rutin yang ketat, juga mengunjungi perpustakaan sekolah dan publik (library visitor). Juga rajin ke toko buku dan pusat distribusi buku untuk memiliki buku-buku yang dicari dengan susah payah. Pusat perdagangan buku seperti kota Kanda menurut pandangan Prof. Shigeo Minowa tidak kalah menjalankan misi pendidikan kerakyatan dengan kesibukan berjualan buku segala macam pengetahuan dari segala macam jenis penerbitan di Jepang dan di luar Jepang. Kota Kanda memberi kontribusi membangun kebiasaan membaca masyarakat Jepang. Bagi masyarakat pembaca Jepang, ada tiga lembaga dengan misi kecerdasan penduduk Jepang; sekolah formal, perpustakaan, dan toko buku. Kawasan pendidikan berarti kawasan sekolah, kawasan perpustakaan dan kawasan toko buku. Ketiga kawasan itu menjadi pusat distribusi buku, lembaga distributor buku, memperantarai produsen (penerbit) dan konsumen (pembaca).

Identifikasi Kawasan Pendidikan Baru
Salah satu kawasan yang menjadi objek penelitian dan observasi Prof. Minowa selama tahun 1997 adalah daerah Kwitang di Segitiga Senen. Segitiga Senen yang meliputi Kwitang, Lapangan Banteng dengan Jalan Gunung Sahari dan Kawasan Tanah Tinggi, mengandung sejarah kekayaan kultural, kesenian dan intelektual Indonesia. Dari gedung eks-Stovia menjadi pusat gerakan emansipasi kemerdekaan sesudah revolusi sosial pertengahan abad ke-19 di Jawa dan Sumatra (lihat seri sastra Pramoedya yang diawali dengan Bumi Manusia). Di Kwitang ada gedung Sumpah Pemuda tahun 1928, Dari puisi penyair tahun 1980-an dan tradisi sastra Cina Peranakan (jauh sebelum sastra Melayu dari Balai Pustaka) sudah ada penerbit, editor buku, dan percetakan di sekitar Pasar Senen (termasuk Paseban dengan Jalan Percetakan Negara-nya). Dari Pasar Senen juga lahir kelompok seniman bohemian dari lokasi angker itu. Di Kwitang lahir sistem distribusi perbukuan yang ditransfer dari sistem distribusi perbukuan di negeri Belanda dan masih berlangsung dengan kondisi kritis sampai saat ini. Di sekitar Pasar Senen juga tumbuh pusat distribusi baru yang diprakarsai oleh Pusat Perbukuan Depdikbud dengan proyek buku inpres dan monopoli buku teks sekolah dasar dan sekolah menengah oleh Penerbit Balai Pustaka, penerbit milik negara (diambil alih dari Jepang pada masa proklamasi dan dijadikan milik negara). Di kawasan itu sudah berlangsung sebuah proses pendidikan politik menuju demokrasi, memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dan mendorong generasi muda untuk mencapai revolusi personalia melalui jenjang persekolahan dan pendidikan.

Prof. Shigeo Minowa melihat kawasan Kwitang sebagai Kanda mini (Jepang). Kwitang menjadi pusat kesibukan pengusaha-pengusaha tipe John Faush dari Strassbourg yang mencari nafkah dari kesibukan distribusi dan sirkulasi buku yang dicetak dan dibiayai penerbitan buku di Jakarta. Seperti Kanda di Jepang dihargai sebagai pusat pendidikan kerakyatan, maka Prof, Minowa merekomendasi kepada masyarakat pembaca buku di Indonesia agar Kwitang dihargai sebagai pusat pendidikan kerakyatan. Pengusaha distribusi buku dihargai oleh masyarakat setingkat dengan guru dan pustakawan. Begitu tingginya apresiasi masyarakat Jepang kepada usaha distribusi buku, sama apresiasi kita terhadap guru dan pustakawan dengan latar belakang pendidikan mereka.

Pada hasil akhir penelitian beliau di Indonesia, dia seolah-olah berkesimpulan bahwa fungsi pendidikan kerakyatan Kwitang sejak 1970-an sampai tahun 1997 (juga sampai sekarang tahun 2002) tidak semeriah seperti di Kwitang pada masa Orde Lama dan masa Hindia Belanda. Itulah lokasi pengusaha grosir yang menopang pengusaha toko buku eceran di seluruh Indonesia. Sebagai contoh, tahun 1950-an sebelum terjadi intervensi berlebihan dari jaringan kerja Depdikbud RI, buku pelajaran dari Penerbit JB Wolters di Jakarta dan Firma Maju Medan terdistribusi dengan baik sampai ke Flores dan Indonesia Timur. Itulah jasa pengusaha grosir buku dari Kwitang yang memperhatikan pesanan dari seluruh Indonesia. Layanan mereka menjangkau lokasi terpencil, seperti kota Bajawa di pedalaman Pulau Flores, yang masih sangat minim fasilitas transportasinya.

Kisah Azhar Muhammad dari Padang
Pengusaha Toko Buku Anggrek di kota Padang bernama Azhar Muhammad. Dia sudah berbisnis toko buku sebelum Orde Baru, sudah sekitar 40 tahun lamanya. Pengusaha senior ini menceritakan kisah tragis pengusaha toko buku di Provinsi Sumatra Barat selama tahun 1970-an sampai sekarang. Kisahnya mirip dengan pengamatan Prof. Minowa tentang grosir di Kwitang dan pejabat dari pusat-pusat perbukuan di Depdikbud dengan aksi perbukuannya. Provinsi Sumatra Barat juga memiliki pengusaha-pengusaha toko buku dari tingkat ibu kota provinsi, kabupaten, bahkan ada yang berbisnis buku di tingkat kecamatan, Toko buku sudah dikenal masyarakat Minang sejak negara Hindia Belanda dengan sistem distribusi dari Belanda. Penerbit Balai Pustaka dan Penerbit Buku Swasta (JB Wolters) menjadi mitra usaha seperti Gutenberg dan John Fush untuk pengusaha distribusi di sana. Jaringan toko buku itu hidup dari bisnis buku pelajaran yang dikirim oleh grosir-grosir di Kwitang selama Hindia Belanda sampai tahun 1970-an, sebelum Pusat Perbukuan menjalankan politik distribusi yang berbeda dengan sistem distribusi sebelumnya, yang mendukung konsep industri perbukuan standar. Toko buku hidup dari bisnis buku sekolah. Grosir di Kwitang juga hidup dari bisnis buku sekolah dari penerbit swasta, sebelum Balai Pustaka mendapat monopoli buku teks sesudah tahun 1970-an, bekerja sama dengan pusat-pusat pernaskahan, pusat perbukuan, pusat penilaian buku teks, pusat grafika dan pusat gudang-gudang buku yang dibangun oleh negara sehingga selama tahun 1970-an sampai sekarang menonjolkan ciri etatisme (campur tangan negara dalam bisnis perbukuan sekolah) dalam distribusi buku sekolah ke seluruh Indonesia.

Sejak 1970-an sampai sekarang menjadi masa sulit dan tragis bagi pengusaha toko buku di Provinsi Sumatra Barat (menurut kesaksian Azhar Muhammad sekaligus pengurus Gatbi Provinsi Sumatra Barat itu). Banyak pengusaha jatuh bangkrut dan mengalihkan usahanya ke bidang di luar distribusi produk kultural (seperti buku, surat kabar dan majalah serta kaset dan lukisan). Tampil pengusaha penerbit yang didukung ciri etatisme bisnis buku dari Depdikbud memasuki sekolah-sekolah secara langsung (model direct selling hasil terapan monopoli buku teks dari perusahaan penerbitan negara). Proses belajar-mengajar, pertemuan guru dan murid dari tradisi pengajaran sekolah yang dijunjung tinggi oleh generasi senior, sering kali berubah menjadi pertemuan salesman atau salesgirl dalam diri bapak dan ibu guru berhadapan dengan calon pembeli buku sekolah, yakni siswa/siswi di kelas. Terjadi penghinaan martabat guru dan siswa karena side job yang ditawarkan oleh kapitalis-kapitalis di dunia usaha buku sekolah itu.

Bapak dan ibu guru mendapat bonus dan gratifikasi serta komisi dari pengusaha penerbitan buku sekolah dari Jakarta dan luar Jakarta yang menyerbu Sumatra Barat karena menerapkan model direct selling temuan Balai Pustaka dengan monopoli buku teks dan surat sakti dari pejabat feodal negara, selama rezim Orde Baru. Guru menjadi makmur, tetapi pengusaha toko buku jatuh bangkrut. Toko buku banyak ditutup selama model direct selling yang dirintis oleh pejabat negara dalam urusan pendidikan dan persekolahan (Dikbud dan Depdagri). Banyak pengusaha sekolah (juga banyak dari tanah Minang) menjadi kaya di Jakarta sedangkan pengusaha toko buku ditimpa musibah ekonomi dan menutup usahanya. Sistem distribusi yang standar menderita karena etatisme bisnis buku sekolah yang disponsori oleh rezim Orde Baru. Itulah kesaksian seorang senior, pengusaha toko buku yang masih bertahan selama 40 tahun berbisnis buku di Provinsi Sumatra Barat. Sekaligus sebuah gugatan untuk memperbaiki kembali peran pengusaha pengikut John Faush dari Strassbourg itu, distributor hasil teknologi cetak mencetak kontemporer.

Nasib industri perbukuan nasional ke depan tergantung dari banyak faktor rasional dan keberuntungan termasuk faktor pembenahan kembali sistem distribusi perbukuan ketika banyak pengusaha distribusinya kehilangan semangat berusaha karena buku sekolah yang menjadi dasar kuat industri perbukuan dikelola langsung oleh penerbit-penerbit buku sekolah sendiri tanpa kepercayaan untuk bekerja sama dengan pengusaha toko buku yang andal. Banyak keluhan dari penerbit-penerbit buku sekolah kepada pengusaha toko buku di seluruh Indonesia. Dua ribu pengusaha toko buku kini mengadu nasib dalam bisnis menjual buku. Mayoritas pemimpin toko buku di Indonesia (baik di Kwitang maupun di luarnya) sangat ketinggalan dalam menguasai ilmu manajemen modern bidang toko buku, seperti manajemen toko buku di negara maju (baca karangan Joko Pinurbo dalam Matabaca Edisi Perkenalan/ Agustus 2002 “Buku dan Toko Buku: Catatan Kecil dari Festival Sastra Winternachten”). Pengusaha toko buku masih begitu tradisional dalam mengelola toko bukunya (95%) yang sudah sempit tetapi tidak dikelola menjadi lokasi dengan daya tarik tersendiri. Hanya lima persen pengusaha toko buku yang sudah menerapkan ilmu manajemen modern pengelola distribusi buku masa kini dengan tuntutan pembaca dengan semangat zaman baru.

Masa Depan Distribusi Buku
Sudah dapat dipastikan bahwa konsumen buku akan semakin terspesialisasi dengan selera dan interest khusus dan individual. Pengusaha toko buku tidak akan mampu berkompetisi dengan pengusaha toko buku dari luar yang sudah beroperasi di kota-kota besar di Indonesia, bila tidak menguasai ilmu manajemen modern, lembaga keuangan yang akan membantu industri dan pengusaha-pengusaha toko buku alternatif yang kini tumbuh di kalangan mahasiswa dan anak muda di kota-kota. Pengusaha toko buku harus sadar bahwa saluran distribusi sekarang sedang mengalami perubahan karena tuntutan pembacanya yang gampang berubah pikiran, seperti pemirsa televisi memindah chanel-chanel saluran siarannya setiap saat kalau dia suka melakukan hal itu. Kini tinggal paket siaran yang mampu menyetop pergantian chanel oleh pemirsa. Segala peluang tergantung tangan dan jari si pemakainya di tengah perkembangan digital culture saat ini. Kebebasan dan kemerdekaan diungkapkan pada aktivitas jari memindahkan segala peluang dan kemungkinan yang dihadapi dan dipilih secara sesaat tanpa pemikiran panjang lagi.

Dibutuhkan sebuah gerakan baru dari pengusaha distribusi produk kultural untuk membatasi etatisme pejabat negara dalam distribusi produk kultural, yang menjadi hak istimewa masyarakat sendiri; dan untuk memperluas ruang gerak untuk permainan konsumen dan pembaca dalam melihat dan memilih produk dari berbagai alternatif produk yang disediakan. Sebuah gerakan dengan konsep dan visi penerbitan yang baru, yakni prinsip sell then make. Menjual produk dengan pilihan alternatif, banyak jenis, ukuran dan kebutuhan. Dari pengalaman distribusi menjadi strategi untuk membuatnya, yang menjadi urusan pengarang, penulis, penerbit, editor dan perancang desain gratis serta estimasi harga produk kultural yang sangat relatif mahal dan murah, tergantung nilai yang mau diraih. Pengusaha distribusi buku juga memberikan masukan untuk pengembangan produk alternatif yang diinginkan konsumen. Distribusi buku ke depan mencerminkan perjuangan pengusaha-pengusaha model John Faush dari Strassbourg dengan mengantisipasi sumber paksaan dan peraturan birokrasi dengan ciri etatisme bisnisnya dalam distribusi buku sekolah dan sumber kebebasan dan kemerdekaan memilih produk alternatif di pasar bebas.

Peluang untuk mengembangkan distribusi perbukuan di Indonesia masih terbuka lebar. Pelajaran dari pengalaman selama rezim Orde Baru di lingkungan pengusaha toko buku Sumatra Barat membuka pikiran generasi muda untuk memasuki bisnis distribusi. Memberi kaki pada pikiran-pikiran penulis untuk bertemu dengan pembaca-pembacanya secara serempak di seluruh pelosok tanah air.

Frans M. Parera
Majalah Mata Baca Vol. 1 / No.2 / September 2002 

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru