Haidar Bagir: Berbisnis Penerbitan Bermodal Sebagai Kutu Buku

Posted by Cinta Buku on

Sukses identik dengan berlimpah kekayaan. Punya rumah mewah dan mobil mahal serta pekerjaan mapan. Bayangan itulah yang ada di benak Haidar Bagir muda. Ketika memilih kuliah di Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), ia berharap cita-citanya bisa digapai dengan mudah. Namun, arah hidup Haidar pelan-pelan berubah saat kegiatan kemahasiswaannya tertambat di Masjid Salman ITB, pada 1976.

Di Salman, Haidar terlibat dalam berbagai kegiatan diskusi keislaman dan dakwah. Ia mulai diperkenalkan dengan cita-cita besar perjuangan Islam. Sejak itulah ia mulai sadar, hidup lebih bermakna jika tak sekadar mencari sukses duniawi. "Orang sukses tak berarti harus berduit banyak," katanya. Namun, dari sinilah masa depan Haidar justru dirintis.

Haidar kini dikenal sebagai cendekiawan muslim yang keberhasilannya identik dengan Mizan, penerbit buku-buku Islam. Ia merintis Mizan dengan modal awal Rp 40 juta. Produktivitasnya meningkat rata-rata 30% per tahun. Tahun lalu, Mizan mencetak penjualan sekitar Rp 20 milyar. Per bulan rata-rata 25 buku yang diterbitkan. "Tahun ini ditargetkan bisa dua kali lipat," kata Direktur Utama Penerbit Mizan itu.

Usaha Mizan pun bertambah ragamnya. Ada Equator.com yang menjual buku secara online, percetakan, perusahaan distribusi, hingga penerbit khusus. Namun, Haidar tetap menjaga label Mizan sebagai penerbit buku-buku Islam. Posisinya tak boleh kabur di mata konsumen. Karena itu, untuk pengembangan usaha, Haidar merintis penerbitan baru dengan berbagai nama. Misalnya Penerbit Al-Bayan untuk buku Islam tradisional, Hikmah untuk buku tasawuf, 'Arash untuk ilmiah populer, dan Teraju untuk buku akademik umum. Totalnya ada 10 anak perusahaan.

Kariernya dimulai dari hobinya membaca buku. Saat itu, ia termasuk pelahap buku-buku asing, misalnya karya intelektual muslim terkemuka seperti Muhammad Iqbal, Zianuddin Sardar, Ali Syariati, dan Murtadha Muthahhari. Hobi ini pula yang membuat Haidar dipercaya mengelola perpustakaan Masjid Salman. Ketika itu, ia sempat menerbitkan jurnal Islam yang kontroversial pada masanya. Sebab, mempublikasikan karya penulis dari berbagai agama.

Aktivitas Haidar tak hanya di kegiatan intelektual. Ia juga aktif di organisasi kampus, dan bergabung dengan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa menentang kebijakan pemerintah. Malah, ia sempat diinterogasi Kejaksaan Tinggi Bandung gara-gara mengundang Ali Sadikin, tokoh Petisi 50, dalam sebuah seminar.

Pilihan hidup Haidar memang tak berlabuh di dunia politik. Ia lebih terpikat pada dakwah. Makanya, saat ditawari bisnis oleh dua pengusaha, Mustafa Anis dan Abdillah Thoha --pamannya-- pada 1982, Haidar menyanggupinya, asal tak jauh dari misi dakwah. Ketika itu, disepakati untuk menerbitan buku-buku Islam.

Penerbit buku itu dinamai Mizan. Artinya, keseimbangan. Ide ini muncul ketika sektarianisme Islam makin terkuak dengan meletusnya Revolusi Islam Iran pada 1979. Kemenangan Ayatullah Khomeini menggulingkan rezim Shah Iran dukungan Amerika Serikat tetap tak membuat simpati kelompok ahlussunah di Indonesia. Pada saat itu (zaman Orde Baru), yang muncul justru berbagai tulisan yang mencap Syiah sesat.

Sebagai penyeimbang, kala itu Mizan meluncurkan buku pertamanya berjudul Dialog Sunnah Syiah karya A. Syarafuddin Al-Musawi. Ketika itu muncul tudingan, Haidar dengan Mizan-nya sedang mengkampanyekan Syiah. Tapi, Haidar jalan terus. Jenis buku-buku Islam terbitan Mizan malah diminati masyarakat. Sejak saat itu, banyak penerbit lain yang mengikuti jejaknya. Sukses Mizan, kata Haidar, tak lepas dari momentum munculnya kelas menengah muslim yang haus buku-buku Islam berkualitas.

Sebenarnya Haidar sempat meninggalkan Mizan hasil rintisannya itu. Awalnya, merasa terjebak oleh rutinitas, ia memutuskan untuk belajar lagi. Pada 1988, Haidar mendaftar ke Pascasarjana, Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta --kini Univeritas Islam Negeri Jakarta. Tapi, kuliahnya terputus di tengah jalan, gara-gara mendapat beasiswa Fullbright untuk kuliah S-2 di Center for Middle Eastern Studies, Harvard University, Amerika Serikat, pada 1990.

Sebelum berangkat ke Amerika, Haidar dilamar majalah ekonomi Prospek untuk jadi koresponden. Sejak saat itulah, Haidar beralih profesi jadi wartawan. Berbagai liputannya muncul di majalah tersebut, dari Perang Teluk hingga kolom rutin. Kemudian kumpulan kolomnya diterbitkan Mizan dengan judul Era Baru Manajemen Etis: Surat-surat dari Harvard (1995).

Dunia jurnalistik ternyata tak lepas dari kesibukannya sepulang dari Amerika pada 1992. Haidar terpilih jadi pemimpin perusahaan di harian umum Republika --koran yang saat itu mayoritas sahamnya dimiliki Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Haidar, yang kala itu juga pengurus ICMI, awalnya dihubungi Soetjipto Wirosardjono, seorang pendiri ICMI. Haidar diminta menempati posisi di bagian penelitian dan pengembangan.

Posisi pemimpin perusahaan ditempatinya hingga tujuh tahun. Haidar mengundurkan diri. Alasannya, ia mengaku tak biasa lama bercokol di satu posisi. "Inovasi saya mulai menurun," katanya. Kebetulan, ketika itu Haidar mendapat beasiswa riset dari Fullbright selama setahun di Indiana University, Amerika Serikat. Sepulang dari Amerika pada 2001, Haidar kembali dipinang Mizan untuk jadi direktur utama.

Pria berusia 45 tahun kelahiran Solo, Jawa Tengah, ini punya minat besar menggabungkan filsafat Islam dengan sains. Haidar sempat menyusun kurikulum pengajaran sains dan agama, lalu mengajukannya dalam kompetisi internasional yang diselenggarakan Templeton Foundation, Amerika Serikat, pada 2002. September silam, Haidar terpilih sebagai pemenang dan berhak atas hadiah sebesar US$ 10.000.

Di lingkungan keluarganya, pendidikan agama memang tak asing. Ayahnya, Muhammad Baqir, adalah ulama yang rajin menulis buku dan menerjemahkan karya-karya ulama besar. Tapi, hanya Haidar Bagir --anak kedua dari delapan bersaudara-- yang berminat mendalami Islam. "Ayah saya terlalu demokratis terhadap anak-anaknya," kata Haidar.

Di luar kegiatan bisnis penerbitan, Haidar terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan sosial. Ia seorang pendiri Yayasan Sekolah Tinggi Islam Madina Ilmu, Jakarta. Bersama Dr. Jalaluddin Rakhmat, ia juga mendirikan Yayasan Muthahhari --yang mengelola SMU (Plus) Muthahhari di Bandung dan Jakarta. Selain sebagai pengurus yayasan, Haidar juga aktif mengajar di lembaga pendidikan tersebut. SMU Muthahhari, yang menerapkan metode quantum learning, oleh Departemen Pendidikan Nasional kini dijadikan satu di antara contoh pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Cinere, Depok, Jawa Barat, Haidar mendirikan Yayasan Lazuardi Hayati. Yayasan ini menyelenggarakan pendidikan dari pra-taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama. Awalnya, sekolah ini berupa TK Islam Kanita yang didirikan pada 1994. Saat itu, muridnya hanya 20 orang --ditangani langsung oleh istrinya, Lubna Assegaf. Rumah Haidar seluas 300 meter persegi di Graha Cinere, Depok, disulap jadi tempat belajar dan bermain anak-anak.

Tapi, sekolah itu kini menempati lahan 2 hektare lebih. Termasuk sekolah elite dengan fasilitas lengkap. Kurikulumnya didesain khusus sebagai sekolah Islam berwawasan internasional, menggunakan dua bahasa asing: Inggris dan Arab.

Untuk pengembangan, Haidar membuat sistem laiknya perusahaan. Semua fasilitas dan aset sekolah tak dimiliki yayasan, melainkan oleh sebuah perusahaan, namanya PT Sarana Lazuardi Hayati. Yayasan hanya mengelola pendidikan. Jadi, hubungan antara yayasan dan perusahaan bersifat sewa-menyewa. Walaupun dana dan aset sekolah berasal dari infak dan sedekah, kata Haidar, para penyumbang dijadikan pemegang saham perusahaan. "Beramal tapi uangnya tak hilang," katanya. Menurut Haidar, penduduk di lingkungan sekitarnya diberi beasiswa untuk belajar di Lazuardi.

Bagi Haidar, yayasan sosial butuh pengelolaan profesional sebagaimana bisnis. Apalagi, yayasan punya tujuan mulia, mendidik masyarakat. Prinsip ini memang dibuktikannya. Selain di Yayasan Lazuardi, Haidar juga menerapkannya di Yayasan Sumber Daya Manusia --yang didirikan pada 1998. Yayasan ini punya berbagai usaha, seperti unit jual barang bekas, poliklinik, bisnis tanaman, dan distribusi buku.

Meskipun aktivitas Haidar begitu padat, jadwal untuk keluarga lebih dipentingkan. Ia selalu berangkat ke kantor setelah empat anaknya pergi ke sekolah. Salat magrib dan isya pun diusahakan selalu berjamaah bersama keluarga. Karena itu, Haidar memusatkan hampir seluruh kegiatannya di sekitar Cinere. "Keluarga adalah bisnis yang paling utama," katanya. Sebab, aktif di kegiatan sosial dan pendidikan akan percuma jika keluarga sendiri tak bisa dijadikan panutan.

Kholis Bahtiar Bakri
Malajah Gatra edisi 11 / IX, 1 Februari 2003

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru